
“Master, apa Anda baik-baik saja?” tanya Laurie khawatir.
Ethelyne duduk di bawah pohon dengan napas tak beraturan, warna matanya telah berubah merah sejak dia keluar dari kereta kuda.
“Mata Anda, apa jangan-jangan. Insting iblis …”
“Berisik! Jangan mendekatiku jika kau tidak ingin terluka.” Ethelyne kembali menutup matanya, dia mengatur napasnya yang memburu. ‘Sial, aku tidak menyangka bahwa sisi iblisku akan keluar tiba-tiba. Jika aku berada lebih lama di kereta kuda, apa aku akan menghabisi mereka berdua?’ Ethelyne menghela napas.
“Master, kenapa sisi iblis Anda tiba-tiba muncul?”
“Aku tidak tau, tapi aku mencium bau darah yang pekat pada Aaron. Berapa banyak iblis yang telah dia bantai?”
“Master, apa Anda … menginginkan darah?” tanya Laurie ragu, dia menatap Ethelyne yang sedari tadi menutup matanya.
“Aku tidak perlu hal seperti itu.” Ethelyne membuka matanya, tiba-tiba. Dia memuntahkan banyak darah, bahkan hidung dan matanya mengeluarkan darah. Ethelyne menatap tangannya yang bergetar dan penuh darah. ‘Darah …’
“Master, Anda kenapa?? Apa Anda baik-baik saja?! Master! Master!!”
Suara Flowing tidak lagi terdengar bersamaan dengan kesadarannya yang menghilang.
“Master, apa yang terjadi pada Anda?” tanya Laurie sambil menghampiri Ethelyne dan mengecek denyut nadi gadis itu, raut wajahnya tampak terkejut saat merasakan denyut nadi Ethelyne. ‘Perasaan ini … kenapa sangat mirip saat Master menyelamatkan gadis itu? Apa yang terjadi pada Master?? Denyut nadinya juga melemah.’
Laurie merasa dejavu, dia segera menggunakan sihir penyembuhan namun tidak mempan sama sekali. “Master, bertahanlah! Saya akan menyelamatkan Anda, bertahanlah. Master!”
‘Tempat ini … ah, aku pernah kemari dua kali, entah kenapa. Aku selalu datang ke sini ketika sekarat dalam situasi yang hampir sama.’ Ethelyne menghela napas, dia berjalan melewati salju yang lebat. Meskipun menggunakan pakaian yang tipis, Ethelyne tidak merasakan dingin sama sekali. Namun mau selama apapun dia berjalan, dia tidak pernah sampai kemanapun. Semuanya terlihat sama seolah dia hanya berjalan di tempatnya. ‘Jadi, apa kali ini aku akan benar-benar mati?’
__ADS_1
Ethelyne duduk di atas salju putih, dia memeluk lututnya sambil menatap sekitaran. Hanya ada badai salju dan pepohonan yang tertutupi salju.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan nyaring di telinganya. Ethelyne menutup kedua telinganya namun teriakan itu tak juga mereda. ‘Apa-apaan suara teriakan itu? Siapa yang berteriak sekencang itu?’
‘*Nona! Ini aku, aku. Kau harus segera keluar sari sini, semuanya hanyalah ilusi. Sadarlah, Nona! Jika kau pasrah dalam ilusi ini, kau akan benar-benar mati di dunia nyata! Sadarlah, bangunkan dirimu. Setidaknya, bertahanlah demi orang-orang yang kau sayangi*!!’
“Suara itu, apa kau si serigala salju itu?”
‘*Namaku bukan serigala salju*!’
‘*Aku tidak memiliki nama, Nona harus memberikan nama kepada saya*.’
“Heh, itu sangat merepotkan tau.” Ethelyne menenggelamkan kepalanya di antara lutut. “Huuh, aku sangat lelah dan mengantuk. Apa aku boleh tidur di sini?”
‘*Tidak boleh! Pokoknya Anda tidak boleh tidur, Anda harus segera mencari jalan keluar. Naga bodoh itu juga sedang berusaha untuk menyembuhkan Anda*!’
__ADS_1
“Naga bodoh? Maksudmu Flowing?” Ethelyne kembali menghela napas. “Minta dia untuk menyerah, lagipula. Tidak ada gunanya untuk menyelamatkanku, karena. Jika aku bertahan hidup, aku pasti akan menghabisi semua keturunan kerajaan Iceworld.”
‘*Meskipun begitu, Anda tetap tidak boleh menyerah. Nona! Jika tidak, para tetua akan menghukum saya nanti*.’
Ethelyne mendongak dan menatap lurus ke depan. “Tetua? Hukuman?”
‘*Ya, apa Anda lupa? Saya memiliki klan sendiri, dan setelah kita menjalin kontrak. Maka hidup saya akan bergantung pada Anda, dan jika Anda mati. Saya juga akan mati dan di atas nanti, para tetua yang sudah mati lebih dulu akan memarahi dan memaki saya yang tidak bisa menghentikan Anda untuk bunuh diri. Mereka pasti akan bilang, khem “Kau telah gagal melakukan tugasmu, sebagai hukuman. Kau akan berada di istana la- maksud saya, istana ular selama 100 ribu tahun*”.’
“Wah, sayang sekali … tapi itu bukan urusanku, terserah saja jika tetua klan akan menghukummu. Toh, aku tidak akan mati begitu mudah.” Ethelyne berdiri, saat dia melangkah. Dia tiba-tiba merasa hawa dingin yang seolah menusuk kulitnya, Ethelyne memeluk badannya sendiri. ‘Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa dingin? Aku seperti berada di gunung salju sungguhan, padahal tadi aku tidak merasakan dingin apapun.’
Meskipun demikian, Ethelyne tetap berusaha melangkahkan kakinya maju. Semakin dia melangkah, hawa dingin makin menguat dan membuat dirinya seolah membeku. Bahkan kaki dan tangannya seolah mati rasa. Ethelyne yang tidak lagi dapat merasakan kakinya jatuh terduduk di atas salju yang luas.
‘Aku tidak bisa merasakan kakiku lagi, tanganku seolah membeku. Hah, apa aku kali ini akan benar-benar mati? Padahal tadi aku merasa biasa saja, tapi kenapa saat aku akan benar-benar mati. Aku justru merasa tidak rela.’ Ethelyne tersenyum miris. “Yah, sepertinya aku akan mati kedinginan di sini. Tidak apa-apa sih, aku tidak perlu ragu akan apapun. Lagipula, aku tidak memiliki siapapun lagi. Tapi jika aku mati, apa Kak Zen juga akan ikut mati? Pasalnya kan, inti jiwanya ada di aku. Jadi jika aku mati, apa dia juga akan ikut mati?” Dia meniup kedua telapak tangannya bergantian. ‘Benar juga, Kak Zen sekarang hanya hidup karena roh pelindung yang menopang hidupnya. Jika roh itu menghilang, maka Kak Zen akan mati dan tidak bisa dihidupkan lagi.’ Ethelyne menutup matanya. ‘Huuh, aku sungguh lelah. Apa aku boleh istirahat sejenak? Aku hanya ingin tidur di tengah salju meski akhirnya aku tidak bangun lagi, dan juga. Seharusnya aku senang jika aku mati di sini, dengan begitu. Aku bisa bertemu ibu, ah benar juga. Aku akan menghancurkan jiwa Ayah jika dia berani menghabisi ibu, meskipun ibu membunuh ayah. Tapi tetap saja, ibu melakukannya agar ayah tidak lagi menderita. Selama ini, ibu selalu menanggung konsekuensi atas keputusan yang diambilkan. Datang ke dunia iblis itu sama saja datang ke sarang musuh, terlebih lagi. Ibu adalah gadis suci, Earlene Virgian. Dan dengan indentitas Virgiannya, akan banyak iblis yang menganggapnya ancaman dan membunuhnya.’ Dia mendongak dan tersenyum tipis. “Ah, ibu. Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, kenapa kau bisa jatuh cinta pada iblis? Kenapa ibu bisa nekat mengambil keputusan yang membahayakan diri ibu? Kenapa, apa arti dari cinta itu sebenarnya? Kenapa ibu bisa mencintai ayah, kenapa cinta harus ada di dunia?”
Sedikit demi sedikit, mata Ethelyne mulai tertutup. Dia berbaring di atas salju yang sangat dingin. ‘Aku tidak dapat merasakan apapun lagi, seluruh tubuhku mati rasa. Setelah ini, organ dalam dan darahku juga akan membeku. Hah, aku sangat mengantuk. Ketika aku bangun, apakah yang pertama kali yang akan kulihat adalah senyum lembut di wajah ibu?’
__ADS_1