
“Kakak!! Kumohon, hentikan! Tolong selamatkan kakakku!!” kata Anastasia sambil memukul-mukul barier, namun apalah daya. Dia bahkan tidak bisa membuat retakan sama sekali, yang bisa dia lakukan sekarang hanya menangis sembari memohon agar sang Ratu bisa mengampuni Mraz.
“Kau ini, apa kau tidak merasa sedih setelah dikhianati? Kau bahkan memohon padanya, cih.” Ethelyne membuang muka. “Hatimu lemah sekali.”
“Meskipun begitu, dia. Dia tetaplah kakakku, aku mohon. Aku siap melakukan apapun, tapi tolong selamatkan kakakku!”
“Apapun?” tanya Ethelyne memastikan, Anastasia mengangguk cepat. “Termasuk kau menjadi makananku?”
Kali ini, Anastasia tidak langsung mengangguk. Dia tampak berpikir keras akan kehidupannya selanjutnya.
“Jika kau …”
“Baiklah.”
“Hem?”
“Aku siap menjadi makananmu, tapi tolong selamatkan kakakku,” mohon Anastasia. ‘Hidupku tidak lebih berarti dari hidup kakak, jadi demi menyelamatkannya. Aku sebagai Kesatria yang telah bersumpah demi keselamatan kekaisaran siap mengorbankan hidupku.’
“Begitu ya.” Ethelyne tersenyum tipis, dia melambaikan tangannya. Barier yang mengurung Anastasia tiba-tiba menghilang, Ethelyne menggerakkan jarinya sebagai isyarat.
Dengan langkah pelan dan raut wajah yakin, Anastasia berjalan ke arahnya. Namun baru saja sampai, sebuah tangan langsung menembus perut gadis itu. Dia memuntahkan sejumlah besar darah.
Tanpa perasaan, Ethelyne menarik tangannya dari perut Anastasia dan meninggalkan lubang yang cukup besar. Gadis itu langsung terjatuh di genangan darah, Ethelyne menatap datar Anastasia.
“Gadis yang malang,” gumam Ethelyne, dia berbalik ke arah Mraz. Bukannya sedih ataupun menderita, pria itu justru tertawa terbahak-bahak layaknya orang gila.
“Akhirnya, akhirnya gadis sialan itu mati! Akhirnya, tidak ada lagi yang bisa merebut kekuasaanku! Hahaha!!” Mraz tertawa keras tanpa memperdulikan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya, apalagi api yang masih membara membakar tubuhnya.
“Cih, manusia sampah.” Ethelyne melirik ke arah rakyat-rakyat yang tampak menangis histeris, bahkan ada yang sampai tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Yang Mulia.” Mili menoleh ke arah Ethelyne sambil menunjuk Mraz. “Bukankah pria ini sangat bodoh, dia bahkan tidak layak dipanggil kaisar. Hah, mungkinkah dia yang membunuh ayahnya demi naik pangkat?”
“Terus terang saja, kau membuatku bosan dengan ocehanmu.”
Mili berdecak. “Maksud saya, lebih baik menjadikan Gadis itu sebagai pengganti kaisar. Maksudnya, pria ini. Bagaimana kalau dijadikan makanan untuk serigala-serigala Anda,” katanya dengan mata memicing dan senyum lebar. “Benar kan.” Dia mengalihkan pandangannya ke arah Rayna dan Ivy yang mengangguk.
“Benar juga, manusia sampah sepertinya tidak layak menjadi kaisar. Jadi, bagaimana menurutmu. Anastasia Arsyakayla.” Ethelyne menoleh ke arah tempat dia mengurung Anastasia.
Perlahan-lahan, muncul seorang gadis yang menangis sesegukan. Dia Anastasia, gadis yang mati di hadapan Ethelyne perlahan-lahan menguap dan menghilang. Bahkan darah yang menggenang di tanah pun ikut menghilang.
“Apa kau masih ingin memohon untuk kehidupan kakakmu?”
“Aku …” Anastasia menangis sesegukan, dia tidak pernah menyangka kalau sang kakak yang selama ini dia sayangi dan lindungi dengan sepenuh hati ternyata ingin membunuhnya. “Aku …”
“Lambat.” Ethelyne berbalik ke arah Mraz dan melangkah dengan cepat, api yang membakar pria itu tiba-tiba menghilang. Namun belum sempat bernapas lega, sebuah tangan sudah lebih dulu menembus jantungnya. “Kubunuh saja dia,” katanya dengan nada datar, Ethelyne mengeluarkan jantung Mraz. Namun anehnya, pria itu masih hidup namun menjadi sangat lemah. Bahkan warna kulitnya menjadi sangat pucat seperti mayat, matanya tampak kosong, bahkan dia tidak bisa menggerakkan satu jarinya sedikitpun.
“Kakak!!”
“Kakak …” Anastasia terduduk di lantai sembari menangis, lututnya menjadi lemas hingga tak bisa menopang badannya. “Kenapa, kenapa kakak sejahat ini padaku?”
Ethelyne membuang muka. “Dia tidak akan bisa menjawabmu.” Dia mengangkat jantung di tangannya tinggi-tinggi. “Jantung sebagai penopang hidupnya telah menghilang dari tubuhnya, kini. Hanya menunggu waktu sampai dia benar-benar mati kehabisan darah.”
“Yang Mulia, apa saya boleh bertanya?” tanya Rayna sembari melangkah ke arah Ivy yang tampak kesulitan. “Kenapa pria itu belum juga mati? Padahal jantungnya kini berada di tangan Anda.”
“Karena … aku abadi!” kata Mraz dengan susah payahnya.
“Hah, bodoh sekali.” Ethelyne menatap Mraz dingin. “Asal kau tau, manusia tidak ada yang abadi. Bahkan, aku sebagai Demon Queen pun akan mati saat mencapai umur seribu tahun. Apalagi kalian, manusia yang rapuh dan lemah.”
“A-pa …”
__ADS_1
“Demon … Queen?” gumam Anastasia yang langsung mengalihkan pandangan Ethelyne, mata gadis itu tampak bengkak karena menangis. Hidungnya pun tampak memerah. “Jangan-jangan, kau … putri dari ratu iblis yang dibunuh kakek Aelous.”
“Kakek?”
“Kakek Aelous adalah … guru dari kakek Wira.”
“Begitu ya. Yang kau katakan benar, tapi aku bukan putri dari ratu iblis. Aku putri dari Lady suci ke11 … Earlene Virgian.”
“Apa?!” Bukan hanya Anastasia, bahkan rakyat-rakyat yang masih dalam keadaan sadar pun tampak terkejut bukan main. “Bagaimana … mungkin! Bukankah Lady Earlene dibunuh saat dia ditangkap oleh Raja iblis!”
“Seharusnya begitu.” Ethelyne tersenyum miris. “Tapi entah bagaimana, Raja iblis justru menikahi ibu. Tapi … tidak lama setelah aku lahir, Raja ketujuh Iceworld. Aelous Elrond, datang ke dunia iblis dan membunuh ibuku. Sementara ibuku …” Dia menarik napas dalam-dalam. “Dia membunuh Raja dan Ratu iblis, lalu. Dengan sisa kekuatannya menemuiku yang dibawa oleh Meli dan disembunyikan di ruang bawah tanah.”
Anastasia menutup mulutnya terkejut. “Bagaimana bisa …”
Ethelyne menatapnya dengan senyum tipis, namun matanya dengan jelas menyiratkan luka dan kekecewaan yang mendalam.
“Maaf,” kata Anastasia sambil menunduk dengan nada tulus. “Karena aku, kau jadi teringat oleh orang tuamu.”
Ethelyne tiba-tiba tersadar, dia tersenyum. “Tidak masalah, lagipula. Sebagai seorang iblis, aku tidak memiliki rasa kasihan apapun terhadap manusia. Bahkan kakakku sekalipun …”
“Lalu, lalu kenapa kau begitu baik padaku dan semua manusia? Seharusnya kau membunuh kami, tapi sekarang. Kau justru menyelamatkan kami dan melindungi kami dari Kak Mraz.”
“Hah, tolong jangan salah sangka.” Dengan cepat, raut wajah Ethelyne berubah datar. Gadis itu mengibaskan rambutnya. “Aku hanya menepati janjiku pada seseorang yang penting, jika bukan karena keinginannya. Aku juga benci menginjakkan kaki di dunia yang penuh tipu daya ini.”
“Kau benar.” Anastasia tersenyum tipis. “Selain itu, manusia juga bodoh. Bukan, tapi hanya aku. Aku terlalu ceroboh karena tidak mengetahui musuh yang terus berkeliaran di sekitarku.”
Ethelyne terdiam, dia berbalik dan berjalan pergi. “Sudah ya, aku sudah muak di dunia ini. Ivy, kirim mereka secepatnya.”
“Baik, Yang Mulia.”
__ADS_1
“Yang Mulia, harus kita apakan pria ini?” tanya Mili sambil menunjuk Mraz yang kini tak sadarkan diri dengan badan yang gosong.
Ethelyne terhenti saat mendengar ucapan Mili. “Aku hampir lupa, hancurkan saja dia saat dia sadar. Setelah itu, buat mayatnya ke sungai.” Dia melempar jantung di tangannya. “Jangan jantungnya tetap berdetak, atau kalian yang akan jadi seperti jantung itu.”