
Ethelyne menggunakan Dragon Eyesight hingga bisa melihat dengan jelas. “Pria itu …” Dia mengerutkan keningnya. “Bukankah dia Frenzy Elrond!!”
“Benar sekali, Ratu.” William berjalan mendekat dan melempar pria yang ditariknya hingga menabrak barier. “Dia adalah pengkhianat yang hendak membunuh Anda.”
Ethelyne menatap Frenzy sambil memegang dagunya berpikir, dia menatap dengan lekat Frenzy yang sudah dibuat babak belur. Dia melirik William yang tersenyum bangga. “Kalian ternyata bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan.”
“Tentu saja!” jawab William bangga.
“Sudahi percakapan tidak bermutu ini! Saatnya melakukan ritual.”
Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah Frenzy.
“Teteskan darahmu di lingkaran ini.”
Ethelyne mengangguk, dia melangkah maju sembari mengigit jempolnya. Ethelyne kemudian meneteskan beberapa tetes darah ke lingkaran sihir dan membuat lingkaran itu bercahaya merah maron.
“Mundurlah!”
Sesuai perintah Murry, Ethelyne melangkah mundur sampai sejajar dengan William. “Apa yang akan dia lakukan?”
“Tuan akan menggunakan formasi terkutuk, formasi ini mentransfer energi sihir orang lain ke orang yang ditandai. Karena darahmu dan Lady Ethelyne sama, jadi kau bisa menggunakan darahmu sebagai penanda. Dan jika ritual ini gagal, maka sang tumballah yang akan menderita kerugiannya. Jadi meskipun ritualnya tidak berjalan lancar, Lady Ethelyne tidak akan kenapa-napa.”
“Begitu, ya …” gumam Ethelyne.
Murry menutup matanya sembari merapal mantra, sebelah tangannya terangkat ke arah jiwa suci Ethelyne dan sebelah lagi ke arah Frenzy.
Sunyi senyap, tidak terjadi apa-apa. Ethelyne bergeser agar lebih dekat dengan William. “Apa ritualnya tidak berhasil?” bisiknya.
“Tidak.” William tersenyum, dia menunjuk ke arah jiwa suci.
Ethelyne mengikuti arah tunjuk William, tatapan khawatir di matanya mulai menghilang saat melihat energi sihir yang mulai normal. “Sepertinya semuanya berjalan dengan lancar ya, meskipun aku tidak merasakan apapun sama sekali.”
“Sudah aku katakan, itu adalah formasi terkutuk. Berbeda dengan formasi dan ritual lainnya, formasi ini membutuhkan kehidupan dari sang tumbal. Dan cara penggunaannya tentu sangat berbeda dari formasi lainnya, bagi orang lain. Tidak terjadi apa-apa dalam tiga menit itu, namun bagi kami yang memiliki penglihatan dewa. Kami bisa melihat semuanya dengan jelas.”
Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Jadi Ethelyne sudah aman kan sekarang, jika tidak ada yang lain. Aku akan pergi.”
“Tunggu sebentar.”
Ethelyne yang hendak menggunakan teleportasi langsung terhenti, dia menoleh ke arah Murry dengan raut wajah datar. “Ada apa lagi? Aku ingin bersantai dan rebahan!”
“Formasi ini hanya bertahan sementara saja, kau harus hadir di rapat tiga bulan lagi. Karena rapat itu, akan membahas tentang kebangkitan Ethelyne Virgian.”
Ethelyne terdiam, dia menatap Murry serius. “Baiklah, aku akan pastikan untuk hadir jadi itu. Ok, bay!” Ethelyne melambaikan tangannya dan langsung menghilang dalam sekejap.
William menoleh ke arah Murry yang tengah membersihkan sisa darah di atas lingkaran sihir, soal tubuh Frenzy. Tubuh dan nyawanya pun dijadikan sebagai tumbal atas keberhasilan formasi.
“Tuan.”
Murry hanya fokus membersihkan sisa darah tanpa menjawab panggilan William.
“Sampai kapan Anda akan berpura-pura?”
Murry terdiam. “Sampai dia sendiri yang tau kebenarannya.” Dia menatap jiwa suci yang kedua tangannya, pinggang, dan lehernya diikat dengan rantai bercahaya sedikit terang. Dia pun dibiarkan mengambang di udara. ‘Aku ingin lihat, sampai mana dia akan menyadari bahwa aku adalah orang yang dicari-carinya sejak awal.’
“Ethel, bagaimana keadaan Ethelyne??” tanya Aelene yang entah kenapa tiba-tiba muncul di kamarnya dan mengagetkannya.”
“Kau, kenapa bisa keluar dari barier??”
__ADS_1
“Oh, itu ya.” Aelene menggaruk tengkuknya. “Itu karena aku mencari celah saat pada penjaga lengah,” bisiknya pelan.
Ethelyne menghela napas. ‘Sepertinya aku perlu mengganti penjaga lagi.’ Dia duduk di atas kasur dan bersedekap dada. “Jadi, ada urusan apa datang ke kamarku?”
“Bagaimana keadaan Ethelyne?”
“Dia baik-baik saja.”
“Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak datang menemuiku? Apa dia membenciku?”
“Aku tidak tau.”
“Heh, bukankah tadi kau habis mengunjungi Ethelyne. Bagaimana mungkin kau tidak tau tempatnya.”
“Aku tidak tau, sungguh.” Ethelyne menggaruk telinganya yang sedikit gatal. “Aku hanya tau dia diikat di dalam gua. Tangan dan pinggangnya dirantai, dia pun tengah tidak sadarkan diri.”
“Bagaimana bisa! Bukankah jiwa suci Ethelyne berada dalam tubuh itu.”
“Apa, ada yang bisa kulakukan untuk membantunya?”
“Ada,” jawab Ethelyne tanpa ragu.
“Apa itu??”
“Korbankan nyawamu sendiri.”
“Apa??”
“Energi di dalam jiwa Ethelyne tidak cukup untuk membuatnya bangun kembali, satu-satunya cara hanya mengorbankan orang yang memiliki energi suci yang sama.”
“Tapi, aku tidak bisa sihir cahaya.”
__ADS_1
“Bukan sihir cahaya.” Ethelyne berdiri dan menunjuk tepat ke jantung Aelene. “Dia membutuhkan energi sihir logam untuk mempertahankan hidupnya,” bohongnya. ‘Sekarang, bagaimana kau akan menyelamatkan hidupmu? Apa kau rela mengorbankan nyawamu demi orang lain, atau kau tidak ingin mati demi orang lain? Aelene Tiatha Alys, yang mana yang akan kau pilih?’
“Baiklah!”
“Hem?”
“Jadikan aku tumbal! Aku siap mengorbankan nyawaku demi dia.”
Mata Ethelyne tampak sedikit membulat. “Kau ini, kenapa kau sangat perduli padanya? Padahal kau akan mati jika kau memberikan seluruh energi sihirmu.”
“Itu bukan masalah besar.” Aelene menunduk sembari tersenyum miris. “Dia telah kuanggap sebagai saudariku sendiri, jadi. Tentu saja aku harus berkorban demi orang yang berharga,” katanya sembari mendongak dengan senyum semakin mungkin.
Entah kenapa, perasaan Aelene seolah mengalir dalam darah Ethelyne. Gadis itu memegang jantungnya yang berdetak cepat, dua tersenyum. “Hoh, begitukah?” Dia mengambil pisau buah dan mengangkatnya ke arah Aelene siap menusuk gadis itu.
Namun Aelene, gadis bodoh itu hanya diam dan tak menghindar sama sekali dan hanya menutup matanya.
Lima menit berlalu namun Aelene tak merasakan apapun, dia membuka matanya perlahan-lahan dan menatap pisau buah yang tertancap tepat di hadapannya. Dia menoleh dan menatap sekitar namun tak menemukan keberadaan orang yang dicarinya. “Ethel? Ethel kau di mana? Apa kau ingin bermain sembunyi-sembunyi denganku? Baiklah, aku cari ya!”
~~~♥~~~
‘Hah, dasar gadis bodoh itu. Bisa-bisa dia tidak menghindar, dia pikir nyawanya itu bisa diisi ulang seperti api.’ Ethelyne memijat pelipisnya, dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran seorang Aelene Tiatha Alys.
“Yang Mulia!” Loreen berlari kecil ke arahnya dengan tangan yang dilambaikan ke atas.
“Ada apa?”
“Acara, acara penobatan Anda. Kapan diselenggarakan?” tanya Loreen dengan napas tersengal-sengal.
”Tidak jadi.” Ethelyne melewati Loreen sembari mengibaskan tangannya. “Acara penobatannya dibatalkan, aku kehilangan suasana hati untuk bermain-main.”
“Eh, tapi--”
“Itu perintah, Nona Loreen!”
__ADS_1