Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
72. Pengorbanan


__ADS_3

Ethelyne membuka pintu dengan kasar, dia dengan tergesa-gesa ke arah Eadric yang terbaring di atas kasur dengan wajah pucat. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa dia bisa meminum racun dari laciku?” tanyanya dingin, Ethelyne mengangkat kedua tangannya ke arah Eadric. Dia menutup matanya. ‘Cahaya, kegelapan, kematian, kehidupan, kesendirian. Kelemahan yang bisa menjadi senjata ataupun kekuatan, wahai para roh suci. Lindungilah para manusia dari segala kekuatan jahat.’


“Maaf, Ethelyne. Kami tidak memperhatikan Eadric yang membuka-buka laci dan meminum cairan berwarna hitam pekat.”


Jantung Ethelyne rasanya ingin copot, dia mengepalkan tangannya hingga cahaya kehijauan yang mulai mengelilingi Eadric tiba-tiba menghilang. “Apa kalian bodoh?” tanyanya bergumam.


“Kami minta maaf, kami sungguh tidak menyadarinya,” kata Aelene dengan sebelah tangan di atas dada, jujur. Dia sendiri khawatir dengan rencana yang mereka susun, apalagi. Eadric asal mengambil ramuan dan meminumnya.


“Minta maaf? Apa gunanya minta maaf?” tanya Ethelyne dengan nada datar, dia berbalik ke arah keempatnya dan menatap mereka penuh kebencian. “Apa kalian tidak tau! Ramuan berwarna hitam pekat itu bisa menghancurkan jiwa seseorang!!” Ethelyne melirik Eadric. “Mencium baunya saja sudah membuat seorang iblis keracunan parah, apalagi dia yang hanya seorang manusia!!”


“Apa?!” kaget keempatnya.


Ethelyne berdecak, dia berbalik ke arah Eadric. “Percuma, dia tidak bisa disembuhkan dengan sihir suci sekalipun.”


“Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya?! Seharusnya kau memiliki penawar racunnya kan!”


Ethelyne menghela napas. “Aku tidak membuat penawarnya, tapi. Ada dua cara untuk menyelamatkannya, cara pertama. Mengorbankan salah satu dari kalian untuk memindahkan racun dan menyelamatkan nyawanya. Cara kedua …”


“Tidak bisa! Kami tidak akan membiarkan siapapun menjadi tumbal!”


Ethelyne melirik keempatnya yang memasang raut wajah bersalah sekaligus khawatir. “Jadi, kalian akan menggunakan cara kedua untuk menyelamatkannya. Yaitu, menjadikannya iblis.”


“Apa??”


“Ya, jika dia bisa dijadikan iblis. Maka aku bisa menggunakan kekuatan kegelapan untuk menghilangkan racunnya, tapi jika tidak. Maka terpaksa akan memakai cara pertama.”


“K-kalau begitu, ubah saja dia menjadi iblis.”


“Zion! Kenapa kau bisa melakukan hal itu pada kakakku!”


“Tapi hanya ini satu-satunya cara, jika kita tidak menyelamatkannya segera. Dia akan mati!”


“Kau--”


“Cukup!” lerai Aelene, dia menatap Ethelyne yang sedari tadi membelakangi mereka. “Biar aku yang menggantikannya menerima racun itu.”


“Aeli!”


“Aelene, apa kau gila?!”


“Nona Aelene!”

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satu cara. Tidak mungkin kan kita menjadikannya iblis!”


“Tapi …”


“Sudahlah, Zac. Lagipula, anggap saja ini sebagai balas budiku pada Eadric yang pernah menolongku dari para pria bejat itu.” Aelene tersenyum manis meski hatinya menjadi sangat tidak tenang.


“Aeli, kau seharusnya tidak melakukan hal ini … biar aku saja yang menggantikan keduanya!” kata Zachary sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas.


“Tidak bisa, biarkan saya saja yang menjadi pengganti Yang Mulia. Jika Yang Mulia pangeran mengorbankan nyawa, maka kerajaan akan berada dalam masalah besar.”


“Benar, benar.” Zion merangkul pundak Ned. “Biar kami saja yang menggantikannya, kau harus tetap hidup untuk mengurus kerajaan suatu hari nanti.”


“Apa kau ini bodoh! Kau itu seorang Duke dan tangan kanan kakak, kau justru seharusnya tidak mati di sini!”


“Tidak, kau yang seharusnya tetap hidup.”


“Kau!”


“Kau!”


Di tengah perdebatan keempatnya, Ethelyne justru tersenyum tipis. Dia melirik Eadric yang seolah tengah tertidur. ‘Kau sangat beruntung, banyak orang yang menyukaimu dan bersedia mengorbankan nyawanya demi kau. Hah, seharusnya kau tidak main-main dengan racun-racun milikku.’ Ethelyne mengangkat tangannya ke arah dada Eadric, tepatnya. Ke arah jantung pria itu. ‘Kegelapan yang selalu datang, matahari yang digantikan bulan. Bulan yang menutupi matahari, cahaya kegelapan yang tak pernah pudar. Kehidupan abadi yang pernah kuinginkan, hari ini. Aku, sebagai gadis suci dan juga Ratu kegelapan. Mengorbankan setengah jiwaku untuk menjaga jiwa manusia ini tetap utuh dan kembali ke tubuhnya kembali.’


Ethelyne tersenyum tipis dengan sebuah barier yang tiba-tiba menutupi dirinya. ‘Kau tidak akan pernah tau perasaan ini, Ethel.’


“Yah, kau bener. Karena pada dasarnya, iblis itu tidak merasakan apapun bahkan ketika melihat keluarganya dibantai di hadapan mereka. Bagi kami para iblis, makanan adalah yang utama. Bahkan jika harus membunuh keluarga sendiri, kami akan melakukannya asalkan mendapatkan nutrisi yang cukup untuk menjadi kuat dan tak terkalahkan.” -


‘Ethel, aku ingin menanyakan satu hal.’ Ethelyne meringis kecil, energi sihirnya seolah terkuras dengan sangat cepat. Apalagi dia yang hanya bisa menggunakan sihir suci dan mengobarkan setengah jiwa sucinya untuk mencegah kehancuran jiwa Eadric.


“Aku sudah tau, kau ingin aku melindungi mereka dan membebaskan semua manusia yang menjadi tahanan saat wabah itu berakhir. Kan?” -


‘Kau selalu bisa menebaknya dengan sempurna.’ Darah keluar dari mulut Ethelyne, perlahan-lahan. Pandangan gadis itu mulai mengabur.


“Tentu saja … jangan khawatir, aku akan melindungi mereka selama di dunia iblis. A-anggap saja sebagai balas budi karena kau sudah mau melindungi rakyatku selama ini.” \=


‘Yah, terima kasih. Aku mungkin tidak akan bisa bertahan lama dengan sisa …’ Ethelyne terjatuh dan tak sadarkan diri, entah bagaimana. Tapi darah perlahan-lahan membasahi gaun yang digunakannya, Aelene dengan panik memeriksa Ethelyne namun tak menemukan luka sedikitpun. Namun anehnya, darah tidak henti-hentinya mengalir dari dada gadis itu. Lebih tepatnya, jantungnya.


“Ethelyne, apa yang terjadi?” tanya Aelene dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan aku, aku seharusnya tidak melakukan hal ini. Semuanya adalah kesalahanku.” Dia memeluk Ethelyne dengan air mata yang mengalir.



__ADS_1


Murry menatap datar pecahan kaca di depannya, dia berjongkok dan mengambil sebuah bola berukuran sangat kecil yang mengeluarkan cahaya samar. ‘Gadis itu … dia benar-benar bodoh.’



“Tuan Murry?”



Murry berdiri dan melirik Willian yang berdiri dibelakangnya. “Panggilkan semua roh cahaya, terjadi sesuatu tak terduga pada gadis suci.”



“Eh, baik!”



~~~♥~~~



“Apa?? Maksudmu, energi sihir suci dalam tubuh Lady Ethelyne telah lenyap!” kata Mika terkejut, bagaimana tidak. Dia tadi tengah santai-santainya berenang sebelum mendapat kabar dari Willian soal rapat mendadak, dan sekarang. Dia mendengar kabar tak terduga.



“Energinya tidak lenyap sepenuhnya.” Murry meletakkan bola kecil itu di atas meja dan membiarkan semua roh yang berada di sana melihatnya.



“Energi suci masih tersisa, tapi dengan jumlah yang sesedikit itu. Mungkin saja jiwa Kak Ethelyne tidak bertahan lama, Tuan Murry. Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan Kak Ethelyne?” tanya Nina sambil menatap Murry penuh harap.



“Tidak ada.”



“Lalu harus bagaimana sekarang ini?” Mika duduk di kursinya dengan raut wajah frustasi, dia tidak pernah membayangkan hari ini akan tiba.



‘Dasar gadis bodoh itu, bisa-bisanya dia nekat mengorbankan setengah jiwanya. Apa yang harus kukatakan pada Nona Earlene saat masa kebangkitannya nanti?!’

__ADS_1


__ADS_2