
Ethelyne menyentuh barier putih yang kini mengelilingi semua ruangan. ‘Barier ini … terbuat dari kekuatan suci kan?’
“Kau sudah di sini rupanya.”
Ethelyne menoleh ke asal suara, keningnya tampak berkerut saat melihat kakek yang pernah memberikannya jepit rambut. ‘Entah kenapa, auranya … sangat mengerikan, aku merasa seolah dikuliti hidup-hidup. Apa yang terjadi? Apa ini ilusi?’ Ethelyne menatap kakek tua itu datar. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Hahaha, aku hanya ingin mengetes kekuatanmu saja. Aku ingin lihat, bagaimana kau menggunakan kekuatan sucimu itu.”
Raut wajah Ethelyne berubah dingin. “Apa maksudmu?”
“Kau tidak perlu berpura-pura, Nona muda. Aku bisa melihat dengan jelas dari aura yang kau keluarkan, kau pasti Putri satu-satunya Lady Earlene Virgian. Bukan?”
“Begitulah, kenapa kau bisa tau?”
“Itu hal yang mudah.” Kakek tua mengangkat tangannya ke arah Ethelyne, tiba-tiba. Sebuah bola api berukuran sedang terbang ke arahnya.
Ethelyne mengangkat tangannya ke depan dan menciptakan perisai, dia menatap kakek tua itu dengan kening berkerut. ‘Sihir tanpa rapalan? Apa dia seorang penyihir?’ Ethelyne menghilangkan perisai dan menyerang dengan energi iblis, namun anehnya. Bola sihir yang dibuatnya seolah dihisap oleh barier yang mengelilingi keduanya. ‘Sial, aku lupa kalau aku berada di tengah-tengah kekuatan suci. Tentu saja aku tidak bisa menggunakan sihir gelap, satu-satunya cara hanyalah sihir suci.’ Sebelah warna mata Ethelyne berubah merah, pedang suci muncul di hadapannya. Dia memegang gagang pedang dan mengarahkan ujungnya yang runcing ke Kakek tua.
“Hum, ternyata kau bisa menggunakan pedang suci seperti Maria Virgian ya?”
“Berhenti berceloteh! Aku pasti akan membelahmu menjadi dua!” Ethelyne dengan cepat berlari ke arah kakek tua itu, bahkan lebih cepat dari suara. Dia muncul di hadapan kakek tua dan mengangkat pedangnya untuk membelah kakek tua menjadi dua.
__ADS_1
Namun, saat hendak mengenai kakek tua itu. Dia dengan tenang menahan pedang yang membuat Ethelyne terkejut.
Karena situasi yang kurang menguntungkan, dia melepaskan tangannya dari gagang pedang dan melompat mundur. Warna matanya perlahan-lahan berubah biru bersamaan dengan pedang suci yang menghilang.
“Hahaha, kau cukup kuat. Nak, tapi kau tidak bisa mengendalikan kekuatan besar yang ada di dalam dirimu dan juga pedang secara bersamaan. Meski begitu, aku akan memujimu karena kau terlihat lebih berpotensi dari Maria.”
‘Dari tadi dia tidak menyebut Lady Maria dengan sopan, apa dia tidak tau dia bisa saja dihukum oleh Murry.’ Ethelyne menatap kakek tua itu datar, dia menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya. Saat Ethelyne membuka matanya lagi, warna matanya kini berubah emas.
Kakek tua tampak terkejut melihatnya, dia mungkin tidak pernah memprediksi kemunculan Demon Queen di hadapannya.
“Kali ini, aku akan bersungguh-sungguh.” Sebuah pedang bercahaya merah-hitam melayang di hadapan Ethelyne, dia menggenggam gagang pedang dengan erat. Ethelyne menutup matanya. “Demi kebangkitan penguasa, datanglah. Terangi seluruh dunia dengan kegelapan, biarkan cahaya tidak pernah terlihat di dunia. Ivy.” Sebuah bola sihir ungu berukuran kecil muncul di hadapan Ethelyne. “Mili.” Bola sihir kembali muncul namun berwarna merah membara. “Melina.” Bola sihir yang muncul berwarna abu-abu. “Shalsa.” Bola sihir berwarna biru muncul. “Mira.” Kali ini, bola sihir yang muncul berwarna abu-abu tua. “Gianna, Melia, Rayna, Lili.” Hingga 9 nama roh kegelapan selesai disebut bersamaan dengan 9 bola sihir berwarna-warni muncul. Mulai dari bola sihir Gianna yang berwarna kuning, Melia berwarna cokelat, Rayna berwarna kuning yang lebih cerah, dan terakhir Lili yang berwarna hitam. Bola-bola sihir berbeda warna itu mengelilingi Ethelyne tanpa sedikitpun celah.
Dia membuka matanya dan menatap datar kakek tua di hadapannya, Ethelyne mengangkat tangannya ke arah kakek tua itu. “Black Fire Ball!”
Ethelyne tetap menatap datar tanpa ekspresi, satu bola sihir yang mengelilinginya menghilang. “Black water ball!”
Kali ini, muncul bola air di hadapan telapak tangan gadis itu. Namun anehnya, bola air itu tampak sangat jernih seolah tidak pernah tercemari apapun. Bola air itu semakin membesar dan membesar hingga hampir memenuhi semua tempat dalam barier, Ethelyne mengepalkan tangannya. Tepat saat itu, bola air tiba-tiba pecah dan membuat keduanya tenggelam. Namun belum sampai di situ, Ethelyne kembali bergumam. “Thunder.” Petir tiba-tiba menyambar tepat ke barier, anehnya. Barier yang terbuat dari sihir suci ditembus oleh petir dan membuat kedua orang yang tenggelam dalam air tersetrum, tidak. Lebih tepatnya hanya kakek tua itu karena sebelumnya, Ethelyne telah memasang barier transparan untuk melindungi dirinya dari air.
Kakek tua itu langsung menjadi gosong dan jatuh, karena adanya air. Tubuh kakek tua langsung mengambang.
Tidak berselang lama, air yang memenuhi semua barier perlahan-lahan surut hingga benar-benar menghilang dari lantai. Ethelyne menghilangkan bariernya setelah memastikan keadaan aman.
__ADS_1
Dia melirik bola sihir yang tersisa 6. ‘Untungnya dia tidak sekuat yang kubayangkan, jika tidak. Mungkin aku akan terpaksa menggabungkan semua kekuatan para roh dan menciptakan kekuatan yang baru.’ Ethelyne menatap kakek tua itu datar.
Barier yang mengurung mereka pun mulai menghilang, terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu. Ethelyne menoleh dan melihat Kakek pemilik toko yang berjalan ke arahnya sambil bertepuk tangan.
“Kau benar-benar sangat kuat, Nona Muda. Ini, sesuai janjiku sebelumnya.” Kakek pemilik toko menyerahkan gelang yang dilihat Ethelyne sebelumnya. “Dengan begini, gelang ini telah menjadi milikmu.”
“Terima kasih, tapi aku ingat. Aku juga mengajukan syarat agar bisa meminta satu permintaan, kuharap kau tidak melupakannya. Kakek pemilik toko.”
“Hahaha, tentu saja aku tidak akan lupa. Silahkan, permintaan apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin membawa kakek itu pergi.” Ethelyne menunjuk kakek tua yang kini terbaring di tanah dengan badan gosong dan rambut yang keriting dan kaku.
“Permintaan ditolak,” kata Kakek pemilik toko sambil tersenyum.
“Kenapa? Bukankah sewajarnya jika kau mengabulkan permintaanku, terlebih lagi. Aku memenangkan pertandingan.”
“Memang benar, tapi aku tidak bisa membiarkanmu membawanya.”
“Kenapa? Aku ada perlu yang amat penting dengannya! Aku tidak bisa berbicara dengannya di sini.”
“Karena dia tidak akan ikut denganmu, Nona muda. Aku sudah melihat kekuatanmu tadi, kau adalah setengah iblis kan?”
__ADS_1
“Ya, setelah kau tau kebenarannya. Apa kau akan melaporkanku pada istana dan membawaku secara paksa?” tanya Ethelyne sambil melirik kakek pemilik toko yang berjalan ke arah kakek tua.