
‘Sudah setengah jam, kenapa Liya belum datang?’ Ethelyne mendongak dan menatap matahari yang telah berada di atas kepala, bahkan sinarnya pun bisa menembus dedaunan dan pohon-pohon besar yang menutupi. ‘Apa terjadi sesuatu? Apa lebih baik--’
“Kak Ethelyne!”
Ethelyne menoleh ke asal suara dengan senyum cerah.
Aliya langsung saja memeluknya dengan sangat erat. “Aku merindukan kakak.”
Ethelyne terkekeh kecil. “Padahal kita baru saja bertemu kemarin, kau sudah merindukanku saja.”
“Em, iya! Soalnya kakak itu baik, cantik, pintar, dan~ kuat! Tidak seperti tunangan kakakku.” Aliya melirik ke arah lain dengan tatapan muak.
Ethelyne yang menyadari hal itu berjongkok dan mengusap kepala Aliya. “Liya tidak boleh berkata begitu, mau bagaimanapun. Dia akan jadi kakak Liya nantinya.”
“Tidak mau! Aku tidak mau penyihir jahat sepertinya jadi kakakku!”
“Liya!” kata Ethelyne sedikit menekan kata-katanya.
Aliya menunduk. “Maaf, tidak akan aku panggil penyihir lagi.”
Ethelyne tersenyum. “Gadis pintar, kau ingin melihat kekuatan suci kan? Mari, akan kutunjukkan.”
“Wah~ iya mau!” kata Aliya semangat.
Ethelyne berdiri tegak, dia menatap fokus ke arah telapak tangannya. Perlahan-lahan, muncul gumpalan energi yang terlihat sangat murni, Ethelyne membuat gumpalan energi itu membentuk benda-benda sesuka hatinya.
“Wah, keren. Apa ini yang dimaksud kekuatan suci.”
“Iya, begitulah kira-kira. Sebenarnya ada yang lebih keren, tapi tidak bisa aku contohkan karena bahaya.”
“Yah...” Raut Aliya berubah lesu. “Padahal aku ingin melihatnya.”
Ethelyne tersenyum tipis, dia mengarahkan gumpalan energi yang telah berubah bentuk menjadi kelinci ke depan Aliya. “Maaf ya Liya, tapi Kak Ethel benar-benar tidak bisa melakukannya,” katanya sambil menggerakkan tangan dan telinga dari kelinci tersebut.
Aliya tersenyum lebar. “Iya, tidak apa-apa.” Dia menatap Ethelyne dengan senyum manisnya. “Aku sangat menyukai kakak!”
“Iya, iya. Aku juga sa~ngat menyukaimu.”
“Jadi, bagaimana kalau kakak saja yang--”
“Nona Ethelyne.”
__ADS_1
Ethelyne dan Aliya sontak menoleh ke asal suara, entah sejak kapan. Tapi ada portal di samping keduanya, William berjalan keluar dari portal dan membuat Ethelyne membulatkan matanya.
“Tuan William??”
“Ah-hahaha, sudah lama kita tidak bertemu, Nona Ethelyne.” William menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa, dia melirik gadis kecil di sampingnya. “Siapa dia?”
“Ah, perkenalkan. Dia Aliya, dia gadis yang tidak sengaja kutemui kemarin, Aliya. Dia William, dia temanku.”
Aliya berkedip polos, dia mengalihkan pandangannya ke arah William dan tersenyum manis. “Halo, paman William.”
Ethelyne hampir saja tersedak salivanya sendiri, dia menatap Aliya yang juga menatapnya polos. “L-liya, jangan panggil dia paman. Tapi panggil dengan panggilan kakak.”
“Ng?”
Ethelyne memijat pelipisnya pusing, dia menoleh ke arah William. “Kenapa kau tiba-tiba kemari?”
“Tuan-” William melirik ke arah Aliya sejenak sebelum menatap Ethelyne.
“Tidak apa-apa, dia bisa menjaga rahasia.” Ethelyne menarik Aliya lebih dekat dengannya.
William mengangguk. “Tuan Murry ingin kau segera menghadap padanya.”
“Tapi, aku sedang bersama Liya. Tidak mungkin kan membawanya kesana.”
“Tidak mau!” Aliya memeluk Ethelyne dan menatap galak William. “Kak Ethelyne tidak boleh dibawa orang jahat!”
“Kau--”
“Biar aku yang jelaskan,” sela Ethelyne, dia menghadap ke arah Aliya dan berjongkok. Ethelyne membisikkan sesuatu dan membuat Aliya menganggukkan kepalanya mengerti.
Dia menatap William penuh permusuhan. “Hanya kali ini saja ya! Lain kali, Kak Ethelyne tidak akan ikut denganmu, orang jahat!”
“Hng! Tidak ada gunanya bicara dengan anak kecil.” William bersedekap dada sambil membuang muka ke arah lain, namun, tidak sampai semenit. William menoleh ke arah Aliya, dia memberikan sebuah kertas berwarna emas berisi tulisan aneh. “Gunakan ini untuk kembali.”
“Apa tidak apa-apa?”
“Jangan khawatir, aku sudah mengujinya. Ayo.”
Ethelyne dan William memasuki portal, meninggalkan Aliya sendirian di tengah hutan dengan kertas di tangannya.
Tatapan Aliya berubah dingin, dia mengoyak kertas itu dan melemparnya ke langit. Saat kertas itu melayang, kertas-kertas yang telah tercabik-cabik terbakar hingga menjadi abu.
__ADS_1
Aliya berdecak. “Padahal sebentar lagi, jika tidak ada pengganggu sialan itu. Aku pasti bisa menyingkirkan penyihir tua itu! Benar-benar hari yang sial, padahal. Aku sudah menemukan gadis dengan kekuatan murni, tapi aku malah gagal membuatnya jadi Tunangan kakakku. Benar-benar tidak berguna!” Dia menepuk-nepuk pipinya. “Tidak boleh, Aliya! Kau tidak boleh menyerah sampai mendapatkan yang kau inginkan! Bahkan sejak dulu, semua yang kau inginkan akan kau dapatkan dengan susah payah. Kali ini pun, semua yang kumau harus terjadi!”
~♥~
“Ada apa tiba-tiba ingin bertemu?”
“Ethelyne, apa kau menyadari sesuatu dari gadis itu?” tanya Murry sembari melirik Ethelyne yang baru saja keluar dari portal bersama William.
“Menyadari apa?”
Murry melirik ke arah William, pria itu seolah mengerti dengan tatapan tersebut.
“Ada aura jahat di sekitar gadis itu, saya tidak yakin. Tapi sepertinya dia tidak sesederhana yang terlihat,” jelas William.
“Aura jahat? Jangan bercanda, kalaupun memang itu ada. Aku pasti menyadarinya.” Ethelyne menaikkan bahunya acuh, dia sama sekali tak percaya ucapan keduanya. ‘Lagipula, Liya tidak mungkin memiliki aura jahat di usianya yang masih begitu muda.’ Ethelyne melirik William dan Murry. ‘Tapi sepertinya mereka juga tidak bercanda, apa benar Liya memiliki aura jahat yang tidak kusadari?’ Dia menutup matanya. ‘Laurie, apa kau sadar tentang aura jahat itu?’
“Maaf, master. Tapi saya tidak merasakan apapun, saya tidak bisa melihat energi jahat apapun dari gadis itu dengan penglihatan saya. Tapi mungkin saja yang dikatakan Tuan William benar, mungkin tingkat saya terlalu rendah untuk melihat hal tersebut.” *
‘Jadi Laurie juga tidak bisa mendeteksinya ya,’ batin Ethelyne sembari bersedekap dada, dia membuka matanya dan menatap Murry. “Jadi, kau memanggilku kemari hanya untuk mengatakan hal itu?”
“Tidak, aku memanggilmu kemari karena ada hal yang lebih penting.”
“Hm? Apa itu?”
“Sebenarnya, saat kau menghilang...”
“Apa?!!”
~♥~
“Dari mana saja kau?”
“Itu bukan urusanmu!” Aliya berjalan melewati beberapa prajurit kerajaan dan masuk ke kamarnya, dia langsung berbaring di atas kasur dan menatap lurus ke langit-langit kamar. ‘Cih, menyebalkan sekali! Kenapa banyak sekali pengganggu ketika aku bersama Kak Ethelyne?? Dasar manusia-manusia menyebalkan! Andaikan saja mereka bukan teman kak Ethelyne, aku pasti sudah menghabisi mereka!’
“Oy, apa lagi yang kau pikirkan dengan wajahmu itu, dasar buruk rupa.”
Aliya melirik ke samping, dia bangun dan menatap datar ke seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu. “Apa urusanmu? Dasar jelek.”
“Setidaknya aku punya tunangan yang cantik, tidak sepertimu, sudah buruk rupa, jahat, licik, tidak punya tunangan lagi. Kasihan sekali.”
Aliya menggertakkan giginya menahan amarah, dia menunjuk pria itu. “Diam kau Zachary! Dasar pria jelek!”
__ADS_1
~♥~~♥~
maap ya, Mimin baru sempet update. Mimin sebenarnya mau update kemarin, tapi ketiduran 😴