Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 105 - Hari Menuju Tragedi


__ADS_3

Terdapat adegan yang tidak layak untuk ditiru. Harap bijak dalam membaca!


...-----...


Roda memang akan terus berputar. Yang tadinya kalah bisa saja menang.


***


Chan baru selesai membersihkan diri. Sekarang dia berniat mencari Xiao. Dan lelaki tersebut terlihat sudah terlelap di atas kasur. Matanya terpejam sangat rapat akibat tertidur sangat pulas.


'Sepertinya dia sudah bisa tidur dengan tenang,' gumam Chan dalam hati sembari mengulum senyum. Kemudian menutup pintu kembali dengan pelan.


Chan duduk di halaman belakang. Pada sebuah kursi panjang yang kebetulan ada di bawah pohon rindang. Di sana ia mencoba untuk belajar. Ketika melakukannya dia merasa seolah menjadi gadis normal pada umumnya. Tetapi ketika dirinya menyaksikan bangunan di belakang, Chan sadar bahwa kehidupannya tidak sepenuhnya normal.


Hari demi hari berlalu. Sekarang tinggal satu hari lagi menuju ujian. Selama itu juga, Xiao bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa ada mimpi buruk dan bisikan yang menghantuinya. Sepertinya belati Glorix bekerja dengan sangat baik. Kantong mata pun juga sudah menghilang dari wajah Xiao. Kerupawanannya kembali sepenuhnya. Dia hanya perlu melakukan syarat sederhana Lien di hari ujian nanti.


Untuk sekarang, Xiao sedang melihat Chan berlatih bersama Fa. Kemampuan gadis tersebut sudah semakin membaik. Setelah hari pertunangan, Chan memiliki kesibukan yang lumayan padat. Dari mulai belajar hingga berlatih bela diri dan menggunakan senjata.


Bruk!


Chan berhasil membanting badan Fa ke matras. Nafasnya tampak tersengal-sengal. Namun Fa begitu puas dapat menyaksikan kemajuan Chan.


"Karena sudah mengalahkanku, kau bisa istirahat!" ujar Fa sembari meraih uluran tangan Chan.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Chan dengan dengusan lega. Pandangannya segera dialihkan ke arah Xiao yang sedang sibuk bicara dengan Feng.


"Akhir-akhir ini Xiao memang sangat sibuk. Kau tahu kan?" ucap Fa seraya mengelap peluh dengan handuk kecilnya.


"Iya, tetapi setidaknya sekarang dia sudah bisa tidur dengan nyenyak." Chan bicara sambil terus menatap Xiao dari jauh.


"Semuanya karena Shuwan. Dia ternyata sangat pintar bersembunyi."


"Ngomong-ngomong kenapa Mei tidak dicari? bukankah dia juga berbuat ulah?" tanya Chan yang sama sekali belum mengetahui kabar kematian Mei.

__ADS_1


"Kau tidak tahu?" Fa terheran sejenak. "Xiao sudah membunuhnya!" sambungnya. Hingga berhasil membuat mata Chan membola.


"Apa?!" Chan merasa tak percaya.


"Dia memang pantas mendapatkannya. Aku sangat setuju dengan keputusan Xiao, dia melakukan hal benar. Kau juga pasti akan segera melakukan pekerjaan sepertinya."


"Tidak Fa!" Chan mengerutkan dahi.


"Apalagi latihanmu sudah membaik sekarang. Selanjutnya, mungkin Yenn akan membawamu ke ruang mutilasi," ujar Fa yang sama sekali tidak peduli.


Chan terdiam seribu bahasa. Dia menenggak saliva-nya sendiri. Membunuh manusia bukanlah keahliannya. Fa yang dapat menyaksikan adanya keraguan di raut wajah Chan lantas berseringai.


"Jangan bilang kau ragu? bukankah kau sudah memutuskan akan melakukannya ketika sudah bertunangan dengan Xiao?"


"Aku memiliki tujuan tersendiri terhadap keputusanku!"


Fa tertawa remeh dan berucap, "Maksudmu ingin membuat Xiao sadar?. . . itu tidak mungkin!" dia segera beranjak pergi keluar ruangan.


Feng terlihat sudah menyusul Fa. Sekarang hanya ada Xiao dan Chan di dalam ruangan. Chan bergegas menghampiri Xiao. Dia ingin berbicara serius.


"Hadiah? apa aku boleh meminta apapun?" Chan menatap penuh harap.


"Mmm. . . boleh. Apa kau mau mobil? makan di restoran mewah?" Xiao mencoba menebak. Namun ia malah mendapat gelengan tegas dari Chan.


"Aku mau kau berhenti membunuh!" ungkap Chan.


Xiao yang mendengar melebarkan mata, dia malah tertawa kecil. Devgan lagi-lagi menggerutu. Andai Chan dapat melihat dan mendengar Devgan, kemungkinan keduanya akan berdebat hebat.


"Chan." Xiao mendekatkan wajahnya sambil membelai rambut yang ada di dekat pelipis Chan. "Itu namanya mengatur, bukanlah sebuah permintaan," lanjutnya dengan nada lembut.


"Semuanya tidak untukku Xiao, tetapi untuk dirimu! karena--" Chan tak mampu melanjutkan ucapannya lagi karena bibir Xiao sudah menyentuh mulutnya. Dia tidak dapat menolak sentuhan tersebut, sehingga tangannya pun perlahan melingkar ke pundak Xiao.


"Kau memang jenius Xiao, dia pasti akan langsung diam jika diberi ciuman." Devgan berseringai senang. Dia merasa tuannya memilih berada di sisinya.

__ADS_1


***


Shuwan tengah duduk di pinggiran jalan. Dia berada di bawah jalan tol. Tepat dimana para gelandangan sedang berkumpul. Baju yang dikenakannya terlihat robek-robek. Badannya bahkan dipenuhi kotoran akibat belum bisa mandi selama berhari-hari.


Shuwan bisa mendapatkan makanan dari orang-orang murah hati yang sering berbagi kepada para gelandangan. Dia memang tidak sendiri di sana. Ada sekitar sepuluh orang lebih gelandangan yang ada di sekelilingnya.


Sudah lebih dua hari tidak ada orang yang memberikan makanan. Hingga membuat beberapa gelandangan beralih tempat dan pergi ke lokasi dimana mereka bisa mendapatkan makanan. Berbeda dengan Shuwan, dia masih setia berada di tempatnya. Jujur saja, perutnya terasa sangatlah lapar. Demi keselamatannya, Shuwan tidak berani meninggalkan tempat persembunyiannya. Tempat itu sangatlah aman dari pencarian orang-orang Wong.


'Aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Spiderblood. Dia ternyata sangatlah pintar. Prediksinya sangat tepat, kalau tempat ini adalah lokasi terbaik untuk bersembunyi!' batin Shuwan berseringai di balik topi usangnya.


Kruk! Kurk!


Perut Shuwan melakukan aksi protes. Sejujurnya suara keroncongan tersebut sudah terdengar sejak dua hari yang lalu. Keadaan lambungnya sekarang mungkin sedang kosong melompong tanpa adanya makanan.


Shuwan sebenarnya sangat ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Namun dia tidak ingin mengambil resiko. Setidaknya dengan masih berdiam diri di sana, ia punya harapan untuk ditemui oleh Spiderblood. Namun bagaimana dengan rasa laparnya?


"Kau tidak akan pergi anak muda? setidaknya carilah bak sampah terdekat untuk mengisi perutmu!" tegur seorang lelaki paruh baya berjangggut hitam keputihan. Namun Shuwan sama sekali tidak menjawabnya dengan satu kata pun. Ia hanya memegangi area perutnya yang terus berbunyi.


"Ya sudah, semoga beruntung untuk kalian!" ujar sang pria berjanggut hitam keputihan. Dia juga melirik satu orang lain selain Shuwan yang juga masih setia di tempatnya.


Sekarang hanya tinggal Shuwan dan seorang wanita yang tampak lusuh. Wanita itu menutup badannya dengan selimut yang kotor. Beberapa lalat bahkan datang mengelilinginya. Dia menjadikan sebuah kendi berukuran sedang sebagai gulingnya.


Malam telah tiba. Shuwan meringiskan wajah, karena merasa tidak kuat lagi untuk menahan rasa laparnya. Hingga terlintas dalam pikirannya untuk membunuh satu-satunya orang yang sekarang masih bersamanya. Dia berdiri dan mendekati wanita yang berjarak tidak jauh darinya.


"Hei Nona!" Shuwan mencoba membangunkan si wanita gelandangan dengan sebelah kakinya. Wanita tersebut pun bangun. Dia menatap malas ke arah Shuwan.


"Pergilah!" ketus sang wanita gelandangan. Namun Shuwan tiba-tiba saja merebut kendi yang ada dalam genggaman wanita itu.


"Hei kembalikan barang milikku!" protes wanita gelandangan tersebut. Tetapi Shuwan tak hirau, ia malah tersenyum miring dan melayangkan kendi di tangannya ke kepala si wanita gelandangan.


"Aaarghh! apa yang kau--"


Bruk! Bruk!

__ADS_1


Sang wanita gelandangan tak kuasa bersuara lagi, karena Shuwan terus memukulkan kendi ke kepalanya. Dia melakukannya dengan kekuatan penuh dan beringas. Setelah melihat wanita gelandangan itu sudah tidak sadarkan diri, Shuwan pun segera mempersiapkan api untuk makan malam.


__ADS_2