
Masih berusaha menikmati ketenangan.
***
Chan sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dia dan Xiao sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa.
"Chan! kau pakai ini, di luar cuacanya sangat dingin," ujar Xiao sembari menyodorkan mantel tebal.
"Ya iyalah dingin, kan sekarang bulan Desember," jawab Chan sambil mengambil mantel yang diberikan Xiao. "Selanjutnya kita kemana? apa kau punya rencana?" lanjutnya dengan tatapan serius.
"Kita harus mencari senjata Jonas!" imbuh Xiao yang di iringi dengan hela nafasnya.
"Jonas? senjata? apa maksudmu?" tanya Chan yang masih belum mengetahui apapun. Bahkan adanya devil yang telah dimiliki Xiao.
"Astagaaaa!" lagi-lagi Xiao mendengus kasar, dia sangat malas harus menjelaskan semuanya. Chan sontak mengernyitkan dahi, dan menatap penuh harap ke arah lelaki di sampingnya. Viera yang menyaksikan adegan itu akhirnya turun tangan.
"Aku akan jelaskan Chan!" ucap Viera.
"Terima kasih Vier!" ungkap Xiao singkat, kemudian berjalan lebih dahulu keluar. Chan hanya bisa menggeleng tak percaya melihat tingkah Xiao yang tak peduli.
Sekarang Xiao dan Chan tengah melangkah dengan beriringan, salju terlihat menutupi beberapa area. Kala itu Viera menceritakan semuanya kepada Chan. Termasuk siapa Jonas, Brian, dan yang paling mengejutkan Chan adalah bahwa Xiao sudah pernah membunuh seseorang. Alhasil gadis tersebut melangkah maju untuk menghampiri Xiao. Raut wajahnya tampak gelisah.
"Xiao!" Chan menarik pundak Xiao, agar dia bisa saling berhadapan dengannya.
"Hmm?" Xiao memusatkan perhatiannya kepada Chan.
"Apa benar yang Viera katakan, bahwa kau sudah pernah membunuh seseorang?" tanya Chan yang menatap serius.
"Iya!" Xiao menganggukkan kepala dengan ekspresi datarnya. Namun binar masih ada di dalam sorot matanya.
"Kenapa kau melakukannya?" Chan kembali bertanya.
"Aku terpaksa Chan! mereka adalah orang-orang Tao. Apa kau takut padaku?" jelas Xiao yang di akhiri dengan pertanyaan.
"Bukan itu yang aku takutkan, tetapi devilmu," imbuh Chan yang khawatir. Xiao yang menyaksikan raut wajah itu sontak mendekatkan mulutnya ke telinga Chan.
"Karena itulah aku membutuhkan senjata Jonas, agar bisa melakukan sesuatu dengan devilku. . ." bisik Xiao.
"Aku bisa mendengarnya, Xiao!" Devgan menyahut. Namun Xiao sama sekali tak hirau.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu ayo cari senjatanya, ngomong-ngomong dimana kita bisa menemukannya?" imbuh Chan sambil melangkah lebih dahulu.
"Aku tahu--"
"Ikut aku!" Xiao memutus kalimat yang hendak dilontarkan Viera. Dia menarik tangan Chan, dan membawanya ke suatu tempat.
"Ish! dasar manusia!" geram Viera yang sedang menampakkan wajah seramnya. Di sepanjang jalan, Xiao masih menggenggam erat jari-jemari Chan.
'Xiao kenapa bisa jadi begini ya?' batin Chan yang tak berhenti tersenyum.
Akhirnya tibalah Xiao di tempat tujuan. Dia pun menghentikan langkahnya tepat di depan restoran mewah. Tempat tersebut dipenuhi dengan lentera berwarna-warni, dan bersuasana romantis. Berbeda dengan warung makan di sebelahnya yang kumuh, serta penuh antrian. Chan lantas terperangah, kemudian menatap Xiao dengan binar matanya.
"Ayo!" ajak Xiao yang sudah melepaskan tangannya dari Chan.
"Xiao, kau--" Chan langsung terdiam ketika melihat Xiao malah pergi ke warung makan yang kumuh dan penuh antrian. Alhasil gadis itu hanya bisa menghentakkan kaki kesalnya.
'Aku salah! dia tidak pernah perhatian!' geram Chan dalam hati.
"Chan! ayo!" desak Xiao yang sudah masuk ke dalam antrian. Pada akhirnya Chan pun terpaksa melangkah dan berdiri di samping Xiao.
"Kalau begini, ngapain kamu narik-narik tanganku!" gerutu Chan.
"Aku melakukannya supaya kita bisa datang ke sini tepat waktu. Aku dengar makanan di sini enak." Xiao menampakkan senyum tak bersalah, dan berhasil membuat Chan memutar bola mata jengah.
"Bagaimana? enak?" tanya Xiao seraya mengunyah makanannya.
"Lumayan," sahut Chan singkat. Dia masih merasa kesal dan tampak cemberut. Xiao yang berhasil menyadari ekspresi tersebut hanya menyunggingkan mulutnya ke kanan, lalu kembali menyantap hidangannya.
"Apa setelah ini kita akan mencari senjata Jonas?" tanya Viera.
"Tentu. Iya kan Xiao?" balas Chan yang di akhiri dengan pertanyaan untuk Xiao.
"Mungkin saja," kata Xiao ambigu.
"Mungkin? Xiao kau seharusnya tidak terlalu banyak menunda waktu!" desak Viera.
Bruk!
"Memangnya ada sesuatu yang mendesak ya sekarang? Bukannya awalnya kau ingin menyembunyikan senjata itu padaku? tapi kenapa malah kau sekarang yang mendesak!" timpal Xiao setelah menghempaskan sisa makanannya ke tanah. Dikarenakan amarahnya, Devgan hampir saja menyerang Viera. Namun beruntung Xiao sempat mencegahnya.
__ADS_1
"Xiao, kenapa Viera terlihat ketakutan begitu?" tanya Chan.
"Entahlah!" balas Xiao singkat. Dirinya tidak ingin Chan tahu betapa mengerikannya Devgan.
"Ayo kita cari senjata Jonas!" imbuh Xiao yang sekarang baru menyadari bahwa Devgan akan selalu ikut campur dengan urusannya.
Xiao dan Chan kembali berjalan beriringan. Keduanya melewati banyaknya orang. Terutama beberapa pasangan muda yang berhasil menarik atensi Chan.
"Xiao. . ." panggil Chan lirih, dia berhenti di posisinya. Xiao yang berada di depan lantas berbalik dan menatapnya.
"Apa?" tanya Xiao.
"Aku hanya ingin bertanya mengenai hubungan kita," ungkap Chan pelan.
"Hubungan? bukankah sudah jelas?" balas Xiao.
"Apanya yang jelas!" Chan menggertakkan gigi. Alhasil Xiao pun berjalan menghampiri Chan dan berucap, "Bukankah sudah jelas kalau kita berteman." Xiao sedikit terkekeh.
"Apa? nggak lucu!" bentak Chan dengan nafas yang mulai naik turun.
"Maumu apa Chan?!" geram Xiao. Dia merasa apa yang sudah dilakulannya serba salah di mata Chan.
"Kau hanya menganggapnya begitu. . ." mata Chan mulai berembun.
"Astaga Chan, bukankah kau selalu menolakku?!" Xiao mencoba menangkup wajah Chan tetapi langsung mendapat tepisan.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau kau sangat benci kepadaku kenapa tidak pergi saja!" sindir Xiao yang perlahan melepaskan genggamannya. Chan pun sontak menatap wajah Xiao.
'Aku memang selalu kesal padamu, tetapi aku tidak akan bisa meninggalkanmu.' batin Chan.
"Tidak! bukan itu maksudku. . ." bantah Chan yang perlahan menundukkan kepala. "Ya sudah, ayo kita lanjutkan saja mencari senjatanya!" tambahnya.
"Kenapa kau tidak mau pergi Chan?" Xiao sekarang menampakkan ekspresi serius. Lalu mengangkat dagu Chan agar bisa saling bertatapan.
"Bukankah sudah jelas? bahwa aku tinggal sendirian di apartemen kumuh, kerja sana-sini dan melakukan semuanya sendiri. . ." Chan terdiam sejenak. "Aku tidak punya siapapun!" lanjutnya dengan tatapan datar.
Xiao menghampiri Chan dan berkata, "Sekarang kau punya aku."
Chan yang mendengar segera berlari ke pelukan Xiao. Dia merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Sama halnya dengan Xiao, ia perlahan mengukir senyuman tipis di wajahnya.
__ADS_1
"Ish! memang susah membendung sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta!" keluh Viera yang sedang menyilangkan tangan di dada.
"Yah, biarkan saja mereka menikmatinya. . ." sahut Devgan dengan seringai diwajahnya.