
“Berhenti di sana, Yang Mulia!!”
“Aaa!! Tolong berhenti memgikutiku!!” teriak Ethelyne sambil berlari menelusuri lorong istana sekaligus berbelok sesekali, dia menoleh ke arah Loreen yang belum juga menyerah untuk mengejarnya. ‘Apa salahku sih, sampai dikejar habis-habisan olehnya.’ Ethelyne bersembunyi di kamar kosong dengan napas tersengal-sengal, dia rasanya sangat kelelahan setelah berlari mengelilingi hampir seluruh seisi istana.
“Yang Mulia, Anda ada di mana?”
Ethelyne seketika merinding saat mendengar suara dan langkah kaki Loreen yang semakin mendekat dan diam di depan kamar tempatnya bersembunyi.
“Yang Mulia, berhenti bermain kucing dan tikus. Anda harus mencoba semua gaun yang sudah disiapkan khusus untuk upacara penyambutan.”
Suara ketukan pintu membuat Ethelyne terkejut, dia menatap pintu di hadapannya.
‘Upacara penyambutan apa! Kau hanya ingin aku mencoba berlusin-lusin pakaian saja, kan!’ batin Ethelyne mengomel, dia hampir saja mati kelelahan hanya karena mencoba setiap model pakaian yang dirancang khusus.
“Yang Mulia, buka pintunya atau saya akan meminta Tuan Gareth untuk mendobrak pintunya.”
‘Tolong, tolong. Semoga saja tidak ada yang datang dan membantu Loreen.’ Ethelyne menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil menutup matanya.
“Loh, Nona Loreen? Sedang apa di sini.”
Ethelyne mengumpat saat mendengar suara Leyton, sungguh sial sekali nasibnya hari ini.
“Ah, Tuan Leyton. Begini, kami sedang menyiapkan gaun untuk dipakai Yang Mulia di ucapara penyambutan. Tapi beliau malah berlari kabur dan bersembunyi di kamar ini.”
‘Hei! Kau ingin membunuhku dengan gaun-gaun super panas dan berat itu!’ Ethelyne mendomel sambil mendengar ocehan kedua orang beda gender dari balik pintu. ‘Hah, semoga saja Leyton tidak membantu Loreen.’
“Oh, begitu ya. Apa perlu bantuan saya?”
“Benarkah?” tanya Loreen bersemangat, dia benar-benar sudah putus asa dengan sikap Ratunya itu.
“Ya, tidak masalah. Jadi, apa aku perlu membakar pintu ini hingga menjadi abu?”
“Hahaha, tidak perlu sampai seperti itu. Saya hanya ingin meminta tolong agar Anda mendobrak pintu ini dan membantu saya membawa Yang Mulia kembali.”
“Ok, baiklah.”
Ethelyne yang berada di dalam kamar langsung merinding, dia menatap seisi kamar namun kamar yang ditempatinya benar-benar kosong dan hanya ada debu di lantai yang tebal. Sudah jelas kamar itu tidak dirawat dalam waktu yang lama.
“Satu, dua … tiga.”
Tepat di hitungan ketiga, pintu di dobrak. Tepat saat pintu terbuka, sebuah rawa muncul di bawah kaki itu dan langsung menghisap Ethelyne dan menghilang tanpa jejak sedikitpun.
“Eum, Nona Loreen. Tidak ada siapapun di sini.”
“Bagaimana mungkin, jelas-jelas. Yang Mulia …” Loreen yang berjalan masuk langsung terdiam, dia kini tengah meredam amarahnya yang ingin meledak. ‘Jangan-jangan, Yang Mulia menggunakan sihir teleportasi dan menghilang ke suatu tempat??’ Loreen tersenyum menyeramkan. ‘Saya pastikan, setelah kembali nanti. Anda akan mencoba semua gaun itu bersamaan!’
Leyton yang berdiri di sampingnya langsung merinding saat melihat senyum di wajah Loreen. ‘Semoga Yang Mulia baik-baik saja saat dia kembali nanti.’
’Eugh, sakit sekali.’ Ethelyne bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, dia menatap ruangan asing di sekelilingnya. ‘Tempat apa ini? Ruang bawah tanah? Tapi aku tidak ingat ada ruang bawah tanah di bawah kamar itu.’ Ethelyne berdiri dan menepuk-nepuk gaunnya yang kotor, dia berjalan menatap sekeliling dengan raut wajah datar. ‘Tempat ini … kenapa rasanya aku akrab dengan tempat ini.’
“Hoh, ternyata Ratu kegelapan yang terkena perangkat ya.” £
Ethelyne menatap sekeliling ruangan, dia tidak dapat memastikan asal suara yang menggema di seisi ruangan. “Siapa kau! Jika berani, tunjukkan dirimu!”
__ADS_1
“Hng, bagaimana mungkin kau tidak mengenali suaraku. Ratu kegelapan.” £
Ethelyne terdiam dan berusaha mengingat-ingat suara yang kini menggema di istana, dia memegang kepalanya yang sakit. ‘Aku tidak ingat apapun, siapa yang berbicara itu? Kenapa dia bersikap seolah akrab denganku?’
“Cih, sepertinya kau benar-benar sudah melupakanku. Bukankah beberapa waktu yang lalu, kau mengirim pelayan dan prajuritmu untuk datang ke tempatku dan menghabisiku.”
‘Menghabisi?’ Wajah Ethelyne tampak kebingungan, namun sedetik kemudian. Raut wajahnya berubah horor.
“Hahaha, sepertinya kau sudah ingat.”
“Cih, ternyata kau. Aku tidak menyangka kau terlalu pengecut, bahkan kau tidak mau muncul di hadapanku.”
Angin berhembus kencang ke arah Ethelyne, rambut cokelatnya berterbangan. Gadis itu menatap ke sebuah lorong besar gelap di hadapannya.
Tanah yang dipijaknya tiba-tiba bergetar seolah terjadi gempa bumi, sedikit demi sedikit. Sebuah hewan berukuran besar keluar dari lorong besar gelap itu.
“Karena aku bukan pengecut seperti Ayahmu itu,” kata seorang naga dengan mata merah, sisiknya berwarna emas kecoklatan ditemani sepasang sayap di punggungnya.
“Heh, benarkah?” Ethelyne tersenyum tipis, dia tanpa aba-aba mengarahkan bola api hitam ke arah naga itu.
Namun saat di tengah jalan, bola api hitam itu tiba-tiba menghilang.
Bukannya terkejut, Ethelyne malah tersenyum. “Kau kuat seperti biasa.”
“Tapi sepertinya kekuatanmu menjadi melemah, Ratu kegelapan.”
“Yah, bagaimana ya. Soalnya setengah jiwa di tubuhku sudah hancur.”
Mata merah naga itu tampak menyipit. “Setengah jiwa yang Anda maksud itu, jangan-jangan …”
__ADS_1
“Benar sekali, jiwa suci dalam tubuhku telah hancur dan menghilang.”
“Pantas saja kekuatan Anda jadi melemah.”
“Tunggu, tunggu! Kenapa jadi curhat begini sih!” kata Ethelyne frustasi sendiri. “Sudahlah, tidak ada banyak waktu. Aku terpaksa membunuh dan mengambil inti jiwamu dengan paksa!”
“Maaf sekali, Ratu kegelapan. Tapi dengan kekuatan Anda sekarang, saya tidak yakin Anda bisa mengalahkan saya.”
“Hng, jangan meremehkan sebagai Ratu kegelapan!” Ethelyne mengangkat tangannya ke depan dan menyerang dengan sihir petir, namun seperti bola api hitam sebelumnya. Sihir petir itu menghilang di tengah jalan. Dia berdecak. ‘Kekuatannya ini cukup menyebalkan dan merepotkan juga ya, tapi semakin susah lawannya. Maka akan semakin menantas!’
~~~♥~~~
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa merasakan kehadiran Ratu iblis di manapun.”
“Bagaimana bisa! Dia tidak mungkin menghilang dari dunia ini!”
“Saya benar-benar meminta maaf, Tuan. Tapi saya benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan sihir Ratu iblis di manapun, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Ratu dikelilingi oleh energi yang kuat dan tidak bisa ditembus. Yang kedua, Ratu telah … mati.”
Murry berdecak, dia berbalik dan berjalan pergi. “Terus lacak keberadaannya, kirim Mika ketika kau menemukan lokasinya.”
“Baik.”
‘Dasar gadis bodoh itu, dia menganggu siapa lagi sampai keberadaannya tidak bisa dideteksi sama sekali?? Cih, sepertinya aku harus turun tangan sendiri. Benar-benar menyebalkan!’
“Oh, Tuan Murry. Anda ingin pergi kemana?” tanya William yang kebetulan berpapasan dengan Murry.
“Ke dunia bawah.”
“Eh? Apa?! Untuk apa?? Anda tidak akan menghancurkan dunia bawah kan! Tolong tahan amarah Anda dan jangan berbuat apapun di dunia bawah!!”
__ADS_1
“Kau ini … berpikir berlebihan.”