Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 83 - Cerita Rumah Bangsawan


__ADS_3

Yang sudah terlanjur terkadang tak bisa diperbaiki.


***


"Jun!" panggil Chan, yang sontak membuat Li-Jun menoleh ke arahnya. Lelaki itu tampak terkejut dengan kehadiran Chan. Dia seolah telah tertangkap basah.


"Cha-chan? kau belum pulang?" tanya Li-Jun terbata-bata.


"Kau juga masih di sini? terus aku tadi lihat kamu berjalan dari arah gudang terlarang itu." Chan menimpali.


"A-aku hanya memastikan sesuatu. Memangnya kenapa kau sangat penasaran? kenapa kau begitu peduli Chan? mengenai perihal gudang terlarang itu?" balas Li-Jun serius.


Jleb!


Perkataan Li-Jun tersebut berhasil membuat Chan tersadar. Dia melupakan rencana bahwa dirinya ingin hidup normal. Namun sepertinya insiden buruk yang terjadi di sekolah menyebabkan Chan sedikit lupa diri karena rasa penasarannya.


"Chan?" panggil Li-Jun kala melihat Chan tengah melamun.


Chan tersadar dan berucap, "Kau benar! aku seharusnya tidak boleh terlalu berlebihan."


"Dari sekarang, lebih baik kau tidak usah mencampuri perihal insiden yang telah terjadi, dan juga mengenai gudang terlarang itu." Li-Jun mengusulkan. Dan berhasil membuat Chan menganggukkan kepala. Setelahnya keduanya pun segera beranjak pergi untuk pulang.


***


Xiao kebetulan sedang bersama Yenn. Ibunya itu baru saja menyelesaikan kesibukannya. Sekarang mereka tengah berada di ruang IT. Tepatnya ruangan yang memang dikhususkan untuk pemasaran bisnis ilegal keluarga Wong.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Yenn sambil mengamati tiga pekerja IT yang sedang sibuk dengan masing-masing komputernya.


"Baik." Xiao menjawab malas.


"Benarkah? lalu kenapa wajahmu terlihat kesal begitu? apa ada seseorang yang mengganggumu?"


Xiao mendengus kasar dan menyahut, "Ada! dan dia sangat mengganggu pikiranku sekarang!"


"Jangan bilang itu adalah seorang gadis?" tebak Yenn sambil terkekeh. Namun Xiao hanya terdiam, ia tak mampu mengelak. Sebab memanglah benar kalau pikirannya sedang mengkhawatirkan hubungannya dengan Chan.


"Hahaha! sepertinya begitu!" Yenn melakukan tatapan menyelidik kepada sang putra. "Jika kau ingin saran dariku, aku hanya menyarankan kalau kau harus mendapatkan gadis itu sepenuhnya. Dan jadikan dia terus berada di sampingmu selamanya. Seperti yang telah ayahmu lakukan kepadaku," tambahnya.


Xiao tertawa kecil mendengar penuturan ibunya. "Maksudmu dengan menjadikannya jadi seorang pembunuh sepertimu?" ujarnya yang merasa tak percaya.

__ADS_1


"Mungkin." Yenn menjawab singkat.


Tiba-tiba atensi Xiao tertarik kepada tayangan yang ada di salah satu layar komputer salah satu pekerjanya. Dia menyaksikan penampakan sosok tidak asing dalam video tersebut.


'Dia orang yang telah membunuh ayah! aku yakin!' batin Xiao dengan mata yang melebar, karena terdapat sosok Spiderblood dalam video yang dilihatnya.


"Video apa itu?" tanya Xiao kepada pekerjanya yang tengah menonton.


"Ini adalah video yang sedang ramai di dark web!" sahut si pekerja yang sering di sapa Ken.


"Apa kau tahu pria yang sedang melakukan penyiksaan itu?" Xiao menunjukkan orang yang ia maksud.


"Dia menyebut dirinya Spiderblood!" Ken menyilangkan tangannya lalu melanjutkan, "dia sangat mengerikan!" tambahnya sembari menggidikkan bahunya.


"Memangnya kenapa Xiao?" tanya Yenn penasaran.


"Dialah orang yang telah membunuh ayah!" ungkap Xiao seraya mengepalkan tinju di salah satu tangannya.


Mata Yenn membulat sempurna. Amarahnya perlahan melonjak naik. Sepertinya keinginan untuk mendendam mulai tumbuh dalam dirinya.


"Kita harus balas perbuatan pria itu!" ucap Yenn sambil menggertakkan gigi kesal.


"Kau benar, lebih baik kita menyusun rencana yang matang terlebih dahulu!" balas Yenn.


"Ken! bisakah kau membuatkan akun dark web untukku?" tanya Xiao.


"Tentu! tetapi aku sarankan kepadamu untuk membuka webnya di laptop saja, karena ponsel tidak cukup kuat untuk menahan serangan virus dari dark web." Ken menjelaskan.


"Baiklah!" sahut Xiao.


"Nanti aku akan pasangkan pengaman software khusus untuk laptopmu agar bisa melindungi dari virus berbahaya!" Ken terlihat menyibukkan tangannya di tombol keyboard.


"Iya lakukan saja, kalau sudah selesai kabari aku!" imbuh Xiao sembari menepuk pundak Ken pelan. Kemudian segera beranjak pergi bersama Yenn.


Di sisi lain Chan baru saja tiba di rumah ibu dari hantu yang telah meminta bantuan kepadanya. Kala itu hari sudah sangat sore. Rumah yang didatanginya terlihat kumuh dan sudah reot. Benar-benar tak layak untuk dihuni.


Ceklek!


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Wajahnya tampak sendu, seakan sedang merasa sangat lelah.

__ADS_1


"Ada perlu apa ya?" tanya wanita tersebut pelan.


"Aku ingin memberikan sesuatu untukmu." Sebenarnya Chan merasa enggan untuk membicarakan perihal anaknya yang telah meninggal. Namun ia tak punya pilihan lain, karena sudah terlanjur berjanji. Chan pun mengeluarkan sepucuk surat dari tasnya dan menyerahkannya kepada wanita paruh baya di hadapannya. Setelahnya dia pun membungkukkan sedikit badannya untuk berpamitan.


Si wanita paruh baya terlihat sudah membuka surat yang telah diberikan kepadanya. Matanya langsung berembun. Dia terlihat membekap mulutnya sendiri, agar dapat menahan teriakan histerisnya.


Chan yang menyaksikan ikut-ikutan merasa sedih. Dia pun kembali lagi, untuk menenangkan sang wanita paruh baya.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan surat ini? kamu tidak mungkin menipuku, karena cerita yang ada di dalam surat hanya diketahui olehku dan Hana!" ucap wanita paruh baya itu, yang tengah membicarakan dirinya dan sang anak.


"Ini memang dari putrimu. Dia juga bilang kalau--"


"Aku sudah menduga! tidak mungkin gadis se-ceria Hana membunuh dirinya sendiri. Sekarang aku semakin yakin, kalau ada yang salah dengan sekolah itu." Sang wanita paruh baya menuturkan sambil menghentikan tangisnya.


"Maksudmu?" Chan mengernyitkan kening.


"Sekolah itu dikutuk. Apa kau pernah mendengar cerita mengenai tanah yang sudah dijadikan sekolah tersebut?"


Mendengar pertanyaannya, Chan langsung menggelengkan kepala.


"Pernah ada pembunuhan tragis di sana. Dahulu tempat itu bukan sekolah, tetapi rumah seorang bangsawan kaya raya yang memiliki banyak anak dan pelayan. Namun suatu hari, ada kejadian nahas yang menimpa mereka. Semua penghuni rumah tersebut tiba-tiba mati dibunuh oleh anak yang paling tua. Anehnya, setelah melakukan pembunuhan sadis, keberadaan anak itu hilang bagai tertelan bumi." Si wanita paruh baya bercerita panjang lebar. "Ngomong-ngomong siapa namamu?" tambahnya yang sekarang bertanya.


"Namaku Chan!" jawab Chan lembut.


"Kau bisa memanggilku Jiho!" balas wanita paruh baya di hadapan Chan. Dia perlahan mengukir senyuman tipis.


"Ya sudah, aku mau pulang dahulu," Chan berpamitan kembali.


"Maaf, aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Karena sekarang aku--"


"Tidak perlu repot-repot, toh aku hanya mengantarkan surat untukmu." Chan sengaja menyambar kalimat yang hendak diucapkan Jiho. Sebab dirinya tahu betul Jiho sedang kesulitan ekonomi, bisa diketahui dari penampilan rumah huniannya.


"Chan, lebih baik kau berhenti dari sekolah itu secepatnya!" Jiho berucap sebelum Chan benar-benar pergi menjauh dari rumahnya.


"Terima kasih! tetapi aku akan menjaga diriku sendiri," sahut Chan, dia pun langsung berlalu pergi.


Dalam perjalanan, Chan mulai terpikir dengan peringatan yang diberikan Jiho. Harusnya ia tidak memilih bersekolah di SMA Heping. Sekarang jika dia ingin pindah ke sekolah lain, Chan perlu uang yang cukup. Sebab persediaan uangnya sudah semakin menipis.


'Lebih baik aku mencari pekerjaan paruh waktu sekarang!' batin Chan.

__ADS_1


__ADS_2