
Seberapa jauh kau pergi, rumahmu yang sebenarnya akan selalu dirindukan.
***
Xiao, Chan, Brian dan Al sudah berada di stasiun. Ke-empatnya berjalan dengan santai, dikarenakan tidak ada terlihat orang-orang berbahaya di tempat tersebut. Setelahnya mereka pun masuk ke dalam kereta dan duduk bersama. Xiao duduk di samping Chan, berhadapan dengan Brian dan Al yang duduk bersebelahan.
"Syukurlah orang-orang Tao tidak melakukan perjalanan sampai ke sini!" kata Xiao sembari melihat ke arah jendela.
"Yah, palingan sebentar lagi mereka akan berjaga di sini. Aku yakin jika mereka tidak menemukan yang dicari, aku pastikan mereka akan memperluas wilayah pencarian!" balas Brian.
"Atau kemungkinan mereka bisa saja berjaga di kota tujuan kita!" tebak Chan.
"Aku rasa begitu, apalagi dia sudah mengetahui identitasmu yang sebenarnya Xiao!" terang Brian dengan tatapan serius.
"Aku tahu!" Xiao menganggukkan kepala. "Ngomong-ngomong, boleh aku bertanya pada kalian berdua?" lanjut-nya yang menatap kepada Brian dan Al secara bergantian.
"Ada apa Xiao? kau ingin menginterogasi kami?" timpal Al sembari mengangkat dagunya.
"Sejenis itu, aku hanya penasaran kenapa devil kalian tidak terlihat. Padahal kalian sudah pernah membunuh?" tanya Xiao serius.
"Tentu karena Jonas! sudah aku bilang, bakatnya yang sekarang ada pada dirimu itu luar biasa. Makanya kami mendesakmu untuk segera menemukan senjatanya, tetapi ternyata kau gagal!" balas Brian sambil menyilangkan tangan di dada.
"Tunggu, apa boleh aku tahu alasan kalian menemui Xiao?" Chan ikut masuk ke dalam pembicaraan. Perlahan kereta yang mereka naiki mulai berjalan.
"Ih! siapa yang ingin menemuinya! tujuan kami sebenarnya mencari Jonas. Tetapi dia sudah mati di tangan orang tua pacarmu ini!" Al menatap ke arah Xiao. Alhasil Xiao yang mendapat tatapan sinis tersebut hanya bisa memutar bola mata malas.
"Lalu devil kalian dikemanakan?" Xiao masih penasaran perihal devil yang ada pada Brian dan Al.
"Ada! tetapi sudah berada dalam diriku. Kau tahu kenapa aku bisa tahan api dan senjata tajam? itulah alasannya!" jelas Brian yang mencondongkan kepala ke arah Xiao.
"Maksudmu devil itu sudah menyatu dengan badanmu?" Xiao mengernyitkan dahi.
"Begitulah, aku sejujurnya masih tidak paham terhadap Jonas dan senjatanya!" respon Brian singkat.
"Lalu kau Al? kekuatanmu apa?" Chan bertanya kepada Al.
__ADS_1
"Aku bisa melihat arwah orang mati selama tujuh hari. Maksudku ini bukan jenis hantu biasanya!" terang Al seraya menyandarkan badannya ke belakang.
"Aku paham, itu luar biasa Al!" kagum Chan, yang sontak menyebabkan munculnya ukiran senyum diwajah Al.
"Hanya itu?" remeh Xiao.
"Hanya itu?!" Al mengulang ucapan Xiao dengan nada penuh penekanan.
"Yah hanya itu! hahaha!" Brian menyahut dengan tawa pecahnya. Xiao lantas mengikuti meski hanya dengan tawa kecilnya. Al langsung melayangkan pukulan di kepala Brian.
"Apa devilmu lemah?" Chan menatap Al serius.
"Hei! aku masih belum pernah membunuh orang!" bantah Al.
"Benarkah? padahal aku sangat jelas melihatmu menembaki banyak orang-orang Tao saat di stasiun!" timpal Xiao dengan dahi berkerut.
"Kalau begitu kau tidak melihatnya dengan jelas kemana Al menembakkan pelurunya. Karena itulah aku kewalahan!" sahut Brian, yang dilanjutkan dengan helaan nafas.
Al sontak melotot ke arah lelaki di sampingnya. "Bri bukankah kau sudah berjanji? jadi jangan mengeluh!" kritik Al.
"Janji apa?" Xiao ingin tahu.
"Oke, kalau begitu bolehkah aku tanya tujuan kalian membantuku?" Xiao kembali bertanya.
"Tentu saja karena Jonas! aku sudah melakukan perjanjian dengannya sebelum dia menghilang." Brian kembali menampakkan raut wajah serius.
"Perjanjian?" Xiao kembali mengernyitkan dahi.
"Harus menjaga penerusnya dan membawa ke perkumpulan rahasia, ya itu dirimu Xiao. Bukankah kalian juga berniat pergi ke sana?" Brian menatap Xiao dan Chan secara bergantian.
"Aku memang ingin ke sana dan membuang jauh-jauh bakat yang telah diberikan Jonas ini!" tegas Xiao.
"Tetapi kau sudah mempunyai devil. Jika kau menghilangkan bakat tersebut, maka devilmu akan semakin mudah mengendalikanmu. Bukankah kau sudah melihat dengan mata dan kepalamu, bagaimana sadisnya orang yang memiliki devil dan tidak bisa melihatnya?" tukas Brian.
"Entahlah!" Xiao menyunggingkan mulutnya ke kanan, lalu membuang muka dari Brian. Pembicaraan mereka berakhir di situ. Selanjutnya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Perjalanan ke Kota Metropolis memakan waktu satu setengah jam.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tibalah Xiao dan yang lain di tempat tujuan. Mereka langsung turun dari kereta sambil mengenakan masker dan topi untuk berjaga-jaga.
"Wah, aku tidak bisa mengelak bahwa aku lumayan merindukan kota ini!" celetuk Chan seraya menghirup udara di kota tempat dirinya berasal.
"Chan! kenapa kau menghirup asap dan polusi dengan begitu tenangnya!" kritik Xiao dengan kekehnya.
"Sudahlah Xiao!" Chan menendang pergelangan kaki Xiao.
"Aaaa!" erang Xiao yang sontak melayangkan tatapan tajamnya kepada gadisnya. "Chan! akhir-akhir ini kau sudah berani memukulku ya!" geram Xiao. Namun tidak digubris sama sekali oleh Chan.
Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah Xiao. Mereka segera bergegas mendekati rumah itu. Terutama Xiao, sang pemilik yang sudah tidak sabar. Tetapi mereka langsung dibuat kaget tatkala menyaksikan rumah Xiao sudah porak-poranda.
"Ini pasti ulah orang-orang Tao!" imbuh Brian.
"Pasti!" Xiao mengepalkan tinju di kedua tangannya. Kemudian dilanjutkan dengan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Benar, lebih baik diperiksa. Mungkin saja ada petunjuk! aku akan menunggu di sini untuk berjaga. Aku merasa akan ada orang yang datang!" tutur Brian yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.
"Xiao?" seorang wanita paruh baya tiba-tiba yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya.
"Hai Nyonya, kau mengenal Xiao?" tanya Brian yang sedang berjaga. Firasatnya memang sangat jarang me-leset.
"Dia adalah muridku! aku sangat berteman baik dengan ibunya," jelas sang wanita paruh baya.
"Benarkah? lalu apa kau tahu dimana ibunya sekarang?" tanya Brian.
"Entahlah! tetapi sebelum menghilang dia memberikan ini kepadaku." Si wanita paruh baya menyodorkan sebuah foto kepada Brian. "Aku sebenarnya melihat kalian dari tadi, makanya aku ke sini untuk memastikan apa pemuda itu Xiao atau bukan," tambahnya.
"Foto?" Brian mengerutkan dahi.
"Iya, dia mencari Xiao kemana-mana. Mungkin saja foto itu bisa menjadi petunjuk mengenai keberadaannya sekarang!" tutur wanita paruh baya itu. "Xiao!!!" pekiknya sambil menampakkan raut wajah merengut. Lalu melajukan langkahnya ke arah Xiao.
"Siapa?" Xiao sontak menoleh ke sumber suara, dan dia sudah saling berhadapan dengan wanita yang pernah menjadi guru les-nya tersebut.
"Kau kemana saja hah?! kau tahu tidak betapa sedihnya ayah dan ibumu atas kepergianmu! dasar anak nakal!" omel sang wanita paruh baya seraya terus melayangkan pukulannya ke badan Xiao. Chan dan Al yang sedang melihat pemandangan itu hanya bisa tertawa.
__ADS_1
"Sudahlah! yang penting aku sekarang kembali!" Xiao memegangi kedua tangan si wanita paruh baya untuk membuatnya berhenti memukul.
"Balas saja dia Xiao dengan pukulan yang lebih keras!" suruh Devgan. Xiao yang mendengar mulai berpikir.