Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 76 - Hari Pertama


__ADS_3


Sekolah adalah salah satu tempat dimana tragedi besar terjadi. Apa sekolahmu salah satunya?


***


"Wah, kau semakin tampan dengan rambut hitam itu anak muda!" puji lelaki, yang telah berjasa mengembalikan warna rambut Xiao seperti semula. Namun Xiao hanya mendiamkannya. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari salon.


"Maaf atas ketidaksopanannya, dia sepertinya sangat marah karena dipaksa merubah warna rambutnya lagi." Yenn bertutur kata lembut. Hingga membuat sang lelaki pemilik salon tersenyum ramah dan berusaha memaklumi.


Ketika Xiao keluar dari salon, penglihatannya langsung disambut dengan penampakan Brian yang sepertinya sedari tadi menunggu di luar.


"Benar juga apa kata ibumu, kau memang lebih tampan dengan warna rambut itu!" puji Brian kala menyaksikan penampilan Xiao.


"Ya, ya. Terserah!" Xiao memutar bola mata jengah sejenak lalu melanjutkan, "ngomong-ngomong Chan sekolah dimana?"


"Aku yakin dia memilih sekolah yang berdekatan dengan tempat tinggalnya!" ujar Brian sembari memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


Benar memang tebakan Brian, Chan bersekolah di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Sekarang gadis itu sudah berada di dalam kelas. Namun seperti biasa, Chan sama sekali tidak pandai mencari teman. Bahkan di jam istirahat dirinya lebih memilih menghabiskan waktunya sendirian. Chan terlihat tengah duduk di belakang sekolah nan sunyi.


"Kau anak baru ya di sini? menarik! berhati-hatilah, di sekolah ini banyak arwah yang mati penasaran!" sapa seorang lelaki yang memakai seragam senada dengan Chan. Dia memiliki mata agak sipit dengan rambut yang di belah ke samping. Kulitnya putih bersih, lesung pipit tampak menghiasi kedua pipinya.


"Aku tidak takut!" sahut Chan sembari memfokuskan dirinya membaca buku pelajaran. Jujur saja, sudah sekian lama dia tidak pernah belajar lagi. Terutama semenjak ia melakukan perjalanan berbahaya bersama Xiao.


"Kenalkan namaku Li-Jun!" ujar lelaki berseragam sekolah tersebut. Dia memposisikan dirinya duduk di sebelah Chan.


"Hahh!" Chan menghela nafasnya sambil menatap malas ke arah Li-Jun. Namun lelaki itu malah memberikan senyum simpul.


"Aku sedang belajar, bisakah kau tidak menggangguku?" tukas Chan.


"Kau tidak pandai mencari teman ya? atau siswa-siswi itu yang memang sengaja menghindarimu?" bukannya merespon pertanyaan Chan, Li-Jun malah berbalik tanya.

__ADS_1


"Ini masih hari pertamaku, jadi wajar aku masih belum bisa mendapatkan teman!" sahut Chan dengan dahi yang berkerut.


"Tenang saja, kalau kau tidak punya teman aku bisa kok menjadi temanmu!" ujar Li-Jun yakin.


"Kau manusia kan?" tanya Chan, yang sontak membuat mata Li-Jun membola. Chan memang sesekali tidak mampu membedakan hantu dan manusia. Karena terkadang hantu bisa memiliki energi yang dapat menjadikan wujudnya terlihat nyata. Apalagi sekarang dia sedang berada di tempat yang lumayan sepi dan seram.


"Tentu saja aku manusia!" tegas Li-Jun yang sedikit terkekeh. "Ternyata benar dugaanku!" tambahnya.


"Apa?" Chan menuntut jawaban.


"Kau bisa melihat hantu!" yakin Li-Jun.


"Memangnya kenapa?" Chan semakin penasaran dengan sosok lelaki yang sedang duduk di sampingnya.


"Karena aku juga dapat melihat mereka!" Li-Jun berterus terang. Sekarang Chan memfokuskan atensinya kepada Li-Jun.


"Benarkah?" Chan memastikan.


"Iya, dan aku juga bisa mengetahui orang-orang yang memiliki bakat seperti kita."


"Pokoknya aku bisa tahu saat aku melihat orangnya secara selintas. Seperti dirimu misalnya, tadi sebenarnya aku mau kembali ke kelas tetapi langsung urung karena melihat keberadaanmu di sini." Li-Jun menjelaskan panjang lebar.


"Berarti kau pasti juga tahu mengenai perkumpulan rahasia. . ." Chan bertanya dengan nada enggan.


"Oh, perkumpulan bodoh itu? bagiku itu cuman mitos. Tidak pernah ada!" Li-Jun menegaskan. "Aku tidak habis pikir kenapa banyak anak indigo yang mempercayainya. Jangan bilang kau juga?" tambahnya seraya melayangkan tatapan menyelidik.


"Aku mempercayainya, karena mimpi itu sangat nyata dan datang hingga puluhan kali. Aku tidak bisa membendung rasa penasaranku. Lagi pula katanya, kita mempunyai misi penting di sana." Chan menuturkan pendapatnya.


"Tetapi waktumu menjadi sia-sia kan karena mengejar sesuatu yang masih belum jelas adanya!" ucapan Li-Jun sontak membuat Chan membisu. Dia merasa seolah telah tertangkap basah. Karena apa yang dikatakan Li-Jun memang benar terjadi kepadanya.


"Maaf, aku tidak bermaksud marah," ucap Li-Jun pelan, setelah menyadari dirinya sudah berbicara tidak sopan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lebih baik tinggalkan aku sendiri sekarang! aku mau belajar lagi," ungkap Chan, yang menatap Li-Jun dengan sudut matanya.


"Ya sudah." Li-Jun melangkah pergi dalam beberapa saat, namun langsung dihentikan karena teringat ada sesuatu hal penting yang belum dia sampaikan kepada Chan.


"Oh iya, jangan pernah membuka gudang yang ada di sebelah barat. Itu adalah tempat terlarang!" sambung Li-Jun.


"Pantas saja tempat di daerah sana terasa aneh. Baiklah! aku tidak akan menjejakkan kaki ke sana!" sahut Chan, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya untuk membaca buku. Li-Jun pun segera beranjak pergi meninggalkan Chan.


"Huhh! astaga, baru juga aku belajar beberapa menit, kepalaku sudah diserang rasa pusing!" gumam Chan sembari memegangi kepalanya sendiri.


Waktu berlalu dengan cepat, sekarang Chan sudah tiga hari bersekolah. Jujur saja, dia belum juga menemukan teman dekat. Bukan karena tidak ada yang mengajaknya berteman, tetapi Chan sendirilah yang memilih menjauh. Sebab gadis itu dapat melihat banyak kemunafikan dan kebohongan yang terjadi dalam geng pertemanan.


Sejak Chan pertama kali memasuki sekolah yang bernama Heping tersebut. Dia sudah melihat perkelahian dan penindasan di depan mata dan kepalanya. Bahkan Li-Jun ternyata juga merupakan salah satu korbannya. Namun Chan berusaha sebisa mungkin untuk tidak ikut campur, toh dia sadar dirinya bukan siapa-siapa. Dia hanya ingin cepat-cepat lulus dan mendapatkan ijazah.


Chan sekarang duduk di kursi tribun yang ada di pinggir lapangan. Tepatnya di bawah pohon besar yang menaunginya. Kala itu dia tidak sengaja melihat seorang siswi yang sedang memegang sekotak hadiah. Siswi berambut pendek sebahu tersebut terlihat menatap ke arah seorang lelaki yang kebetulan jaraknya tidak jauh. Sedangkan lelaki yang ditatap gadis tersebut tampak sibuk dengan gadis-gadis yang mengelilinginya.


'Sepertinya gadis yang memegang hadiah itu ingin memberikan hadiahnya. Tunggu, ini. . .' Chan kembali teringat dengan momen ketika dirinya begitu memuja Xiao. Namun dia langsung membuang jauh-jauh ingatannya tersebut.


'Sudahlah Chan! hidupmu sudah tenang tanpa adanya Xiao di dekatmu!' Chan berusaha menenangkan diri.


Tiba-tiba dari arah pintu masuk sekolah terdengar suara keributan. Chan sontak memusatkan perhatiannya ke sana. Dia juga semakin dibuat bingung ketika menyaksikan para siswi berlarian dengan semburat kegirangan diwajah mereka. Karena penasaran, Chan pun melangkahkan kaki untuk mencari sumber keributan itu.


"Eh tunggu! ada apa?" tanya Chan kepada seorang siswi yang kebetulan lewat.


"Ada murid baru, dan dia sangat tampan!" jawab siswi itu, lalu segera melanjutkan larinya.


Dari kejauhan, Chan dapat melihat Li-Jun berlari kecil dan segera menghampirinya.


"Anak baru itu, dia sepertinya juga bisa melihat hantu!" ucap Li-Jun yang telah berdiri di hadapan Chan.


"Dia laki-laki atau--" kalimat Chan reflek terjeda, karena melihat kehadiran Xiao. Matanya membulat sempurna kala Xiao berderap tepat menuju ke arahnya.

__ADS_1


Deg!


Jantung Chan menjadi berdebar tidak karuan.


__ADS_2