
Ketenangan tidak akan berlangsung lama.
***
Waktu berjam-jam telah dilewati. Tibalah Xiao dan yang lainnya di bandara sisi barat Denmark. Kebetulan suasana di sana begitu sepi dan tidak terlihat sama sekali ada pemberontakan.
James mengajak semuanya untuk menaiki kapal, agar bisa secepatnya sampai ke pulau rahasia. Sekarang dia dan yang lainnya tengah berlabuh mengarungi lautan.
Suara mesin kapal terdengar nyaring di iringi dengan suara burung laut yang sesekali berlalu. Xiao mendekati James. Sebenarnya dia punya banyak pertanyaan untuk disampaikan kepada lelaki paruh baya tersebut. Keduanya sekarang berada di geladak kapal, sambil melihat pemandangan laut yang sejenak mampu melepas penat.
"Apa benar aku bisa menghilangkan bakatku?" celetuk Xiao. Dia berhasil membuat James menoleh ke arahnya. Lelaki berkumis itu tersenyum tipis.
"Tentu saja bisa, apalagi bakat yang kau miliki sekarang adalah warisan dari seseorang," jawab James tenang.
"Apa menurutmu semuanya akan baik-baik saja? kau yakin hanya aku yang bisa menemukan senjata itu?"
"Untuk sekarang iya, karena kaulah orang yang satu-satunya bisa melihat devil."
"Kenapa kita tidak langsung membunuh pemilik devilnya saja? bukankah itu lebih sederhana?" Xiao mengungkapkan pemikirannya. Sebab dia berusaha mencari cara lain untuk menghentikan serangan Spiderblood.
"Itu bisa saja. Tetapi bukankah melawan Spiderblood akan lebih susah dibandingkan devilnya?" James menuturkan dengan serius. "Xiao, jika kau sudah menemukan senjata gaib. Semua devil akan bertekuk lutut kepadamu. Bahkan raja devil sekali pun!" tambahnya yakin.
Xiao melebarkan matanya. Dia mulai tertarik dengan senjata gaib yang akan dicarinya. "Benarkah?" tanya-nya memastikan.
"Ya. . ." James melakukan tatapan menyelidik. Ia dapat melihat ada tatapan penuh tekad dari manik hitam milik Xiao. Ia merasa senang sekaligus khawatir. James takut Xiao akan menyalahgunakan kelebihan yang dimiliki senjata gaib. Namun dirinya berusaha membuang jauh semua keraguannya itu, dan mempercayai Xiao.
"Sepertinya kau dan gadis itu punya ikatan yang sangat kuat," ujar James seraya mengalihkan pandangannya ke arah Chan.
__ADS_1
"Maksudmu Chan?" Xiao memastikan. James pun merespon dengan anggukan kepala.
"Ah dia, entahlah. Aku seolah tidak bisa terpisah dengannya," terang Xiao seraya mengingat pertemuan awalnya dengan Chan. Matanya menatap teduh pada gemercik air laut yang diterpa kapal.
James menepuk pelan pundak Xiao, kemudian tersenyum tulus sampai kedua matanya tampak menyipit. Dia seakan memperlakukan Xiao seperti anaknya sendiri. Xiao hanya mengernyitkan kening heran, kala dirinya diperlakukan begitu lembut. Jujur saja, baru kali ini seorang lelaki memperlakukannya begitu.
'Mungkin inikah yang namanya kejahatan bisa dibalas dengan kebaikan. Melihatnya memperlakukanku begini, aku menjadi merasa bersalah dengan apa yang telah kulakukan,' batin Xiao sembari membuang muka dari James. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon keramahan James. Xiao bahkan merasa tidak mampu untuk menolaknya. James memang memiliki karisma yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah satu jam lebih berlayar, Xiao dan yang lain pun sampai di sebuah pulau. Tempatnya dipenuhi dengan rumput hijau dan pepohonan yang tumbuh berjauhan, namun tetap terasa teduh dipandang.
"Aku akan betah tinggal di sini," ungkap Chan, yang terpesona dengan pemandangan di depan matanya.
"Lebih baik kita lihat tempat dimana kita tinggal dahulu, baru kita bisa memutuskan akan betah atau tidaknya tinggal di sini." Xiao menyahut sambil berjalan mendahului. Sebab Chan sepenuhnya sudah bisa berjalan dengan normal.
"Menyebalkan sekali, aku heran kenapa kau selalu luluh padanya!" tukas Al yang menyamakan langkahnya dengan Chan.
"Itu sangat jelas. Aku bahkan mendengar kabar, saking sukanya kau dengan Xiao, kau sampai menguntitnya ke rumah!"
"A-apa? menguntit? i-itu tidak seperti yang kau pikirkan!" Chan melakukan pembelaan.
"Aku saksinya. Akulah yang memergokinya menguntit Xiao!" Fa ikut masuk ke dalam pembicaraan. Dia menatap Chan sambil terkekeh geli. Al bahkan juga tak kuasa menahan tawanya.
Pipi Chan memerah malu. Dia semakin melajukan langkahnya dan memilih berjalan di dekat Xiao. Chan berderap sambil menundukkan kepalanya. Xiao menoleh ke belakang untuk melihat keadaan. Dia tahu betul Chan pasti mendapatkan godaan dari Al dan Fa yang tampak asyik tertawa.
"Apa mereka mengejekmu? kau mau aku melakukan sesuatu kepada mereka?" tanya Xiao yang tengah menunjukkan ekspresi serius.
"Apa-apaan! jangan bicara yang tidak-tidak," balas Chan. Seperti biasa, dia memang tidak gemar memperpanjang masalah.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat bangunan rumah yang besar. Terdapat pagar tinggi menjulang di sekeliling rumah tersebut. Tampilan rumahnya sendiri sangat klasik. Bisa disebut rumah yang berasal dari zaman kuno Eropa. Dindingnya pun tampak berwarna kecokelatan karena dimakan oleh waktu.
Ilustrasi Rumah James :
"Sudah kubilang kan Chan, lihat tempat yang akan kita tinggali sekarang," celetuk Xiao seraya menghela nafas panjang.
Chan sama sekali tidak merespon ucapan Xiao. Dia malah terus asyik melangkah maju. Mengiringi James yang sedang memimpin jalan bersama Eva di sampingnya.
"Sial! di sini tidak ada sinyal sedikit pun!" gumam Brian sambil menepuk-nepuk ponselnya sendiri.
Tindakannya otomatis membuat Xiao dan yang lain ikut memeriksa ponsel mereka. Benar saja, mereka tidak menemukan sinyal sedikit pun, meski berusaha mengangkat tinggi-tinggi ponselnya. Sekarang Xiao sepenuhnya paham, kenapa James memilih mengirimkan pesan melalui mimpi. Selain sangat mengganggu, ternyata lelaki paruh baya itu tinggal di tempat terpencil.
Chan menjadi orang yang pertama masuk ke dalam rumah James. Meski tampilannya sangat kuno, tetapi ia dapat merasakan ketenangan saat berada di sana. Hantu-hantu yang ada di sana pun tampak ramah seperti pemilik rumahnya sendiri. Berwarna putih transparan dan memiliki telinga yang runcing seperti peri-peri dalam negeri dongeng. Bagaimana bisa seperti itu? Chan bertanya-tanya dalam benaknya. Dia baru pertamakali menemui hantu berbentuk begitu.
"Kalian beristirahat saja lebih dahulu. Kami akan segera menyiapkan makan malam," ujar Eva pelan. Lalu beranjak pergi keluar rumah.
Xiao menjadi orang kedua yang masuk ke rumah James. Pandangannya langsung mengedar ke segala penjuru.
"Rumahnya terasa sangat nyaman," ucap Chan sambil memposisikan diri berada di sebelah Xiao.
"Untuk ini aku memang tidak bisa membantahnya!" sahut Xiao yang sependapat dengan Chan.
Siang berganti malam. Semua orang baru menyelesaikan makan malam. Brian terlihat bersantai sambil minum-minum bersama Fa. Keduanya sepertinya sudah lebih akrab, karena terlalu lama duduk berdampingan di kokpit pesawat.
Xiao berdiri di balkon sendirian. Menatap bulan yang kebetulan dalam keadaan purnama. Dia tahu ketenangan yang dirasakannya sekarang tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi petualangan dan kejadian menegangkan akan dihadapinya seperti biasa.
__ADS_1
Xiao menatap Chan yang sedang asyik bermain dengan para hantu. Gadis tersebut memang sangat pandai berkomunikasi dengan hantu. Menurut Xiao, itu merupakan salah satu bakat Chan yang tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan Chan sendiri tidak menyadarinya.