
Laurie mengusap air matanya, dia menatap tajam dua pria asing di depannya. “Kalian itu benar-benar menjijikkan ya.”
Nada sinis yang dikeluarkan Laurie sontak membuat Ned terkejut, dia mengusap dadanya berusaha sabar. “Kenapa gadis sekecil itu bisa mengucapkan kata-kata kasar?” gumamannya pelan.
“Terus terang saja, apa maksudmu?”
Laurie menarik napas dalam-dalam, dia sontak menatap Eadric dengan tatapan dingin dan dibalas tak kalah dinginnya oleh Eadric.
Ned yang berdiri di samping Eadric memeluk badannya sendiri. ‘Tiba-tiba aku merasa punggungnya dingin.’
“Apa kau tidak tau, kekuatan penyembuhan Rimuru tidak stabil. Ketika pertama kali mencoba, dia bahkan hampir saja meregang nyawa jika tidak diselamatkan oleh Nyonya. Itu saat dia berumur 3 tahun.”
“Woah, baru berumur tiga tahun tapi sudah belajar sihir. Bukankah itu artinya jenius,” gumam Ned terkagum-kagum.
“Dan hari ini adalah kedua kalinya Rimuru menggunakan sihir itu.” Laurie berjalan ke arah Ethelyne, namun langkahnya terhenti karena Eadric yang tiba-tiba menghalanginya.
“Jangan terlalu mendekatinya,” kata Eadric dengan nada dingin.
Laurie berdecak kagum, dia tidak tau harus menyanjung pria di depannya atau justru mengutuknya. Laurie memiringkan kepalanya dengan tatapan tajam, tidak ada lagi raut wajah lucu dan imut di wajahnya. Melainkan hanya ada raut wajah datar dan penuh kesuraman sekaligus mengintimidasi. “Apa kau tau, setiap Rimuru menggunakan sihir ini. Dia akan kehilangan 50 tahun kehidupannya.”
“Apa??” tanya kedua pria itu terkejut.
Laurie tersenyum sinis. “Kenapa kalian terkejut? Bukankah itu memang rencana kalian? Kalian ingin membunuhnya kan, itu sebabnya kalian melakukan hal ini.” Dia kembali menarik napas dan berkedip beberapa kali agar air matanya tidak lagi tumpah. “Menurutmu, jika Rimuru terus menggunakan sihir penyembuhannya yang tidak stabil. Apa yang akan terjadi? Dia akan mati meledak karena sihir penyembuhan yang tidak stabil memengaruhi semua energinya, hah. Aku tidak menyangka, manusia bisa sekejam ini. Aku bertanya-tanya, kenapa dia ingin kemari dan tinggal di dunia ini? Bahkan jika aku tidak suka, di dunia--”
“Cukup, Laurie. Kau terlalu banyak bicara.”
Eadric, Ned, dan Laurie menoleh ke asal suara. Air mata Laurie kembali tumpah, dia menghilangkan perisai dan berlari ke arah Ethelyne yang duduk di tengah genangan darah.
“Huaa!! Master, aku sangat-sangat merindukanmu.”
Tanpa memperdulikan Laurie yang memeluknya erat, Ethelyne mengalihkan pandangannya ke Ned dan Eadric. Keduanya tampak diam karena terkejut dan syok, pikiran mereka di penuhi dengan tanda tanya.
“Laurie, bukankah kau seharusnya melakukan tugasmu?”
__ADS_1
Laurie melepaskan pelukannya, dia mengangguk dengan raut patuh. Namun saat menoleh ke Ned dan Eadric, raut wajahnya berubah dingin.
‘Cepat sekali perubahan ekspresinya,’ batin Ned merasa ngeri sendiri, dia bahkan sempat berpikir bahwa gadis bernama Rimuru itu adalah siluman atau hantu.
Laurie mengangkat sebelah tangannya ke arah keduanya dengan satu tangan lagi memegang pundak Ethelyne. “Tidurlah, mimpimu kali ini--”
“Tunggu sebentar! Ada yang ingin kutanyakan.”
Ethelyne berdiri dan menatap pakaiannya yang bersimbah darah, dia juga menyadari jubahnya yang basah oleh darah. “Apa aku mengeluarkan darah sebanyak ini?” tanyanya pada Laurie, gadis kecil itu hanya mengangguk. “Eugh, sepertinya terlalu berlebihan. Yah, setidaknya tidak sampai sebanyak saat pertama kali melakukannya sih. Berarti aku sudah ada peningkatan kan!”
“Master, kenapa kau malah bersikap begitu senang setelah kehilangan 50 tahun dan hampir saja mati konyol.”
“Ehh, aku tidak mati konyol. Aku ini justru pahlawan karena mati demi menolong orang,” kata Ethelyne sambil berkacak pinggang dengan wajah bangga.
Laurie memijat pelipisnya. “Terserah Anda saja.”
“Jangan-jangan, jiwa kalian tertukar ya? Itu sebabnya gadis itu masih selamat.” Ned menunjuk Rimuru yang terlihat kebingungan.
“Tertukar jiwa?” Ethelyne dan Laurie saling menatap dengan wajah bingung. “Apa maksudnya?” tanya keduanya bersamaan.
“Tidak.”
“Hem, begitu ya.” Ned memegang dagunya berpikir.
“Lagipula, kenapa kita malah bicara seperti ini sih!” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke Laurie. “Lakukan sekarang.”
“Baik, Master.”
“Tunggu sebentar!”
“Ada apa lagi?” tanya Ethelyne geram.
Eadric memicingkan matanya dan menatap Ethelyne penuh selidik. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa menggunakan banyak macam-macam sihir penyembuhan? Apa kau benar-benar penyihir?”
__ADS_1
“Sudah aku aku katakan, aku bukan penyihir atau apapun itu. Aku ini hanya manusia biasa, ok!” Ethelyne melirik Laurie yang tampak kebingungan. “Ada apa?”
Laurie menoleh ke arah Ethelyne. “Master, entah kenapa. Sihir saya tidak mempan pada mereka.”
“Hah, merepotkan sekali.” Ethelyne mengangkat sebelah tangannya, tiba-tiba muncul api gelap di tangannya. “Maka ayo habisi saja mereka, orang yang tau rahasiaku harus mati.”
“T-tunggu dulu, tetap tenang.”
“Heh, api gelap ya? Menarik, apa kau dari ras iblis. Jika benar, kau iblis yang berbeda. Iblis biasanya tidak bisa tahan terhadap sinar matahari, tapi sepertinya kau biasa-biasa saja di bawah sinar matahari. Dan lagi, apa kau iblis penggoda yang dikirim Pangeran Mahkota dari kerajaan iblis?”
Laurie yang mendengar ucapan Eadric hampir saja menjatuhkan rahangnya, dia melirik Ethelyne yang tampak menahan amarah. “Ma-ma-ma-master! Tolong tenang, ingat. D-di sini masih ada Aelene!”
Ethelyne seolah tersadar, dia menutup matanya dan menghilang api di tangannya. “Menyebalkan sekali, lebih baik kalian tidak muncul di depanku lagi atau kalian tidak akan selamat!”
“Hei, setidaknya--”
Ethelyne membuka matanya dengan tatapan tajam yang langsung terlontar ke Ned yang hendak mengeluarkan suara. “Apa kau sudah mau mati?? Baiklah, akan kukabulkan keinginanmu.”
“K-kami akan pergi!” Ned dan Eadric langsung saja menghilang tanpa jejak.
Ethelyne menghela napas panjang, dia berjongkok di depan Aelene dan mengusap wajahnya lembut. ‘Syukurlah, syukurlah aku bisa menyelamatkannya. Tapi sihir itu memang benar-benar beresiko, jika bukan karena Aelene yang cocok dengan sihir. Kemungkinan saja dia yang akan mati meledak karena ketidakstabilan sihir, hah. Seharusnya aku tidak seceroboh ini.’
“Master, maafkan saya.”
“Untuk apa minta maaf, kau tidak salah apapun.” Ethelyne menggendong Aelene dan pergi dari istana terbuang yang kini penuh dengan genangan darah.
“Master, bagaimana dengan mayat-mayat ini?” tanya Laurie sambil menunjuk 6 mayat prajurit.
Ethelyne berhenti di depan pintu, dia melirik ke belakang. Tiba-tiba, dari bayangannya muncul tiga serigala iblis berukuran sedang.
“Itu semua adalah makanan untuk kalian, jangan merengek lagi seperti anak kecil. Ingat untuk kembali atau kalian akan mati karena sengatan matahari.” Ethelyne kembali berjalan diikuti Laurie dari belakang.
“Master, bukankah Anda tidak ingin membunuh manusia? Lalu kenapa Anda menyerang mereka tadi?”
__ADS_1
“Entahlah, aku sendiri ingin tau. Kenapa aku begitu melindunginya sementara dia sendiri bukan siapa-siapa bagiku, aku takut aku akan kehilangan dia seperti aku kehilangan ibu, ayah, dan Meli.”
“Apa Anda tidak bisa menghidupkan mereka lagi seperti waktu itu?”