
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
Tragedi terakhir terjadi. Sebuah awal kehancuran dunia.
***
Dub!
Belum sempat Xiao bicara, listrik mendadak mati. Untung saja Al sudah menyediakan lentera, jadi ruangan tidak sepenuhnya gelap. Semua orang sekarang mematung di tempat. Brian dan Fa yang tadinya hendak berjalan menghampiri Al, menghentikan langkah di tengah jalan.
"Sekarang apa?" tanya Brian sambil menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri. Dia juga memasang indera pendengarannya baik-baik. Namun tidak ada apapun yang terdengar.
"Aku rasa inilah saatnya Spiderblood dan komplotannya beraksi. Mungkin mereka baru saja keluar dari tempat persembunyian, makanya keributan belum terjadi." Xiao berpendapat.
"Xiao! jelaskan padaku. Aku sepenuhnya belum mengerti!" Chan memegangi lengan Xiao. Rasa penasarannya sudah setengah mati.
"Aku akan jelaskan secara singkat." Xiao berbalik menatap Chan dan melanjutkan, "orang yang disebut Spiderblood sangat berbahaya. Dia psikopat gila yang berasal dari Jepang. Sekarang dia sedang melakukan rencana besar. Menurutku rencananya adalah sesuatu yang mengerikan. Devil di sampingnya sangatlah besar!"
Chan seketika paham dengan penjelasan Xiao. Dia mengangguk pelan karena sudah sepenuhnya mengerti.
"Sebesar apa devil miliknya?" Al yang ternyata juga mendengarkan menyahut. Gadis itu bangkit dari tempat duduknya.
"Sangat besar. Devgan bahkan ketakutan!" ujar Xiao.
"Devil? kalian membicarakan apa?" Fa kebingungan. Wajar saja, dia satu-satunya orang awam yang sama sekali tidak mengerti perihal dunia gaib.
"Mungkinkah devil miliknya adalah raja devil? jika rencananya berkaitan dengan pembunuhan, maka devil Spiderblood akan bertambah besar. Xiao kita tidak boleh membiarkan ini terjadi!" Al tiba-tiba diserang rasa panik. Dia tidak mempedulikan reaksi kebingungan yang ditunjukkan Fa.
"Apa maksudmu Al?" Xiao mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Maksudku, kau harus segera menemukan senjata gaib!"
"Al, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya." Brian mencoba menenangkan Al.
"Brian benar, bisakah kalian memahami perasaanku setelah semua yang terjadi?! kalian pikir semuanya mudah?!" timpal Xiao, yang dilanjutkan dengan menyandarkan badan ke sandaran kursi. Dia segera memejamkan mata agar bisa beristirahat sejenak. Alhasil Al pun mengalah dan kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan Fa, yang sedari tadi tidak dihiraukan hanya bisa mendengus kasar. Ia juga bergegas untuk mengistirahatkan diri.
Gelap dan hening, itulah yang ada di sekeliling Xiao. Suara hewan malam bahkan tidak terdengar, seolah takut akan sesuatu. Dingin menyelimuti hawa yang ada. Membuat semua orang reflek memeluk tubuhnya sendiri. Sehingga rasa hangat setidaknya dapat dirasakan meski hanya sedikit.
Al tampak tertidur sambil menggerakkan kepalanya beberapa kali. Lelaki misterius yang telah memberitahukan perihal perkumpulan rahasia, datang lagi ke dalam mimpinya. Kali ini lelaki tersebut menyuruh Al untuk pergi ke sebuah tempat. Al bisa melihat jelas kalau tempat yang ditunjukkan kepadanya adalah sebuah toko kecil dan gelap. Di depan tokonya terdapat banner bertuliskan Xen-xen.
BOM! BOM!
Suara ledakan terdengar jelas. Membuat Xiao dan yang lainnya langsung terbangun. Tanah ikut bergetar akibat ledakan tersebut. Bahkan serpihan-serpihan kecil juga sempat berjatuhan dari atap.
Brian bergegas keluar dari gudang untuk melihat apa yang terjadi. Hingga dari kejauhan dia dapat menyaksikan pendar jingga beserta kepulan asap hitam.
"Itu tepat di pusat kota?" Al yang sudah berada di samping Brian berucap. Tubuhnya bergidik ngeri.
"Iya, sangat jelas!" jawab Fa. Atensinya juga tertuju pada kepulan asap hitam dan pendar jingga.
Xiao baru saja keluar dari gudang. Dia membawa Chan bersamanya. Mereka ikut melihat apa yang sedang Brian dan yang lainnya lihat.
"XIAO!" Devgan melangkah mundur. Hal yang sama juga dilakukan Xiao. Keduanya menyaksikan hal lebih mengerikan dari sekedar cahaya api dan asap hitam. Akan tetapi berbagai bentuk devil yang mengerikan. Dari banyaknya devil, ada satu yang menarik perhatian. Apa lagi kalau bukan devil milik Spiderblood.
Xiao melepaskan diri dari Chan dan berjalan kembali memasuki gudang. Perasaan takut seperti pertama kali dirinya melihat devil datang lagi.
"Xiao, sebenarnya pilihanku ada dua. Menjadi teman devil Spiderblood atau musuhnya!" Devgan menatap ke arah Xiao. "Jika aku memilih menjadi temannya, maka kita akan memiliki energi yang banyak. Hingga kekuatan kita dapat bertambah!" lanjutnya, yang terdengar lebih seperti sedang mempengaruhi.
"Jangan berharap Devgan. Aku sudah banyak kehilangan segalanya karena dirimu. Kali ini aku tidak akan lagi menuruti apa maumu!" tegas Xiao. Hingga mengharuskan Devgan membuang jauh-jauh semua harapannya.
__ADS_1
***
James dan Eva berada dalam sebuah taksi. Keduanya dalam keadaan terbalik. Posisi kepala mereka berada di bawah. Beberapa menit yang lalu sebuah bus berhasil menghantam taksi mereka.
Riuhnya orang-orang panik berlalu lalang kesana kemari. Mereka hanya mempedulikan diri sendiri. Suasana benar-benar berubah menjadi kacau balau.
James dan Eva perlahan melepaskan sabuk pengaman. Tubuh keduanya sontak mengikuti gravitasi. Mereka keluar dari mobil dengan hati-hati.
Mata James dan Eva sama-sama terbelalak tatkala menyaksikan banyak adegan pembunuhan di sekitar mereka. Semuanya terjadi seakan seperti sesuatu hal wajar. Salah satu yang menarik perhatian Eva adalah, ketika sosok bertopeng mengarahkan gergaji mesin ke leher tiga orang sekaligus.
Ngeng! Ngeng! Ngeng!
Kepalanya memang tidak langsung putus. Namun disitulah letak kesadisannya. Sebab orang bertopeng tersebut harus mengarahkan gergaji mesinnya berulang kali. Cipratan darah berhamburan kemana-mana.
Eva langsung mengalihkan pandangannya karena sudah tidak kuat lagi. Dia dan James bergegas mencari tempat persembunyian yang aman.
"James, harusnya dari awal kita tidak usah datang ke sini. . ." lirih Eva. Dia dan James sudah menemukan tempat untuk berlindung. Tepat di sebuah toko gelap dan tertutup.
"Kita memang harus ke sini Eva, sebab aku harus memberitahukan dimana letak senjata gaib kepada anak itu!" sahut James.
"Apa? jadi kau sudah tahu letak senjatanya?"
"Iya, aku baru mendapat penglihatan saat dalam perjalanan kita menuju ke sini."
"Lalu kenapa kita tidak mencari benda itu saja lebih dahulu?"
"Semuanya tidak semudah yang kau kira. Lebih baik kita diam dan beristirahat di sini. Sekujur tubuhku terasa sangat sakit akibat kecelakaan tadi," keluh James seraya mendudukkan dirinya ke lantai. Kemudian memposisikan badannya senyaman mungkin dengan cara bersandar ke dinding.
"James, apa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah di luar itu? tanya Eva serius.
"Tidak Eva. Orang-orang bertopeng sangat berbahaya dan gesit. Kau lihat kan bagaimana cara mereka membunuh?! aku tidak yakin orang seperti kita mampu mengalahkan mereka," balas James yang terdiam sesaat. "Kita tidak bisa mengambil resiko, Eva!" tambahnya.
__ADS_1