
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan kekerasan dilarang membaca!
...-----...
'Jika terus begini, aku akan semakin kuat. Aku tidak sabar menunggu hari besar itu.'- Devgan.
***
Xiao berdiri menghadap Mei. Dia segera memegangi dagu gadis itu, agar bisa mendongak menatap ke arahnya.
Mei terlihat masih kesakitan. Sepertinya dia berusaha menahan rasa pusing yang menusuk kepalanya. Penglihatannya agak kabur kala menatap Xiao.
"Cepat katakan kepadaku, kemana perginya Shuwan?!" tanya Xiao sembari semakin menguatkan pegangannya, hingga berhasil membuat Mei meringis.
"Yang jelas kau tidak akan pernah menemukannya. Sebab aku bahkan tidak tahu kemana dia pergi. . ." jawab Mei yang memang berkata jujur. Dia menambahkan sedikit seringai diwajahnya.
"Kurang ajar!" Xiao melepaskan genggamannya dengan kasar, hingga membuat kepala Mei reflek tertunduk.
Mei yang dapat merasakan kekesalan Xiao perlahan mendongakkan kepala. Ia menatap tajam kepada lelaki yang tengah berdiri di hadapannya tersebut.
"Harusnya kau menerima cintaku, maka ini semua tidak akan terjadi!" ungkap Mei, mengeluarkan semua kekesalannya.
Xiao memutar bola mata malas. Kemudian merebut gunting kecil yang ada dalam genggaman Yenn. Selanjutnya ia segera mengarahkannya ke leher Mei.
"Jangan bicara omong kosong lagi, sekarang katakan kepadaku kemana tujuan Shuwan?" Xiao sedikit menusukkan gunting ke leher Mei, hingga menyebabkan beberapa tetes darah mengalir. Mei pun mulai gemetaran dan ketakutan. Namun jujur saja, ia memang benar-benar tidak tahu Shuwan akan pergi kemana.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Tolong jangan bunuh aku. . ." jawab Mei yang disertai permohonannya.
"Untuk apa aku membiarkan orang tidak berguna sepertimu hidup!" Xiao kembali menggerakkan gunting kecilnya, untuk memberikan goresan lebih banyak di leher Mei.
"Baik, baiklah! aku hanya tahu mengenai secarik kertas pemberian wanita itu!" Mei mengungkapkan apa yang diketahuinya. Xiao lantas memasang telinganya baik-baik dan menjauhkan guntingnya dari leher Mei.
"Maksudmu Nuan?" tebak Yenn, yang sedari tadi berdiri di belakang Xiao.
"Iya, ibunya wanita jal*ng itu!" sahut Mei dengan perkataan kasarnya.
"Kau bilang apa?!!!" Xiao semakin dibuat kesal dengan hinaan yang dibuat Mei untuk Chan.
__ADS_1
"Jujur saja Xiao, kau tergila-gila padanya karena dia bersikap seperti pelac*r di hadapanmu kan?" tukas Mei.
"Bunuh saja dia Xiao!" desak Devgan.
Xiao yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya menancapkan guntingnya ke dada kiri Mei. Tepat dimana jantungnya berada.
Jleb! Jleb! Jleb!
Dia menusuk puluhan kali akibat tidak mampu membendung amarah yang memuncak.
"Aaaarkhh!!! aaaaarkhh!!!" Mei hanya mampu memekik kesakitan.
"Ugh, kau memutuskan membunuhnya begitu saja?" tanya Yenn tak percaya. Namun Xiao sama sekali tidak menggubrisnya. Dia masih terus saja menjejalkan benda tajam ke tubuh Mei. Wajahnya lagi-lagi terkena percikan darah.
"Xiao, mungkin saja dia punya informasi yang bermanfaat!" ucap Yenn lagi.
"Dia tidak berguna!" sahut Xiao, yang telah selesai menghabisi gadis di hadapannya. Dia kemudian memejamkan matanya secara perlahan. Seakan mendapatkan kepuasan tertentu setelah membunuh Mei.
...'Kau hanya akan menjadi penghancur.'...
Mata Xiao kembali terbuka tatkala suara bisikan dari mimpinya menghantui. Dia sontak memegangi area kepalanya untuk menenangkan diri. Xiao berusaha sebisa mungkin mengabaikan bisikan tersebut. Tetapi anehnya kalimat itu selalu muncul di pendengaran dan pikirannya.
"Tidak." Xiao menjawab singkat. Tiba-tiba dia baru teringat kalau mobil Shuwan sudah ditemukan. Dia langsung bertanya kepada Yenn. Namun kata Yenn, anak buahnya tidak mendapatkan mengenai petunjuk dimana keberadaan Shuwan. Mereka hanya berhasil menemukan jasad seorang dokter yang sudah tidak bernyawa.
"Mereka tetap terus melakukan pencarian kan?" tanya Xiao.
"Tentu saja, aku tidak akan membuat mereka berhenti mencari!" jawab Yenn yakin. "Kau sebaiknya istirahat, agar kau bisa berpikir dengan jernih dan tidak tergesak-gesak!" tambahnya.
Xiao pun menurut. Dia melangkahkan kaki menuju kamarnya. Saat telah tiba, penglihatannya langsung mengedar ke segala penjuru. Xiao mencari keberadaan Chan. Karena tidak menemukannya, ia pun berniat pergi ke ruangan Al.
Sebelum hendak pergi, Xiao tidak sengaja melihat dirinya di cermin. Matanya langsung membola ketika melihat pantulannya terlihat begitu kotor dengan darah. Alhasil dia pun membersihkan diri terlebih dahulu dan mengganti baju. Namun keinginannya tetap bulat untuk pergi menemui Chan. Dia pun bergegas melangkahkan kaki menuju ruangan Al.
Ceklek!
Xiao membuka pintu. Ternyata memang benar, Chan sedang berada di ruangan Al. Gadis itu terlihat sudah tertidur pulas di atas kasur.
"Ada apa?!" tanya Al ketus. Dia perlahan menurunkan buku yang dibacanya.
__ADS_1
"Pergilah! aku mau tidur bersama Chan!" titah Xiao tak tahu malu.
"Hei! tapi ini ruanganku!"
"Ya sudah, aku tidak melarang kau tidur bersama kami." Xiao perlahan menutup pintu ruangan.
"Dasar psiko!" cibir Al sembari mengambil ponselnya, kemudian bergegas pergi keluar dari ruangan.
Xiao merebahkan dirinya. Chan sekarang dalam keadaan posisi membelakanginya. Perlahan Xiao pun memeluk Chan dari belakang bak sebuah bantal guling. Matanya dipejamkan untuk berusaha menidurkan diri.
Al sekarang berjalan menyusuri lorong markas. Raut wajahnya tentu cemberut, karena sudah di usir dari tempat persitirahatan ternyamannya. Sekarang dia kembali ke halaman markas. Tepatnya di bawah pohon yang lumayan rindang. Dia duduk santai untuk kembali melanjutkan bacaannya. Dengan hanya bersinarkan cahaya yang dikeluarkan oleh ponselnya.
Tidak lama kemudian, Brian pun datang. Ia langsung memposisikan diri duduk di sebelah Al.
"Kau tidak ikut Feng mencari Shuwan?" tanya Al tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.
"Huhh! sejak kapan aku mau menjadi orang yang rela di suruh-suruh?" balas Brian seraya memutar bola mata jengah.
"Sejak dekat dengan Xiao? apa kau tidak menyadarinya?"
"Enak saja! mana pernah aku mau melakukan apa yang disuruh Xiao!" Brian menepis tegas.
"Cih! mana mau kau mengaku." Al memajukan bibir bawahnya, karena dia menganggap penuturan Brian hanyalah omong kosong.
"Kau membaca apa? akhri-akhir ini kau sering sekali menghabiskan waktu membaca buku." Brian menilik ke arah buku yang sedang dipegang oleh Al.
"Aku sedang mencari informasi mengenai makhluk kutukan."
"Apa kau mendapatkannya?"
"Yang pastinya makhluk itu lumayan berbahaya jika sudah kuat. Aku pikir, mereka memiliki hubungan khusus dengan devil pembunuh!" Al menjelaskan.
"Kau pasti mengira kejadian di sekolah itu ada sangkut pautnya dengan Xiao?" tebak Brian.
"Entahlah, aku masih belum yakin. Makanya aku mencoba mencari informasi yang lebih jelas. Tetapi datanya sangat minim. Kau tahukan di dunia ini tidak banyak orang yang mengetahui perihal devil dan makhluk kutukan?" Al mendengus kasar.
"Iya, aku bahkan sempat tidak mempercayainya," sahut Brian.
__ADS_1
Pembicaraan Al dan Brian berakhir disitu. Keduanya sekarang saling terdiam dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Al kembali membaca bukunya. Sedangkan Brian menyandarkan badannya ke pohon sambil mencoba untuk tidur.