Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
77. Mraz Arsyakayla


__ADS_3

Mata Mraz tampak membulat saat melihat angin berlalu begitu saja, bahkan barier yang terbuat dari kekuatan suci tidak bisa dihancurkan oleh sihir angin sama sekali. “Tidak mungkin!”


“Pffft.” Ethelyne menutup mulutnya menahan tawa, dia menatap Mraz remeh. “Apa ini yang kau katakan sihir terkuat? Bahkan barierku tidak bisa digores oleh angin lemahmu itu.”


Mraz menggeram marah, dia mengayunkan pedangnya beberapa kali. Namun tetap tidak ada hasil, bahkan satu goresan saja tidak tertinggal di barier itu. “Sialan! Bagaimana kau bisa melakukannya, hah?!” teriaknya marah.


Ethelyne menatapnya dengan senyuman. “Kenapa ya? Coba tebak deh.”


“Dasar iblis rendahan! Jangan membuatku marah atau kau akan benar-benar hancur berkeping-keping!!”


“Wah.” Ethelyne menutup mulutnya. “Aku sangat takut.” Dia bersembunyi di balik Feli. “Tolong lindungi aku, Feli,” katanya dengan nada sedramatis mungkin.


“Dasar iblis rendahan sialan!!” teriak Mraz marah, dia mengayunkan pedangnya ke sembarang arah dan membuat angin kencang menyapu sekitaran. Bahkan rakyat-rakyat yang ada di sana tidak terkecuali.


“Kau, bukankah kau ini sudah melampaui batas? Kau bahkan menyerang rakyatmu sendiri.”


“Siapa yang perduli! Orang-orang rendahan seperti mereka tidak bisa disamakan denganku yang seorang kaisar!”


Ethelyne menghela napas, dia menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, muncul berier yang menutupi setiap rakyat yang ada di sana tanpa terkecuali. Barier yang mengurung Ethelyne menghilang, dia melangkah maju. Baru saja beberapa langkah, muncul barier hitam pada Feli dan Anastasia.


“Kau ini terlalu berlebihan,” kata Ethelyne dengan nada datar. ‘Manusia sampah! Kau harus dimusnahkan dari dunia!’ Dia menarik napas dalam-dalam. ‘Tenang, tenang. Kau sudah janji tidak akan membunuh satupun manusia.’


“Hahaha, siapa yang perduli. Di dunia ini, hanya yang terkuat yang dianggap. Manusia lemah itu hanyalah sampah.”


“Kau ini …” Ethelyne mengepalkan tangannya, dia tiba-tiba menghilang dan muncul di hadapan Mraz. Dengan sepenuh tenaga, Ethelyne meninju wajah Mraz hingga pria itu terlempar ke belakang hingga menghancurkan beberapa bangunan. “Benar-benar sampah!!” lanjutnya dengan penuh amarah. “Dengar ya, jika bukan karena permintaannya. Aku tidak mungkin membiarkanmu masih hidup!” Dia berdecak. “Tidak, bukan hanya kau. Tapi semua manusia di sini pasti sudah kuhabisi, jika bukan karena janjiku padanya. Kalian semua telah menemui ajal kalian sekarang ini!!”


“Dasar iblis renda-- argh!!” Mraz berteriak keras saat sebelah tangannya putus, darah tidak henti-hentinya mengalir keluar dengan deras. Bahkan para rakyat sampai berteriak histeris, ada juga yang segera menutupi mata anak mereka.

__ADS_1


Dengan langkah pelan terkesan santai, Ethelyne berjalan ke arah Mraz yang kini menangis kesakitan. Dia berjongkok di hadapan pria itu. “Ada apa? Apa semenyakitkan itu? Tapi ini karena ucapanmu sendiri.” Ethelyne mengangkat dagu Mraz dengan jadi telunjuk. “Ingatlah, di dunia ini. Hanya yang terkuat yang bisa dianggap, dan kau itu …” Dia menunjuk ke arah dada Mraz. “Hanyalah sampah.”


“Sialan, kau … iblis rendahan sialan! Kau sampah!” maki Mraz.


Ethelyne menatapnya datar, tanpa banyak kata. Gadis itu menusuk tepat ke arah ulu hati Mraz. “Begitu kah?” tanyanya dengan amarah yang tertahan, dia tanpa perasaan menarik tangannya dan membuat Mraz mengerang kesakitan. “Jangan khawatir ..” Ethelyne tersenyum manis namun terkesan menyeramkan. “Aku tidak akan membiarkan orang yang menghinaku mati dengan mudah.” Dia berdiri dan berbalik lalu berjalan pergi. “Ivy, Mili, Rayna.”


Tiga bola sihir berwarna hitam muncul di hadapannya, bola sihir itu membentuk tiga gadis cantik yang berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. Lebih tepatnya, hanya dua gadis saja.


“Selamat siang, Yang Mulia. Bagaimana kabar Anda hari ini?” sapa Mili dengan senyum manisnya.


“Semoga Anda selalu diberkati, Yang Mulia,” kata Ivy yang masih berlutut.


“Semoga kekuatan Anda selalu melimpah dan semoga Anda selalu menjadi penguasa kegelapan,” kata Rayna yang juga masih berlutut.


“Tentu saja.” Ethelyne tersenyum, dia melirik ke arah Mraz yang tampak putus asa. “Mili, aku ingat kau bisa 'menyembuhkan'. Apa aku benar?”


“Bagus, Ivy. Gunakan kekuatan sihirmu untuk mengurung semua manusia yang ada di sini di ruang dimensi.”


“Hem, itu cukup merepotkan. Tapi asal Nona Laurie mau, maka saya bisa melakukannya.”


“Aku tidak perlu meminta izinnya, kau cukup pindahan mereka semua ke sana.”


“Tentu saja, Yang Mulia.” Ivy membungkuk hormat sambil memegang kedua ujung gaunnya.


“Terakhir, Rayna. Kau …” Ethelyne tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya melirik ke arah Mraz.


“Tentu saja, Yang Mulia. Saya bisa melakukannya dengan senang hati,” kata Rayna yang seolah mengerti kode dari Ethelyne, dia melangkah ke arah Mraz dan berdiri di samping Mili yang sudah lebih dulu menghampiri Mraz.

__ADS_1


“Sepertinya tugas kali ini akan sangat menyenangkan.”


“Kau benar, sudah lama aku tidak melakukan hal ini.” Mili meregangkan otot-otot bahunya yang kaku.


“Halo, perkenalkan. Aku Rayna, siapa namamu?” tanya Rayna sambil berjongkok dengan senyum manis di wajahnya.


“Kau … Mraz, Mraz Arsyakayla.”


“Ah, jadi kau keturunan dari Lady Daria ya. Pantas saja kau bisa menggunakan kekuatan suci.” Dia mengangkat tangannya ke arah Mraz. “Maukah kau berteman denganku?”


“Ber-teman?”


Rayna mengangguk dengan senyum manis yang sentiasa menguasai wajahnya. “Tentu saja, asal kau tau ya.” Dia mendekat dan berbisik sembari melirik Mili yang berdiri di sampingnya. “Mili itu meskipun terlihat galak, dia orang yang baik dan santai. Dia bahkan pernah menolong kucing kecil yang menyangkut di pohon, dia itu orangnya sangat manis.”


“Benar-kah?”


“He'em, jadi. Mari berteman.” Rayna kembali mengulurkan tangannya, kali ini. Mraz membalas uluran tangannya dengan sedikit ragu-ragu. Rayna tersenyum manis. “Terima kasih.” Matanya menyipit menatap Mraz. “Kau akan mati.”


Tiba-tiba, sebuah pasir muncul dari telapak tangan Rayna. Pasir itu merambat ke tangan Mraz dan terus merambat hingga memenuhi seluruh tubuhnya.


“Aku … tidak bisa bergerak.” Mraz meringis saat pasir yang memenuhinya masuk ke lukanya.


“Apakah begitu sakit?” tanya Rayna sambil memiringkan kepalanya. “Kasihan sekali, tapi … ini balasan karena menganggu Ratu kami.” Dia melepaskan tangan Mraz dan berdiri lalu melangkah mundur. “Sisanya kuserahkan padamu, Mili.”


“Kau … pengkhianat!!”


“Pengkhianat? Sejak kapan kita menjadi sekutu?” tanya Rayna dengan tatapan remeh. “Kau seharusnya sejak awal tidak mempercayai kami, kami adalah roh. Roh kegelapan, aku roh pasir. Dan dia.” Dia menunjuk ke arah Mili yang masih diam berdiri. “Adalah Roh … Api.”

__ADS_1


Tiba-tiba, sebuah api membakar Mraz. Pria itu berteriak kesakitan, apalagi api yang terus membakar tubuhnya. Dengan dirinya yang sedang terluka dan tertutup pasir, membuatnya menjadi sangat lemah dan tidak berdaya.


__ADS_2