
Laurie berdecak karena gagal menyerang Ethelyne, dia kembali membuat pisau air dan menyerang Ethelyne terus menerus. Namun pada akhirnya, semua pisau airnya terpantul. Bahkan hampir saja mengenai Harvey yang berdiri di sampingnya.
“Hei! Hati-hati jika melempar sesuatu yang berbahaya!!”
“Berisik! Bantu aku menggagalkan kebangkitannya terlebih dulu sebelum mengomel!!” Laurie mengatur napasnya yang memburu, dia menatap Ethelyne yang bahkan tidak terluka sedikitpun. Laurie berdecak, dia menoleh ke Harvey dan menjulurkan tangannya. “Hilangkan pembatasnya! Aku akan menggunakan semua kekuatanku!”
“Hah? Tapi--”
“Kau tidak lihat?? Ini sedang gawat!” murka Laurie.
Harvey menghela napas, dia membalas uluran tangan Laurie. Sebuah cahaya menyilaukan muncul di telapak tangan keduanya.
Kekuatan Laurie perlahan-lahan pulih, gadis itu tersenyum lebar. “Waktumu sudah habis, iblis!!” Dia berlari ke arah Ethelyne sambil menghindari beberapa pisau udara yang tidak dapat dilihatnya.
“Kenapa aku merasa tersinggung,” gerutu Harvey.
“Master! Berusahalah!! Jangan sampai kau membuat jiwa manusiamu menghilang!!” teriak Laurie, sialnya. Dia tidak dapat melihat pisau udara itu yang membuatnya cukup kesusahan menghindar.
“Terlambat.” Suara Ethelyne seolah bergema di istana, dia membuka matanya perlahan. Ethelyne menatap datar Laurie dan Harvey.
Pria itu tampak terkejut saat menatap mata Ethelyne, dia segera berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan. Keringat dingin membasahi dahinya. ‘Bagaimana mungkin, Yang Mulia Putri. Kenapa dia bisa berubah menjadi Ratu kegelapan?!’
“Cih, aku tidak akan menyerah! Tidak akan kubiarkan kau melahap jiwa Master!!” Laurie hendak menyerang namun terhenti saat Harvey tiba-tiba muncul di depannya menggunakan teleportasi. “Menyingkir! Jangan menghalangiku!!”
“Laurie, tenanglah. Kau tidak akan bisa mengalahkannya, kita harus pergi dari sini,” kata Harvey sambil memegang bahu Laurie.
“Hem, untuk apa kau membantunya? Kau juga iblis kan.”
Harvey segera bersujud. “Hamba memohon pengampunan, Hamba hanya ingin agar Anda mengampuninya. Tolong, jangan habisi dia,” katanya dengan napas terengah-engah.
Ethelyne diam dan memperhatikan gerak-gerik keduanya. “Baiklah, karena ini adalah hari kebangkitanku. Aku akan mengampunimu, bawa gadis itu dan pergi dari hadapanku sekarang juga!”
“Baik!” Harvey berdiri dan menarik tangan Laurie, keduanya menghilang dalam sekejap.
Ethelyne perlahan-lahan turun dan menapakkan kakinya ke lantai, dia
__ADS_1
menyeringai. “Omong-omong, aku ingin melihat bagaimana ekspresi mereka saat melihatku.” Ethelyne menoleh ke lorong, tepat dimana banyak suara langkah kaki yang muncul. Ethelyne tersenyum lebar. “Aku tidak sabar melihat ekspresi mereka.”
~♥~
“Kenapa kau membawaku pergi?! Aku harus menyelamatkan Master!” omel Laurie, dia sedari tadi tidak berhentinya mengomeli Harvey yang tiba-tiba membawanya pergi.
“Berisik! Jika kau melawan beliau, kau akan mati dalam sekali jentikan.” Harvey yang tengah duduk di pohon mati mengorek telinganya.
Laurie menatapnya jijik. “Menjijikkan, lagipula. Kenapa kau tidak membiarkanku melawannya?? Dia hanyalah iblis rendahan yang bahkan--”
“Diamlah kau!!”
Laurie langsung diam saat mendengar bentakan Harvey, matanya berkaca-kaca. Mau bagaimanapun, dia berada di raga anak kecil berusia 8 tahun.
Harvey yang melihat kejadian itu menghela napas panjang. “Jangan menangis, kau akan mati seandainya beliau tidak mengampunimu.”
“Tetapi, kenapa kau sangat takut padanya? Dia adalah masterku, dia tidak akan melukaiku. Terlebih lagi, dia adalah Putri Kerajaan Iblis kan. Lalu kenapa kau terlihat sangat ketakutan di depannya? Padahal, saat pertama kali bertemu. Kau terlihat sangat santai berbicara dengan Master.”
“Ada sebuah legenda.” Harvey mendongak ke langit, dia menatap langit yang selalu ditemani awan hitam tanpa cahaya sedikitpun. “Aku pernah mendengar, Tetua kerajaan tanpa sengaja membunuh anak dari seorang penyihir hebat dan memakannya. Penyihir itu marah besar dan mengutuk para tetua, dia berkata dalam kemarahannya. "Setiap seribu tahun, seseorang akan lahir di kerajaan iblis. Orang itu akan memiliki kekuatan yang dahsyat, tapi kekuatan itu akan diluar kendali saat dia berumur 20 tahun".”
Harvey menunduk dan menatapnya dengan raut wajah tak terbaca, dia tersenyum. “Karena Orang itu memiliki sesuatu yang khas, yaitu mata emas.”
Laurie mengangguk mengerti. “Jadi itu sebabnya kau dengan cepat tau bahwa master adalah … orang itu?” Dia memegang dagunya. “Bukankah agak aneh jika memanggilnya orang itu.”
Harvey menatap lurus ke depan. “Orang terpilih juga memiliki panggilan.” Dia menarik napas dalam-dalam. “Raja kegelapan.”
“Raja … kegelapan?”
Harvey mengangguk. “Ya, Raja kegelapan dikhususkan untuk iblis-iblis yang terkena kutukan. Karena kekuatannya yang kuat bahkan bisa menghancurkan kekaisaran hanya dalam sekali kibasan tangan.”
“Tapi …” Laurie ikut menatap lurus ke depan. “Kenapa memanggilnya Raja kegelapan? Bukankah tidak cocok untuk Master.”
Harvey tidak langsung menjawab, dia seolah mencari jawaban yang bisa membuat Laurie mengerti. “Jawabannya sederhana, karena sejak dulu. Iblis yang terkena kutukan adalah pria.”
“Eh??”
__ADS_1
Harvey menghela napas. “Benar, sejak dikutuk. Hanya pangeran iblis dari keturunan kerajaan saja yang terkena kutukan, ini adalah pertama kalinya seorang Tuan Putri Iblis terkena kutukan. Terlebih lagi, Yang Mulia adalah setengah manusia dan jiwanya disegel. Selain itu …"
“Selain itu?”
“Kekuatan Beliau, melebihi semua Raja kegelapan terdahulu.”
Laurie bersedekap dada sambil mengangguk-angguk kepalanya, tiba-tiba dia tersadar. Laurie menatap Harvey. “Apa?!!”
~♥~
“Kakak lebih hebat dari yang kupikirkan.”
“Heh, tentu saja,” kata Ryan dengan bangganya, napasnya tak beraturan. Bahkan banyak prajurit iblis yang tewas karena serangan dari Ethelyne.
“Kalian membosankan sekali.”
Tiba-tiba, aura gelap memadat di belakang Ethelyne dan membentuk kursi. Gadis itu duduk dengan wajah bosan. “Para prajuritmu perlu dilatih lagi, bagaimana mungkin mereka bisa begitu membosankan. Bahkan hanya pisau airku yang terlemah saja tapi tidak bisa menahannya.”
Ryan tersenyum tipis. “pisau lemah … ya?” Keringat mengalir di dahinya. ‘Jika pisau air sekuat itu adalah yang terlemah, bagaimana senjata terkuatmu? Aku tidak pernah membayangkan akan melawan Ratu kegelapan, terlebih lagi. Itu adalah adikku sendiri.’
“Ada apa? Apa kau sudah mengaku kalah?” tanya Ethelyne sambil menopang dagu. “Ingin bersantai sambil minum teh?”
“Heh, kau masih bisa bercanda di situasi seperti ini. Meskipun kau adikku, aku tidak akan segan!” Ryan tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Ethelyne dalam sekejap mata, dia mengangkat pedangnya dan hendak menusuk jantung Ethelyne.
Namun sebuah perisai menghalangi pedang. “Kasihan sekali, padahal aku ingin membiarkanmu hidup.” Ethelyne berdiri bersamaan dengan meleburnya energi yang padat, dia berbalik ke arah Ryan yang terdiam kaku.
‘Sial, apa yang terjadi padaku? Aku tidak bisa … menggerakkan badanku!’
“Percuma saja.” Ethelyne menangkup wajah Ryan. “Padahal, aku cukup menyukaimu. Tapi, sepertinya kau tidak.”
“Heh, monster sepertimu … tidak akan ada yang, menyukainya!” provokasi Ryan dengan senyum remeh. ‘Sial, menggerakkan mulutnya saja terasa sangat susah.’
Ethelyne diam, dia memiringkan kepalanya ke kiri dan menatap Ryan dalam. “Kau sungguh melukai hatiku, kau tau?”
~♥~~♥~
__ADS_1