
“Aww,” ringis Ethelyne sambil memegang punggungnya yang terasa sakit, namun rasa sakit di punggungnya tidak terasa saat buku yang dia incar kini berada di tangannya. Ethelyne berdiri dan menatap buku di tangannya dengan senyum puas.
Dia berbalik dan melangkah ke arah kursinya, tapi karena tidak fokus melihat dapat. Dia menabrak seseorang dan hampir terjatuh, untungnya. Orang itu dengan sigap memeluk pinggangnya hingga dirinya tidak jatuh untuk kedua kalinya.
“Huuh, terima … kasih.” Ethelyne menatap kagum wajah pria tampan di hadapannya, namun. Yang membuatnya merasa aneh adalah rambut hitam legam dan mata ungu yang menatapnya dingin. ‘Kenapa, aku merasa kenal dengan pria ini? Kapan aku bertemu dia? Aku pikir, dia bukan dari istana.’ Ethelyne yang tersadar segera mundur dengan senyum canggung. “Ah, h-halo.”
Pria itu menatap Ethelyne dengan kening berkerut, dia menatap penampilan gadis di depannya teliti. “Ethelyne?”
“Eh, kau mengenalku?” tanya Ethelyne sambil menunjuk dirinya sendiri. ‘Kapan? Aku tidak rasa kita pernah bertemu.’
Seolah tersadar, pria itu berdehem. “Aku mendengar hal itu dari para pelayan, senang bertemu dengan Anda. Tuan Putri Ethelyne Envuella, saya pangeran dari kerajaan Victoria. Eadric Desberado.” Eadric memberi hormat.
Ethelyne hanya tersenyum kaku. ‘Apa dia tunangan Glory?’ batinnya berpikir.
“Saya tidak menyangka kalau Tuan Putri menyukai buku tentang medis.” Eadric melirik buku yang bertumpuk di meja.
“Ah, soal buku itu ya.” Ethel menatap ke arah buku. “Aku sedang mencari sesuatu, omong-omong. Kenapa Anda di sini? Seharusnya Anda menemui Ibu- Permaisuri dan Yang Mulia Raja kan?”
“Saya memang ingin menemui Yang Mulia Raja, tapi saya tersesat karena tidak tau jalan.”
“Oh, begitu ya?” gumam Ethelyne yang entah kenapa sedikit tidak percaya. “Kalau begitu, bagaimana jika saya antar?”
“Sebuah kehormatan bagi saya.”
Ethelyne tersenyum. “Silahkan lewat sini.” Dia berjalan keluar dari perpustakaan diikuti Eadric. ‘Aneh sekali, apa dia tidak diantar oleh bawahannya? Lagipula kan, banyak pelayan yang berlalu-lalang. Kenapa dia tidak bertanya dan justru tersesat ke perpustakaan?’. Ethelyne melirik Eadric dengan waspada. ‘Apa perlu--’
“Oh, Lyne. Kau ada di sini.”
Ethelyne tersadar, dia menatap ke asal suara dengan senyum manis. “Erik, apa kau sendirian? Di mana Tina?” tanyanya saat Erik berdiri di hadapannya.
“Tina ya? Dia sedang membeli camilan bersama Sir Rey, kau sendiri sedang bersama siapa? Dia terlihat asing.”
“Oh, dia ya. Namanya Eadric, dia dari kerajaan Victoria.”
“Ah, Pangeran ketiga dari kerjaan Victoria ya?” Erik membungkuk hormat. “Salam kenal, Yang Mulia. Saya Erik Frastivoz, Putra dari Duke Frastivoz.”
“Eadric Desberado,” kata Eadric datar, dia mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne. “Sepertinya kalian cukup kenal ya.”
“Bukan hanya kenal saja loh.”
Ketiganya menoleh ke asal suara, dengan langkah santai. Tina berjalan ke arah ketiganya sambil menikmati puding cokelat yang dibawanya.
“Kakakku dan Kakak ipar adalah tunangan, dan keduanya akan menikah empat bulan lagi. Keduanya sangat serasi bukan,” kata Tina sambil merangkul pundak Ethelyne dengan sebelah tangan lagi memegang puding cokelatnya.
“Tina, jaga sopan santunmu. Dan lagi, jangan memanggilku Kakak ipar!”
“Tidak apa-apa kan, lagipula. Kakak dan kakak ipar akan menikah sebentar lagi, jadi kakak akan menjadi kakak iparku empat bulan lagi.”
“Berhenti memanggilku kakak ipar!” Ethelyne menyentil dahi Tina hingga memerah. “Kau ingin aku jadi kakak iparmu kan?”
Tina mengangguk dengan raut wajah lucu.
“Jadi diam dan jangan banyak bicara, mengerti!”
Tina kembali mengangguk. “Baik.” Dia tersenyum manis. “Aku akan menuruti perintah Kakak.”
Ethelyne tersenyum, dia mengalihkan pandangannya ke arah Erik. “Aku akan mengantar Pangeran Eadric untuk menemui Ayah, kau dan Tina tunggu aku di ruang kaca.”
__ADS_1
“Ok, hati-hati ya.” Tina melambaikan tangannya sambil menarik Erik menjauh.
“Maaf sudah membuatmu melihat hal tidak seharusnya, silahkan ikuti aku.” Ethelyne berjalan lebih dulu diikuti Eadric dari belakang.
‘Tunangan? Sejak kapan Ethel bertunangan dengan pria itu?’
“Apa pria tadi dari kerajaan Victoria?” tanya Gavin sambil menyusul Ethelyne yang berjalan keluar setelah mengantar Eadric.
“Hem, begitulah. Kenapa kakak bertanya?”
“Tidak apa-apa, aku hanya merasa aneh dengan warna matanya. Bukankah warna mata pangeran dari kerajaan Victoria itu kuning, kenapa dia sendiri berwarna ungu.”
“Mungkin saja matanya sama seperti mata ibunya,” kata Ethelyne acuh, dia berhenti dan membuat Gavin ikut berhenti. Gadis itu menatap Gavin serius. “Kakak mau kemana? Perasaan, sedari tadi. Kakak hanya memgikutiku terus deh.”
“Yah, ketahuan deh.” Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku tidak tau mau kemana, jadi biar aku ikut dengan kau ya. Aku janji, aku tidak akan menganggu kok.”
“Tidak mau! Enak saja, aku mau--”
“Ihh! Apasih, kalau mau ikut yasudah ikut saja. Tidak usah bawa-bawa Erik!”
Dengan raut kesal, Ethelyne berjalan pergi.
“Hei, tomat! Tunggu aku!!” Gavin berlari menyusul Ethelyne yang sudah semakin menjauh.
Lagi-lagi, muncul pria berambut biru itu muncul dari tembok layaknya hantu yang bisa menembus apapun. Dia menatap ke arah Gavin yang menyusul Ethelyne. ‘Apa dia penyebab Jiwa suci tidak ingin kembali ke dunia nyata?’
“Berhenti mengikutiku, kakak bodoh!!”
Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne, suara teriakan gadis itu bahkan terdengar sampai telinganya. Dia menghela napas. ‘Sepertinya akan sulit membawanya kembali.’
__ADS_1
~~~♥~~~
“Kakak Lyne, sebelah sini!” Tina melambaikan tangannya sambil berteriak.
Ethelyne tersenyum dan berjalan ke arah Tina dan Erik diikuti Gavin yang kini seperti anak ayam yang tengah mengekori adiknya.
“Loh, Kak Gavin juga datang ya?” Tina tersenyum manis. “Bagaimana kabar Kakak? Sudah lama tidak bertemu.”
“Ah, h-halo. Lama tidak bertemu, kau terlihat semakin cantik.” Gavin memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.
Tina tersenyum sangat manis. “Kakak juga semakin tampan, pasti kakak disukai banyak gadis kan.”
“Yah, begitulah.” Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tersenyum malu-malu.
Ethelyne dan Erik hanya diam memperhatikan interaksi keduanya, Ethelyne sampai menutup mulutnya terkejut. Dia menatap Erik yang juga menatapnya. ‘Sejak kapan Kakak dan Tina dekat?’ batinnya berbicara melalui mata.
Erik mengangkat bahunya tak tau. ‘Mungkin saat pergi ke butik saat itu.’
Ethelyne hanya ber-oh, dia berjalan mendekati Erik dengan pelan agar tidak mengganggu kedua pasangan yang sedang pdkt. “Bagaimana kalau kita pergi dan biarkan mereka bicara?” bisiknya pelan.
Tanpa mengatakan apapun, Erik menggenggam tangan Ethelyne lembut dan menariknya menjauh.
“Kau ingin membawaku ke mana?” tanya Ethelyne setelah memastikan keduanya menjauh dari Gavin dan Tina.
Erik menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Ikut saja, aku yakin kau suka tempat ini.”
“Eh~ tidak asik sekali, setidaknya. Beritahu kau mau membawaku kemana!”
__ADS_1
“Diam atau kutinggalkan di sini!”