Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
76. Kekaisaran


__ADS_3

“Cih, masih tidak ingin mengaku juga rupanya. Aku bisa melihat dengan jelas auramu itu, aura hitam pekat yang samar. Sudah jelas kau itu adalah iblis!”


“Ah, begitu kah?”


“Ya! Jadi lebih baik kau mengaku dan ikut aku dengan tenang atau aku akan langsung membunuhmu di sini.”


Ethelyne menyeringai, dia melangkah maju dan membuat pedang mengenai lehernya hingga berdarah.


Anastasia yang terkejut langsung menurunkan pedangnya, namun terlambat. Ujung pedang yang runcing menusuk bahu kanan gadis asing di hadapannya. “Kau …”


“Ada apa? Bukankah kau ingin membunuhku.”


“B-berhenti atau pedangnya akan menembus bahumu!”


“Siapa yang perduli.” Ethelyne terus melangkah maju hingga pedang yang menusuk bahunya tembus ke belakang.


Bahkan, beberapa warga yang melihat hal tersebut berteriak histeris.


“K-kau berhenti sekarang!”


“Ada apa? Apa kau ketakutan sekarang ini?” Ethelyne berdiri tepat di hadapan Anastasia, dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik. “Kau tidak perlu meminta ratu untuk menemuimu, karena dia sendiri. Sudah berdiri di hadapanmu saat ini,” bisiknya pelan.


Mata Anastasia tampak membulat, saking terkejutnya. Dia tanpa sadar menarik pedang keluar sambil melompat mundur. “Kau … kau ratu iblis!”


Ethelyne menatapnya datar. “Lantas kenapa?” Dia melirik luka di bahunya yang sudah sembuh dan darah yang merembes di pakaiannya telah mengering.


“K-k-k-kau …”


“Manusia itu sungguh merepotkan.” Ethelyne memainkan jemarinya. “Jika memang bukan karena permintaannya, aku tidak akan berbelas kasih pada kalian para manusia. Lagipula.” Dia melirik Anastasia yang mengarahkan pedang ke arahnya dengan tangan gemetar. “Manusia rapuh seperti kalian hanyalah makanan bagi kami.”


“Kau!”


Tiba-tiba, sebuah api muncul dan membakar jubah yang di kenakan Ethelyne. Gadis itu menoleh ke arah belakang, tepatnya ke arah api berasal. “Apa kau kesini untuk menganggu kesenanganku?”


“Aku tidak akan membiarkanmu melukai adikku!” kata pria berambut pirang dengan pedang berwarna hitam pekat.

__ADS_1


“Hm? Kau pikir, pedang seperti itu bisa membunuhku?” Ethelyne menatapnya remeh, jubahnya terbakar hingga berubah menjadi abu sepenuhnya. Warna rambut cokelatnya terbang diterpa angin, gaun hitam indah dengan mutiara gelap tampak serasi dengan warna mata merah darahnya. “Sayang sekali, kalian bahkan tidak bisa membuatku terluka.”


Pria berambut pirang itu tampak terdiam dengan tatapan yang tak lepas dari gadis bermata merah di hadapannya. “Alyssa.” dia menggeleng cepat dan menatap tajam Ethelyne. “Siapa kau sebenarnya! Kenapa kau sangat mirip dengan Putri Alyssa?!”


Ethelyne memiringkan kepalanya. “Alyssa? Siapa itu, aku tidak kenal.”


Pria berambut pirang itu berdecak. “Kau pikir, aku percaya. Bagaimana mungkin seorang iblis tidak mengenal musuhnya sendiri.”


“Musuh? Ah, maksudmu gadis suci ya.” Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi sayang sekali, kau salah orang. Alyssa bukanlah gadis suci. Dia bahkan tidak pantas menjadi gadis suci.”


“Kau!!” Pria berambut pirang itu menatap Ethelyne geram, dia mengarahkan pedang di tangannya ke Ethelyne. “Aku pasti akan membunuhmu!”


Ethelyne menyeringai. “Heh, apa kau sungguh berani?” Dia berjalan ke arah pria itu dan dengan santainya menggeser pedang yang mengarah ke arahnya, tangannya yang menyentuh bagian tajam pedang langsung mengeluarkan pedang. Ethelyne meringis kecil, dia menatap luka goresan panjang di tangannya yang tak kunjung sembuh. “Tidak mungkin, kenapa … lukanya tidak sembuh?” gumamannya dengan raut wajah kaget.


“Hahahaha, kau sungguh tidak menyangka kan kalau aku memiliki pedang suci milik Casandra Virgian!”


“Casandra … bagaimana mungkin! Lagipula, kenapa pedang suci bisa berwarna hitam!”


“Kau sepertinya tidak tau.” Pria itu menatap Ethelyne dengan mata memicing. “Pedang ini telah disatukan dengan kekuatan hitam milik roh angin, Melina.”


“Kakak,” gumam Anastasia yang berdiri tak jauh di belakang Ethelyne. ‘Kenapa Kak Mraz jadi seperti ini?’


“Hahaha, sekarang. Aku tidak bisa dihilangkan oleh siapapun, bahkan ratu kegelapan sekalipun!!” tawa pria berambut pirang bernama Mraz itu menggelegar dan membuat beberapa rakyat yang masih di sana bergidik ngeri.


Apa benar dia kaisar yang selama ini terkenal ramah dan murah hati pada siapapun, dia justru mirip seperti iblis tak berhati yang keji.


“Kau …”


“Tolong ampuni dia, Yang Mulia!” Tiba-tiba, seorang wanita berdiri di hadapan Ethelyne dengan kedua tangan direntangkan, gadis itu adalah Feli Brian.


“Feli, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Ethelyne dengan raut wajah datar. ‘Cih, resepsionis bodoh ini malah menganggu aktingku.’


“Kau berani melindungi seorang iblis di kekaisaranku, apa kau ingin menjadi pengkhianat??” tanya Mraz dengan kening berkerut dan tatapan tajam yang terarah ke Feli.


“Saya tidak ingin berkhianat pada kekaisaran, saya hanya ingin melindungi kenalan saya. Saya mohon, tolong ampuni dia. Yang Mulia.” Feli segera berlutut dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


“Hei, apa yang kau lakukan!” Ethelyne menata Feli terkejut.


Feli menoleh ke arahnya dengan senyuman. “Bukankah wajar melindungi teman sendiri, kau sering menginap di penginapan keluargaku. Jadi tentu saja sebagai pemilik penginapan, aku harus menjaga pelangganku.”


“Kau ini …” Ethelyne mengepalkan tangannya. “Benar-benar bodoh,” gumamnya, dia berjalan ke depan Feli dan menghalangi pandangan Mraz ke gadis itu. “Jangan lukai siapapun, mereka tidak salah apa-apa!”


“Cih, bahkan iblis rendahan sepertimu sudah berani memerintahku.”


“Aku …”


“Hentikan semua ini, Kakak!!” teriak Anastasia dan mengalihkan pandangan keduanya. “Kenapa kakak jadi berubah seperti ini?? Kenapa kakak menjadi sekejam ini?? Aku tidak mengenal dirimu yang sekarang.” Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.


Namun Ethelyne dan Mraz hanya diam tak berkutik dengan raut wajah bosan.


“Berhenti bersikap cengeng, kau membuatku muak!” kata Mraz dengan nada dingin dan raut wajah datar.


“Hei, bukankah kau terlalu kasar.”


“Apa perdulimu! Kau itu hanya iblis yang memangsa manusia!”


‘Woi, kau tidak sadar ya! Kau bahkan lebih menjijikkan daripada iblis tau!’ batin Ethelyne kesal.


“Kakak, kenapa kau jadi berubah begini?” tanya Anastasia sesegukan.


“Cih, sudah kukatakan jangan menangis. Kau menggangguku!”


“Baik-baik, sudahi drama kakak beradik ini.” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Mraz, dia mengangkat tangannya dan muncul api gelap di telapak tangannya. Tiba-tiba, langit berubah mendung disertai suara petir yang menggelegar. “Mari kita bertanding, apa benar kau bisa mengalahkanku dengan pedang suci Casandra.”


“Jangan menganggapku remeh!” Mraz berlari ke arah Ethelyne, namun tiba-tiba muncul sebuah berier dan membuatnya terpental ke belakang.


“Lemah sekali,” kata Ethelyne sambil memutar bola matanya.


“Cih, kau bermain curang!” Mraz mengusap darah di bibirnya.


“Curang?” Ethelyne menatapnya remeh. “Sejak awal tidak ada peraturan yang melarangku menggunakan barier.”

__ADS_1


Mraz berdecak, dia berdiri dan mengangkat pedangnya ke arah Ethelyne. Dia membuat gerakan mengayun, tiba-tiba. Sebuah angin kencang berhembus ke arah Ethelyne. “Heh, aku ingin lihat. Bagaimana kau bisa menghindari sihir angin yang sudah tercampur dengan kekuatan suci Casandra.”


__ADS_2