
‘Tolong tenanglah, master. saya telah berbicara dengan fel, tapi dia terlalu pemalu untuk menemui anda.’
“pemalu? memangnya hewan spirit bisa pemalu juga, ya?”
‘Apa maksud dari kata-kata anda, master? tentu saja karena kami ini juga makhluk hidup!’
ethelyne duduk sambil bersedekap dada. “jadi, apa yang harus kulakukan agar dia mau bertemu denganku?”
‘Saya tidak tau, tapi sepertinya kehadiran fel ada hubungannya dengan bunga itu.’
ethelyne mengubah raut wajahnya menjadi datar. “bicara soal bunga, apa kau sudah menemukan tempatnya?”
‘Tidak, saya tidak tau.’
ethelyne memasang ekspresi tercengang. “hah?? lalu kenapa kau memberitahuku jika kau sendiri belum menemukannya?!”
‘Saya pikir, anda akan membantu saya mencarinya ketika tau saya tidak dapat menemukannya.’
“haha, jangan berharap. aku tidak menemukan apapun dari orang-orang yang kutanyai, sepertinya mereka memang tidak pernah dengar bunga itu. tapi, kenapa ibu memintaku mencari bunga langka itu?” ethelyne tertawa hambar saat mendengar ucapan flowing dari dalam dirinya.
‘Percuma saja anda bertanya pada saya, karena saya tidak tau apa-apa tentang bunga itu dan mengapa nyonya ingin agar master mendapatkannya.’
ethelyne menarik napas dalam-dalam, dia bersandar sambil mendongak ke langit-langit. “merepotkan ya, aku merasa seperti memiliki dua jiwa. satu jiwa baik, satu lagi jiwa jahat. ugh.” ethelyne bangun sambil meregangkan otot-otot bahunya. “baik, mari jalankan rutinitas yang sudah lama tidak kita lakukan.”
‘rutinitas?’
“ya!” ethelyne mengambil jubah dan memakainya. “memburu iblis-iblis rendahan,” gumamnya sambil menutup wajahnya dengan cadar.
__ADS_1
‘master, anda masih tidak jera juga? jika putra mahkota atau pangeran kedua tau anda membunuh rakyat mereka, anda pasti akan dijadikan musuh oleh kerajaan iblis.’
“siapa yang perduli, lagipula. aku adalah … tidak, lupakan saja.” ethelyne berjalan keluar dari kamarnya, dia menghampiri resepsionis cantik yang tengah berbicara dengan salah satu tamu aneh. “feli, aku akan keluar selama tiga hari. tolong tetap bersihkan kamarku.”
“ah, Lady Ethelyne. tentu saja, tapi kemana anda akan pergi?”
“um, coba kupikirkan.” ethelyne memegang dagunya. “ah, aku akan ke hutan untuk mengumpulkan tanaman herbal. tunggu sampai aku kembali, aku akan memberikanmu sesuatu.” dia berlari keluar sambil melambai-lambaikan tangannya.
feli terkekeh kecil saat melihat tingkat ethelyne yang kekanak-kanakan. “saya akan menunggu kepulangan anda,” katanya sambil balas melambaikan tangan.
“sepertinya hubunganmu dengan tamu itu cukup dekat.”
lamunan feli dihancurkan oleh 'tamu aneh' itu, dia tersenyum tipis. “begitulah, lady ethelyne sangat ramah dan baik pada semua orang. dia pernah membantu ibu saya ketika sedang sakit parah.”
“hum, benarkah? tapi kenapa aku merasakan energi iblis di sekitarnya?”
orang berjubah panjang itu mengambil kunci dan berjalan ke lantai dua. ‘heh, aku tidak benar-benar berpikir kalau dia adalah manusia. tapi iblis berlari di siang hari, menarik. aku yakin dia bukan sembarang iblis, atau mungkin saja. dia memelihara iblis yang kuat, aku harus mengikuti dan mengawasinya.’
~♥~
“master, bukankah anda ingin berburu iblis. lalu kenapa kita malah ke hutan dan memetik tanaman herbal?” tanya laurie sambil berusaha menarik rumput, dia bahkan tidak bisa membedakan mana rumput dan mana tanaman herbal.
“jangan hanya mengoceh terus, lagipula. aku menyuruhmu mengambil herbal, bukan rumput!” ethelyne berkacak pinggang sambil menatap kesal laurie, sudah seratus kali dia tunjukkan bentuk dari tanaman herbal. namun gadis berumur 8 tahun itu tetap tidak bisa membedakannya.
laurie memegang herbal di tangan kanannya dan rumput di tangan kirinya, dia kemudian membandingkan keduanya. “master, apa yang berbeda? dari yang saya lihat, keduanya sama saja.”
ethelyne hanya diam sambil berusaha fokus saat mencabut herbal, namun karena ocehan dan pertanyaan terus terlontar dari mulut laurie. dia jadi sangat kesal dan melempar lumpur ke wajah laurie namun hanya terkena gaunnya saja. “diam! kau tidak lihat aku sedang berusaha fokus!”
__ADS_1
dengan santainya, laurie membersihkan lumpur di gaunnya. “master, saya hanya bertanya. apa anda tau, semakin banyak bertanya, maka akan semakin luas juga pengetahuan.”
“siapa yang memberitahumu?”
“kakek terdahulu di klan naga.”
ethelyne kembali mencabut herbal sambil mengibaskan tangannya. “jangan percaya ucapan kakek terdahulu itu, bukannya berpengetahuan luas. kau malah akan membuat orang kesal karena pertanyaanmu yang tidak ada habis-habisnya.”
laurie berdecak, dia dengan sembarangan mencabut dan memasukkannya ke keranjang tanpa memikirkan itu herbal atau rumput.
keduanya menjadi senyap, ethelyne menoleh ke arah laurie. namun gadis kecil itu menghilang dan hanya menyisakan keranjang kosong dan juga jejak kaki.
“laurie, kemana kau pergi?” tanya ethelyne berteriak, namun dia tak mendengar balasan apapun. dengan ragu-ragu, ethelyne mengikuti langkah kaki itu dan sampai di sebuah gua gelap. dia berkacak pinggang. “laurie, berhenti main-main. kita harus mengumpulkan herbal sebelum malam tiba.”
merasa ada yang aneh, ethelyne memantapkan hatinya dan melangkah masuk ke gua. suasana yang gelap gulita membuatnya cukup kesulitan menentukan langkah dan berakhir jatuh beberapa kali.
‘cih, sebenarnya apa yang dilakukannya di sini? aku juga tidak bisa merasakan mananya sama sekali, laurie bermain terlalu banyak hari ini. aku pasti akan menghukumnya saat kembali nanti!’
tiba-tiba, ethelyne tanpa sengaja menginjak batu dan membuatnya terjatuh. dia meringis pelan saat merasakan kakinya yang terkilir. “sungguh sial sekali aku hari ini,” gerutunya, ethelyne menatap kakinya yang sakit. dia meraba-raba kakinya. ‘sepertinya kakiku bengkak, apa yang harus kulakukan? apa … kugunakan sihir penyembuhan saja, tapi sihir itu …’
ethelyne tampak ragu, dia menarik napas dalam-dalam dan mengarahkan tangannya ke pergelangan kakinya. ‘tidak masalah, aku yakin aku bisa mengendalikannya sekarang!’ ethelyne menutup matanya. “healing.”
sebuah cahaya hijau keluar dari telapak tangan ethelyne dan merambat ke kakinya, cahaya itu membuat sekitar sedikit terang. tidak berselang lama, bengkak di kakinya mulai pulih dan rasa sakit di kakinya mulai menghilang.
ethelyne berdiri sambil menggerakkan kakinya, setelah merasa aman. dia tersenyum sambil berkacak pinggang. “sempurna, kakiku tidak lagi terluka dan aku bisa mengontrolnya. setidaknya, itu tidak membutuhkanku untuk membuat lingkaran sihir.” ethelyne menghela napas. “aku pikir, akan perlu membuat lingkaran sihir untuk melakukan sihir penyembuhan. tapi sepertinya tidak, hm. apa mungkin kekuatanku terpengaruh karena aku menjadi gadis suci?” dia memegang dagunya berpikir.
saat sedang asik melamun, suara ranting kering yang patah mengangetkannya. dia dengan perlahan mendekat ke asal suara dan menemukan seorang pria berpakaian prajurit dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, pria itu tampak bergetar karena takut.
__ADS_1
“apa kau baik-baik saja? kenapa kau bisa ada di sini?” tanya ethelyne yang segera menghampiri prajurit itu, namun tiba-tiba dia berhenti di langkah keempat.