
Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!
...-----...
"I'm Spiderblood, and I always watch people who do bad things! (Aku adalah Spiderblood, dan aku selalu mengawasi orang-orang yang berbuat jahat!)"-Spiderblood.
Seorang pria dengan topeng mengerikan terus menatap ke arah Hongli. Ayah kandung dari Xiao tersebut tubuhnya sekarang terikat di kursi. Kedua tangannya masing-masing dipaku ke bagian pegangan kursi.
Sang pria bertopeng yang menyebut dirinya Spiderblood sudah mempersiapkan peralatan untuk memulai aksinya. Ada banyak benda tajam yang tergeletak di meja. Mulai dari pisau cukur, pisau dapur, gergaji, paku dan lain-lain. Masing-masing dari barang-barang itu terdapat bercak darah segar maupun beku. Bahkan baju Spiderblood tampak dipenuhi dengan noda darah yang banyak.
Terdapat ada sedikit pergerakan dari Hongli, perlahan dia mendongakkan kepalanya dan menatap sosok yang ada di depannya. Kedua tangannya terasa sangat ngilu, darah tak berhenti mengalir dari tusukan paku yang menjadi jerat di antara dirinya dan kursi yang di dudukinya. Dia hanya bisa gemetaran dan menatap getir karena menahan rasa sakit teramat sangat.
Pendengaran Hongli juga disambut dengan suara erangan yang seakan saling menyahut. Benar-benar suara teriakan yang terdengar putus asa dan kesakitan. Sudah lebih dua hari dia berada di tempat yang lebih mirip neraka tersebut. Dirinya yang memang terbiasa mendengar pekikan manusia kesakitan, tampaknya bisa menangani keadaan itu dengan baik. Hanya saja Hongli tidak bisa berkutik dengan peralatan yang mengikat dirinya sekarang.
"Bagaimana rasanya? hahaha!" ujar Spiderblood yang tergelak. Kepalanya sampai setengah mendongak ke atas, seolah ia sangat menikmati apa yang tengah dilakukannya.
"Mmmphhh! mmmphh! mmmphh!" Hongli hanya bisa bergeram dengan kain penutup mulutnya. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Coba kita lihat. . ." Spiderblood bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke meja yang dipenuhi beraneka ragam benda tajam. Kedua tangannya mengatup jadi satu dan mengusap secara pelan. Dia menilik beberapa pisau yang telah menarik perhatiannya.
"Sepertinya benda ini mungkin cocok untukmu. Aah! bukan begitu, atau kita sebut saja ini pemanasan, oke?" ucap Spiderblood sembari memperlihatkan pisau cukur yang sudah berada dalam genggamannya. Dia mulai berderap mendekat, dan langsung menarik ribuan helai rambut tawanannya. Tanpa basa-basi, Spiderblood dengan sigap mengarahkan pisau cukur tepat ke salah satu daun telinga Hongli. Lalu mengirisnya pelan, cairan kental berwarna merah sontak merembes begitu saja. Hongli hanya bisa pasrah, toh jika dia semakin banyak bergerak maka luka di kedua tangannya bisa melebar.
Plak!
Daun telinga Hongli telah selesai terpotong, dan tertarik gravitasi tepat ke lantai. Spiderblood langsung mengambil bagian tubuh yang telah terpisah dari tuannya tersebut. Kemudian memperlihatkannya ke hadapan Hongli. "Lihat! kau sering melihatnya bukan? bagaimana rasanya bisa menyaksikan bagian tubuhmu yang sudah terpisah?" kata Spiderblood sambil memainkan potongan daun telinga yang tampak menggelambir dan berceceran darah. Hongli yang menyaksikan hanya melemah tak berdaya.
"Ya sudah, kau bisa istirahat dahulu. Aku ingin mem-vonis pendosa lainnya!" Spiderblood sekarang berjalan keluar ruangan. Dia melangkah menyusuri koridor, di samping kanan dan kirinya ada pintu yang berjejer. Di setiap ruangan itu terdapat masing-masing satu manusia yang mengisinya.
Ceklek!
Pintu yang kebetulan Spiderblood lewati tiba-tiba terbuka. Muncullah sosok bertopeng lainnya, namun mengenakan topeng yang berbeda, dia adalah salah satu bawahannya. Spiderblood sendiri memanggil semua anak buahnya dengan sebutan Tenshi. Di Jepang sendiri nama itu diartikan sebagai malaikat.
"Tuan! kami sudah siap melaksanakan strategi dari rencana kita. Sekarang tinggal menunggu kesiapan Tuan saja lagi." Tenshi menunduk hormat secara singkat.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita lakukan sekarang!" sahut Spiderblood. Dia segera pergi menuju ruang perkumpulannya.
***
__ADS_1
Chan sekarang menyenderkan badannya ke kursi mobil. Dia sedang memandangi jendela mobil yang hanya bermodalkan pemandangan kota Metropolis. Pikirannya sedang berkecamuk hanya karena memikirkan satu nama.
"Bri! kenapa kau kembali? bukankah kau akan pergi ke Jepang?" tanya Al dengan nada tinggi-nya. Sehingga Chan pun sontak tersadar dari lamunannya.
"Hei! bukankah kau seharusnya berterima kasih kepadaku?" timpal Brian sembari menggeleng tak percaya. Al hanya memutar bola mata, dia tidak bisa mengelak dengan pernyataan yang disebutkan Brian.
"Ya sudah, terima kasih. Sepertinya kau mengikuti firasatmu lagi kan?" tebak Al.
"Kau tahu kan bahwa firasatku tidak pernah salah? tadi saat aku beranjak pergi meninggalkanmu, hatiku merasakan kejanggalan yang sangat kuat. Akhirnya kekhawatiranku mengalahkan amarahku!" tutur Brian sambil memfokuskan atensinya dalam mengemudi.
"Terima kasih Brian! Al! akulah yang harus mengucapkannya," ungkap Chan dengan nada pelan.
"Sama-sama Chan, sebagai anak indigo yang sebatang kara bukankah kita harus saling menolong?" balas Al yang mengukir senyum tupis diwajahnya.
"Sebatang kara? kau hidup sendiri Chan?" tanya Brian yang sama sekali belum mengetahui Chan lebih dalam.
"Iya. Aku sudah lama hidup sendiri," jawab Chan.
"Kau benar-benar hebat! bagaimana mungkin kau bisa bertahan? paling tidak kau harus memiliki seekor anjing untuk menemanimu." Al menatap Chan dengan sudut matanya.
"Awalnya memang sulit. Tetapi terkadang para hantu bisa menjadi temanku. Yang jelas aku kembali bersemangat menjalani hidup karena seseorang yang. . ." Chan berhenti menjelaskan kala mengingat orang yang terlintas dalam pikirannya.
"Aku rasa tebakanmu benar Al. Orang itu pasti Xiao, aku berani bertaruh!" yakin Brian.
Chan lantas mendengus kasar dan berucap, "Aku tidak bisa membantah. Orang itu memang Xiao!"
"Pantas saja kau sangat menikmati perjalanan bersamanya. Wah aku sangat iri!" tutur Al yang memanyunkan mulutnya.
"Kau menyindirku lagi ya?!" tukas Brian seraya menatap Al dari kaca yang ada di depannya.
"Bukankah sudah jelas Bri?" balas Al santai. Perdebatan di antara Brian dan Al terus berlanjut. Chan yang menyaksikan hanya mampu tertawa kecil. Lagi-lagi dirinya kembali mengingat Xiao, orang yang sudah terbiasa berada di sampingnya.
'Aku tidak habis pikir Xiao melakukan semua itu kepadaku. Apa alasan dia ingin membunuhku? aku yakin dia punya alasan kan? atau karena dia diancam oleh ibunya. Aku ingin menemui Xiao secepat mungkin. Aku mau mendengar semua penjelasan dari mulutnya sendiri,' batin Chan yang kembali memandangi jendela mobil.
...-----...
[Epilog Spesial Bab 47]
Flashback 5 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Ibu jangan tinggalkan aku! kumohon!" mohon Chan seraya berlutut dikaki sang ibu. Tangisannya sudah mencapai sesegukan. Namun ibu kandungnya sama sekali tidak peduli, dan tetap bersikeras pergi tanpa mimik kesedihan sedikit pun. Sejak saat itu, Chan mulai tinggal sendirian dan sering menangis.
"Chan, kau bisa bunuh diri dan tinggal bersama kami. Kau tidak perlu kesepian lagi seperti ini. Tidak ada yang peduli kepadamu!" ucap hantu seorang nenek bermata putih.
"Aku tahu Nek! hiks! hiks! haruskah aku melakukannya?" sahut Chan. Dia sedang menangis di jalanan sepi. Di sore hari menjelang malam.
"Iya, supaya kau tidak kesepian lagi anak manis!" ucap si hantu nenek dengan lengkungan senyuman yang mengerikan. "Lihat! ada mobil yang mengarah ke sini. Kau bisa berdiri ke tengah saat mobil itu semakin mendekat!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah mobil berada. Chan pun mengangguk dengan tatapan polosnya. Setelah mengucek-ucek matanya, dia pun segera memposisikan diri ke tengah jalan.
Mobil semakin mendekat dan,
Syuuut!
Reflek berhenti, karena menyadari kehadiran Chan. Seorang lelaki bergegas turun dari mobil.
"Chan? kaukah itu?" tegurnya. Suara tersebut terasa tidak asing di telinga Chan. Dia pun langsung membuka matanya yang tadi reflek tertutup karena lampu mobil. Pupil mata Chan membesar tatkala melihat kehadiran Xiao di depan mata.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Xiao dengan gelagat khawatir.
"Apa dia temanmu?" tanya Hongli yang baru saja keluar dari mobil.
"Iya, dia temanku!" jawab Xiao, dia memegangi tangan Chan secara lembut.
"Apa kau tersesat?" Hongli membungkukkan badan untuk menyamakan tingginya dengan Chan.
"Tidak." Chan menggelengkan kepala. Selanjutnya Xiao pun mengusulkan kepada sang ayah untuk mengantarkan Chan pulang ke rumah.
"Berhenti di gang itu saja Om!" Chan menunjuk sebuah gang. Hongli pun menuruti keinginan gadis tersebut.
"Terima kasih Om, dan kau juga Xiao!" ujar Chan, lalu langsung turun dari mobil. Dia beranjak pergi memasuki gang seraya memegangi bagian perutnya. Jujur saja sedari tadi perutnya terus melakukan protes akibat tidak ada asupan makanan yang masuk.
"Chan tunggu!" panggil Xiao yang sontak membuat Chan berbalik.
"Ini ambillah!" Xiao memberikan sekotak cokelat batang penuh. Mata Chan reflek terbelalak.
"Banyak sekali! ini untukku?" Chan merasa tak percaya.
"Chan, jangan pernah melakukan itu lagi ya! jika kau tidak punya siapa-siapa, kau bisa datangi aku saja!" ungkap Xiao dengan senyuman simpulnya, kemudian kembali memasuki mobil.
Chan merasa terenyuh, sampai-sampai dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan dari mobil Hongli yang terus berjalan menjauh. Gadis tersebut perlahan mengulum senyum dengan mata yang berembun.
__ADS_1