
“Aaa, ayo buka mulutnya,” kata Meli sambil menyuapi Ethelyne dengan telaten.
Ethelyne hanya menuruti ucapan Meli dan membuka mulutnya lebar-lebar, dia menguyah bubur yang di suapkan Meli. “Rasanya sangat enak, Meli sangat pintar.”
“Ah, Yang Mulia bisa saja.” Meli menutup wajahnya malu.
Ethelyne tersenyum. ‘Aku menyukai dunia ini, kehidupan di mana saat ibu bersamaku dan Meli masih sehat dan masih seorang manusia.’
Tiba-tiba, terdengar suara petir menyambar di luar. Ethelyne dan Meli terkejut karena suara petir, Meli segera menggendong Ethelyne dan memeluknya. “Yang Mulia, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Lebih, lebih baik kita kembali ke kamar sekarang. Mungkin sebentar lagi akan hujan.” Dia berjalan ke arah pintu, namun saat membuka pintu. Suasana istana yang pertama kali Meli lihat membuatnya ingin muntah.
Namun dia yang sadar akan Ethelyne di gendongannya langsung menutup matanya. “Yang Mulia, jika bisa. Tolong tutup kedua telinga Anda.”
“Meli, apa yang terjadi? Kenapa suaramu terdengar takut?”
“S-saya tidak apa-apa, Y-kita sebaiknya kembali ke kamar secepatnya.” Meli melangkahkan kakinya melewati banyak mayat, bahkan sepatunya telah penuh dengan darah dari para mayat. Meli menggigit bibir dalamnya dan mempercepat langkahnya.
“Meli, ada apa? Di mana ibu?”
Petir kembali menyambar, Meli segera menatap ke luar jendela. Tepat tempat petir menyambar, bola matanya bergetar saat melihat Ibu Ethelyne, Earlene Virgian dibunuh ditusuk dengan pedang oleh seorang pria berpakaian kerajaan. Meski begitu, Meli tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu.
Hingga pria itu menarik pedang tanpa perasaan dan membuat kaki Meli tiba-tiba melemas. ‘Nyonya, nyonya Earlene … dibunuh?!’
Cahaya menyilaukan muncul dari bawah kaki Meli, saat dia membuka matanya lagi. Keduanya telah berpindah ke sebuah ruang bawah tanah tersembunyi di istana. Kaki Meli melemas, dia terduduk di lantai yang penuh debu dengan mata berkaca-kaca.
Saat tangan Meli mengendur, Ethelyne menjauhkan tangan Meli dari matanya. Dia memeluk Meli seolah menyalurkan rasa sakit dan kehangatan di saat yang bersamaan.
Air mata mengalir di pipi Ethelyne tanpa bisa dihentikan. ‘I-ibu … kenapa, kenapa ini kembali terjadi?’
__ADS_1
“Yang Mulia, kita akan baik-baik saja di sini. Suara petir tidak akan terdengar lagi di sini.” Meli memeluk Ethelyne saat merasakan tubuh gadis berumur 3 tahun itu bergetar, meskipun tidak yakin. Meli merasa bahwa Nonanya itu menangis entah apa penyebabnya. “Yang Mulia …”
“M-meli, di mana ibu? Aku ingin ibu, aku ingin bertemu ibu, aku ingin di peluk ibu.”
“Yang Mulia, tolong tenanglah. Nyonya, nyonya sedang bersama Yang Mulia Raja di kamarnya.”
‘Bohong, aku bisa melihat semuanya. Ibu dibunuh, dan Yang membunuhnya. adalah manusia, jadi apa selama ini aku salah paham pada Kakak-kakak? Wajah itu, warna mata itu … warna mata kerajaan Iceworld.’
Dada Ethelyne terasa sesak, dia mungkin tidak akan tau seandainya dia tidak menggunakan Devil Eyes. Penglihatan yang memang dimiliki oleh para iblis, bisa menembus apapun meski mata tertutup, bisa melihat dalam kegelapan, dan bisa melihat dalam jarak yang cukup jauh sesuai level dari pemilik mata.
“Yang Mulia, Nyonya akan baik-baik saja. Percayalah, nyonya akan tetap hidup demi Anda.”
Ethelyne membenamkan wajahnya di leher Meli, tidak berselang lama. Dia tertidur karena lelah menangis, barulah Meli melepas pelukannya. Dia menatap Ethelyne dengan air mata yang mulai mengalir.
“Maaf, maafkan saya. Yang Mulia, maafkan saya yang berbohong ini. Maafkan saya yang tidak bisa melindungi Nyonya dan juga Anda.” Meli menangis sesegukan, bahkan air matanya menetes ke pipi Ethelyne.
“Meli.”
Sebuah cahaya menyilaukan muncul di depan Meli, cahaya itu berasal dari roh pohon Kehidupan, pohon yang berada di tengah-tengah hutan para peri sekaligus rumah para roh.
Roh yang tidak terhitung jumlahnya itu membentuk Ibu Ethelyne yang menatap Meli dan Ethelyne yang tengah tertidur dengan senyum lembut.
“Nyonya, nyonya Earlene. S-syukurlah Anda masih hidup.”
Senyum lembut di wajah Earlene meluntur, dia menatap sendu. “Meli, aku sebenarnya telah mati. Yang kau lihat sekarang hanyalah jiwaku yang dikumpulkan oleh para roh-roh dari pohon kehidupan. Sebelum jiwaku benar-benar menghilang, aku akan memberikan sesuatu pada Ethel sebagai hadiah perpisahan.”
“Anda tidak boleh berkata seperti itu, Nyonya!” sentak Meli cepat. “Anda harus tetap bertahan, setidaknya untuk Yang Mulia Putri. Apa yang akan terjadi jika Anda pergi sekarang saat dia masih berumur 3 tahun?!”
__ADS_1
“Maaf, Meli. Tapi aku benar-benar tidak bisa bertahan lebih lama lagi, tubuhku akan benar-benar mati sebentar lagi.”
“Anda tidak boleh pergi.” Meli berdiri dengan sekuat tenaga sambil menggendong Ethelyne. “Anda harus bertahan, saya. Saya akan meminta Yang Mulia Raja untuk membuat Anda menjadi iblis dan menghidupkan Anda kembali!”
“Yang Mulia telah mati.”
Meli yang hendak melangkahkan kakinya pergi langsung terhenti saat mendengar ucapan Earlene, dia menoleh ke arah wanita itu dengan ekspresi terkejut. “Maksud, maksud Anda. Yang Mulia Raja telah … tapi bagaimana mungkin? Yang Mulia adalah iblis dan iblis tidak bisa dibunuh oleh manusia biasa.”
“Aku yang membunuh mereka, Meli.”
“Apa? Dan apa maksud Nyonya dengan kata mereka?” Meli semakin bingung dibuatnya, dia seolah tak bisa mencerna setiap ucapan yang dikatakan Earlene.
“Aku yang membunuh mereka, Meli. Aku membunuh Yang Mulia Raja dan Ratu, karena jika tidak. Mereka akan menghancurkan dunia atas dengan gabungan kekuatan mereka.”
“Lalu, bagaimana dengan Nyonya?” tanya Meli dengan mata memerah, matanya yang bengkak semakin bertambah saat air mata kembali mengalir.
Earlene tersenyum lembut, dia berjalan ke arah Meli dan memeluknya. “Meli, aku akan tetap menjaga kalian meski aku tidak ada. Meskipun aku tidak bisa melihat Ethel tumbuh, setidaknya. Aku memiliki kenangan indah bersamanya, kita para manusia sangat rapuh. Meli, berjanjilah satu hal, kau akan terus melindungi Ethel sampai kapanpun.”
“Nyonya, kenapa. Kenapa Anda berkata seperti ini??”
“Meli, aku sangat menyayangi kalian berdua. Sebelum aku benar-benar pergi, tolong berikan hadiah perpisahanku pada Ethel dan juga. Saat dia besar, minta dia ke hutan para peri dan juga. Beritahu dia alasan aku menyegel kekuatan iblisnya.”
“Maksud Anda?”
Sebelum Meli mengerti akan ucapan Earlene, sebuah lingkaran sihir dengan bentuk yang rumit muncul di bawah mereka bertiga. Dari lingkaran sihir itu keluar banyak roh-roh dengan cahaya yang berbeda-beda.
Para roh mengelilingi ketiganya, sepertiga kekuatan dari para roh keluar dari tubuh mereka dan masuk ke tubuh Ethelyne kecil.
__ADS_1
“Meli, jagalah Ethelyne selama sisa hidupmu. Jangan biarkan dia tersakiti ataupun mengingatku.” Earlene melepas pelukannya, dia mengusap air mata Meli. “Melia, sebagai adikku. Kau tidak boleh menjadi cengeng.” Earlene tersenyum sangat manis hingga jiwanya menguap dan menghilang di udara, para roh dan juga lingkaran sihir ikut menghilang seolah tidak pernah terjadi apapun.
Meli seketika terjatuh tak sadarkan diri, setetes air mata mengalir di pipi Ethelyne. Gadis itu membuka matanya dan duduk. “Ibu.”