Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
70. Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

“Kalian diamlah, jangan memperkeruh suasana,” kata Eadric datar, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tanpa memperdulikan teman-temannya, Eadric menyentuh gagang pintu. Keningnya tampak berkerut saat berhasil memutar gagang pintu dan membuat pintu terbuka.


“Terbuka! Apa artinya, kita bisa kabur!” Zachary dengan semangat berlari keluar tanpa pikir panjang.


“Mungkinkah roh waktu itu lupa menutup pintu?” tanya Aelene sambil berdiri di samping Eadric.


“Entahlah.”


“Apa perlu memastikan keadaan terlebih dahulu?” Zion dan Ned ikut berdiri di samping Eadric yang hanya diam di depan pintu.


“Tidak perlu.” Eadric mengeluarkan belatinya, dia berjalan lebih dulu. “Tetap di belakangku, aku akan melindungi kalian.”


“Aku juga akan membantu!” kata Zachary semangat. “Aku tidak mungkin membiarkan Kakak ke6 bertarung sendirian.”


‘Bilang saja kau ingin pamer,’ batin Aelene, Zion, dan Ned.


“Aku juga akan ikut membantu.”


“Saya juga.”


“Kalau begitu, aku juga akan membantu!”


Keempat pria itu menoleh ke arah Aelene yang ikut menawarkan dirinya.


“Tidak boleh! Bagaimana jika kau terluka?? Jika kau lecet sedikit saja, Duke Alys akan memenggalku!”


“Benar, kau cukup berdiri di belakang kami. Biar kami yang menjagamu.” Zion memegang tangan Aelene dan mengecup punggung tangan gadis itu lembut, dia melirik Zachary yang tampak menggeram marah.


“Kau! Menjauh dari gadisku!”


“Ayolah Pangeran Zac.” Zion mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Aku hanya bercanda, lagipula. Nona Aelene pasti hanya mencintaimu seorang, benar kan?” Dia mengalihkan pandangannya ke arah Aelene.


Namun gadis itu hanya berjalan pergi tanpa berkata apa-apa.


“Aeli …” Zachary memasang raut wajah sedih.


“Jangan menunda lagi, kita harus segera pergi,” kata Eadric datar.




“Kenapa istana ini sangat rumit? Kita bahkan berputar-putar di tempat yang sama!”



“Eadric, kita harus apa?” tanya Aelene, pasalnya. Mereka telah melewati lorong yang sama selama tiga kali, padahal mereka melewati lorong yang berbeda. Namun mereka selalu kembali di lorong dengan empat belokan.



“Kiri.”



“Eh, tapi ini menuju ke ruang bawah tanah.” Aelene segera menyusul Eadric yang berjalan ke arah kini, mereka menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.



“Aku bisa merasakan energi sihir dari sini, mungkin saja ada yang terperangkap di sini.”



“Kalian, bukankah lorongnya semakin gelap? Aku merasa merinding.” Zachary mendekat ke arah Aelene dan memeluk gadis itu dari belakang. “Aku sangat takut, biarkan aku memelukmu sampai melihat cahaya lagi. Aeli.”



“Hah? Apa yang kau katakan?”



Zachary tiba-tiba berhenti berjalan, dia menoleh ke asal suara. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. ‘Lalu, siapa yang kupeluk?’


__ADS_1


“**Hihihihi** …”



“Aaa!! Hantu!!’ teriak Zachary histeris.



Eadric, Aelene, Ned, dan Zion menoleh ke arah Zachary yang tampak berjongkok sambil menutupi kedua telinganya dan mengumamkan sesuatu.



“Kau ini bicara apa? Tidak ada hantu di sini.” Zion menatap Zachary datar, dia memijat pelipisnya. “Ada bau aneh di sini, mungkin saja itu bisa menyebabkan halusinasi. Asal bisa menghilangkan efek halusinasi, maka kita bisa keluar dari kegelapan.”



“***Siapa kalian*** …”



Tiba-tiba, muncul suara di telinga mereka. Eadric, Zion, dan Ned segera mengelilingi Aelene dan melindungi gadis itu. Sementara Zachary, pria itu segera menggenggam tangan tangan Ned sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.



“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Eadric melirik sekitaran yang tampak sepi.



“***Aura kalian … kenapa seorang manusia bisa masuk ke mari? Apa kalian adalah tawanan yang dibawa Ratu kegelapan kembali***?”



“Berhenti menakut-nakuti kami, jika kau berani. Muncul dan hadapi kami secara langsung!”



“***Hahaha, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Kau pikir, kau bisa memancingku keluar dan membunuhku dengan bunga lima warna? Dasar para manusia bodoh***!”




“***Rimuru? Siapa dia, aku tidak kenal***.”



“Maksudku, Ethelyne.”



“***Tidak sopan! Bagaimana kau bisa memanggil nama Ratu kegelapan dengan santainya! Apa kau ingin mati***??”



Suara yang menggema di ruang bawah tanah itu tampak marah, angin tiba-tiba berhembus kencang.



“***Manusia sialan! Mati kalian***!!”



Dari angin muncul pisau air yang menyayat kulit mereka.



‘Energi sihirku, seolah menghilang. Apa yang terjadi?’ Aelene mendongak dan menatap ke arah pisau air dan menghindar, begitupun keempatnya. “Energi sihirku dihisap!”



“Kita sama,” jawab keempatnya bersamaan.


__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan??” Aelene menghindari setiap pisau yang menyerang, namun tetap saja ada bekas sayatan yang muncul. ‘Sial!’



Tiba-tiba, angin dan pisau air seolah menguap dan menghilang di udara. Kelimanya tampak kebingungan.



“***Apa yang*** …”



“**Berani sekali kau menyerang makananku**.”



Tiba-tiba, terdengar suara teriakan yang menggema. Muncul seorang pria dengan badan penuh darah berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan, sebelah tangannya tampak putus dengan satu mata yang juga terkena goresan panjang.



“Ma-maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba benar-benar tidak bermaksud,” kata pria itu sambil mempertahankan kesadarannya, bahkan tangannya yang putus tidak dapat beregenerasi.



“Kau seharusnya tidak bertindak seenaknya di istanaku.” Ethelyne berjalan keluar dari satu lorong bawah tanah dipapah oleh Meli.



“Tolong ampuni hamba, hamba kehilangan kendali karena manusia itu berani memanggil Anda dengan sebutan tak sopan.”



“Apapun yang mereka panggilkan, itu sama sekali bukan urusanmu! Lain kali, jika kau berani menganggu manusia yang ada di istanaku. Maka tidak akan ada kesempatan lain!”



“Baik.” Tangan pria itu tiba-tiba pulih, luka goresan panjang di matanya pun mulai sembuh. Dia menutup matanya dan menghilang dalam sekejap.



Ethelyne melirik kelimanya. “Kenapa kalian kemari?”



“A-bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Aelene hendak melangkah maju, namun terhenti saat Loreen tiba-tiba berdiri di hadapannya dan menghalangi jalannya.



“Aku baik-baik saja, lain kali. Jangan memanggilku dengan santainya, ini adalah istanaku. Para iblis tidak bisa menahan emosinya, apalagi nafsu saat melihat manusia. Jadi jangan berkeliaran sembarangan.” Ethelyne menghela napas. “Loreen.”



Loreen bergeser dan memberi jalan.



“Kemari.” Ethelyne memberi isyarat dengan sebelah tangannya.



Dengan langkah pelan, Aelene berjalan ke arah Ethelyne. Keempat pria yang berdiri di belakangnya tampak was-was.



Tanpa aba-aba, Ethelyne memeluk Aelene dan membuat gadis itu terkejut. “Aelene, waktuku tidak banyak lagi. Saat kembali ke kamar nanti, beritahu yang lain. Saat aku pergi, akan ada seorang gadis berumur sembilan tahun yang muncul. Dia akan menuntun kalian untuk keluar dari dunia bawah,” bisiknya pelan.



“Jika kau ingin membebaskan kami, lalu kenapa kau menangkap kami?” tanya Aelene ikut berbisik, dia hanya berdiri diam tanpa membalas pelukan Ethelyne.



“Kau akan tau pada saatnya, setelah memberitahu mereka nanti. Buat mereka semua membenciku, dan temui gadis kecil itu di ruang makan. Namanya Luna, kau mungkin tidak bisa melihatnya secara langsung. Saat kematianku diumumkan, segera ke ruang makan dan panggil nama Levana. Dengan begitu, kau akan bisa melihat Luna.”

__ADS_1



“Rimuru, tidak. Ethelyne, kenapa kau mengurung kami? Kenapa kau memberitahuku hal ini?”


__ADS_2