Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
115. Menghilang


__ADS_3

“Sudahlah, menyerah saja. Sampai kapan kau bisa menahan kekuatan cambukku ini?”


“Heh, aku tidak selemah itu. Nona, bahkan jika kau menggunakan kekuatan yang setara dengan dewa sekalipun, aku tidak akan meninggalkan tubuh ini.”


Mika menatap Ethelyne datar. “Hei, ini bukan tempat untuk parasit kecil sepertimu.”


“Kau! Beraninya kau memanggilku begitu!”


“Bukankah yang kukatakan itu benar?” Mika menghilangkan cambuknya dan bersedekap dada. “Kau tinggal di tubuh Nona Ethelyne dan menghisap energi murninya, bukankah kau itu sama saja dengan parasit.” Matanya sedikit memicing dengan tatapan rendah. “Dasar makhluk rendahan, sebenarnya untuk apa kau hidup? Hanya bergantung pada orang lain tanpa melakukan apapun, hah. Sungguh konyol.”


Ethelyne menggertakkan giginya menahan amarah. ‘Gadis sialan ini! Lihat saja nanti, saat kekuatanku kembali lagi. Dia yang akan kulenyapkan lebih dulu!!’


~♥~


‘Di mana Ethelyne berada? Setelah kejadian minggu lalu, dia jadi tidak pernah muncul ataupun berbicara lagi. Apa terjadi sesuatu padanya? Aku harus melakukan apa untuk membantunya?’ Lyne mengigit kukunya gugup, dia duduk di tepi kasur. ‘Tapi setelah keberadaannya menghilang, sihir Ayahanda juga ikut menghilang. Apa maksudnya ini? Jika gagal, seharusnya hanya Ethelyne yang tertidur. Tapi sihir itu menghilang bersamaan dengan Ethelyne, apa gagal untuk melepaskan sihir? Atau aku berhasil? Ugh, aku tidak bisa berpikir jernih! Apa yang harus kulakukan??’


“Selamat pagi, Lyne. Kau sedang apa?” Erik membuka pintu kamar Lyne dengan senyum manis di wajahnya. “Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu, apa kau merindukanku?” tanyanya seolah tak pernah terjadi apapun.


Lyne diam sejenak sebelum membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, namun. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya sama sekali.


“Kau mengatakan apa? Aku tidak bisa mendengarmu sama sekali.”


Lyne mengangkat sebelah tangannya dan mengibaskannya, membuat Erik melangkah ke arahnya dengan ekspresi bingung.


“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau bicara lewat isyarat?”


Lyne berdiri dari duduknya, dia mendekat dan berbisik pelan. “Erik, kau. Bedebah.”


Erik mundur dengan tatapan tak percaya. “Lyne, kau....”

__ADS_1


Lyne hanya diam dengan tatapan dingin di matanya.


“Kenapa kau bisa mengatakan kata-kata sekejam itu??” tanya Erik yang masih tak percaya dengan yang didengarnya barusan. “Tidak, tidak. Aku pasti salah dengar kan!” Dia menepuk-nepuk wajahnya sendiri.


“Kau, tidak salah dengar, Erik. Kau itu, benar-benar menjijikkan.” Lyne menatap Erik dengan tatapan dingin dan jijik. ‘Tidak kusangka kau juga akan ikut serta dalam rencana bengis ini.’


“Lyne, apa maksudmu?? Kenapa kau memanggilku dengan kata-kata itu? Apa aku melakukan kesalahan padamu? Jelaskan dimana kesalahanku?” Erik berjalan mendekat, namun Lyne malah melangkah mundur.


“Kau masih berpura-pura? Kalian itu benar-benar hina ya, kalian melakukan hal yang menurut kalian benar tanpa tau apa akibat dari perbuatan kalian ini.”


“Lyne... kenapa kau bisa...”


“Hei, Erik. Aku ingin tau, bagaimana perasaanmu saat melihat adikmu kehilangan nyawanya dengan cara yang paling hina. Apa kau, bisa memberitahuku?” tanya Lyne dengan seringai, dia tersenyum manis. “Aku harap, kau mau--”


Lyne tak melanjutkan ucapannya saat Erik tiba-tiba berjalan cepat ke arahnya dan mencekik lehernya dengan kuat.


“Heh.” Lyne tersenyum mengejek. “Bukankah menyakitkan melihat orang yang kita sayangi mati?” tanyanya tanpa melawan, Lyne seolah tak merasakan sakit apapun meskipun lehernya dicengkeram dengan kuat.


“Apa maksud ucapanmu itu? Kau ingin membuatku marah dengan mengungkit masa laluku? Percuma saja, Lyne. Aku--”


“Apa kau tidak mengerti?!” Lyne tiba-tiba saja meninggikan suaranya, dia menatap Erik penuh amarah. “Rasa sakit yang kau rasakan saat melihat adikmu mati, apa kau pikir keluarga dari jiwa yang bawa secara paksa tidak merasakannya?!! Kenapa kau jadi sekejam ini? Kenapa kau berbeda dari Erikku yang dulu? Di mana Erik yang selalu penyayang dan tidak suka membuat orang lain menangis?? Kenapa kau bisa berubah sedrastis ini??”


“Kau menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kau ketahui.”


“Apa?” Lyne menatap Erik bingung, dia tak mengerti ucapan pria di depannya.


“Kenapa kau sok bersikap seperti Lyne? Kenapa kau harus berpura-pura seolah kita sudah kenal lama dan kau mengenalku dengan baik? Ingatlah, kau itu hanya jiwa asing yang dibawa kemari karena kekuatanmu. Jangan berpikir untuk menjadi Lyne karena sampai kapanpun, kau tetaplah orang asing! Dan ya, seperti yang kau katakan sebelumnya. Aku sudah berubah, aku bukan Erik yang dulu. Erik lemah yang tak bisa melindungi kekasihnya dan hanya bisa melihat dua orang yang paling penting mati begitu saja. Aku tidak perduli dengan rasa sakit yang dialami orang lain, aku memang egois. Tapi selama itu membuatku bahagia dan melupakan masa lalu, maka akan kulakukan. Meski harus menghancurkan keluarga orang lain!”


Lyne menatap Erik tak percaya. “Ah, begitu ya,” katanya pelan, dia dengan mudah melepaskan cengkraman Erik di lehernya dengan kepala yang sedikit tertunduk. “Jadi kau tidak perduli dengan kehidupan orang lain? Kau memang egois Rik, kau berbeda. Benar-benar berbeda, aku tidak tau lagi, apa kau. Sungguh Erikku yang dulu, atau bukan.” Lyne mengepalkan tangannya sembari menahan air mata yang ingin keluar. “Hahaha, sepertinya aku sudah gila karena mengajukan pertanyaan pada orang bodoh.”

__ADS_1


“Berhenti bersikap akrab!”


“Yah, terserah kau saja. Sekarang, keluar dari kamarku.”


“Ini bukan kamarmu, bukan istanamu, bukan tubu--”


“Keluar!!”


Erik yang mendapat bentakan secara tiba-tiba terdiam sesaat. “Ok, aku keluar. Jangan coba-coba untuk kabur kalau kau tidak ingin menerima akibatnya.” Dia berbalik dan berjalan keluar dengan acuh.


Tepat setelah pintu tertutup, Lyne langsung terduduk di kasur. Kakinya terasa lemas tak bertenaga, Lyne mengusap wajahnya kasar. ‘Sial! Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa tak ada satupun yang mengerti aku??’


~♥~


‘Warna langitnya tidak berubah, tidak ada juga tanda-tanda petir. Sampai kapan langit ini akan berwarna merah? Apa semuanya karena hukum dewa? Atau karena ada penyebab lain?’ Kathelyne menghela napas. ‘Kenapa hidupku jadi berantakan begini? Kenapa semuanya tak pernah berjalan sesuai keinginanku? Semuanya hancur, hancur! Ugh.’ Dia memegang kepalanya yang seolah ditusuk-tusuk. ‘Sepertinya aku kurang istirahat akhir-akhir ini, aku harus menyelesaikan semua masalah ini secepatnya dan istirahat.’


“Yang Mulia!” Mili tiba-tiba saja membuka pintu dengan kasar dan penuh kepanikan.


“Ada masalah apa?” tanya Kathelyne sedikit kesal.


“Gawat, Yang Mulia! Nona, Nona Ethelyne menghilang!”


“Apa?! Kenapa bisa?? Bukankah Mika mengawasinya!”


“S-sebenarnya Nona Mika sempat meninggalkan Nona Ethelyne. Dan, dan saat dia kembali, Nona Ethelyne sudah...” Mili tidak lagi melanjutkan ucapannya saat sebuah pisau melewatinya dan tertancap di pintu, bahkan beberapa helai rambutnya sampai terpotong oleh pisau itu, dia menelan salivanya saat menatap pisau di belakangnya.


~♥~~♥~


Mici-mici, Mimin update lagi😚😚

__ADS_1


__ADS_2