Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
86. Provokasi


__ADS_3

“Akhir-akhir ini kalian sering memanggilku untuk ikut rapat bersama ya,” kata Ethelyne sambil mengetuk-ngetuk meja, dia menatap datar Murry yang dibalas dengan tatapan dingin.


“Laurie sudah setuju untuk melakukan kontrak seumur hidup, sisanya tinggal menyiapkan tempat ritual dan juga sedikit kekuatan suci Ethelyne.” Murry menatap Ethelyne serius.


“Aku mengerti, aku mengerti. Jangan tatap aku seperti itu.” Ethelyne mengibaskan tangannya. “Jadi, kapan ritual pembangkitannya akan dilakukan?”


Mereka semua yang ada di ruang rapat saling menatap satu sama lain, semuanya diam membisu. Tak ada satupun yang ingin menjawab pertanyaan sederhana Ethelyne.


“Kenapa kalian menjadi terdiam??” Ethelyne yang masih didiami menggebrak meja dengan keras dan penuh amarah. “Apa kalian sebuah tuli atau bisu?! Kenapa tidak ada satupun yang ingin menjawab pertanyaanku!”


“Begini, Ratu …” Miley menjelaskan dengan terbata-bata, dia melirik para roh lain yang hanya memilih diam. “Sebenarnya, ritual ini memerlukan energi sihir yang besar dan dalam waktu yang lama. Jadi, jika kita memulai ritual tanpa persiapan. Maka ritualnya bisa terhenti di tengah jalan, dan jika itu terjadi …”


“Jika itu terjadi?” Ethelyne menatap Miley dengan kening berkerut.


“Maka, jiwa Lady Ethelyne akan benar-benar menghilang dan tidak bisa dibangkitkan lagi.”


Ethelyne terdiam sejenak, dia kembali duduk dengan tenang setelah mendengar penjelasan Miley. Tatapannya beralih ke Murry dan William. “Jadi butuh berapa lama untuk mengumpulkan energi sihir? Dan butuh berapa lama untuk menggunakan sihir?”


“Karena kebangkitan Lady yang terkesan terlalu tergesa-gesa, jadi kemungkinan besar. Kita memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membangkitkan kekuatannya dan saat ritual dimulai, kita tidak bisa menghentikannya di tengah jalan seperti yang dikatakan Roh angin. Terlebih lagi, selalu memberikan sihir dalam skala besar terlalu beresiko untuk saat ini.”


“Apa aku bisa membantu memberikan sihir?”


“Maaf, tapi itu tidak bisa dilakukan.” William menjeda ucapannya dan menatap Ethelyne serius. “Sihir Anda sangat bertolak belakang dengan sihir suci, dan jika Anda ikut campur. Maka energi suci keduanya akan menghilang.”


“Begitu ya.” Ethelyne memegang dagunya berpikir, dia melirik Murry. “Jadi butuh berapa lama untuk mengumpulkan energi sihirnya?”


“Butuh delapan bulan lagi.”


“Begitu ya.” Ethelyne melirik ke arah lain. “Kabari aku keadaan jiwa suci itu setiap hari.” Dia menghilang dalam sekejap mata.


Murry memijat pelipisnya. ‘Bisa-bisanya dia datang dan pergi sesuka hati.’


“Tuan.”


Murry menoleh ke arah William dengan kening berkerut seolah bertanya 'apa'.


“Kenapa Anda… tidak, lupakan saja.” William berdiri dan berjalan pergi.


Para roh yang masih ada di sana menatap keduanya bergantian, apa mereka sedang bertengkar. Seperti itulah batin ke9 roh yang ada di sana.



__ADS_1


“Silahkan tehnya.” Fiona meletakkan secangkir teh hangat ke atas meja, dia menatap Ethelyne yang tampak sibuk dengan berkas-berkasnya. “Yang Mulia.”



Ethelyne yang kelewat sibuk hanya berdehem sebagai jawaban.



“Apa Anda … tidak merasa lelah?”



Tangannya yang hendak membalik halaman terhenti, dia menatap Fiona yang menunduk sembari memegang erat nampan di pelukannya. “Apa maksudmu?”



“Saya, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, saya pikir. Yang Mulia pasti lelah terus mengunjungi para manusia dan menahan nafsu Anda.” Fiona memejamkan matanya. “Saya selalu melihat Anda sangat kelelahan akhir-akhir ini, Anda. Anda juga sering keluar istana diam-diam,” gumamnya di akhir kalimat.



“Kau, kenapa kau bisa tau??”




“Oh, begitu ya,” kata Ethelyne sambil bersandar dan bersedekap dada. ‘Mili sialan! Sudah kukatakan untuk berhati-hati, kenapa masih bisa ketahuan sih!’



“Yang Mulia.”



Panggilan Fiona membuyarkan lamunan Ethelyne, dia menatap gadis di hadapannya yang tampak ragu mengucapkan sesuatu.



“Ada apa? Katakan saja, tidak perlu dipendam.”



“Saya … ingin meminta Anda untuk satu hal.” Fiona menjeda ucapannya, dia melepaskan sebelah genggamannya pada nampan dan menyembunyikan tangannya di balik gaun. “Apa Anda, tidak ingin menghabisi mereka semua?”

__ADS_1



Tatapan yang awalnya santai berubah datar, Ethelyne menatap dingin Fiona. “Apa maksud dari perkataanmu itu?”



Keringat dingin tampak bercucuran di dahi gadis itu. “Saya juga tidak mengerti, saya tiba-tiba teringat dengan Nyonya Earlene saat melihat para manusia. Saya sangat terpukul saat tau bahwa manusia membunuh Nyonya Earlene dengan keji, saya.” Fiona menjeda ucapannya, dengan warna mata ungunya. Dia menatap tepat ke arah mata merah Ethelyne. “Bukankah sangat menyakitkan, sangat menyedihkan.” Nadanya yang awalnya gemetar tiba-tiba berubah dingin, raut wajahnya pun tidak bisa dibaca sama sekali. Hanya senyum misterius yang ditampilkan gadis itu. “Kenapa Anda mempertahankan keturunan dari pria yang membunuh ibu Anda? Meskipun Anda dan Nyonya memiliki darah yang berbeda, tapi Anda tetaplah putri kandung Nyonya. Bukankah sangat menyakitkan melihat Nyonya mati di tangan manusia yang selama ini dipercayainya, Nyonya bahkan sampai mengorbankan dirinya demi memikat hati Raja iblis dan membunuhnya. Dan saat dia berhasil, dia malah dibunuh dengan tragis.” Fiona meletakkan nampan di meja dan berjalan ke arah Ethelyne, dia berbisik pelan. “Nona Ethelyne sangat berharga bagi Anda, bukan? Anda pun tau, kalau Nona menyukai manusia yang leluhurnya pernah membunuh ibu kalian. Bagaimana jika, Nona juga dibunuh seperti Nyonya Earlene? Dibunuh dengan tragis saat dia baru saja menyelesaikan misinya, bukankah itu benar-benar menyedihkan.”



Mata merah Ethelyne tampak bergetar mendengar setiap ucapan Fiona, tangan dan lututnya melemas. Dia tidak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi, tapi bagaimana jika yang dikatakan Fiona benar? Bagaimana jika Pangeran Iceworld mendekati jiwa sucinya hanya demi membalas dendam.



Fiona yang melihat rencananya berhasil tersenyum puas, dia melangkah mundur dan tersenyum tipis dengan mata yang memicing. “Pikirkan baik-baik, Yang Mulia,” tekannya di akhir kalimatnya, dia mengambil nampan di meja dan berbalik lalu berjalan keluar tanpa sepatah kata lagi. ‘Selesai, dengan kecurigaan di hari Nona Ethel. Maka pekerjaanku selanjutnya akan lebih mudah, hah. Meski sudah hidup beratus-ratus tahun, kau masih sangat polos. Ethelyne Blisterzz.’



~~~♥~~~



“Bukankah sikap Yang Mulia akhir-akhir ini jadi aneh?”



“Iya, beliau tidak seperti biasanya. Setiap hari Beliau akan bertemu dengan tawanan yang dia sengaja pisahkan, tapi dalam tiga hari ini. Beliau tidak menjenguk atau mengecek keadaan mereka sama sekali.”



“Mungkinkah karena Yang Mulia sudah bosan?”



“Benar juga ya, lagipula. Bagi Yang Mulia, manusia seperti mereka hanyalah mainan yang bisa dibuang sesuka hati.”



“Kalau Yang Mulia benar-benar membuang mereka dan dijadikan makanan serigala, boleh tidak ya. Aku mengambilnya? Lagipula, sepertinya darah milik gadis itu sangat harum. Aku hampir saja kehilangan kendali saat di aula tempat pesta berlangsung.”



“Kau benar, bau darah gadis itu benar-benar sangat memikat bagi kita para iblis.”

__ADS_1


__ADS_2