Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
132. Pembawa pesan


__ADS_3

“Kenapa kau melakukan ini?” gumam seorang pria sambil menggenggam tangan gadis yang kini tak sadarkan diri, dia menunduk. ‘Kenapa kau malah membahayakan dirimu sendiri demi Sela? Jika Kathelyne tidak menolongmu tepat waktu, apa aku akan kehilangan dirimu selamanya?’ Pria itu mendongak ke langit-langit kamar. ‘Kau selalu bertindak tanpa memikirkan tentang dirimu sendiri, kenapa kau sangat keras kepala?? Apa kau ingin, aku kehilangan dirimu untuk selamanya?’ Dia menunduk. “Maafkan aku, Ethelyne... aku tidak bermaksud untuk menikahi Sela, aku...” gumamnya pelan. “Aku terpaksa, seandainya saja Ayahanda tidak memaksaku untuk menikahi dia, aku juga tidak akan pernah menikahinya. Karena satu-satunya gadis yang kusukai hanyalah kau, hanyalah seorang Ethelyne.”


“Oy, bocah! Jika kau belum selesai, kau akan kubunuh!” ancam Kathelyne yang ternyata sedang bersandar di dinding sembari bersedekap dada, dia menatap dingin pria yang tak lain adalah.. Eadric.


Dengan raut berubah datar, Eadric berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dengan acuh, dia sempat berhenti dan melirik Kathelyne. “Jangan berpikir aku takut padamu, aku hanya tidak ingin membuat keributan di istanaku.”


Kathelyne tak berkata apa-apa, dia berdiri tegak dan berjalan ke arah Ethelyne sembari mengibaskan rambutnya. “Aku tidak perduli, asal kau menjauhi Ethel. Maka aku akan melepaskanmu.” Kathelyne berhenti di samping kasur dan melirik Eadric. “Tapi jika kau tetap berusaha mendekatinya dengan maksud jahat, maka aku akan menghabisimu tanpa belas kasih! Ingat ini, Eadric. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Ethel lagi.”


“Aku..” Eadric seolah berusaha mengatakan sesuatu, namun dia tak berkata apa-apa. Dengan raut sedih, dia berjalan keluar kamar dan kembali menutup pintu.


Tepat setelah pintu tertutup, Kathelyne menghela napas panjang. Dia menatap Ethelyne dengan tatapan sendu. “Maaf,” gumamnya pelan. “Aku hanya... tidak bisa melihatmu terluka lagi, aku sudah cukup muak dengan sikapnya yang benar-benar dengan tidak tahu dirinya menikahi gadis lain. Aku bersyukur dan berterima kasih pada orang yang membunuh gadis j*lang itu... aku tahu kamu juga sedih, tapi kumohon.” Kathelyne menggenggam tangan Ethelyne dengan erat. “Jangan menangisi pria seperti dia...”


“Ka-thelyne...”


Kathelyne seketika terkejut, dia menatap Ethelyne yang mulai sadar. “E-ethelyne, kau baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?”


“A-aku... air..”


Kathelyne celingak-celinguk, namun dia tak menemukan apapun. Kathelyne menggenggam tangan Ethelyne dengan erat. “Tunggu di sini, aku akan segera mengambilkannya!” Dia berbalik dan berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.


Tepat setelah pintu tertutup, Ethelyne menghela napas panjang. Dia bangun dan menggerakkan bahunya yang terasa kaku. ‘Sudah berapa lama aku tertidur? Badanku terasa kaku semuanya, cih. Seharusnya aku tidak membiarkan gadis itu mengambil alih tubuhnya lagi dan menggunakan kekuatan suci. Aku jadi perlu membuat kekuatanku kembali beradaptasi dengan kekuatan suci itu, menyebalkan sekali!’


Tiba-tiba, sebuah asap hitam muncul dan membentuk seorang pelayan berambut merah muncul. Solara.

__ADS_1


Gadis itu membuka matanya dan membungkuk hormat. “Selamat atas kebangkitan Anda kembali, Yang Mulia.”


Ethelyne diam dengan tatapan menyelidik, dia seketika tersadar. “Ah, kau Solara ya. Pelayan setia adikku,” katanya saat mengingat gadis di hadapannya.


“Be-nar...” jawab Solara ragu.


“Wah, senangnya melihatmu masih hidup,” kata Ethelyne bahagia. “Jadi, apa Rio yang mengirimmu kemari? Apa dia sudah mau bertemu denganku?”


“Benar, Yang Mulia. Yang Mulia Kaisar mengirim saya kemari untuk bertemu Anda dan menyampaikan sebuah pesan.”


“Pesan?”


“Ya.” Solara memunculkan sebuah gulungan berwarna hitam, dia dengan hormat menyerahkannya pada Ethelyne.


Solara membuka matanya. “Seperti yang Anda baca, Yang Mulia tidak ingin bertemu Anda dan beliau semakin membenci Anda karena bangkit kembali dengan cara yang menjijikkan. Beliau juga berkata, beliau tidak akan menemui Anda sampai kapanpun itu dan beliau harap Anda bisa bertobat dan bersedia menyerah untuk bangkit.”


Ethelyne berdecak. “Adik macam apa dia?? Bukannya bahagia karena kebangkitanku, dia malah menulis kata-kata kutukan dan mengumpatiku. Seharusnya aku tidak terlalu memanjakannya,” katanya mengomel, dia seketika tersadar. Ethelyne berdehem dan menatap Solara datar. “Sampaikan pesanku padanya, aku akan menemuinya dimanapun dia bersembunyi.” Dia menyeringai. “Kekuatanku akan pulih setelah kekuatanku beradaptasi dengan energi murni gadis ini, jadi setelah ini. Aku akan menemukannya dan bertarung dengannya sampai mati.”


Solara terdiam sesaat, dia menutup matanya. “Saya akan sampaikan.” Solara membungkuk hormat. “Saya permisi, Yang Mulia.”


Tepat setelah Solara menghilang, pintu langsung terbuka dan membuat Ethelyne kaget. Dia menoleh ke arah pintu dengan senyum tipis. “Kathel, kau sudah kembali?”


Kathelyne berdiri di ambang pintu. “Ah, iya. Maaf karena aku terlalu lama.” Dia berjalan masuk dan kembali menutup pintu, Kathelyne berjalan ke arah Ethelyne dan menyerahkan segelas air yang dibawanya. “Aku pikir aku mendengar suara seseorang tadi, apa ada yang mengunjungimu?” tanyanya sambil celingak-celinguk.

__ADS_1


“Berbicara? Aku tidak bicara dengan siapapun,” elak Ethelyne setelah meminum air hingga tersisa setengah. “Tenggorokanku sangat kering, mungkin karena selama aku tidur. Aku tidak minum atau makan apapun. Itu sebabnya saat bangun aku sangat kehausan,” katanya cengengesan.


“Oh, mungkin aku salah dengar,” kata Kathelyne ragu, namun, dia tetap percaya. Kathelyne duduk di kursi dan berkacak pinggang. “Jadi bagaimana keadaanmu?” tanyanya sok acuh.


Ethelyne menunduk dengan senyum tipis. “Aku sudah baik-baik saja, aku senang kau mengkhawatirkanku.”


Kathelyne diam, dia memijat pelipisnya. “Apa kau tidak tau betapa khawatirnya aku saat melihatmu tiba-tiba tak sadarkan diri, kenapa kau begitu nekat??”


“Maaf... aku hanya tidak ingin...” Ethelyne terdiam.


“Tidak ingin membuat Eadric sakit hati??”


Ethelyne menatap ke arah Kathelyne dengan tatapan kaget, jelas ucapan Kathelyne barusan itu benar. Dia kembali menunduk dan sedikit mengangguk.


Kathelyne memijat pelipisnya. “Ethel, kenapa kau begitu peduli padanya?”


“Itu karena aku--”


“Karena kau mencintainya?” sela Kathelyne. “Lalu kenapa dia tidak mempedulikan perasaanmu sama sekali?!” tanyanya sambil berdiri, Kathelyne tersulut emosi. Dia sudah lelah melihat setengah jiwanya terus bersedih hanya karena seorang manusia fana. Belum lagi Kathelyne harus memikirkan cara menyingkirkan Dewa Iblis, dia benar-benar sangat pusing saat ini. Dua masalah yang menumpuk pada Ethelyne cukup untuk membuat kepalanya hampir pecah, bahkan mengerjakan dokumen tidak sepusing itu.


“Kenapa kau tidak mengerti?” gumam Ethelyne pelan. “Rasa suka tetaplah rasa suka,” lanjutnya memberanikan diri. “Tidak perduli apa dia mencintaiku atau tidak, tidak perduli dia mengingatkanku atau tidak. Asal aku tetap mencintainya, maka ingatan tentang dirinya akan terus ada. aku...”


“Cukup, Ethelyne, cukup!!” teriak Kathelyne penuh amarah. “Kenapa kau tidak mengerti?! Dia itu bukannya pria yang baik! Dia tidak mencintaimu sama sekali! Dia hanya ingin mempermainkan dirimu!!”

__ADS_1


~♥~~♥~


__ADS_2