Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 65 - Menghilangnya Orang-Orang Penting


__ADS_3

Dunia punya sisi gelap. Namun masih banyak yang tersembunyi.


***


"Hingga saat ini polisi belum mampu menemukan dimana Jennifer Lee berada. Dia menghilang setelah melakukan perjalanan ke Jepang. Semuanya semakin aneh, ketika tragedi aktris cantik ini berbarengan juga dengan menghilangnya Takeda Yamoto, yang merupakan walikota--"


Klik!


Chan mematikan televisi, karena matanya sudah sangat mengantuk. Dia dan Al sedang bermalam di sebuah penginapan.


"Kenapa kau mematikan kabar penting itu Chan!" protes Al, dia sedari tadi fokus menonton tayangan berita.


"Nih!" Chan melemparkan remot televisi kepada Al.


Hup!


Al menangkapnya dengan sigap sembari tersenyum bangga. Dia pun segera kembali menyalakan televisi. "Huhh! lihat! sudah iklan!" ungkapnya setelah menerima kenyataan, berita yang tadi ingin dilihatnya sudah berakhir.


Chan sama sekali tak acuh, dia hanya bermalas-malasan di atas kasur. Namun tiba-tiba bisikan Zhua sang hantu membuat Chan membuka mata lebar-lebar.


"Ada yang ingin kuberitahu!" ucap Zhua.


"Aku mau ke toilet!" Chan bangkit dari kasur, lalu berderap meninggalkan Al.


Ceklek! Klik!


Chan langsung mengunci pintu, setelah masuk ke dalam toilet. "Ayo, katakan kepadaku apa yang sudah kau lihat!" suruhnya seraya menyilangkan tangan di depan dada.


"Temanmu itu membawa ponselnya, terus pergi dengan seringai yang mencurigakan." Zhua bercerita.


Chan yang mendengar lantas memutar bola mata kesal. Posisi tangannya berubah menjadi pose berkacak pinggang. Selanjutnya dia pun lekas-lekas menghampiri Al yang terlihat mentertawakan adegan di televisi.


"Kau kenapa?" Al menatap Chan bingung. Tanpa berbicara sedikit pun, Chan langsung mengobrak-abrik tas bawaan Al.


"Chan! apa yang kau lakukan?!" timpal Al yang tak terima. Dia sebenarnya sudah deg-degan, sebab dirinya meletakkan ponsel pemberian Brian di dalam tas yang sekarang diperiksa oleh Chan.

__ADS_1


Mata Chan membola, ketika ia berhasil menemukan benda yang dicarinya. "Ini!" dia mengangkat ponsel tepat ke wajah Al. Seolah menuntut penjelasan.


"Oke, aku akan jujur! ini karena aku menyukai ponsel itu. Aku tidak ingin meninggalkannya begitu saja!" Al menunjukkan ekspresi sayu, agar mampu membuat Chan luluh.


"Al jika kau tidak ingin berteman denganku, lebih baik kau pergi sekarang. Toh aku sudah terbiasa sendirian!" tukas Chan seraya menyerahkan ponsel ke tangan Al.


"Chan aku. . ." Al menjeda kalimatnya karena sedang berpikir untuk membuat keputusan. Matanya terpaku pada smartphone yang sekarang ada dalam genggamannya. Sedangkan Chan yang menyaksikan hanya membalikkan badan seakan tak peduli.


"Baiklah!" Al memegangi pundak Chan. "Aku akan membuang kartu selulernya, dan meginstal ulang ponselnya. Sehingga Brian tidak bisa mengontak atau pun mencari kita!" tambahnya dengan mimik wajah yang meyakinkan.


***


Xiao masih berdiri mematung sambil menatap bulir-bulir yang menetes di atap. Kemudian dari kejauhan ia bisa melihat lampu mobil yang semakin berjalan mendekat.


Xiao menyipitkan mata, agar dapat melihat secara jelas mobil tersebut. Ternyata itu adalah mobil taksi.


"Bukankah itu taksi yang sebelumnya kita naiki?" ujar Brian yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Xiao.


"Sepertinya begitu." Xiao menjawab singkat.


Benar saja, Hiroto sang sopir taksi yang awalnya mengantar Xiao dan Brian muncul. Dia melambaikan tangannya ke arah dua lelaki yang sedang menatapnya.


"Ayo! aku ingin cepat-cepat pergi dari sini!" ajak Brian. Dia beranjak pergi lebih dahulu menghampiri Hiroto. Namun Brian mendadak menghentikan langkah di pertengahan jalan, karena menyadari Xiao masih tidak bergerak dari tempatnya.


"Xiao, ayo!" Brian mendesak.


Dengan hela nafas panjangnya, akhirnya Xiao pun menggerakkan kakinya. Tidak lupa, dia juga membawa dua tas yang berisi kepala utuh ayahnya dan Anming.


Sekarang Brian dan Xiao kembali duduk bersebelahan di dalam taksi. Xiao meletakkan dua tas berisi kepala di bawah kakinya.


"Apa kalian terluka? soalnya aku mencium bau amis yang sangat menyengat!" ungkap Hiroto seraya menutup lubang hidungnya rapat-rapat. Xiao yang mendengarnya terlihat tenang, ia hanya melirik sumber bau yang telah membuat penciuman Hiroto terganggu.


Berbeda dengan Brian, yang tampak memperhatikan pergerakan Hiroto. Dia bisa memahami kalau Hiroto sedang terganggu dengan bau darah yang menguar jelas dari kedua tas di bawah kakinya. Namun untung saja sopir taksi tersebut masih tidak mengetahui sumber baunya.


"Xiao, sepertinya dia terganggu dengan bau darah dari. . ." Brian menggerakkan biji matanya ke bawah, tepat pada tempat kedua tas diletakkan. Dia tidak ingin menjelaskan, karena tidak mau membangkitkan kemarahan Xiao.

__ADS_1


"Tenang saja." Xiao kembali menyahut singkat.


"Kenapa kau kembali lagi?" ucap Xiao yang sekarang berbicara kepada Hiroto. Dia mencoba mengalihkan perhatian sopir taksi itu.


"Aku kembali lagi karena merasa khawatir. Untung saja kalian tidak apa-apa!" jawab Hiroto.


"Terima kasih, kami jadi tidak perlu repot-repot mencari tumpangan lagi." Xiao memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Tidak masalah. Kau membuatku teringat dengan putriku, dia sepertinya seumuran denganmu. Dia sudah dua kali mencoba pergi ke hutan yang kalian datangi tadi." Hiroto bercerita. "Ngomong-ngomong kau masih sekolah kan?" tanya-nya sembari menatap Xiao selintas lewat cermin di depannya.


"Iya, masih!" balas Xiao.


"Oh iya, coba lihat putriku, cantikkan!" Hiroto mengambil foto anaknya dari laci dashboard. Lalu menyerahkannya kepada Xiao.


"Siapa?" Brian penasaran, dan menghuyungkan dirinya untuk menilik foto yang diberikan Hiroto. Dia hanya mengerutkan dahi. Berbeda dengan Xiao yang tampak membulatkan matanya ketika melihat wajah putri Hiroto. Orang yang ada di dalam foto itu ternyata adalah Ashumi, gadis yang telah dibunuhnya di hutan.


Xiao terdiam seribu bahasa. Dia hanya membiarkan Hiroto terus berceloteh mengenai putrinya.


"Xiao, apa gadis di foto itu putri si supir taksi?" tanya Brian. Xiao menjawab dengan anggukan malas.


Setelah memakan waktu cukup lama. Xiao dan Brian akhirnya sudah kembali memasuki wilayah kota Tokyo. Keduanya memilih untuk beristirahat dahulu di sebuah hotel.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Hiroto sambil memutar setir mobil dengan pelan.


"Sudah!" Xiao berbohong. Mendengar jawabannya, Hiroto lantas menggeleng tak percaya.


"Mana mungkin kalian bisa makan saat berada di tempat wisata itu!" timpal Hiroto. Dia sangat yakin Xiao dan Brian belum makan.


"Antarkan saja ke hotel, kami sekarang hanya ingin istirahat," terang Xiao.


"Tapi--"


Bruk!


"Aku tidak mau makan bersamamu!!!" tegas Xiao setelah menghempaskan tangannya ke jok mobil yang didudukinya. Hiroto tentu tersentak kaget, dia tidak menyangka keramahannya direspon dengan bentak-kan.

__ADS_1


"Xiao! kau kenapa memarahinya?!" kritik Brian, yang merasa tak habis pikir terhadap kelakuan lelaki yang duduk di sebelahnya.


"Kau benar-benar sangat mirip dengan Ashumi!" celetuk Hiroto seraya tersenyum enggan. Xiao hanya merespon dengan dengusan kasarnya.


__ADS_2