Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 63 - Neraka Spiderblood


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!


...-----...


"Apa kau percaya neraka itu ada? hmm. . . jika kalian bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab ada. Karena aku-lah yang membuatnya ada. Haha!" Spiderblood tergelak sejenak, ia berbicara melalui saluran dark web. Sekarang dia terfokus membaca komentar orang-orang di kanal-nya.


Komentar di kanal dark web Spiderblood :


•lovelyblood


[Aku tidak sabar melihatnya.]


•zigxxx


[Berarti kau menghukum orang-orang yang berdosa?]


•Sanctuary7


[Katakan kepada kami kau terinspirasi Jigsaw dan Spiderman, haha. Terlihat konyol!]


Spiderblood menyeringai saat membaca komentar dari akun yang bernama Sanctuary7, dia pun berucap, "Kau salah! aku tidak seperti Jigsaw. Dia menghukum orang-orang yang menurutnya salah, tetapi tidak bagiku." Spiderblood mendekatkan wajahnya ke layar. "Aku tidak peduli dengan orang baik dan buruk, yang jelas aku membunuh semua orang dengan cara menyiksanya seperti di neraka. Ingat, semua orang! hahaha--"


Zzzzt. . . kanal Spiderblood berakhir dengan glitz.


...-----...


Buk! dhuak! Buk! Dhuak!


Beberapa orang bertopeng saling bergantian menendangi badan Hongli.


"Rasakan itu!" timpal salah satunya. Setelahnya mereka kembali saling bergantian menancapkan benda-benda tajam yang dibawa. Hongli hanya bisa mengerang kesakitan, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.


"Sekarang saatnya kita memotong setiap bagian tubuhnya!" usul pria dengan topeng bertanduk. Dia memegang pisau di masing-masing kedua tangannya.


Di sisi lain, Anming ternyata mengalami nasib sama seperti Hongli. Sosok misterius yang bersamanya ternyata tidak sendirian. Dia bersama ke-enam orang lainnya. Karena Anming tak mampu berjalan, para orang bertopeng itu tidak perlu kerepotan melakukan aksinya.


Bruk!


Salah satu dari mereka memisah kepala Anming dari badannya terlebih dahulu. Dia menggunakan kapan besar untuk memotongnya. Setelahnya, mereka mulai mengiris bagian perut. Lalu mengeluarkan organ-organ dalam milik Anming satu per satu. Mereka bertingkah bagaikan gerombolan harimau yang mendapat mangsa.


***


Brian masih tidak mampu melangkah dari tempatnya. Kedua tangannya menekan bagian kepala. Suara-suara bisikan terus menghantui pikiran dan pendengarannya.


"Brian!" Xiao muncul dari kejauhan. Dia segera menghampiri Brian.

__ADS_1


"Sialan! apa yang terjadi kepadamu, tolol!" geram Xiao seraya mencoba membopong Brian.


"Bawa aku kembali Xiao. . ." lirih Brian dengan suara seadanya.


"Ya sudah! ini aku sedang berusaha!" tukas Xiao, dia terpaksa harus menopang badan Brian yang beratnya minta ampun.


Tes! Tes! Tes!


Awan gelap akhirnya diterpa angin, dan menghasilkan tetesan air yang lumayan deras. Sekarang malam semakin samar karena air hujan.


"Sialan, hujan lagi!" gerutu Xiao.


"Aaaaarkkhh!!!"


"Aaaarrghhh!!!" suara pekikan mencuri atensi indera pendengaran Xiao. Suara teriakan tersebut terdengar seperti terancam dan ketakutan.


"Devgan, apa itu jauh? kau tidak bisa memeriksanya?" Xiao bertanya pada devilnya.


"Ti-tidak! aku tidak mau memeriksanya. Manusia itu memiliki devil yang sangat besar!" balas Devgan yang tampak menciut.


"Kenapa kau ketakutan bodoh? baru kali ini aku melihatmu begitu!" Xiao meringis jijik.


"Pokoknya untuk saat ini, aku tidak menyarankanmu bertemu dengannya. Xiao, Brian benar! kita lebih baik pergi dari sini!" Devgan tiba-tiba berubah pikiran.


"Kau kenapa?! hah!"


"Siapa yang kau maksud?!" Xiao semakin dibuat penasaran. Hingga pergerakan semak-semak pohon mengalihkan atensinya.


"Itu dia!" Devgan menunjuk ke arah sosok yang muncul dari semak pohon. Dialah Spiderblood, sedang membawa tas berwarna putih di dalam kedua genggamannya.


Mata Xiao membulat sempurna ketika menyaksikan penampakan devil milik Spiderblood. Berbadan besar sepuluh kali lipat dari Devgan. 'Sial! orang ini sudah membunuh berapa banyak manusia?!' gumam Xiao dalam hati. Kakinya reflek digerakkan untuk segera berlari sambil membopong Brian.


"Tunggu! aku tidak akan menyakitimu." Spiderblood memanggil, hingga membuat Xiao menoleh ke arahnya.


"Apa maumu?!" tanya Xiao ketus.


"Tidak ada. Hanya memberikan sesuatu yang sedang kau cari!"


Bruk!


Spiderblood melemparkan benda yang sedari tadi di tangannya ke atas tanah. Benda itu adalah dua tas misterius yang dihiasi dengan bercak darah.


"Aku akan pergi lebih dahulu!" Brian melepaskan rangkulan Xiao, lalu berjalan gontai sendirian menuju jalan kembali.


"Brian!" Xiao mencoba mencegah. Pandangannya teralihkan kepada Brian. Lidahnya berdecak kesal seraya kembali menoleh ke arah Spiderblood berada. Namun Xiao sangat terkejut karena Spiderblood sudah menghilang. Hanya ada dua tasnya yang masih tergeletak di tanah.

__ADS_1


Karena penasaran, Xiao membuka salah satu tas pemberian Spiderblood. Matanya reflek terbelalak ketika melihat kepala utuh ayahnya sendiri. Sekarang usaha penyalamatannya terasa sia-sia.


"Woooooyyy!!!" pekik Xiao, yang mencoba memanggil Spiderblood. Nafasnya mulai naik turun dalam tempo cepat. Amarahnya melonjak naik.


"Xiao, lebih baik kita pergi dari sini!" Devgan menyarankan.


"Tidaak!!!" Xiao bersikeras sambil memperhatikan sekelilingnya, berharap dapat melihat lagi penampakkan Spiderblood. Nihil, dia tak mampu menemukannya. Apalagi di tengah tetesan air hujan yang semakin deras.


"Lebih baik kita menyusul Brian, ini bukan waktu yang tepat Xiao!" Devgan kembali mengingatkan. Xiao akhirnya mengalah dan memilih berjalan menyusul Brian. Sebelum itu, dia mengambil tas yang satunya lagi untuk dibawa.


...-----...


[Epilog Spesial Bab 63]


Orang-orang bertopeng tampak sudah selesai memisah bagian tubuh Hongli menjadi beberapa bagian. Mereka masing-masing tersenyum puas dari balik topengnya.


Set!


Tiba-tiba kepala milik pria yang mengenakan topeng berwajah kakek tua terpenggal begitu saja. Alhasil tubuhnya yang sudah buntung terhempas ke tanah mengikuti gravitasi. Di belakangnya nampaklah Spiderblood tengah memegang katana-nya.


"Ka-kau bekhianat?!" wanita yang mengenakan topeng berwarna putih pucat bersuara.


"Yah. . . bisa dibilang begitu." Spiderblood menyahut dengan angkuh. Kemudian memainkan katana-nya dengan piawai. Dia hanya membidik bagian kaki. Para orang bertopeng berusaha melawan, namun pergerakan mereka kalah cepat. Apalagi ketika semua Tenshi berdatangan dan menangkap mereka.


"Huaaah. . . akhirnya aku tiba di tujuanku. Kalian bawalah orang-orang itu ke markas, aku ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu." Perintah Spiderblood, yang langsung dilakukan para Tenshinya.


Spiderblood berderap mendekati potongan tubuh Hongli yang sudah berserakan di tanah. Dia mengambil bagian kepala saja untuk dimasukkan ke dalam tas.


"Tuan, ini kepala utuh Anming!" salah satu Tenshi menyodorkan sebuah tas kepada Spiderblood.


"Kerja bagus, kau sudah membawa semua rombongan yang membunuhnya juga kan ke markas?"


"Tentu!" Tenshi menjawab yakin. Spiderblood merespon dengan anggukan dan senyuman bangga-nya.


"Kau mau apakan kepala-kepala itu?" tanya Tenshi penasaran.


"Aku ingin memberikannya pada seseorang yang berhasil menarik perhatianku," jawab Spiderblood, kemudian segera berderap pergi masuk ke dalam hutan. Dia berniat mencari lelaki yang tadi dilihatnya di kamera pengawas.


Semua sasaran Spiderblood telah dikumpulkan di satu ruangan. Mereka masing-masing dijerat dengan rantai. Spiderblood yang sudah selesai melakukan urusannya segera memeriksa semua tawanan barunya.


"Dasar pengkhianat!" geram salah satu pria yang memiliki badan agak berisi.


"Hei, aku kan sudah membantumu membalas dendam. Sekarang kedua mafia itu sudah mati!" balas Spiderblood dengan nada pelan.


"Pembohong! padahal kau bilang melakukannya tanpa pamrih!" seorang wanita ikut menimpali.

__ADS_1


"Memang, karena aku tidak begitu suka dengan uang. Aku lebih suka dengan apa yang akan kita lakukan sebentar lagi. Astaga, apa kalian juga sudah tidak sabar?" Spiderblood menggosok-gosokkan tangannya seolah tidak sabar. Selanjutnya ia pun menyuruh Tenshi menyalakan kamera.


"Inilah neraka yang kumaksud." - Spiderblood.


__ADS_2