Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
27. Teman??


__ADS_3

“Lalu aku harus bagaimana? Dragon Eyesightku mungkin saja baru level 5 atau 4, apa yang harus kulakukan untuk menemukan bunga itu?” Ethelyne mendesah frustasi, dia harus menemukan bunga itu secepat mungkin untuk tetap mempertahankan jiwa manusianya.


“Satu hal yang ingin saya katakan jika Master tetap akan naik ke gunung bersalju.” Laurie diam sejenak, dia menarik napas dalam-dalam. “Jangan pernah percaya apapun yang Anda lihat, karena kemungkinan. Semuanya adalah ilusi, jika Anda menemukan sesuatu yang tidak wajar. Anda harus segera mengabaikan dan berjalan pergi, jangan mencoba mendekati ataupun menyentuhnya. Karena kita tidak akan tau apa yang akan terjadi.”


“Aku akan ingat, tapi kenapa kau menyatakannya sekarang? Kenapa tidak memperingatkannya saat di gunung bersalju?”


“Master, kemungkinan benar. Ada medan perisai yang tidak memungkinkan Anda untuk menggunakan sihir, apalagi memanggil saya. Dengan kata lain, perjalanan kali ini akan menjadi lebih berbahaya lagi. Anda akan benar-benar menjadi manusia biasa yang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri di gunung bersalju.”




Ethelyne menguap, pikirannya penuh dengan ucapan Laurie hingga tidak bisa berkonsentrasi sama sekali terhadap pekerjaannya.



“Yang Mulia, apa Anda masih curiga pada gadis itu?” bisik Ned yang berdiri di samping Eadric sambil menatap sinis Ethelyne, entah kenapa. Dia sama sekali tidak menyukai Ethelyne dan menganggapnya sebagai penyihir karena telah membuat sang tiran cuek berbicara banyak hal.



“Tidak tau, tapi aku telah memastikan satu hal,” kata Eadric dengan cuek, dia hanya fokus pada gambar seorang gadis cantik berambut oranye dan mata emas yang tengah tersenyum.



“Memastikan apa?”



“Bahwa dia bukan iblis.”



“Eh, benarkah? Lalu siapa dia sebenarnya?” Ned diam-diam mengintip gambar yang dilihat Eadric, dia langsung terdiam saat melihat gambar itu.



“Aku masih mencari tau.”



‘Hoamm, aku sangat mengantuk.’ Ethelyne menutup mulutnya sambil menguap, matanya berkaca-kaca.



“Rimuru, pergi ke dapur dan siapkan teh untuk tamu kita yang akan datang.”



Kantuk yang awalnya menguasai Ethelyne tiba-tiba menghilang, dia membungkuk hormat dan berjalan keluar.



“Yang Mulia, kenapa Anda meminta Rimuru untuk pergi? Siapa tamu yang akan datang?”



Eadric menggulung gambar dan meletakkannya di meja. “Duke Zion akan kemari untuk membicarakan sesuatu.”



“Oh~ Duke yang terkenal memiliki banyak pasangan itu? Aku tidak berpikir dia akan memiliki orang yang dia cintai seumur hidup, lagipula. Dia mengganti pasangannya semudah mengganti pakaian, dasar orang itu.” Ned memijat pelipisnya pusing, sudah lama sejak terakhir kali dia bertemu dengannya. Sikap 'Temannya' itu tidak berubah juga.



“Mau bagaimana lagi, Zion adalah Zion.”



“Hahaha, Anda benar. Yang Mulia, saya kembali teringat dengan ekspresi wajahnya ketika melihat Anda dikerumuni banyak gadis cantik. Saat itu, saya sangat ingin tertawa melihat ekspresi cemberutnya.”



“Kalian membicarakanku lagi kan!” Tiba-tiba saja, Zion telah berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal. Dia melangkah ke arah Eadric dan menggebrak mejanya. “Kenapa memanggilku di cuaca seperti ini, Yang Mulia??”



“Aku perlu bicara padamu.” Eadric masih terlihat santai tanpa rasa takut akan amukan temannya.

__ADS_1



Zion yang melihat sikapnya berdecak kesal, dia duduk sambil menopang dagunya. “Ada apa?”



“Informan baru saja mengabarkan, salah satu pengkhianat akan datang ke rumah bordil malam ini.”



“Heh, lalu apa urusannya denganku?”



“Kau akan ikut aku ke sana dan menyamar sebagai pelanggan, jika informasi yang diberikan benar. Kita bisa menangkap penghianat dan membuatnya buka mulut.”



Zion menelungkupkan wajahnya ke meja tanpa memikirkan sopan santun terhadap pangeran di depannya. “Sebenarnya aku sangat malas untuk keluar malam ini, lagipula. Aku harus mencari seseorang.”



“Akan kuberikan banyak gadis cantik padamu.”



“Deal!” kata Zion sambil mendongak.



Ned yang melihat hal itu tersenyum tipis. ‘Dia tetap seperti biasanya.’



“Permisi, saya membawakan tehnya.”



Setelah dipersilahkan, Ethelyne melangkah masuk dan meletakkan cangkir di depan Zion dan Eadric. Dia kemudian menuangkan teh ke cangkir keduanya dan berjalan ke samping Ned.




“Siapa yang perduli,” jawab Ethelyne dengan acuh tak acuh. ‘Siapa yang akan menyangka tamu yang dikatakan Eadric ternyata Zion, huaa. Sungguh hari yang sial, semoga dia tidak mengenaliku dalam penyamaran ini.’



“Rimuru, kau juga akan ikut dengan kami.”



“Eh? Apa?”



“Kau akan ikut kami ke rumah bordil untuk mengumpulkan informasi, kau akan menyamar sebagai p\*lacur dan mengumpulkan informasi pada pengkhianat sebanyak mungkin.”



Ethelyne terdiam sejenak. “Baik, Yang Mulia.”



“Hei, apa kau yakin ingin mengajaknya?” tanya Zion berbisik, dia menatap penuh penyelidik Ethelyne. Penampilan yang sangat biasa meskipun terlihat sedikit misterius dengan mengenakan cadar, tapi bukankah itu hanya untuk menarik perhatian para pangeran saja.



“Ya, dia akan menjadi alat yang sempurna.”



“Aku bukan alat, selain itu. Aku akan tetap mengenakan cadarku,” kata Ethelyne tiba-tiba. ‘Dia pikir dia siapa memanggilku sebagai alat?? Eadric si bajingan sialan! Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu terpukau dengan penampilanku!’



“Itu tidak bisa, bagaimana kau akan menarik perhatian si pengkhianat jika kau mengenakan cadar?”

__ADS_1



“Tapi--”



“Tidak ada bantahan, ingat. Kau sekarang adalah pelayanku, jadi sebagai pelayan. Kau harus patuh!”



Ethelyne menggertakkan giginya, dia menunduk. “Baik.”



“Pergi ke kamarku, aku telah menyiapkan gaun yang akan kau gunakan.”



Ethelyne dengan patuh berjalan ke kamar Eadric, namun di dalam hati. Dia terus mengomel dan mengumpati Eadric, bukan hanya dia. Ned dan Zion juga ikut terkena amukan karena tidak berusaha membelanya.



“Heh, kau yakin?” tanya Zion kembali memastikan.



Eadric hanya mengangguk malas, Zion berdecak. Pandangannya tiba-tiba mengarah ke kertas yang tergulung di depannya, dia melirik Eadric yang terlihat fokus dengan pekerjaannya.



Zion yang memikirkan rencana usil langsung mengambil kertas itu dan langsung membukanya.



“Kau!”


“Tuan Zion!”



Zion terdiam saat melihat gambar di dalam kertas, dia menatap Eadric yang juga menatapnya dengan tatapan membunuh.



“Eadric, kenapa kau masih menyimpan fotonya?”



“Kenapa??” Eadric merebut kertas di tangan Zion dan kembali menggulungnya. “Itu bukan urusanmu sama sekali!”



“Apa kau …” Zion mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Eadric penuh selidik. “Masih mengingat dan mencintai Alyssa?”



“Itu sama sekali bukan urusanmu, Zion Brielle!!” kata Eadric penuh penekanan.



Zion tersenyum sinis. “Aku pikir kau sudah melupakannya.” Dia kembali duduk. “Ingatlah, Eadric. Alyssa adalah pasanganku dan akan tetap menjadi pasanganku apapun yang terjadi, entah dia masih hidup ataupun sudah mati. Dia hanya bisa menjadi milikku selamanya.”



“Kau!” Eadric menggertakkan giginya menahan amarah.



“Yang Mulia, tolong tenangkan dirimu. Jika tidak, Putri Alyssa akan sedih.”



Eadric menatap sengit Zion, dia menghela napas dan membuang muka.



“Eum, apa aku tidak terlihat aneh dengan pakaian yang terlalu terbuka?”

__ADS_1


__ADS_2