
“Yang Mulia, ini sarapan Anda.” Meli meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja, dia menatap Ethelyne yang sedari tadi duduk di tepi jendela sambil menatap keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Yang Mulia?”
Ethelyne masih tak menjawab, Meli yang merasa aneh dengan sikap Ethelyne hari ini berjalan mendekat. Namun baru 3 langkah, dia tiba-tiba terpental ke belakang dan menabrak dinding.
Meli terperosok ke lantai sambil memegang dadanya yang nyeri. “Yang Mulia, kenapa Anda--” Ucapan Meli terhenti saat menyadari aura menyeramkan, membunuh, dan juga aura mengintimidasi yang mengelilingi Ethelyne. Bahkan aura-aura berwarna hitam, ungu, dan cokelat itu tampak berusaha menerobos barier. “Yang Mulia, apa yang terjadi pada Anda?” tanyanya terkejut.
Ethelyne masih diam membeku, dia seolah boneka tak bernyawa yang diletakkan di tepi jendela dan ditinggalkan begitu saja.
Meli menatapnya sendu. ‘Apa Yang Mulia teringat dengan Kakak? Aku harus melakukan apa untuk menghibur Yang Mulia?’ Dia menatap Ethelyne yang sedari tadi hanya menatap ke luar tanpa bergerak sedikitpun, Meli menghela napas. “Saya meninggalkan sarapannya di meja, makanlah jika Anda lapar.” Dia berjalan keluar dan menutup pintu. ‘Cara yang tepat untuk saat ini adalah membiarkannya sendiri hingga tenang, setelah itu. Aku akan mencoba berbicara dengannya.’
‘Apa yang ingin kulakukan kemarin? Karena terbawa nafsu, aku hampir saja membunuh Eadric. Akh, aku sungguh-sungguh tidak ingin keluar kamar saat mengingat kejadian itu!’ batin Ethelyne berteriak. ‘Ah, aku harus mengurus prajurit kerajaan iblis ya? Aku sampai lupa tentang hal itu.’
Ethelyne menjentikkan jarinya, sebuah roh dengan aura berwarna merah-hitam muncul di depan Ethelyne. Roh itu membungkuk hormat dengan anggunnya.
“Roh Api siap menerima perintah Anda, Yang Mulia.”
“Ya, pergi ke dunia manusia dan deklarasikan perang antara kerajaan iblis dan kerajaan Iceworld.”
“Eh? Tapi kenapa Anda tiba-tiba ingin mendeklarasikan perang? Lagipula, sangat berbahaya bagi iblis untuk muncul di dunia manusia dalam jumlah yang banyak. Apalagi saat di siang hari.”
“Aku tau, itu sebabnya aku ingin meminta tolong roh kegelapan.”
“A-ah, ternyata begitu. Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga Anda bisa memakmurkan kerajaan iblis.” Roh Api itu menghilang dengan meninggalkan sedikit jejak sihir api.
“Selanjutnya, aku perlu memanggil roh kegelapan dalam jumlah banyak. Tapi apa perlu membuat ritual-ritual terlebih dahulu ya?” Ethelyne memegang dagunya. “Hem, seperti tidak. Jika mengikuti ingatanku di masa lalu, aku bisa memanggil roh kegelapan dalam jumlah banyak. Itu sempurna, dengan bantuan mereka. Maka para iblis tidak akan lagi terkena sinar matahari!” katanya semangat, Ethelyne menatap ke arah meja. “Ah, sarapan yang diantarkan Meli ya? Aku jadi tidak sadar karena terlalu banyak berpikir soal kejadian kemarin.” Dia menghela napas. “Apa aku temui saja dia dan meminta maaf ya? Mau bagaimanapun, aku hampir saja membunuh orang yang tak bersalah.” Ethelyne tiba-tiba terdiam. “Tak bersalah, ya?”
__ADS_1
Dia menatap ke luar jendela sambil menyentuh jendela dengan jari-jarinya. “Andaikan saja aku manusia biasa, andaikan saja bukan raja Iceworld yang menghabisi ibuku. Mungkinkah kita memang benar-benar bisa bersama?” Ethelyne tersenyum miris. “Astaga, apa yang sebenarnya kau pikirkan. Ethel? Jangan bilang, kau jatuh cinta pada seorang manusia? Hahaha, kau sungguh lucu. Ethel.” Dia tertawa hambar, Ethelyne menutup sebelah matanya dengan tangan kanan. “Benar-benar sangat bodoh, hah. Kisah cinta? Kehidupan, cih. Semuanya hanya omong kosong belaka.”
“Master, apa Anda merindukanku?” tanya Laurie yang tiba-tiba muncul di luar barier, tidak hanya itu. Juga ada Vio yang menemani di sampingnya. “Huaa, Master. Aku sangat-sangat merindukan Anda!” Laurie berjalan ke arah Ethelyne dengan kedua tangan yang direntangkan.
“Berhenti di sana!”
Baru saja Ethelyne hendak memberitahunya, Laurie sudah lebih dulu menabrak barier. Untungnya dia tidak sampai terpental seperti Meli, namun dahi dan hidungnya terlihat memerah karena menabrak barier dengan keras.
“Huh, sudah kukatakan. Kenapa kau langsung saja maju?” tanya Ethelyne sambil memijat pelipisnya.
“Anda tidak memberitahu saja sejak awal! Lagipula, kenapa Anda memasang barier? Apa Anda benar-benar tidak ingin saya dekati?” tanya Laurie dengan mata berkaca-kaca.
“Kau yang bodoh!” Laurie mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya, dia menatap Ethelyne bingung. “Kenapa tiba-tiba memasang barier? Apa kau takut diserang diam-diam?” tanyanya yang kini dalam mode serius.
“Kau tidak bisa melihatnya ya?” gumam Ethelyne.
“Hm? Melihat apa?”
Vio berdecak, dia berjalan ke samping Laurie dan menggenggam tangan gadis itu. “Aura Nona berusaha menerobos barier, bukan hanya satu. Tapi ada tiga aura sekaligus, jika ini pelindung biasa. Maka aura itu akan bisa menghancurkannya dengan mudah.”
__ADS_1
“Tapi, kenapa Master mengeluarkan tiga aura sekaligus?”
“Bukan dia yang mengeluarkannya.”
Laurie mengalihkan pandangannya ke Vio, dia menatap pria itu bingung. “Apa maksudnya?”
Vio melirik Laurie, entah gadis itu pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh. “Aura yang keluar dari tubuh Nona di luar kendali.” Dia menunjuk ke arah Ethelyne. “Aliran energi sihirnya sangat kacau, itu sebabnya auranya keluar tanpa sebab. Jika terus seperti ini, maka energi sihir Nona bisa saja meledak dan membuat Nona mati.”
“Apa tidak ada cara untuk mencegahnya?”
Vio menggeleng. “Jika hanya satu, itu mungkin saja. Tapi ada tiga energi yang berbeda sekaligus, umumnya. Itu adalah hal yang mustahil untuk menstabilkan energi sihirnya, terlebih lagi. Energi-energi sihir itu saling bertolakbelakang dan tidak bisa bersatu.”
“Kenapa bisa begitu?”
Vio melirik Laurie jengah. “Kau itu hewan kontraknya kan, kenapa kau malah tidak tau apa yang dialami Tuanmu?”
“Yah, karena aku hanya akan mencari tau sesuatu jika diperintahkan oleh master. Lagipula.” Laurie mendekat dan berbisik. “Master itu sangat galak, pernah sekali aku ingin melihat inti energinya. Dan justru berakhir ketahuan dan dimarahi, diomeli, dan dihukum tidak boleh keluar dari ruang waktu selama sebulan.”
“Apa seburuk itu?”
“Cih, kau tidak tau? Tidak ada apapun di ruang waktu, jika kau berada di dalamnya. Kau akan melihat langit berbintang yang indah, namun pada saat yang bersamaan. Kau tidak akan bisa menemukan di mana ujung dari ruangan, aku pernah mencoba mencari ujungnya. Tapi tidak berhasil meski sudah berjalan selama 48 jam.” Laurie berdesah frustasi, dia menyia-nyiakan energi negatifnya yang berharga hanya demi mengetahui ujung ruang waktu. Namun ternyata, tetap tidak ada hasil apapun dan bahkan energi negatifnya hampir saja hancur di ruang waktu.
__ADS_1
“Oh.” Vio mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne yang sedari tadi diam dan memperhatikan dia dan Laurie. “Nona, apa Anda ingin mengatakan sesuatu?”