Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
114. Ketahuan


__ADS_3

“Apa-apaan ini?!!”


‘Apa yang terjadi?’ Lyne menutup matanya, namun. Seberusaha apapun dia, Lyne tetap tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan. ‘Cih, bagaimana caranya aku bisa melihat Ethelyne seperti sebelumnya?’


“Tunggu, apa-apaan ini?? Tanganku tiba-tiba memudar dan menghilang!”


‘Apa?? Bagaimana bisa??’ Lyne membuka matanya terkejut.


“Aku tidak tau, Lyne. To--”


‘Ethelyne! Ethelyne!!’


~♥~


‘Apa yang terjadi tiba-tiba??’ Ethelyne berdiri dan berjalan ke arah jendela, dia mendongak menatap langit merah dengan mata membulat. ‘Hukum Dewa??’


“Nona Ethelyne!” panggil Meli sambil membuka pintu dengan kasar dan mengangetkan Ethelyne.


“Apa yang terjadi?? Siapa yang mengaktifkan formasi??”


Meli terdiam sesaat, dia kemudian menatap Ethelyne serius. “Sepertinya ada yang memulai formasi terlarang, Yang Mulia ingin Anda segera dievakuasi ke tempat yang aman.”


Ethelyne terdiam sesaat, dia menatap ke luar jendela dalam diam. “Kau... pergilah lebih dulu, aku akan segera menemuimu.”


“Tapi--”


“Kau tidak akan membantah perintah majikanmu kan? Anjing yang patuh.” Ethelyne melirik Meli datar.


Wanita itu lantas menunduk dan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Saya mengerti, saya akan meminta pelayan lain kemari untuk menunjukkan jalannya pada Anda.”


“Ya, terserah kau saja.” Ethelyne mengibaskan tangannya malas.


Dengan terpaksa, Meli berjalan keluar dan menutup pintu. Dia berdiri di depan pintu dan menatap kepalan tangannya, Meli perlahan-lahan membuka kepalan tangannya dan menatap datar. ‘Sepertinya tidak ada waktu lagi.’


Sementara itu, di dalam kamar....


‘Aku yakin orang yang mengaktifkan formasi adalah orang gila!’ Ethelyne menatap datar ke luar. ‘Siapapun orang itu, aku pasti akan menemukan dan menghancurkannya! Karena ulahnya, kekuatanku dan energi murni gadis ini gagal bersatu! Pantas saja energi tiba-tiba menolakku, padahal sebentar lagi semuanya bisa menjadi milikku. Tapi sekarang, semuanya sia-sia!’

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Ethelyne hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap ke luar jendela, berusaha mengabaikan suara ketukan tersebut. Namun, suara itu justru semakin kuat dan mengganggunya.


Dengan amarah yang meluap-luap, Ethelyne berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Ada apa lagi?!”


“Nona Ethelyne, Yang Mulia ingin Anda segera ke ruang rahasia.”


“Sudah ku--”


“Yang Mulia berkata, jika Anda menolaknya. Maka saya bisa menggunakan kekerasan untuk membawa Anda secara paksa.”


Ethelyne menggertakkan giginya. ‘Beraninya iblis rendahan ini mengancamku!’ Dia berdecak. “Pimpin jalan!”


“Silahkan kemari.” Pelayan itu mempersilahkan Ethelyne berjalan lebih dulu dan kemudian mengikutinya dari belakang, di sepanjang perjalanan, tidak ada yang memulai pembicaraan.


Lorong yang kosong dan sunyi membuat Ethelyne merasakan firasat aneh.


Saat sampai di lorong buntu, Pelayan itu berjalan maju dan menekan sesuatu. Tiba-tiba saja, dinding yang menghalangi jalan mulai bergerak dan memperlihatkan sebuah jalan rahasia yang tak diketahui siapa-siapa.


Pelayan itu mengambil obor yang tergeletak di lantai dan menyalakannya dengan sihir api, dia kemudian memberikan obor itu pada Ethelyne dan mempersilahkan gadis itu memimpin jalan.


“Lorong ini terhubung langsung dengan dunia manusia, biasanya. Hanya orang-orang dari keluarga kerajaan saja yang tahu tentang lorong ini.”


Ethelyne melirik pelayan di belakangnya. “Jadi kenapa kau tahu soal lorong ini?”


“Yah... itu karena saya. Adalah Ratu dunia iblis!” Pelayan itu tiba-tiba saja menyerang Ethelyne dengan semacam sihir gelap.


Ethelyne yang terkejut hendak menghindar, namun, lorong yang sempit membuatnya tak bisa bergerak bebas dan akhirnya terkena sihir itu. “Kau, kenapa kau bisa...” dia mengusap darah hitam yang mengalir keluar dari mulutnya.


“Sudah kuduga.” Perlahan-lahan, wujud pelayan itu mulai berubah menjadi Kathelyne. Gadis itu menatap Ethelyne datar dengan sebuah bola api gelap yang melayang di atas tangannya. “Siapa kau sebenarnya??”


“Fufufu.” Ethelyne terkekeh kecil, dia berdiri tegak dan menatap Kathelyne dengan senyum misterius. “Tidak kusangka kau bisa mengetahuinya secepat ini, ah. Apa jangan-jangan, langit merah di luar adalah ilusimu?”


“Aku sudah curiga sejak kau berpura-pura jadi Ethel, dan soal langit merah itu, itu tidak termasuk dalam rencanaku. Tapi itu tidak penting, selama aku bisa mengeluarkanmu dari tubuh itu. Maka aku bisa menghentikan hukum dewa dengan mudah.”


“Heh, menarik sekali. Apa kau berpikir menggunakan energi murni gadis ini untuk menghentikan hukum dewa?” Ethelyne menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuk ditambah senyum misterius yang tak terartikan. “Sayang sekali.” Dia sedikit memiringkan kepalanya. “Energi murni itu, telah menjadi milikku.”


Kathelyne terdiam dengan mata membulat, tangannya tampak sedikit bergetar. “Hei, maksudmu. Energi murni itu, jangan bilang... kau menyerap energi murni itu.”

__ADS_1


“Tentu saja, membiarkan energi murni sekuat ini di jiwa yang lemah itu sangat menyedihkan tahu. Lagipula, dengan energi ini. Aku bisa memulihkan tubuhku kembali dan bisa mendapatkan kekuatan sempurnaku! Jika itu terjadi, maka, maka...”


“Berengsek!!” Kathelyne tiba-tiba saja berdiri di depan Ethelyne dan mencekik gadis itu dengan wajah penuh amarah. “Beraninya kau melakukan ini padanya! Kau pantas mati! Aku pasti akan menghancurkan jiwamu sampai tidak bisa bereinkarnasi!!”


“Ugh, per-cuma saja.” Ethelyne tersenyum meskipun rasa sesak dan sakit membuat tubuhnya menjadi lemas. “Kau, tidak akan bisa membunuhku!”


“Membunuhmu?” Kathelyne memiringkan kepalanya dengan pupil mata merah yang tampak menatap tajam. “Jika aku melakukannya, maka itu akan sangat mudah bagimu. Sebelum membunuhmu, aku pasti akan membuatmu tersiksa seperti berada di neraka!”


~♥~


‘Sial! Tidak aku sangka ratu iblis itu punya rantai suci, bagaimana bisa kegelapan berteman dengan cahaya?? Itu mustahil!’ Ethelyne berusaha meronta, namun. Rantai yang mengikatnya membuatnya tak bisa kabur, bahkan kekuatan sihirnya pun perlahan menghilang karena rantai yang mengikatnya.


“Hey, Ratu iblis. Ingin kau apakan Roh jahat ini?” tanya Mika sembari bersedekap dada, dia menatap Ethelyne dari ujung kaki hingga kepala. “Padahal sudah lama tidak bertemu, tapi dia tetap tidak berubah.”


“Aku tidak bisa menyiksa sesama Iblis, tapi aku yakin kau punya banyak cara kan. Jadi kuserahkan pada kau saja.”


Mika tersenyum misterius. “Hehehe, kalau begitu. Kau tidak boleh menyesal.”


“Tapi dengan satu syarat, jangan sampai kau melukai tubuh Ethel.”


“Jangan khawatir, aku bisa menyiksa roh kecil ini tanpa harus melukai tubuhnya.” Mika memunculkan sebuah cambuk putih yang tampak sedikit bercahaya, dia berjalan ke arah Ethelyne dengan senyum sangat manis. “Nikmati saja rasa sakitnya, roh kecilku yang manis~”


Kathelyne hanya diam menyaksikan kejadian di depannya, dia menghela napas dan berbalik, berjalan keluar dengan acuh tak acuh. “Kembalilah ke dunia atas kalau pekerjaanmu sudah selesai.”


“Tentu saja, di dunia ini benar-benar membuatku sesak tau! Apalagi makanannya benar-benar tidak bisa diharapkan!”


“Jangan memberi kode, kau tidak akan diberi apapun di sini.”


“Hng! Dasar Ratu Iblis pelit!”


~♥~~♥~


(\_/)


( °•°)


( >♥️ Love the readers😘

__ADS_1


__ADS_2