Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
79. Kedamaian


__ADS_3

Hari-hari dilalui Ethelyne dengan penuh kebosanan, kemageran, kejenuhan, dan kemalasan.


Bahkan, dalam satu bulan terakhir. Meli tidak henti-hentinya mengomelinya hingga membuatnya hampir tidak bisa mendengar.


“Yang Mulia! Anda bermalas-malasan lagi!!”


“Ayolah, Meli. Sebentar saja, hanya … lima jam kok!” kata Ethelyne dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.


Meli menghela napas, dia tersenyum. “Baiklah, hanya lima jam ya.”


“Eh, tumben sekali. Padahal biasanya aku sampai menangis tapi kau tepat menarikku keluar secara paksa, ada apa tiba-tiba?”


“Oh, jadi Anda ingin dikeluarkan secara paksa lagi??” tanya Meli sembari menggulung lengan bajunya.


“Eh, eh, eh! Tenang, tenang. Aku hanya bertanya saja, kenapa kau menjadi semenyebalkan ini sih!”


“Justru Anda yang sekarang sangat mengesalkan! Jika saja kakak masih hidup, dia pasti mati karena frustasi dan syok berat menjaga Anda.” Meli memijat pelipisnya. “Sebagai seorang ratu, Anda seharusnya …” Dia tidak lagi melanjutkan ucapannya, Meli mengepalkan tangannya sembari menggeram marah. “Ethelyne!!” teriaknya menggema saat sang empu telah menghilang dari pandangannya.




‘Huh, akhirnya aku bisa bebas. Jika terlalu lama di saja, aku bisa mati kebosanan!’ Ethelyne meregangkan otot-otot bahunya, dia berjalan memasuki hutan gelap. Seperti biasa, hutan itu sangat sepi dan pohon-pohon yang menjadi kering ataupun meninggalkan bekas kebakaran. Dia duduk di dahan pohon dan menggerakkan jari telunjuknya, seketika. Muncul sebuah danau berukuran sedang di hadapan gadis itu. Danau itu memiliki air yang berwarna merah dan di samping danau ada tanaman pemakan serangga.



“Membosankan, aku ingin kembali ke dunia manusia … tapi apa gunanya? Aku juga tidak bisa mempermainkan mereka, cih.” Ethelyne membuang muka.



“Ratu.”



Ethelyne melirik ke belakang, dia tersenyum sambil menopang dagunya. “Ah, Flowing ya? Ada apa?”



“Tolong jangan memanggil saya seperti itu, nama saya Laurie.”



“Bukankah namamu juga Flowing.”



“Meskipun begitu …”



“Baik, baik. Lupakan saja, kenapa kau ada di sini?”



“Saya ingin bertanya, kapan Master akan kembali?”



“Maksudmu si jiwa suci itu?” Ethelyne beralih menatap danau di hadapannya sambil menopang dagu. “Entahlah, aku juga tidak tau kapan dia akan kembali.”



“Begitu … ya?” kata Laurie sambil menunduk dan menyembunyikan raut wajahnya yang kecewa.



“Jangan sesedih itu, aku akan berusaha untuk membuatnya kembali dengan cepat … Flowing, jika suatu hari aku butuh bantuanmu untuk menghidupkan jiwa suci kembali. Apa kau akan membantuku?”



“Tentu saja!” kata Laurie tanpa ragu. “Saya akan melakukan apapun demi Master!”



Ethelyne tersenyum tipis. “Enak ya memiliki bawahan sepertimu,” gumamnya.


__ADS_1


“Apa Anda mengatakan sesuatu?”



Ethelyne berdiri dan menoleh. “Ayo kembali ke istana, sudah hampir waktunya menjenguk 'para tawanan'.”



“Anda akhir-akhir ini sering mengunjungi mereka ya.”



“Eugh …” Ethelyne meregangkan jari-jarinya yang terasa keram. “Salahkan saja Mastermu itu, dia mengatakan banyak hal dan membuatku terpaksa setuju.”



Laurie tersenyum tipis. ‘Ratu kembali berbohong.’



~~~♥~~~



“Hai, Ethelyne. Bagaimana kabarmu hari ini?” sapa Aelene dengan senyum manis di wajahnya.



Namun, Ethelyne hanya memasang raut wajah datar. Dia menatap seluruh orang yang ada di dalam kamar. “Bagaimana keadaan kalian?”



“Kami baik-baik saja,” jawab Zachary ketus.



“Sehat walafiat.” Zion yang tengah duduk bersandar sambil bersedekap dada menatap Ethelyne dengan senyum tidak lupa sebelah matanya yang berkedip.




Ethelyne menatap mereka datar. “Kalian masuklah.”



Meli berjalan masuk ditemani beberapa pelayan iblis, mereka membawa banyak perhiasan, gaun, jas, dan barang-barang lainnya.



“Kalian bersiap-siaplah, besok malam akan ada perjamuan untuk menyambut Raja baru. Pelayan-pelayan itu akan membantu kalian bersiap-siap.” Ethelyne melirik para pelayan yang membungkuk hormat.



Aelene mengangguk. “Tapi kenapa kami juga ikut diundang?” Dia melirik yang lain yang juga tampak kebingungan.



“Kenapa masih bertanya.” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi. “Tentu saja karena kalian adalah tawananku yang berharga,” katanya sebelum benar-benar melewati pintu.



Aelene tersenyum. ‘Meskipun kau menyebut kami tawanan, tapi aku senang. Setidaknya, kau sudah tidak sedingin dan seacuh dulu. Aku yakin, kita pasti bisa menjadi kakak beradik lagi!’



~~~♥~~~



‘Menyebalkan! Untuk apa sih Murry sialan itu memintaku untuk mengundang mereka!’ Ethelyne menghentak-hentakkan kakinya kesal, dia mempercepat langkahnya menuju ke ruang kerja sekaligus kamar keduanya.



Saat dia membuka pintu, tatapannya langsung jatuh pada seorang gadis yang tengah memakan cokelat dengan setengah wajah yang dipenuhi cokelat.


__ADS_1


“Oh, Ratu. Anda sudah kembali.” Gadis itu berdiri dan meletakkan mangkuk cokelat ke atas meja, dia mengambil lap dan membersihkan wajahnya yang penuh cokelat.



Ethelyne bersandar di pintu dan menatap datar gadis itu. “Apa-apaan ini? Kau datang-datang langsung memakan semua cokelatku??”



“Oh ayolah, jangan begitu pelit.”



“Aku bukan dia.” Ethelyne melangkah masuk. “Aku tidak akan bersikap baik jika kau membuat suasana hatiku buruk.” Dia duduk di kursi dengan angkuhnya dan menatap dingin gadis di hadapannya. “Jadi, ada masalah apa sampai-sampai Roh Cahaya sendiri repot-repot ke dunia bawah.”



“Ehem.” Mika berdehem. “Begini, aku … sebentar, sebentar. Aku lupa, apa yang tadi ingin kukatakan ya?” gumamannya sambil berjongkok dengan kedua tangan memegang kepala.



Ethelyne berdecak, dia menjentikkan jarinya. Seketika mangkuk kaca yang berisi sedikit cokelat menghilang. “Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.”



“Ah, aku ingat!” Mika langsung berdiri dengan heboh. “Murry bodoh itu meminta agar kau ikut rapat dua bulan lagi.”



“Rapat apalagi? Aku lelah menggunakan banyak sihir hanya untuk masuk ke desa para roh.”



“Itu bukan masalah, Murry akan mengaturnya. Kau cukup datang di hari minggu, kami menunggu kedatanganmu.” Belum sempat Ethelyne membalas ucapannya, Mika sudah lebih dulu menghilang tanpa jejak.



Gadis itu memutar bola matanya sambil berdecak. ‘Dasar bodoh.’



~~~♥~~~



“Bagaimana persiapannya?” tanya Ethelyne yang tiba-tiba muncul di samping Fiona, salah satu pelayan di istana iblis.



“Hormat saya, Yang Mulia.” Meskipun sempat terkejut, Fiona dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya dan memberi hormat.



“Lupakan basa-basinya, bagaimana persiapannya?”



“Baik. Seperti yang Anda lihat, para pelayan dan prajurit sedang kerepotan mendekorasi istana ini dengan semegah mungkin. Karena ini adalah pesta untuk Raja Iblis Wil, jadi saya juga mengundang iblis bangsawan dari negara tetangga.”



“Terserah saja, cukup tempatnya banyak prajurit kita untuk mengawasi pesta agar berjalan lancar. Karena jika ada serangga yang muncul, maka kepalanya akan langsung terpenggal.” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi saat melihat Fiona mengangguk. ‘Hah, merepotkan sekali. Aku sangat ingin pensiun dan menikmati masa mudaku sebagai gadis tercantik kaya raya!!’



“Ratu.”



Ethelyne menarik napas dalam-dalam, ingin sekali dia mengumpati semua iblis yang terus menganggu waktu istirahatnya.



“Apa … Master benar-benar bisa dibangkitkan kembali?”



Umpatan yang hendak dikeluarkan langsung tertahan di tenggorokan, Ethelyne melirik ke belakang. “Ya, kau cukup yakin padaku. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya, aku akan tetap membuatnya hidup kembali.”

__ADS_1


__ADS_2