
'Tidak ada yang normal di dunia ini.' - Xiao.
***
Xiao telah tiba di kantor guru. Bu Ming mempersilahkannya untuk bicara kepada Chan dan Olive.
"Ayo Xiao katakan kepada mereka!" desak Bu Ming.
"Iya." Xiao menyahut singkat sambil berderap mendekati Olive dan melewati Chan begitu saja.
Xiao terlihat membisikkan sesuatu kepada Olive. Hingga membuat mata Olive langsung terbelalak ketika mendengarnya. Bu Ming dan Chan sama-sama mengerutkan dahi akibat merasa sangat penasaran.
"Kenapa kau malah berbisik?!" tegur Bu Ming.
"Aku pergi Bu!" ucap Olive tiba-tiba, sembari menutupi kedua matanya yang sudah berembun. Dia segera berlalu pergi keluar dari kantor guru.
"Xiao, apa yang kau katakan kepadanya?" tanya Bu Ming.
"Bukankah yang terpenting semuanya sudah berakhir?" sahut Xiao.
"Kau benar! tetapi, jika kau berniat melakukan hal yang buruk, aku tidak akan segan-segan menghukummu!" Bu Ming mengancam.
"Terima kasih," ujar Xiao lembut seraya sedikit membungkuk. Kemudian menyeret Chan untuk keluar bersamanya.
"Maaf dan terima kasih Bu..." tutur Chan yang menyempatkan diri berpamitan dengan Bu Ming, meski dalam keadaan sedang diseret oleh Xiao. Sedangkan Bu Ming hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, ketika menyaksikan kelakuan anak remaja yang selalu berhasil membuatnya kewalahan.
"Xiao, bisakah kau lepaskan tanganku?!" protes Chan. Dia sudah kelelahan menyamakan langkahnya dengan Xiao.
Tidak lama kemudian, Xiao pun melepaskan tangan Chan. Lalu berbalik menatap gadis yang masih tampak acak-acakan itu. Dia berusaha memperbaiki rambut Chan yang berantakan.
Melihat Xiao sibuk memperlakukannya dengan baik. Chan hanya membeku sambil menatap lekat lelaki di hadapannya. Jantungnya terus bergemuruh tak karuan.
"Xiao, apa yang katakan kepada Olive tadi?" tanya Chan.
"Aku hanya berusaha membuatnya menjauhimu!" jawab Xiao yang sekarang beralih merapikan seragam Chan.
"Xiao, aku benar-benar bingung dengan sikapmu. Kau seperti memiliki dua kepribadian." Chan mengungkapkan.
__ADS_1
"Benarkah?" respon Xiao yang terkesan biasa saja.
"Aku suka saat kau memperlakukanku dengan lembut, jadi aku harap kau tetap seperti ini. Jangan pernah berubah..." tutur Chan.
"Sialan gadis itu!" gerutu Devgan yang terlihat marah kepada Chan. Namun ia segera mendapat pelototan dari Xiao.
"Bukankah kemarin kau ingin aku dekat dengannya lagi?!" timpal Xiao kepada Devgan.
"Xiao? kau bicara kepada Devgan?" tanya Chan penasaran. Tetapi tak mendapat hirauan dari Xiao, karena lelaki itu terlalu sibuk menghadapi Devgan.
"Itu karena aku tidak pernah mengira kau akan memperlakukannya begini!" geram Devgan sambil mendekatkan wajahnya kepada Xiao. Dia melakukan tatapan mengancam, dan tentu saja dibalas dengan cara yang sama oleh Xiao.
"Dia bilang apa?" tanya Chan.
"Dia benci aku berdekatan kepadamu," terang Xiao yang perlahan menoleh ke arah Chan. Dan berhasil menyebabkan Devgan mengukir raut wajah marahnya.
"Xiao! kenapa kau katakan kepadanya!" protes Devgan tak terima. Namun sama sekali tidak di acuhkan oleh Xiao.
"Apa karena aku sudah membuatmu berperilaku lembut?" tebak Chan dengan senyum tipisnya.
"Apa kau lihat bibir merah mudanya yang manis? bukankah itu menggodamu? kau harusnya langsung ke intinya dan tidak perlu berperilaku lembut! oh... kalau perlu kita buat Chan berdarah." Devgan terus berceloteh jahat. Dia terpaksa mempengaruhi melalui ucapannya, ketika Xiao tak mampu merasakan energi yang bisa menguatkan naluri liarnya.
"Xiao! aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Jika itu karena Devgan, tolong abaikan dia!" Chan memegangi jari-jemari Xiao dengan lembut. Dia menatap Xiao getir. Hingga berhasil membuat Xiao perlahan melepaskannya. Gadis tersebut mengalahkan harimau yang hampir saja menerkamnya.
Devgan kembali gusar. Sekarang dia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi ketika Chan mengajak Xiao saling bicara baik-baik.
Sekarang Xiao dan Chan sedang duduk bersebelahan di sebuah kursi panjang. Mereka memilih tidak masuk kelas karena sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi.
"Xiao, aku akan jujur kepadamu. Setelah kau memiliki Devgan di sampingmu, kau berubah drastis! Aku tahu kau putra dari pasangan pembunuh, tetapi aku bahkan tidak pernah langsung menyimpulkan kalau kau akan berperilaku sama seperti mereka!" tutur Chan.
"Bukankah alasan Devgan muncul adalah karenamu," sahut Xiao, yang sontak membuat Chan geram.
"Kalau begitu, harusnya kau tidak perlu menyelamatkanku ke dimensi lain! kenapa kau melakukannya!!" timpal Chan kesal.
Xiao mendengus kasar dan berkata, "Aku bahkan tak tahu alasannya. Aku hanya tak ingin kau pergi!"
"Kau memang keterlalun!"
__ADS_1
"Devgan terus berusaha mengendalikanku." Xiao berterus terang. Nadanya tiba-tiba memelan. Hal itu juga berhasil membuat kekesalan Chan mereda.
"Brian benar! kau sepertinya harus menemukan senjata Jonas." Chan mengemukakan pendapatnya.
"Apa-apaan dia! tiba-tiba membicarakan perihal senjata itu!" komentar Devgan sinis. Namun tidak untuk Xiao, dia membisu sambil bertukar pandang dengan Chan.
Xiao jadi teringat mimpi buruk yang akhir-akhir ini di alaminya. Dia sempat berpikir lama. Dan pada akhirnya ia pun memberitahukan mimpinya kepada Chan. Devgan yang mendengar tentu langsung merasa terancam.
"Apa lelaki asing itu memiliki kumis dan janggut?" Chan memastikan.
"Iya! bagaimana kau tahu?" Xiao berbalik tanya.
"Karena dialah orang yang memberitahukanku perihal perkumpulan rahasia. Dia juga mendatangiku lewat mimpi puluhan kali!"
"Benarkah?!"
"Iya Xiao! Al juga pernah didatangi pria itu!" ucap Chan yakin. Dan berhasil membuat Xiao berpikir sejenak.
"Sepertinya pria itu mencoba memperingatkanmu. Mungkinkah dia mengetahui sesuatu?" Chan ikut berpikir untuk mencari jawaban dalam kepalanya.
Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Semua murid langsung berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Kecuali Xiao dan Chan, yang memang sedari tadi berada di luar kelas.
"Kau tahu, tampaknya aku tidak jadi hidup normal karena tak bisa lama-lama jauh darimu," celetuk Chan, yang berhasil membuat Xiao langsung tergelak. "Kenapa kau malah tertawa?!" protesnya yang tak terima dirinya ditertawakan.
"Chan, dari kecil saja hidupmu sudah tidak normal. Itu bukan karena aku, tetapi memang sudah takdirmu. Hal yang sama juga terjadi kepadaku!" timpal Xiao yang masih berusaha menahan tawanya.
"Kenapa ya... aku hanya ingin hidup dengan tenang." Chan terlihat serius, dia tidak merasa geli dengan kehidupan yang telah dijalaninya. Kepalanya perlahan tertunduk ke bawah.
"Chan tidak ada yang normal dengan dunia ini!" balas Xiao.
Tanpa diduga, dari kejauhan terjadi keributan di depan ruang laboratorium. Satu per satu para murid berlari ke sana. Mereka berkumpul seakan tengah menyaksikan sesuatu.
"Xiao, ayo kita ke sana!" ajak Chan seraya berlari lebih dahulu memasuki kerumunan. Gadis tersebut terus berjalan menyusupi gerombolan manusia. Hingga tibalah ia di tempat yang telah menjadi pusat perhatian semua orang saat ini.
Mata Chan membulat sempurna tatkala melihat jasad Olive tergeletak tak bernyawa di lantai. Mulutnya menganga lebar dengan dipenuhi linangan darah. Lidahnya tampak sudah terpotong. Terlihat sangat mengenaskan.
Melihat hal itu, Chan jadi teringat dengan apa yang dilakukan Xiao terhadap Olive. Mungkinkah lelaki tersebut membisikkan sesuatu yang buruk. Sekarang Chan mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari Xiao. Nihil, dia tak menemukan keberadaannya. Alhasil Chan pun keluar dari kerumunan. Dia mengamati tempat duduk yang tadi di tempatinya bersama Xiao. Tetapi Xiao sudah tidak duduk di sana lagi.
__ADS_1
Chan sekarang menyusuri sekolahnya karena ingin lekas-lekas menuntut jawaban kepada Xiao. Namun bukannya menemukan Xiao, Chan kembali tidak sengaja bertemu Lien.
Chan reflek menyembunyikan badannya, karena ingin mengamati secara diam-diam. Benar saja, Lien kembali tampak sangat mencurigakan. Dia terlihat tengah membersihkan darah yang menempel di kedua tangannya. Gadis tersebut membersihkannya dengan sebotol air mineral.