
Bruk!
Chan menghempaskan pintu secara sengaja. Hingga membuat Al bergegas menghampirinya.
"Ada apa Chan? kenapa kau terlihat marah?!" tanya Al dengan dahi berkerut.
Chan memutar bola mata jengah dan berkata, "Kenapa? kau tanya kenapa?! harusnya aku yang menanyakan itu!!" nafasnya mulai naik turun dalam tempo cepat karena berusaha menahan amarah.
"Ada apa Chan! aku benar-benar tidak paham dengan maksudmu!"
"Kau bukan, yang memberitahu Xiao kalau aku pergi melanjutkan sekolah?!"
Al langsung terdiam dengan pertanyaan menohok dari Chan. Jujur saja, dia tidak mampu berkilah lagi.
"Zhua! pergilah dari sini! karena aku tidak akan memberikan sesaji lagi untukmu!!" Chan sekarang berbicara kepada hantu wanita yang kebetulan berdiri di belakang Al.
"Chan, gadis itu menawariku sesajen lebih banyak. Makanya aku tidak bisa menolak!" Zhua memberikan penjelasan. Hingga menyebabkan rasa marah Chan semakin melonjak. Dia merasa benar-benar sudah dikhianati.
"Pergilah dari sini Al! sekarang aku tidak akan mempercayaimu lagi!" tegas Chan sembari melotot tajam.
"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Chan. Kenapa kau sangat membenci Xiao cuman karena dia bersama wanita lain? kau bahkan tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan!" timpal Al.
"Cuman?! cuman?!" Chan mendengus kasar, dia merasa sudah tidak tahan lagi. Alhasil dia pun beranjak pergi menuju kamarnya.
"Cepat pergilah!" ujar Chan, sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar.
Pada akhirnya Al pun segera mengemas barang-barangnya, lalu beranjak pergi meninggalkan Chan. Bahkan tanpa berpamitan sedikit pun.
Al pergi menuju markas klan Wong atas pemberitahuan dari Brian. Gadis tersebut sekarang sudah berada di depan pintu.
Ceklek!
Brian membuka pintu, dan dia langsung menyambut kedatangan Al dengan pelukan hangat.
"Sepi juga melakukan perjalanan tanpamu!" ungkap Brian.
"Ish! apaan sih, kenapa kamu mendadak jadi emosional begini?" tukas Al seraya melepaskan pelukan Brian secara paksa.
"Aku dikucilkan di sini, tau!"
"Benarkah? memangnya sikap Xiao seburuk itu ya?"
__ADS_1
"Sangat! kelakuannya tidak bisa ditebak!" Brian menjelaskan singkat. "Ya sudah, ayo masuk!" lanjutnya sambil membawakan barang bawaan Al.
Di sisi lain, tepatnya di sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Xiao sedang berjongkok menatap Shuwan.
"Aku punya hadiah untukmu Shuwan, sangat istimewa!" kata Xiao sambil mengukir seringai diwajahnya. Namun Shuwan malah meresponnya dengan gemertak gigi seolah kesal.
"Kenapa kau lakukan ini, kau padahal sudah berjanji akan membantuku!" ucap Shuwan dengan keadaan mata yang menyalang.
Xiao memegangi dagu Shuwan dan berkata, "Dasar tidak tahu malu!"
Selanjutnya ia segera berdiri dan memanggil Feng untuk bersiap.
Beberapa saat kemudian, Feng pun muncul dengan keadaan badan yang sudah lebih bugar. Hanya bagian tangan kanannya saja yang masih terlihat diperban.
"Lakulanlah sesuka hatimu Feng, aku tidak peduli kau mau membunuhnya atau tidak!" ujar Xiao sambil menepuk-nepuk pundak Feng lembut.
Feng memang terlihat begitu marah tatkala dirinya menyaksikan Shuwan. Terlintas dalam bayangannya bagaimana lelaki itu sudah menyiksanya. Kali ini giliran Feng yang akan membalas. Dia memulai dengan tinjunya ke wajah Shuwan. Setelahnya Feng menendang badan Shuwan tanpa ampun.
"Aaaargghhh! rasakan itu hahh!!" geram Feng yang masih tidak berhenti memukuli setiap jengkal bagian tubuh Shuwan.
Xiao yang masih berada di depan pintu tersenyum tipis. Baginya Shuwan memang pantas mendapat balasan.
"Xiao!" Mei mendadak muncul dari samping, dan berhasil menyebabkan Xiao sedikit kaget.
"Kata Ibumu kau sekolah lagi ya? kenapa tidak bilang? kan aku bisa menemanimu ke sana!" tutur Mei lembut.
"Hmmm... kau benar juga. Mungkin kau bisa menemaniku!" Xiao tampak mengangguk-anggukan kepala. Sepertinya dia kembali merencanakan sesuatu.
"Benarkah? kau membiarkanku ikut sekolah bersamamu?" Mei merasa tak percaya.
"Iya." Xiao menjawab singkat. Mei pun lantas membawa Xiao masuk ke dalam pelukannya.
Shuwan yang dapat menyaksikan kedekatan Xiao dan Mei tentu dibuat geram.
'Sialan Xiao! kau sudah merampas semuanya dariku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tidak akan!' ucap Shuwan dalam hati sambil menggertakkan gigi kesal.
Mei perlahan melepaskan pelukannya, lalu mendongakkan kepala untuk menatap Xiao. Jarak wajah di antara keduanya sekarang hanya beberapa senti.
"Xiao, bolehkah aku menciummu?" tanya Mei yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari bibir milik Xiao.
"Boleh, tetapi nanti saja!" jawab Xiao sembari mendorong Mei menjauh darinya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku hanya mencari waktu yang tepat!" terang Xiao singkat, kemudian segera melingus pergi.
***
Chan sekarang sendirian lagi. Dia menikmati waktunya dengan cara mempelajari buku pelajaran. Sepertinya gadis tersebut memang bertekad ingin hidup normal.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Chan pun segera bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu. Penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Nuan.
"Chan, aku membawakan makanan untukmu, kau pasti belum makan kan?" yakin Nuan sembari memperlihatkan makanan yang dibawanya. Dia membawakan sup kepiting beserta nasinya.
Chan sempat terdiam dalam beberapa saat. Namun sebenarnya dia hanya sedang berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat.
'Jujur aku memang lapar sih, terus aku juga penasaran dengan alasan kenapa wanita ini kembali menemuiku. Oke kalau begitu!' batin Chan yang sepertinya sudah memutuskan.
"Terima kasih!" ucap Chan dengan ekspresi datar. Dia menerima makanan yang disodorkan untuknya. Nuan sontak terpana akan sikap Chan yang tampaknya sudah bisa menerimanya lagi.
"Chan kau--"
"Ada yang ingin kutanyakan, jadi masuklah agar kita bisa bicara!" ketus Chan. Dia sengaja memotong kalimat yang hendak di ucapkan Nuan. Keduanya pun berderap menuju kursi terdekat. Mereka duduk saling berhadapan.
"Kau mau bicara apa?" tanya Nuan seraya mengukir senyuman tak berdosa.
"Apa maumu?!" ujar Chan, dia menatap tajam ke arah sang ibu.
"A-a-apa maksudmu?" Nuan berlagak tidak paham.
Chan sontak berdecak kesal dan berucap, "Setelah sekian lama hilang kau muncul lagi di hadapanku, dan aku yakin kau pasti punya tujuan tertentu kan?!"
"Kenapa kau berkata seperti itu, aku kan selama beberapa tahun ini memang terus berusaha mencarimu!" balas Nuan.
"Omong kosong!" Chan menyahut sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu terlalu lama. Namun selama aku pergi, diriku selalu dihantui rasa penyesalan! aku benar-benar menyesal Chan!" Nuan mulai mengeluarkan cairan bening dari matanya.
Chan mendengus kasar, karena tak kunjung mendapat jawaban yang di inginkan, dia pun lekas-lekas menyuruh Nuan pulang ke rumah. Alhasil Nuan pun terpaksa melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Aku berkata jujur Chan!" ucap Nuan yang menoleh lagi, padahal dia sudah berjalan hampir keluar dari kediaman putrinya. Namun Chan sama sekali tak hirau. Dia tampak membuang mukanya.
__ADS_1
Nuan tidak punya pilihan lain selain pergi. Tepatnya kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat tinggal Chan.
"Huhh! kenapa orang-orang yang ada di sekelilingku selalu memperumit hidupku. Kenapa?!" gumam Chan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.