
“Lyne, lihat. Ibu membuatkan makanan khusus untukmu, bukankah kau sangat menyukai kastella? Jadi ibu khusus membuatkan ini untukmu.” Fiona dengan senyum terbaiknya meletakkan sepiring kastella di depan Ethelyne, dia menyendok kastella dan mengarahkannya ke Ethelyne. “Ayo, buka mulutnya.”
Dengan patuh, Ethelyne membuka mulutnya dan memakan kastella yang diarahkan Fiona.
“Bagaimana? Rasanya enak kan?”
Ethelyne menganggukkan kepalanya.
“Jadi sayang, apa sekarang kau sudah introspeksi diri? Sebenarnya Ayah juga sangat menyayangimu, dia hanya tidak ingin kau meninggalkan kita. Itu sebabnya dia melakukan hal ini, ibu harap. Kau bisa mengerti.” Fiona tersenyum manis, dia meletakkan piring berisi kastella itu di atas meja dan memeluk Ethelyne. “Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, Lyne. Kami tidak ingin kau pergi, apa kau tau. Betapa gilanya Ibu dan Ayah mencarimu saat kau pergi, bahkan Gavin dan Xander sampai membunuh banyak prajurit yang gagal menemukanmu.”
‘Gavin … Xander.’
“Tapi ibu senang akhirnya kau bisa kembali lagi.” Fiona melepas pelukannya dan menatap Ethelyne dengan senyum hangat. “Ibu akan selalu menyayangimu meski ibu sempat sakit hati karena perkataanmu beberapa hari yang lalu, tapi setelah introspeksi diri. Kau bisa mengontrol kata-katamu kan?”
Ethelyne kembali mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dengan senyum manis yang terus menghiasi wajah Fiona, wanita itu berdiri dan mengecup kening Ethelyne lembut. “Ibu akan keluar, kau istirahatlah yang baik. Ibu akan berusaha agar Ayah bisa membebaskan hukumanmu.” Dia berbalik dan berjalan keluar, tidak berselang lama. Suara besi yang berat terdengar di luar kamar Ethelyne.
Gadis itu masih duduk di atas kasur dengan kaki hingga pinggang yang ditutupi oleh selimut, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. ‘Ibunda … Anda bahkan sudah menemukan penggantiku secepat ini?’
__ADS_1
~♥~
Suara pecahan kaca membuat beberapa pelayan yang ada di dalam kamar terlonjak kaget, namun mereka hanya bisa menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan.
“Tidak berguna!!” teriak Kathelyne penuh amarah, dia menatap seorang penyihir yang kini memegang dahinya yang berdarah. “Kenapa kau bahkan tidak bisa membangunkan Ethel?! Memangnya apa gunanya gelarmu itu hah?!”
“M-maafkan saya, Yang Mulia Ratu. Tapi kekuatan yang menyelimuti Nona Ethelyne benar-benar sangat kuat, saya sampai tidak bisa- ssth.” Penyihir itu langsung meringis saat sebuah asap gelap melilit lehernya dengan keras, tubuhnya perlahan-lahan terangkat dan melayang di udara.
“Kujelaskan sekali lagi, aku tidak perduli kau menggunakan kekuatan atau sihir apapun. Tapi Ethelyne harus sadar! Jika kau juga tidak bisa membangunkannya, maka nasibmu akan sama seperti penyihir lainnya!” ancam Kathelyne sarkas, dia kemudian melepaskan penyihir itu dan berbalik berjalan keluar dengan angkuhnya.
Meninggalkan sang penyihir yang terduduk sambil terbatuk-batuk.
~♥~
Suasana menjadi sunyi, Ethelyne tak menjawab ucapan Gavin sama sekali. Pria itu berdesah frustasi, dia mengacak rambutnya dan berjalan keluar dengan langkah lebar.
‘Aku harus apa, Kak?’ Ethelyne memperhatikan pintu yang baru saja tertutup, dia tersenyum simpul. ‘Kenapa kalian bisa memperlakukanku seperti ini? Padahal Ayahanda dulu sangat menyayangiku, tapi sekarang. Beliau bahkan menggunakan sihir boneka untuk mengontrolku, Ibunda tersayang dengan mudahnya menemukan penggantiku. Kakak kedua yang terus menyuruhku pergi, dan kakak pertama yang bahkan tidak muncul batang hidungnya sama sekali. Kenapa kalian semua jadi berubah hanya karena aku pergi sebentar?’ Ethelyne bersandar sambil menghela napas. “Aku bahkan … tidak bisa membebaskan jiwa yang tak bersalah di ragaku ini.” Dia mendongak dan menatap langit kamarnya. ‘Apa seharusnya … aku memang tidak datang ya? Karena aku juga, jiwa 'gadis itu' jadi ikut terjebak.’
~♥~
__ADS_1
“Ayo, makan yang banyak.” Fiona dengan telaten menyendokkan bubur yang langsung dimakan Ethelyne tanpa mengucapkan sepatah kata, gadis itu kini benar-benar sudah seperti boneka yang hanya bisa mengikuti perintah dari Tuannya. “Lyne, menurutmu. Apa akan ada banyak bangsawan yang menghadiri tea time besok?”
Tidak ada jawaban apapun yang membuat Fiona menatap Ethelyne yang hanya diam tak bergeming, gadis itu bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali.
Fiona tersenyum lembut. “Kau boleh bicara, Lyne.”
“Menurut saya, tea time yang diadakan Ibunda selalu didatangi oleh bangsawan dari kalangan atas. Tidak ada alasan yang membuat mereka tidak akan mendatangi tea time yang Ibunda buat kali ini.”
“Ahahaha, kau pintar sekali berkata-kata manis.” Fiona terkekeh kecil mendengar penuturan Ethelyne yang terkesan kaku dan formal. “Lyne, aku adalah ibumu. Kau tidak perlu berbicara formal denganku. Aku, Ayahmu, dan kedua kakakmu. Kami semua adalah keluargamu, kau bisa meminta apapun dan tidak perlu berbicara formal sama sekali. Kami semua menyayangimu, sayang. Ibu bahkan akan mati demi menyelamatkanmu.”
‘Bohong, buktinya. Ibunda hanya mengambil jiwa lain yang diisi ke raga saya, Ibunda bahkan tidak berpikir bagaimana perasaan saya saat melihat Ibunda dengan mudahnya mengganti saya yang Anda anggap sebagai Putri kesayangan satu-satunya.’
“Ibu sa~ngat bahagia, setelah sekian lama. Akhirnya Ibu bisa bertemu kau lagi, kau tidak tau. Betapa sedih dan khawatirnya ibu saat tau kau menghilang dari Istana.”
‘Bohong, karena jika Ibunda benar-benar sedih dan khawatir dengan saya. Anda tidak akan menganggu kehidupan orang lain, Anda pasti akan berusaha keras untuk menghidupkan saya kembali meski menggunakan sihir iblis sekalipun. Tapi Anda justru memanggil jiwa lain dan tidak memperdulikan saya sama sekali, jika Anda sedih saat saya pergi. Seharusnya Anda tidak memilih pengganti saya dan membiarkan saya bahagia melihat kalian semua bahagia, tapi tidak. Anda dengan mudahnya menemukan pengganti saya dan melupakan saya hanya dalam beberapa hari.’
“Ibu bahkan tidak bisa tidur saat melihat kau tak sadarkan diri, ibu benar-benar takut. Ibu takut akan kehilangan kau lagi.” Fiona menggenggam kedua tangan Ethelyne sambil menunduk. “Hati ibu terasa tercabik-cabik saat tau kau mengalami kecelakaan.”
‘Ah, lagi-lagi Anda berbohong. Ibunda, Anda bahkan tidak memperdulikan saya sama sekali.’
__ADS_1
“Lyne.” Fiona menatap Ethelyne dengan air mata berlinang. “Ibu sangat merindukanmu, Nak. Ibu rindu saat-saat kau memanggilku dengan sebutan Ibu dan berlari ke pelukanku. Ibu merindukan saat-saat dimana kau mencuri bunga di kamar Xander hanya demi menyenangkan hati ibu … Lyne, ibu tau ibu salah karena memilih pengganti daripada menghidupkanmu kembali. Tapi ibu juga terpaksa, sayang. Ibu hanya tidak ingin …” Dia menangis sesegukan.
‘Tidak ingin apa, Ibunda? Tolong jangan membuat saya penasaran, apa maksud dari kata terpaksa yang Anda ucapkan? Apa selama ini, Anda juga tidak mau memanggil jiwa lain untuk mengisi raga saya? Apa selama ini, Anda tidak pernah berpikir orang lain bisa menggantikan saya? Apa Anda …’