Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
71. Menjelaskan


__ADS_3

Tanpa menjawab pertanyaan Aelene, Ethelyne melepas pelukannya. “Kuharap, aku tidak melihat kalian lagi. Ingatlah satu hal.” Dia berjalan keluar dibantu Meli. “Jangan berkeliaran sembarangan di istanaku … Loreen, antarkan mereka kembali.”


“Baik, Yang Mulia!”




“Yang Mulia, apa yang Anda bisikkan pada Nona Alys tadi?” tanya Meli sambil meletakkan nampan berisi segelas cairan merah.



“Bukan hal penting, omong-omong. Bagaimana dengan para tahanan yang lain?”



“Semuanya masih terlelap dalam mimpi ilusi yang Anda buat setelah mengurung kerajaan Iceworld. Jika saya boleh bertanya, apa yang akan Anda lakukan pada mereka semua?”



“Tidak perlu tau.” Ethelyne mengambil gelas di atas nampan dan meminum cairan merah itu dalam sekali tegukan. “Eugh, rasanya selalu aneh,” gumamnya sambil meletakkan gelas kosong kembali ke atas nampan, dia menatap Meli yang sedari tadi hanya berdiri di hadapannya. “Apa kau ingin menyampaikan sesuatu?”



“Saya minta maaf.” Meli menunduk sambil menyembunyikan kepalan tangannya. “Apa Yang Mulia akan benar-benar … menjadikan mereka makanan para iblis?”



“Hem?” Ethelyne memiringkan kepalanya bingung. “Siapa yang bilang?”



Meli melirik ke arah lain dengan raut wajah ragu. “Saya tidak sengaja mendengar ucapan Tuan Harvey dan Tuan Gareth.”



“Oh, begitu ya.”



“Apa Anda …”



“Aku tidak akan membunuh mereka kok.” Ethelyne tersenyum manis, dia menatap gelang kosong di atas nampan. “Aku hanya ingin mereka tetap di sini sampai semuanya selesai, jika saatnya tiba nanti. Aku pasti akan membiarkan mereka kembali ke dunia manusia … Meli, bisa tolong mendekat?”



Meli mengangguk kecil, dia mendekat ke arah Ethelyne.



Gadis itu dengan sekuat tenaga berdiri dan berbisik dengan pelan. “Tolong rawat Luna saat aku pergi nanti, dia adalah putri kesayanganku. Jangan biarkan siapapun melukai ataupun menghinanya, Meli. Bukan, tapi Bibi. Aku hanya berharap padamu, aku yakin. Kau bisa melindungi Luna sama seperti kau melindungiku dari kematian ratusan tahun yang lalu.”



“Yang Mulia, kenapa Anda bisa … memiliki seorang anak??” tanya Meli terkejut, dia mundur selangkah. “Anda tidak … melakukan hal aneh dengan manusia kan!”



“Pfft.” Ethelyne menutup mulutnya menahan tawa, apalagi saat melihat raut wajah Meli yang tampak terkejut sekaligus kecewa. Entah kenapa hatinya sedikit ringan. “Aku tidak melakukan hal aneh kok, Luna terlahir dari kedua energi sihirku yang tidak stabil. Tapi tidak masalah, dia tidak akan bisa menggunakan sihir suci ataupun sihir gelap. Jadi, Bibi. Tolong lindungi dia sampai dewasa nanti, pergilah bersama para manusia ke dunia tengah. Jangan biarkan Luna menginjakkan kakinya di dunia iblis ini, dan satu hal lagi. Jangan pernah memberitahu siapapun tentang identitas Luna.”



Meli menghela napas lega. “Baik, saya akan melaksanakan semua perintah Anda. Tapi, kemana Yang Mulia akan pergi? Apa Anda akan pergi jauh sampai menitipkan Nona Luna kepada saya?”

__ADS_1



Ethelyne tersenyum tipis. “Ya, sangat jauh dan mungkin aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali. Tapi jangan khawatir, aku pasti akan datang kembali dan menjemput Luna.”



Meli menatap Ethelyne dengan raut wajah tak terbaca, dia menghela napas dan tersenyum. “Saya akan terus menunggu kepulangan Anda, Yang Mulia.”



~~~♥~~~



“Sudah aku katakan bukan! Kenapa kalian tidak percaya sih!” marah Aelene, dia sudah menjelaskan semuanya berkali-kali. Namun para ketiga sialan di depannya ini tidak pernah mau mendengarkannya.



“Aeli, seharusnya kau tidak percaya padanya. Mau bagaimanapun, dia itu seorang iblis.”



“Zac, lebih baik kau diam! Kau membuatku benar-benar marah kali ini!” Aelene menatap galak Zachary, namun justru terlihat lucu di mata pria itu.



“Seperti yang dikatakan pangeran ke7, kita tidak bisa mempercayai seorang iblis dengan mudah meskipun sudah bersama selama beberapa bulan … tidak, mungkin cuma beberapa hari.”



Aelene mengalihkan pandangannya ke arah Zion dan Eadric. “Apa kalian hanya akan diam saja??”



Zion yang tengah bersandar menghela napas panjang. “Kali ini, aku setuju pada Zac dan Ned. Kita tidak bisa mempercayai seorang iblis tidak perduli seberapa lama kita mengenal mereka, Aelene. Ingat ucapannya, bagi para iblis. Kita hanyalah makanan, mereka tidak mungkin membebaskan kita.”




“Aku percaya pada Aelene.”



Mata Aelene menatap Eadric penuh binar, akhirnya. Ada satu orang yang mau membela dan percaya pada ucapannya.



“Kak …”



“Apa kalian lupa, saat prajurit melukai bahu gadis itu dengan pedang. Bukankah darah yang keluar sama seperti kita para manusia, selain itu. Dia tidak bisa beregenerasi sama sekali, jadi mungkin saja. Dia diubah menjadi iblis oleh Ratu iblis yang sesungguhnya.”



Zion menatap Eadric yang duduk di sofa singgel sambil bersedekap dada. “Jadi maksudmu, dia bukanlah Ratu yang sesungguhnya?”



“Ya, mungkin saja begitu. Mungkin dia dipaksa untuk menyamar sebagai Ratu agar bisa membuat ratu sebenarnya tetap menjadi misterius, mungkinkah. Dia diancam menggunakan orang yang penting baginya.”



“Tapi bukankah itu hanya tebakan semata, bagaimana jika dia memang ratu yang asli?”

__ADS_1



“Maka kita hanya perlu membunuhnya,” kata Zion dengan mudahnya, namun dia langsung ditatap tajam oleh Eadric dan Aelene. Entah apa jampi-jampi yang diberikan gadis itu pada kedua sahabatnya.



“Menurut saya, bagaimana jika kita mengawasinya terlebih dahulu untuk memastikan apa gadis pen- maksud saya, Nona Ethelyne adalah ratu iblis atau hanya pengganti.”



“Yang dikatakan Ned bener, tapi bagaimana cara mengawasi Ethelyne? Barier yang dipasang di luar kamar terlihat sangat kuat, dengan keadaan kita yang kehabisan energi sihir saat ini. Mustahil untuk menghancurkan barier.”



Mereka langsung terdiam mendengar penuturan Aelene, dalam hati. Keempatnya menyetujui ucapan gadis itu.



“Aku memiliki rencana.”



Keempatnya menoleh ke arah Eadric bersamaan. “Rencana apa?”



Eadric diam dan menatap keempatnya. “Kematian.”



~~~♥~~~



“Apa kalian bodoh! Kenapa kalian tidak bisa menjaga lima manusia saja?!” tanya Ethelyne murka, dia baru saja mendapat kabar bahwa salah satu dari manusia yang menjadi tahanan di kamarnya itu tidak sengaja meminum racun dan sekarat.



“M-maafkan kami, Yang Mulia. Kami sungguh tidak menyangka pria itu akan nekat meminum racun di laci Anda.”



“Laci mejaku??” Ethelyne berjalan pergi dengan tergesa-gesa. ‘Apa dia bodoh!! Kenapa dia tidak bisa mengenali racun! Dasar sialan!!’



“Yang Mulia, Anda ingin--”



“Bunuh semua iblis yang menjaga keamanan kamarku dan ganti dengan yang lain.” Ethelyne langsung menyela ucapan Meli dan pergi menjauh tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk bertanya.



“Kenapa Yang Mulia tiba-tiba terlihat sangat marah?”



“Aku dengar, salah satu tawanan yang dikurung di kamar Yang Mulia tidak sengaja meminum racun mematikan dan sedang sekarat,” kata Loreen yang entah sejak kapan berdiri di samping Meli.



“Tawanan yang mana?” tanya Meli yang sudah terbiasa akan hal itu.


__ADS_1


“Tidak tau, tapi sepertinya dia seorang pria dengan warna mata ungu dan rambut hitam.”


__ADS_2