Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
41. Bibi


__ADS_3

“Selamat datang kembali, Yang Mulia Ratu.”


Para pelayan dan prajurit berjejeran sambil membungkuk hormat, Ethelyne dengan wajah datarnya berjalan melewati karpet merah sampai ke singgasana. Dia berbalik dan menatap mereka semua. “Kalian bisa tegak, bagaimana keadaan para tawanan?”


“Izin berbicara, Yang Mulia. Keadaan para tawanan kini sangat stabil, Nora menggunakan sihir ilusi dan membuat para tawanan tersiksa dalam ilusinya,” kata Loreen sambil membaca buku laporan.


“Lalu, di mana Kak Zen dan Kak Ryan?”


“Pangeran Pertama dan Pangeran Kedua sedang berburu di hutan gelap, saya juga ingin menyampaikan sesuatu.”


“Katakan.”


“Penobatan Yang Mulia Pangeran Ryan telah dibatalkan, dan Anda telah menjadi ratu. Tapi kami belum membuat pesta resmi untuk pengobatan Anda, jadi. Jika bisa, kami memohon agar Yang Mulia bisa tinggal di kerajaan iblis lebih lama agar kami bisa menyiapkan pesta untuk Anda.”


“Begitu ya? Kalau dipikir-pikir, aku memang menjabat menjadi ratu tanpa pesta penobatan. Kalau begitu, lakukan persiapan pesta. Setelah aku mengurus satu hal lagi di dunia manusia, aku akan kembali kemari untuk mengurus kerajaan iblis.”


“Kami akan melaksanakan perintah Anda, Yang Mulia.”




“Master, apa yang ingin kau urus di dunia manusia?” tanya Laurie sambil memakan cemilan di meja, entah sejak kapan. Gadis itu jadi doyan makan cemilan.



“Apa Nona ingin pergi ke hutan para peri?” tanya Vio yang tengah menikmati pemandangan, dia juga bisa menggunakan sihir transformasi dan menjadi pria berumur 20 Tahun yang sangat tampan dengan rambut berwarna perak yang sedikit acak-acakan.



“Ya, bagaimana kau tau?” tanya Ethelyne tanpa melihat lawan bicara, dia sedari tadi hanya fokus menulis sesuatu.



“Saya mengetahui dari ingatan Anda, sebelum ibu Anda. Lady Earlene mati, dia meminta Meli untuk memberitahu Anda soal hutan para peri, bukan.”



“Kau benar, aku memang ingin ke sana untuk mencari tau sesuatu.” Ethelyne membakar kertas di hadapannya dengan sihir api. “Omong-omong, aku tidak pernah bertemu Meli lagi. Dan juga, sepertinya aku bisa menggunakan sihir yang berbeda.”



“Anda benar, Master. Anda bisa menggunakan 6 sihir, pertama. Sihir kegelapan, sihir cahaya, sihir angin, sihir petir, sihir api, dan sihir air. Normalnya, manusia biasa hanya bisa menggunakan dua sihir sementara iblis hanya bisa menggunakan sihir kegelapan.”



“Jadi maksudmu aku ini tidak normal?” tanya Ethelyne sambil melirik Laurie sengit.



Gadis itu langsung salah tingkah. “Bukan begitu maksud saya! Saya hanya--”



“Mengaku saja, kau telah menyinggung hati Nona.” Vio mengangkat bahunya acuh.



Laurie segera menatapnya penuh permusuhan. “Serigala hantu seperti kau tidak usah banyak bicara!” katanya sambil menunjuk Vio.



“Apa maksudmu hah?! Aku ini serigala salju, bukan serigala hantu. Memang aku seperti kau, naga jelek yang bodoh!”



“Serigala hantu sialan!” Laurie berlari ke arah Vio namun tiba-tiba dia menabrak sesuatu dan jatuh. “Aww.”


__ADS_1


“Hahaha, rasakan itu!” Vio tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesakitan Laurie.



Gadis itu menatapnya kesal, dia mengangkat tangannya ke arah Vio dan membuat lingkaran sihir kecil yang membuat Vio tidak bisa bergerak kemanapun. “Rasakan itu!” balas Laurie sambil menjulurkan lidahnya.



“Naga bodoh, hancurkan pelindungmu sekarang juga!”



“Wlee, tidak mau. Biarkan saja kau mati di dalam pelindung itu, siapa suruh mengangguk!” Laurie berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, dia berjalan ke arah Vio dengan angkuhnya dan mengejek pria itu.



Vio yang tidak bisa bergerak ataupun menggunakan sihir berdecak, tiba-tiba. Pelindung yang mengganggunya pecah, Laurie tampak terkejut.



Baru saja hendak memasang senyum puas, sebuah barier menghalangi keduanya. Mereka terjebak di dalam barier berwarna hitam, merah, dan biru yang terlihat bergantian.



Laurie hendak menghancurkan barier, namun justru barier itu memakan sihir yang dia gunakan. “Apa, apa yang terjadi?” Pandangannya tanpa sengaja jatuh ke Ethelyne yang tampak fokus ke kertas di tangannya, Laurie berjalan ke arah barier dan menempelkan tangannya. “Master!” panggilnya sambil memukul barier. “Kenapa Anda melakukan ini pada saya?”



“Benar, Nona. Naga bodoh itu yang salah! Kenapa saya juga ikut kena imbasnya??”



“Serigala hantu! Berhenti memanggilku Naga bodoh!”




“Kau!”



“Kau!”



“Kau!”



“Kau!”



“Kalian berdua, diam!!” marah Ethelyne yang jengah, sebuah barier muncul di tengah-tengah dan memisahkan tempat kedua hewan spirit itu. Dia berdiri dan berbalik ke arah keduanya sambil menatap mereka marah. “Kenapa kalian berdua seberisik ini?! Kalian tidak lihat aku sedang konsentrasi!”



“Maaf, master/Nona,” gumam keduanya sambil menunduk dengan raut wajah bersalah.



Ethelyne memijat pelipisnya pusing. “Lupakan saja, kalian berdua bisa pergi. Kalian tidak akan dibiarkan keluar seminggu sebagai hukuman.”



“Apa?? Tapi--”


__ADS_1


“Kembali,” kata Ethelyne dengan raut wajah datar, muncul bola sihir di samping keduanya. Tiba-tiba, Laurie dan Vio seolah terhisap ke dalam bola sihir secara paksa dan menghilang. Tiga detik kemudian, bola sihir itu ikut menghilang dan barier yang dipasang Ethelyne mulai memudar dan menghilang.



Gadis itu duduk di kursi sambil memijat pangkal hidungnya. “Sialan, aku sudah sangat pusing karena mengurus banyak hal. Dan kalian malah menambah kepusinganku!”



“Yang Mulia, Meli ingin bertemu dengan Anda,” kata Loreen disertai ketukan pintu.



Ethelyne menghela napas. “Aku akan menemuinya, kau bisa pergi.”



~~~♥~~~



“Bagaimana kabarmu, Meli? Aku sangat merindukanmu akhir-akhir ini,” kata Ethelyne dengan senyum tipis sambil menggenggam tangan Meli.



Wanita itu tersenyum lembut, senyum yang hampir mirip dengan Earlene saat masih hidup. “Saya sudah baik-baik saja, Yang Mulia. Berkat sihir yang Anda gunakan, keadaan saya mulai membaik.”



“Syukurlah, aku sangat khawatir. Omong-omong, Meli. Apa kau ingin ikut aku ke dunia manusia?”



“Ke … dunia manusia? Untuk apa?”



Ethelyne terdiam sejenak, dia menatap Meli serius. “Aku ingin pergi ke hutan para peri.”



“Ohok, ohok. Apa??” tanya Meli yang terdesak salivanya sendiri, dia menatap Ethelyne terkejut. “K-kenapa Anda tiba-tiba ingin ke sana?”



Ethelyne melirik Loreen. “Tinggalkan kami berdua.”



Loreen membungkuk dan berjalan keluar, dia menutup pintu dan berjaga di luar sambil memastikan tidak ada yang masuk.



Ethelyne menatap Meli dengan senyuman tipis. “Aku telah mengingat semuanya, Meli. Ibu memintamu membawaku ke hutan para peri, meski sekarang sudah sangat terlambat. Tapi seharusnya tidak ada masalah yang serius, kan?”



“I-ingatan Anda sudah kembali? Lalu, apa Anda …” Meli menatap ke arah lain, dia tampak ragu dengan yang ingin dikatakannya.



“Aku ingat semuanya, semua yang dikatakan ibu dan bagaimana kematian ibu. Aku sangat beruntung memiliki Meli sebagai bibiku.”



Meli menutup mulutnya terkejut, air mata mengalir di pipinya. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya seharusnya tidak berbohong pada Anda sampai selama ini.”



Ethelyne berdiri dan memeluk Meli. “Aku mengerti, Bibi. Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi keponakanku, setidaknya. Sekarang kita bisa lebih akrab dan memiliki hubungan darah.”

__ADS_1


__ADS_2