Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 126 - Aroma Janin


__ADS_3

Harapan adalah hal yang terpenting ketika dunia ini telah menjadi kacau.


***


Hening terjadi dalam beberapa saat. Membiarkan darah Theo terus mengalir memenuhi cawan. Hingga akhirnya Chan yang melihat sudah tidak tahan lagi.


"Berhenti! bukankah darahnya sudah cukup?!" ujar Chan, menatap Bork dengan kerutan di dahinya.


Bork hanya tersenyum, kemudian segera menarik tautan selang infus dari lengan Theo. Selanjutnya tanpa pikir panjang, makhluk bersisik itu langsung menelan darah langsung dari cawan. Hal tersebut tentu saja membuat semua orang merasa jijik melihatnya. Bahkan Xiao sekali pun.


Apalagi Bork menelan darah dengan begitu lahap, sampai-sampai darah di dalam cawan tidak sengaja berceceran dari mulutnya. Cairan merah kental itu mengalir dari dagu hingga ke lehernya.


"Ugh! sangat menjijikan." Chan meringis jijik. Dia tentu langsung memalingkan wajah dari Bork.


"Ini baru awal, banyak makhluk yang lebih mengerikan dari dia di dunia ini. Ayo!" ucap Theo sembari melingus pergi keluar ruangan. Dia menuntun jalan menuju kapal milik Bork. Theo benar-benar seperti orang yang telah lama tinggal di dimensi lain.


Sekarang semua orang telah berada di dalam kapal. Termasuk Bork sendiri. Dia terus-terusan melirik ke arah perut Chan, karena tergiur dengan makanan favoritnya. Benar, Bork sangat menyukai janin segar milik manusia.


"Hei! berhentilah menatapku!" geram Chan seraya menutupi perutnya dengan kedua tangan. Seakan mencoba melindungi sesuatu hal penting di perutnya. Meskipun dirinya masih tidak mau percaya kalau ada janin dalam rahimnya.


Bork hanya terkekeh, lalu segera menjalankan kapalnya menukik ke atas. Kapal tersebut terbang ke udara, dan bukannya berlayar di atas air.

__ADS_1


"Kau!" Xiao memanggil Bork. Dia memposisikan dirinya berada di samping makhluk berisisik tersebut. Bork lantas menoleh dan menatap ke arah Xiao.


"Bagaimana kau tahu kalau Chan sedang hamil?!" tanya Xiao. Hingga menyebabkan Chan tertarik untuk ikut mendengarkan. Chan melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke arah Xiao.


"Itu mudah untuk makhluk sepertiku mengetahuinya. Aroma janin sangat menyengat dari bau orang dewasa, hingga dapat terendus hidungku dengan baik." Bork memberikan penjelasan. "Oh ngomong-ngomong, usia janin itu baru berusia sekitar satu minggu. Jadi wajar saja kalian belum mengetahuinya," Bork sekali lagi memandangi ke arah perut Chan.


"Sa-satu minggu?" Chan membelalakkan mata tak percaya. Raut wajahnya mendadak menjadi sendu. Seolah kehamilan yang menimpa dirinya adalah sesuatu hal buruk.


"Kenapa kau terlihat sedih?" Bork mengangkat kedua alisnya karena merasa tertarik. "Jika kau tidak mau menerima janinmu, kau bisa berikan saja kepadaku. Hehe!" Makhluk bersisik itu melebarkan telapak tangan, seakan mengharapkan Chan memberikan apa yang dia mau.


Chan hanya membisu. Tangannya terus memegangi area perutnya. Perlahan kepalanya menunduk dengan pikiran yang mendadak berkecamuk.


Xiao menarik Chan ikut bersamanya. Dia hendak berbicara serius dengan Chan. Setidaknya ke tempat dimana Bork dan Theo tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka.


***


Xiao dan Chan berhenti di tempat yang dirasa tepat. Xiao menatap Chan yang masih menunduk lesu. Gadis itu masih tidak kuasa untuk mendongakkan kepala.


"Aku belum siap untuk ini Xiao..." lirih Chan, memecah kesunyian, dan memulai pembicaraan.


"Lalu, kau akan memberikan anak kita kepada makhluk busuk itu?!" timpal Xiao akibat merasa khawatir.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku hanya tidak percaya kalau kita mampu menjaga anak ini dalam keadaan kacau sekarang. Aku ingin mempunyai anak bersamamu, tetapi di waktu yang tepat. Dan aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat!" sahut Chan. Matanya mulai berembun.


"Sudah kubilang dari awal, harusnya kau tidak perlu ikut dalam perjalanan ini. Tetapi kau tetaplah keras kepala!"


"Xiao! dunia nyata sama berbahayanya dengan dunia ini. Dimana pun aku berada itu tidak penting..." Chan terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "mungkinkah lebih baik aku serahkan saja janinnya untuk Bork?" Chan menatap dalam ke manik hitam milik Xiao.


"Tidak! aku tidak rela!" tegas Xiao, kedua tangannya pun menangkup wajah Chan. "Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun untuk merebut anak kita! ingat itu Chan! jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi!"


Air mata Chan akhirnya berjatuhan. Dia langsung mendekap Xiao dengan erat. Setidaknya Xiao memberikan harapan jelas untuknya, dan Chan sangat bahagia akan hal itu.


Bruk!


Tiba-tiba kapal bergetar hebat, seakan telah menabrak sesuatu yang besar. Padahal di bagian depan sama sekali tidak terlihat benda yang menghalangi.


Tidak lama kemudian, muncullah sebuah tangan yang cukup besar memegangi bagian pinggir kapal. Kuku-kuku tangannya tampak sangat runcing dan belepotan dengan darah beku. Bau amis pun juga dapat tercium jelas saat kemunculan makhluk misterius tersebut.


"Sial! sepertinya satu makhluk berhasil mengetahui kita. Ini semua karena janin milikmu!" ujar Bork sembari memaksakan kapalnya untuk berjalan melaju. Dia berhasil melakukannya, dan terbang menjauh dari makhluk yang tadi sempat mengganggu.


Theo yang baru saja berjalan mendekati haluan kapal mendadak membulatkan mata. Bagaimana tidak? sesosok makhluk besar perlahan muncul dari bawah. Makhluk yang memiliki empat tanduk tersebut terlihat menganga, sehingga mulutnya terbuka sangat lebar. Menampakkan susunan gigi-gigi runcingnya yang begitu mengerikan.


Ilustrasi makhluk yang menghalangi jalannya kapal :

__ADS_1



__ADS_2