Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
56. Permintaan


__ADS_3

“Hahaha, tentu saja tidak. Aku tidak pernah membeda-bedakan pelanggan.” Kakek pemilik toko berjongkok dan menepuk-nepuk pipi kakek tua, tidak berselang lama. Tubuh kakek tua tiba-tiba puluh, bahkan rambutnya pun kembali seperti semula.


Kakek tua bangun sambil memegang kepalanya. “Ah, sungguh kekuatan yang sangat kuat. Aku hampir saja mati.”


“Berhenti bercanda, bagaimana kau bisa mati?”


“Hei! Mau bagaimanapun, aku di sini sebagai manusia biasa yang tentu saja bisa mati!”


Kakek pemilik toko berdiri dan berkacak pinggang. “Manusia biasa mana yang menggunakan wujud orang lain?”


“Ah, i-itu karena …” Kakek tua mengalihkan pandangannya sambil menggaruk pipinya. “Sebelum itu, jangan buat gadis kecil itu menunggu!” Kakek tua mengalihkan topik dan menunjuk Ethelyne.


“Apa yang terjadi di sini? Apa maksud kalian berdua?”


“Ah, kami belum memperkenalkan diri ya.” Kakek pemilik toko mengubah wujudnya menjadi seorang pria tampan berambut perak dengan mata berwarna ungu, dia memberi hormat layaknya bangsawan tinggi. “Perkenalkan, namaku Willian Virgian.”


“Virgian? Apa kau … seorang gadis suci?” tanya Ethelyne ragu-ragu di akhir kalimatnya.


“Hm? Hahaha.” Wiliam tertawa terbahak-bahak.


‘Apa ada yang lucu?’


“Maaf atas ketidaksopananku, Nona Ethelyne. Saya adalah pendiri klan Virgian.”


“Klan?”


“Ya, saya bersama Tuan Murry membangun klan Virgian untuk anak-anak yang terlantar. Kami melatih mereka dengan keras hingga mereka berhasil membangkitkan kekuatan suci, meski begitu. Tidak sedikit juga anak-anak yang tewas akibat kekuatan sihir yang tidak stabil dan meledakkan mereka.”


“Jadi, apa itu sebabnya hanya ada 11 gadis suci?”


“Ya, betul sekali! Tapi itu adalah sebab kedua.”


“Lalu, apa sebab pertama?”


Tatapan William berubah serius. “Saya yakin, Anda pasti tau maksud saya.”


Ethelyne menatapnya lekat, gadis itu mengangguk. “Sepertinya begitu, gadis-gadis yang lain. Semuanya … dihabisi oleh iblis.”


“Ya, sebenarnya bukan hanya ada anak gadis. Tapi banyak anak laki-laki juga, tapi mereka semua tidak selamat akibat peperangan antara iblis dan manusia yang mendadak dan menyebabkan tewasnya anak-anak kecil. Bahkan balita pun tidak dilewatkan.” Willian mengepalkan tangannya penuh amarah.


“Oh, begitu ya? Tapi, kenapa aku tidak pernah mendengar soal klan Virgian?”

__ADS_1


“Itu karena kami telah menghilang selama lebih dari 50 tahun, para manusia biasa mengganggap kami semua mati saat perang dan tidak pernah lagi membicarakannya. Selain itu, klan Virgian termasuk klan tersembunyi. Kami memasang barier khusus yang dapat membuat desa anak-anak tidak dilihat ataupun diketahui siapapun.”


Ethelyne menganggukkan kepalanya mengerti. “Jadi seperti di desa para roh kan? Tapi aku ingin bertanya satu hal, siapa pria yang kau panggil tuan itu?” Dia menunjuk kakek tua yang kini berubah menjadi pria tampan dengan mata ungu dan rambut berwarna biru yang agak acak-acakan.


“Ah, dia ya? Dia adalah Tuan Naga Legendaris. Tuan Murry.”


“Eh?? Apa?!” Ethelyne menatap William dan Murry bergantian. “Dia, Naga legendaris?” tanyanya sambil menunjuk Murry dengan tatapan tak percaya.


“Benar, beliau telah berkelana di dunia selama hampir 800 tahun lebih.”


“Jangan-jangan …” Ethelyne menatap Murry. ’Pria tua yang mirip dengan ayah ibu itu, adalah dia?’


“Selamat atas berubahnya Anda sebagai gadis suci, meskipun sedikit aneh karena Anda tidak dilatih oleh kami. Tapi benih dari energi suci telah berada di tubuh Anda.”


Ethelyne memegang dagunya berpikir, dia menatap keduanya. “Sebelum itu, aku ingin bertanya. Apa benih energi suci bisa diwariskan?”


Willian menggeleng. “Itu tidak bisa, Lady. Benih energi suci telah menyatu dengan jiwa dan nyawa dari orang itu. Jadi tidak mungkin untuk diwariskan ke orang lain, terlebih lagi. Anda adalah gadis suci terakhir yang dipilih oleh para gadis suci terdahulu.”


“Aku?” Ethelyne menunjuk dirinya sendiri, dia tidak percaya dirinya adalah orang yang dipilih oleh sebelas gadis suci.


Willian hanya mengangguk ringan.


Willian mendekat dan menangkup wajah Ethelyne. “Itu adalah takdir, Lady. Kau tidak mungkin bisa mengubah takdir hidupmu, semuanya telah ditentukan oleh Dewa.”


‘Masalahnya, aku tidak percaya akan kehadiran dewa itu,’ batin Ethelyne yang sedikit tertekan, bagaimana tidak. Dia bahkan belum lahir saat kesepuluh gadis suci mati, bagaimana mereka bisa memilihnya sebagai gadis suci terakhir sementara mereka tidak tau bahwa dia akan lahir atau tidak. ‘Takdir? Hah, aku tidak pernah berpikir takdir bisa mengendalikan hidupku. Tapi …’ Ethelyne melirik Willian dan Murry yang tampak sedang mengobrol meski Murry hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.


“Begini, Lady. Apa Anda ingin ikut kami kembali?”


“Maksudmu?”


“Maksud saya, apa Anda ingin ikut kami kembali ke hutan para peri?”


“Maaf, tapi aku tidak bisa ikut.” kata Ethelyne tanpa ragu.


“Kenapa? Bukankah semua gadis suci memang harus kembali ke klan, para tetua klan akan mengutuk Anda jika Anda tidak mematuhi perintah.”


“Masa bodoh dengan kutukan dan perintah, yang pasti. Aku tidak akan mengikuti kalian, karena semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu kutanyakan. Jadi aku pergi dulu.” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi, namun tiba-tiba muncul barier suci yang membuatnya langsung berhenti. Dia melirik barier yang kini mengurungnya. “Apa maksudnya ini?”


“Lady, Anda tidak bisa keluar terlalu lama dari desa. Jika kami tidak bisa membawa Anda kembali dengan baik-baik, maka kami akan membawa Anda secara paksa.”


Ethelyne berbalik dan menatap keduanya dingin. “Hilangkan bariernya.”

__ADS_1


“Maaf, tapi saya tidak bisa,” kata William sambil tersenyum.


“Kukatakan sekali lagi, hilangnya bariernya!”


“Cih, keras kepala sekali.”


“Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak bisa.”


Ethelyne berdecak, tiba-tiba. Barier yang mengurungnya hancur berkeping-keping.


“Bagaimana mungkin!”


Ethelyne menoleh ke belakang, dia menatap William tajam dengan sebelah warna mata merah dan sebelah lagi berwarna emas. “Kalianlah yang memancing amarahku.”


“Kau--”


“Hahaha.”


William menoleh ke arah Murry yang tertawa tanpa sebab.


“Apa yang lucu?”


“Tuan, apa Anda tidak bisa melihat situasi?”


“Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?” Murry menatap Ethelyne datar. “Kau masih terlalu lemah, gadis suci.”


“Ah, begitukah? Bagaimana kalau kita lakukan tes percobaan?” Ethelyne melangkah maju sedikit demi sedikit, aura berwarna merah-hitam munguar dari tubuh Ethelyne. Aura itu menyatu dan membentuk sebuah pedang dengan palang pedang berbentuk tengkorak, aura hitam terus menguar dari pedang yang dipegang Ethelyne.


“T-tenang dulu, semuanya bisa dibicarakan baik-baik.”


“Hem? Bukankah tadi kau bilang kau akan membawaku secara paksa?”


“Kami harus melakukannya, di luar sana sangatlah berbahaya. Setelah kematian Lady Earlene, kami tidak ingin ada gadis suci lagi yang mati.”


“Benarkah?”


William mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Jika tidak bisa membawanya, habisi saja dia.”


“Woi!” panik William sambil menoleh ke arah Murry yang acuh tak acuh.

__ADS_1


__ADS_2