
Sedikit lagi, Spiderblood akan berada di ambang kematian.
***
Bork berjalan mendekati Chan. Tatapannya tidak teralihkan dari apa yang di inginkannya. Janin yang sekarang tengah berada dalam kandungan Chan begitu menarik atensinya. Lidahnya yang panjang sesekali keluar, akibat saking merasa tergiur. Bork perlahan mencoba menyentuh perut Chan. Namun sebuah tangan dengan sigap mencengkeram lengannya.
Bork otomatis berbalik badan, untuk memastikan seseorang yang telah berani mencegatnya. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan Devgan sudah siap menerkamnya. Tatapan devil tersebut memancarkan aura yang sangat mengancam, hingga menyebabkan sekujur badan Bork gemetaran.
"Devgan!" panggil Xiao, mencoba menegur. Dia berhasil membuat Devgan menghentikan tindakannya. Teguran Xiao itu lantas dimanfaatkan Bork untuk melarikan diri. Makhluk bersisik tersebut melingus pergi begitu saja keluar dari ruangan.
Xiao sudah duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia saling bertukar pandang dengan Devgan.
"Sebentar lagi kita akan tiba..." lirih Devgan, bersuara parau.
"Ya... maka sebentar lagi kita akan berpisah. Kau memang makhluk yang jahat Devgan, tetapi aku akui, kau sebenarnya telah banyak membantuku," ucap Xiao, yang membuat kepala Devgan yang sedari tadi menunduk perlahan terangkat.
"Apa itu artinya kau memberiku kesempatan?" Devgan menatap penuh harap. Dia tidak ingin dimusnahkan seperti devil lainnya.
"Tidak. Tetapi, aku akan menjadikanmu devil yang terakhir untuk dimusnahkan," sahut Xiao. Kemudian berjalan keluar ruangan. Berniat menyusul Bork ke bagian kemudi.
Bork terlihat duduk sembari menatap ke arah depan. Kepalanya langsung menoleh, saat mendengar suara langkah Xiao semakin mendekat.
"Apa perjalanannya masih panjang?" tanya Xiao. Memposisikan diri duduk tidak begitu jauh dari Bork.
"Lumayan!" Bork menjawab ketus.
__ADS_1
"Ambillah darahku, jika energimu benar-benar telah habis!" ujar Xiao seraya menyodorkan pergelangan tangannya kepada Bork.
Apa yang dilakukannya itu tentu membuat Bork tersenyum senang. Makhluk tersebut bergegas mengambil selang kecil untuk mengambil darah. Dia pun berhasil mendapatkan energinya kembali dengan segelas darah.
Kapal melayang dengan tenang, masih dalam suasana gelap dan dingin yang sama. Semua orang yang tertidur telah bangun. Mereka tidak sabar menyaksikan kastil yang telah menjadi tempat tersembunyi-nya senjata gaib.
"Menurutmu, di kastil itu ada makhluk yang berbahaya?" tanya Chan. Dia menatap Theo dengan sudut matanya.
"Entahlah, kita akan tahu setelah tiba di sana," jawab Theo pelan.
Beberapa saat kemudian, tampaklah dari kejauhan bangunan kastil yang terbilang sangat besar.
Perlahan Bork menurunkan kapalnya. Dia menyuruh Xiao dan yang lainnya untuk segera turun. Selanjutnya, tanpa basa-basi lagi, Bork pun beranjak pergi dengan kapalnya. Sepertinya kabur setelah mengantar memang adalah kebiasaannya.
"Apa kita langsung masuk saja?" Xiao bertanya kepada Theo.
"Sepertinya begitu. Kastilnya terlihat sangat sepi..." ucap Theo, meskipun dipenuhi rasa keragu-raguan. Dia menggerakkan kakinya lebih dahulu memasuki kastil.
"Chan, kau berjalan di tengah. Aku akan menjagamu dari belakang!" ujar Xiao.
Chan pun melangkah lebih dahulu mengikuti Theo, sedangkan Xiao berjalan tepat di belakangnya. Ketiganya berderap secara beriringan. Semakin memasuki wilayah kastil semakin dalam.
Suara samar desisan ular tertangkap oleh telinga Xiao. Menyebabkan pandangannya otomatis mengedar ke segala arah. Mencari sumber suara yang sama sekali tidak terlihat wujudnya.
"Theo, apa kau tahu letak senjata itu ada di ruang mana?" tanya Xiao sedikit meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
"Itulah masalahnya, aku tidak tahu..." Theo menoleh ke arah Xiao. Menunjukkan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.
"Kalau begitu, kita akan memakan waktu yang lama untuk menelusuri tempat ini!" ucap Chan ikut merasa khawatir.
"Bagaimana kalau kita berpencar?" usul Theo yang mendadak menghentikan langkahnya. Dia hendak berbicara serius.
"Tidak! jangan gila Theo. Aku tidak akan membiarkan Chan berjalan sendirian. Kenapa tidak kau saja yang pergi--"
"Sudahlah! yang terbaik sekarang kita tetap bersama. Kita lakukan pencarian dengan cepat, dan jangan sampai terpisah!" Chan sengaja memotong ucapan Xiao. Dia tidak akan membiarkan ketegangan terjadi di antara Xiao dan Theo.
"Devgan, apa kau melihat penghuni tempat ini?" tanya Xiao sambil terus menderapkan kakinya maju. Matanya menoleh ke kiri dan kanan.
"Makhluk setengah ular. Dia cukup berbahaya, tetapi karena aku ada bersama kalian. Makhluk itu tidak berani untuk bertindak apapun," sahut Devgan.
"Kau harus terus mengamati Chan, jangan biarkan makhluk itu mendekatinya!" titah Xiao tegas.
"Ah! kau selalu saja mementingkan gadis merepotkan itu!" gerutu Devgan, yang sontak membuat mata Xiao menyalang ke arahnya. Devgan seketika membisu, dan tidak lagi melanjutkan keluhannya.
Xiao, Chan dan Theo cukup lama melakukan pencarian. Dari mulai lantai dasar hingga tiba di lantai tiga. Belum lagi lantai atas lainya. Luas satu lantai sendiri sangatlah besar. Chan mulai kelelahan, keringat tampak menetes di kedua pelipisnya. Langkah kakinya pun semakin melambat. Menyebabkan Xiao yang mengekori dari belakang, ikut memelankan jalannya.
Dari depan, Theo terlihat berhenti. Kemudian mendudukkan diri ke lantai. Sepertinya tidak hanya Chan yang sedang merasakan kelelahan. Alhasil gadis tersebut ikut duduk bersama dengan Theo.
Sedangkan Xiao, masih tampak bersemangat untuk melajukan pergerakan kakinya. Dia masuk ke sebuah ruangan yang kebetulan ada di sana. Mata Xiao membulat sempurna ketika melihat sesuatu yang menarik. Yaitu sebuah buku bersampul tengkorak tergeletak di atas meja. Dia bergegas mengambil buku tersebut. Bukunya semakin menarik, ketika Xiao membuka isinya. Ternyata buku itu berisi segala hal mengenai senjata gaib yang akan dicarinya.
"Teman-teman, lihat apa yang aku temukan!" pekik Xiao seraya membaca setiap kalimat yang ada di dalam buku. Chan dan Theo otomatis berlari menghampirinya.
__ADS_1