Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 88 - Keputusan Para Guru


__ADS_3

Mitos terkadang tersembunyi dibalik logika.


***


"Lien? apa yang kau lakukan?" Chan akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Namun Lien hanya menatapnya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


"Chan!" seseorang dari belakang menarik Chan untuk menjauhi Lien. Dialah Li-Jun yang segera membawa Chan ikut bersamanya.


"Ada apa? aku ingin bicara kepada Lien!" protes Chan yang tak mau dirinya diseret oleh Li-Jun.


"Chan! bukankah kau sudah berjanji tidak akan ikut campur?!" Li-Jun mengerutkan dahi.


"Bukan begitu, aku sudah dua kali memergoki Lien dengan keadaan tangan yang berlumuran darah!" terang Chan.


"Menjauhlah Chan! jangan ikut campur jika kau ingin selamat. Dan menjauhlah dari Xiao!" balas Li-Jun kemudian pergi begitu saja. Namun langkahnya langsung terhenti tatkala Xiao tiba-tiba menghadangnya di depan. Lelaki tersebut segera berjalan mendekati keberadaan Li-Jun dan Chan.


"Hai Xiao! bukankah kau bilang tempo hari sudah tidak peduli lagi dengan Chan?" tukas Li-Jun yang tiba-tiba saja meraih tangan Chan di depan mata Xiao.


"Apa yang kau maksud?" Chan menatap penuh tanya kepada Li-Jun.


"Xiao dia tidak--"


"Jangan dengarkan dia Chan!" tegas Xiao, yang sontak membuat Chan semakin dilanda kebingungan.


"Apa kau bilang?!!" Li-Jun mulai menampakkan ekspresi kesal.


Xiao semakin berjalan mendekati Li-Jun. Sekarang keduanya saling berhadapan untuk bertukar tatapan tajam.


"Chan." Xiao mengulurkan tangannya ke arah Chan. Dia berharap gadis itu mau menyambut tangannya.


"Tidak Chan, jangan dengarkan dia!" timpal Li-Jun.

__ADS_1


"Kalian kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini?!" Chan menatap Xiao dan Li-Jun secara bergantian.


"Chan, aku akan ceritakan semuanya." Xiao mendesak, telapak tangannya masih terbuka lebar untuk menunggu sambutan Chan.


"Jangan!" Li-Jun menatap Chan penuh harap. Namun Chan tak hirau, karena ia lebih memilih Xiao.


"Maafkan aku Jun, aku sudah mengenal Xiao sejak lama dari pada dirimu," tutur Chan sembari menyambut tangan Xiao. Sedangkan Li-Jun hanya bisa terdiam saat menyaksikan Chan dan Xiao berjalan meninggalkannya.


...-----...


[Flashback On]


Ketika di toilet. Tepatnya setelah Lien berjalan keluar, dan kebetulan bertemu Chan. Xiao sedang berdiri menatap dua mayat siswi tergeletak tak bernyawa di lantai.


Xiao mendengar suara berisik di toilet wanita yang letaknya tepat berada di sebelahnya.


"Itu Chan!" Devgan memberitahu. Mendengarnya, Xiao pun berbalik dan menatap ke arah pintu. Apalagi setelah mendengar suara langkah kaki Chan telah keluar dari toilet. Xiao hanya berharap gadis tersebut tidak masuk ke dalam toilet pria, tempat dirinya berada sekarang.


Pintu perlahan terbuka, namun bukannya melihat penampakan Chan, Xiao malah menemukan Li-Jun yang telah berhasil memergokinya.


Li-Jun sontak membelalakkan mata ketika menyaksikan Xiao sedang berdiri di dekat dua mayat siswi yang sudah tak bernyawa.


"Jun, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Xiao mencoba melakukan pembelaan. Tetapi Li-Jun sudah terlanjur ketakutan. Dia segera berlari keluar toilet dan meninggalkan Xiao.


Li-Jun merasa frustasi. Dia bergegas memberitahu para guru mengenai ulah Xiao di toilet. Sekarang dia dan Pak Hao lekas-lekas berjalan menuju toilet pria. Namun ketika sudah tiba di tempat tujuan, mereka malah tidak ada menemukan apapun.


Dua mayat siswi yang tadinya terbaring tak bernyawa di lantai menghilang begitu saja. Bahkan lantainya tampak bersih, tanpa adanya noda darah sedikit pun. Xiao pun sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.


"Berani-beraninya kamu membohongi Bapak!" geram Pak Hao yang merasa tertipu dengan pengaduan Li-Jun.


"Tapi aku berkata jujur Pak! aku bersumpah!" sahut Li-Jun sambil memegangi lengan Pak Hao. Berharap guru-nya tersebut dapat mempercayainya.

__ADS_1


"Hentikan! aku tidak punya waktu untuk ini!" Pak Hao melepaskan genggaman tangan Li-Jun dengan paksa, kemudian segera beranjak pergi dengan raut wajah kesalnya.


[Flashback Off]


...-----...


Karena kasus kematian Olive, semua murid lagi-lagi harus dipulangkan ke rumah. Bahkan beberapa siswa dan siswi yang sudah merasa tidak tahan, memilih berhenti bersekolah di sekolah Heping. Meskipun begitu, masih banyak murid yang masih bertahan. Hal itu dikarenakan karena beberapa hari lagi ujian akhir akan segera diadakan. Kebanyakan peserta didik memilih meninggalkan sekolah setelah ujian akhir dilaksanakan.


Karena banyaknya kasus dan juga murid yang semakin berkurang. Para guru pun mengadakan rapat untuk melakukan penyelesaian terhadap apa yang telah terjadi di sekolah mereka. Apalagi dengan adanya kabar baru mengenai hilangnya dua siswi semenjak tiga hari yang lalu.


"Ini benar-benar aneh. Padahal cenayang hebat itu sudah menangkal kutukannya, dan dia bilang kutukan tersebut tidak akan terjadi lagi meski gudangnya dibuka. Tetapi kenapa..." Bu Ming mengernyitkan keningnya karena tengah mencari-cari jawaban yang tepat di kepalanya.


"Perlukah kita mencari cenayang itu lagi? atau kita bubarkan saja sekolah ini. Jujur aku pun sudah lelah menghadapi semua tragedi yang ada!" balas Pak Hao seraya memegangi bagian kepala.


"Hahaha! kenapa kau masih percaya mengenai mitos kutukan gudang terlarang itu?" sinis seorang guru yang sering disapa Jenny. Dia adalah guru yang mengajar Biologi, jadi wajar saja pikirannya selalu bertumpu pada logika.


"Benar! mempercayai hal itu seperti membuang waktu saja!" seorang guru yang lain menyetujui pendapat Bu Jenny.


"Biar aku tanyakan kamu beberapa pertanyaan Bu Jenny. Apakah kau tahu penyebab perubahan perilaku Pak Lim? terus apakah kau tahu siapa yang membunuh Olive? padahal polisi sama sekali tidak menemukan sidik jari siapapun ditubuhnya. Bukankah itu aneh?" timpal Bu Ming, yang sontak membuat seluruh guru mulai mempercayainya.


"Pak Lim memiliki hutang yang banyak jadi wajar saja dia melampiaskan kekesalannya kepada orang lain. Alasan dia bunuh diri mungkin karena itu juga, dan mengenai Olive, aku yakin pasti ada seseorang yang telah membunuhnya. Dan dia melakukannya dengan sangat rapi!" Bu Jenny menjelaskan.


"Tapi apa salahnya berjaga-jaga Bu Jen? mitos atau pun logika, bukankah yang terpenting adalah keselamatan kita dan anak didik kita. Jadi menurutku tidak salah memanggil cenayang datang ke sini." Pak Hao berada di sisi Bu Ming.


"Bagaimana kalau kita tutup saja sekolah ini, aku tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti Pak Lim!" seorang guru wanita yang tampak ketakutan memberanikan diri bersuara.


"Tetapi sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan dilaksanakan. Hanya menunggu hitungan hari saja!" Bu Ming berpendapat, dia tidak ingin anak didiknya merugi.


"Bagaimana begini saja, kita tetap membuka sekolah, tapi tetap juga mendatangkan cenayang, untuk berjaga-jaga saja kalau sesuatu hal buruk akan terjadi. Apalagi di hari ujian akhir nanti!" salah satu guru berkacamata berpendapat.


"Ide yang bagus, lebih baik begitu saja." Kepala sekolah menyetujui usulan sang guru berkacamata. Yang mana saran tersebut lantas disetujui oleh seluruh guru yang berhadir.

__ADS_1


"Kalau begitu, cepat segera panggil cenayang yang bisa membantu. Dan ingat! jangan sampai media mengetahui hal ini sebelum sekolahnya benar-benar ditutup!" titah sang kepala sekolah yang dilanjutkan dengan beranjak pergi keluar dari ruangan.


__ADS_2