Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
85. Dungeon


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba muncul berier?” Ned mengetuk-ngetuk barier itu. “Dari kekuatan perlindungannya, sepertinya berier ini mirip dengan berier yang digunakan ratu iblis untuk mengurung kita.”


“Jangan-jangan …” Kelimanya saling tatap menatap, mereka seolah bisa membaca isi pikiran masing-masing.


Tiba-tiba, suara dentuman yang cukup keras mengangetkan mereka. Semuanya menoleh ke asal suara, ketiga dark knight kini tidak bisa lagi bertarung. Tangan dan kaki mereka lepas, selain itu bagian dada dark knight terlihat jelas bekas cakaran panjang.


“Apa yang harus kita lakukan? Seharusnya kita tidak berusaha mencari jalan keluar dan berakhir masuk ke dungeon.”


“Dark knight!” Aelene kembali memanggil tiga dark knight yang secara otomatis menyerang penguasa Dungeon.


“Aeli, jangan terus menggunakan sihirmu. Kami masih bisa melindungimu.”


“Ya, kau harus menghemat energi sihirmu,” kata Eadric sembari menyerang penguasa Dungeon dengan belati angin.


“Apa kalian bercanda?? Kalian sudah hampir mencapai batas! Berhenti berpura-pura kuat!”


“Hehe.” Zachary menatap Aelene dengan cengengesan, dia menyerang penguasa Dungeon dengan menggunakan sihir air.


“Jangan tertawa!” Aelene hendak membantu menyerang dengan sihir logam yang dimilikinya, namun belum sempat bereaksi. Sebuah kapak besar terarah ke arahnya, dia yang terkejut tidak sempat menghindar.


Begitupun keempatnya yang tidak sempat melindunginya.


“K-kekuatan itu …” Penguasa Dungeon tampak terkejut saat sebuah asap gelap menghalangi kapak yang hampir mengenai Aelene yang menutup matanya, dia segera menjatuhkan kapaknya dan berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. “Maaf karena tidak mengetahui kehadiran Anda, Yang Mulia Ratu.”


“Tidak apa-apa.”


Mereka mendongak ke asal suara, seorang gadis familier dengan rambut cokelat terbang dengan sepasang sayap berwarna hitam. Gadis itu mendarat di samping Penguasa Dungeon dan sayapnya menghilang.


“Kau sudah berusaha keras, Reli.” Ethelyne tersenyum.


“Ya! Maaf sudah sempat membuat Anda dalam masalah.”


“Sudah kukatakan tidak apa-apa.” Ethelyne melirik ke arah kelimanya. “Oh, lama tidak bertemu. Kenapa kalian bisa ada di berada di dalam Dungeon? Tawananku yang manis.” Mata Ethelyne tampak memicing dengan raut wajah dingin.

__ADS_1


“E-ethel …” Mata Aelene tampak berkaca-kaca, dia hendak melangkah ke arah Ethelyne namun langsung terhenti saat mendengar kata-kata gadis itu selanjutnya.


“Makananku seharusnya tidak berkeliaran di istanaku, bukan. Sepertinya aku terlalu memanjakan kalian sampai membuat kalian begitu tidak tau diri dan keluar sesuka hati, cih. Dasar manusia rendahan.” Ethelyne berdecak sembari melirik Aelene dengan tatapan dingin.


“E-ethel?” Tangan Aelene yang terulur ke arah Ethelyne tampak bergetar, mata gadis itu berkaca-kaca menahan tangis.


“Kau terlalu keterlaluan!” Zachary berdiri di hadapan Aelene dan menutupi gadis itu.


“Hah? Bukankah kalian yang keterlaluan, kalian dengan seenak jidat berjalan-jalan di istanaku. Kalian ini menganggapku sebagai apa, hah?!” teriak Ethelyne murka.


“Ethel, kenapa. Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah?” tanya Aelene yang sambil menangis.


“Berubah?” Ethelyne tersenyum sinis. “Apa maksudmu? Sejak awal, aku memang begini.” Dia berjalan ke arah Aelene dan mengangkat dagu gadis itu dengan jari telunjuk. “Dengarkan baik-baik, jika bukan karena keinginan jiwaku yang lain. Sudah lama kujadikan kalian sebagai makananku.”


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ethelyne, mereka semua termasuk penguasa Dungeon terkejut melihat betapa beraninya orang itu menampar Ratu Iblis.


“Manusia hina!!”


“Zachary!” teriak Eadric bersamaan dengan suara penguasa Dungeon.


“Aku tidak akan sungkan jika kau berani melukai Aeli!”


“Melukai?” Ethelyne menaikkan sebelah alisnya sembari melirik Aelene yang menangis sesegukan. “Memang kau lihat aku melukainya?”


“Kau melukai hatinya! Kau tidak tau hati wanita itu sangat rapuh!”


Ethelyne menghela napas, dia berbalik dan berjalan ke arah Reli. “Dasar bodoh,” katanya sambil menatap mereka semua. “Kau pikir, hanya dengan sekali tamparan. Kau bisa membuatku mendapat luka dalam? Hah, jika berani. Bertarunglah denganku, dengan begitu. Saat kau mati, aku bisa memberi alasan pada Ethelyne.”


“Ba--”


“Zac, berhenti.” Aelene menarik ujung lengan pakaian Zachary sembari menunduk. “Jangan lakukan apapun.”


“Tapi dia sudah melukai--”

__ADS_1


“Ini bukan salahnya!!” teriak Aelene, dia melirik Ethelyne yang juga menatapnya datar. Tak ada ekspresi apapun di matanya, hanya ada. Kebosanan dan ketidakpedulian.


“Sungguh cinta yang mengharukan.” Ethelyne bertepuk tangan dengan raut wajah yang tetap datar, dia melirik Reli. “Lepaskan mereka, biarkan mereka pergi dari dungeon.”


“Tapi, Yang Mulia …”


“Jangan khawatir.” Ethelyne berjongkok sembari menatap mata Pria yang dipanggil Reli. “Setiap setahun sekali, aku akan membawakanmu lima manusia sebagai makanan. Lepaskan mereka.”


Reli menatap ke arah lain. “Baiklah …”


Ethelyne tersenyum, dia berdiri dan menatap ke arah kelimanya. “Kuberi kesempatan terakhir, jika terjadi lagi. Maka tidak akan kuselamatkan lagi!” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi, di hadapannya tiba-tiba muncul portal. Dia menembus portal dan seketika portal menghilang dalam sekejap.


“Kalian beruntung kali ini.” Reli berdiri sembari mengibaskan tangannya. “Jika masuk ke Dungeon ini lagi, kalian tidak akan lepas lagi!”




“Ya, mau bagaimana lagi. Mereka membuatku sangat kesal! Jika bukan karena permintaanmu, aku pasti sudah mencabik-cabik mereka sampai mati!” geram Ethelyne yang kini tengah duduk di awan gelap sambil menopang dagunya dan menatap jiwa suci yang masih dalam keadaan sama. “Aku tidak kejam ya! Asal kau tau, mereka sudah mencoba melarikan diri dua kali dan dua kali juga mereka hampir mati. Cih, manusia-manusia itu benar-benar merepotkan. Kenapa tidak memberikan mereka ilusi juga sih??”



William yang berdiri di belakang Ethelyne hanya bisa menghela napas melihat gadis itu berbicara sendiri. ‘Apa aku harus menganggap Ratu iblis ini gila? Tapi dia berkomunikasi dengan Lady Ethelyne menggunakan koneksi pikiran, tapi. Dia malah terlihat aneh karena seolah berbicara sendiri.’ Dia kembali menghela napas. ‘Apa yang harus kulaporkan jika aku sendiri tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Lady Ethelyne.’



“Ya, ya. Terserah kau saja, lagipula. Mau menyukai salah satu manusia itu kan,” tebak Ethelyne dengan senyum usil. “Sudahlah, jangan mengelak lagi. Aku tau semuanya, dia juga menyukai kau kok. Jadi cepatlah bangkit agar kau dan dia bisa bersama, lagipula. Aku sudah muak berpura-pura baik di hadapan mereka.” Dia berdecak. “Kau lupa ya, bahkan aku membutuhkan kesadaran penuh untuk mempertahankan nafsuku agar tidak memakan mereka … Ya, ya. Aku mengerti, aku selalu ingat janjiku padamu kok. Aku tidak akan mengingkarinya selama kau belum dibangkitkan.” Ethelyne terdiam sejenak, dia berdiri dan berjalan pergi.



“Eh, sudah selesai?”


__ADS_1


“Ya,” jawab Ethelyne singkat, dia menatap jiwa sucinya yang selalu diikat dengan rantai sihir dan terus dikelilingi oleh kekuatan sihir yang berbeda-beda. ‘Cepatlah bangku agar aku tidak kesepian lagi.’


__ADS_2