
“Lalu aku harus bagaimana? Pura-pura terkejut?”
“Setidaknya, bereaksilah sedikit! Kau tidak senang kalau ibu sudah bereinkarnasi!”
“Aku tidak perduli.” Kathelyne menatap lurus ke depan sambil bersedekap dada. “Lagipula, aku tidak ingin memikirkan hal sudah berlalu.”
“Cih, tidak asik sekali.” Ethelyne memetik bunga di depannya dan memutar-mutar bunga itu. “Bukankah lebih baik kalau mengganti bunganya saja, lagipula. Percuma saja kalau menyiram mawar hitam, warnanya sampai kapanpun tidak akan berubah.” Dia terdiam sejenak sambil menatap serius bunga di tangannya. “Kathel.”
“Hm?”
“Bagaimana … kalau kita bebaskan manusia-manusia itu sekarang?”
Kathelyne menatap Ethelyne dengan kening berkerut. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Apa kau tidak yakin padaku??”
“Bukan seperti itu, hanya saja … wabahnya sudah berakhir dan kita tidak bisa menahan para manusia lebih lama lagi di dunia ilusi, terlebih lagi. Sepertinya para iblis yang menjaga ruang bawah tanah tidak bisa menahan diri lagi.”
Kathelyne terdiam sejenak. “Lakukan saja yang kau mau.”
“Sungguh??” tanya Ethelyne sambil menatap Kathelyne penuh harap.
“Hm,” dehem Kathelyne sambil menatap ke arah lain.
“Sungguh ya!” Ethelyne menggenggam kedua tangan Kathelyne dengan raut bahagia. “Kau tidak akan menyesal kan??”
“Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!”
Ethelyne memeluk Kathelyne erat dan berdiri lalu berlari ke arah istana dengan riangnya.
Kathelyne yang melihat itu terdiam, dia tersenyum tipis. ‘Yang seperti ini tidak buruk juga.’
“Master!!”
Ethelyne menoleh ke asal suara, namun belum sempat bereaksi. Seseorang sudah lebih dulu menubruk Ethelyne hingga jatuh terduduk. “L-laurie??”
“Master, saya sangat merindukan Anda!”
Ethelyne tersenyum, dia mengusap punggung Laurie yang memeluknya sangat erat. “Aku juga merindukanmu, bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Master tidak tau.” Laurie mendongak menatap wajah Ethelyne dengan mata berkaca-kaca. “Lima tahun belakangan ini, saya hampir mati karena terus diganggu oleh jiwa Master yang lain.”
“Benarkah? Kenapa Kathel mengganggumu?”
“Tidak termasuk menganggu sih, hanya saja. Dia melatihku hingga hampir mati setiap harinya, apalagi saat tiga tahun belakangan. Saya benar-benar akan mati kalau saja Vio tidak membantu saya.”
Ethelyne tersenyum canggung, dia melirik Vio yang sedari tadi hanya berdiri diam tak jauh dari keduanya. “Sepertinya kau tidak merindukanku ya.”
“Tolong jangan bercanda, Nona.”
“Hahaha, baik-baik. Aku tidak akan bercanda lagi, omong-omong. Kalian semakin akrab saja ya, jangan-jangan. Kalian sudah jadi sohib lagi.”
“Serigala bodoh itu? Sohib?!”
“Naga sialan itu?? Sohib?! Tolong berhenti bercanda, Nona. Saya tidak pernah berniat untuk menganggapnya sebagai teman.”
__ADS_1
“Saya juga!”
“Laurie dan Vio saling menatap penuh permusuhan.
“Aduh, sepertinya aku salah paham ya.” Ethelyne menutup mulutnya pura-pura terkejut. “Kupikir hubungan kalian sudah lebih baik, sepertinya aku salah paham ya.”
“Benar-benar, tidak mungkin saya yang agung ini berteman dengan serigala beruban seperti dia!” kata Laurie sarkas sambil menunjuk Vio dengan raut kesal.
“Kau! Dasar Naga sialan!”
“Baik-baik, sudahi pertengkaran ini. Ayo kita kembali ke istana.”
Laurie berdiri dan membantu Ethelyne berdiri, sebelum berjalan pergi. Ethelyne sempat melirik ke arah kerajaan Iceworld, dimana rakyat-rakyat yang sedang ada di tengah kota tampak kebingungan. ‘Tidak buruk …’ Dia berjalan pergi diikuti Laurie dan Vio.
“Apa menurutmu, Nona benar-benar menyukai seseorang?”
“Sepertinya begitu, sebelum pergi aku melihat Master menoleh ke arah kerajaan Iceworld sambil tersenyum tipis. Kira-kira, dia menyukai siapa ya? Apa kau bisa menembaknya?”
“Entahlah.” Vio menatap lurus ke depan. “Mungkin saja aku tau,” gumamnya nyaris tanpa suara.
~~~♥~~~
“Cih, padahal kupikir kau akan menyambut kepulanganku dengan meriah.” Dengan raut kesal, Ethelyne duduk sambil bersedekap dada.
“Kau tidak kembali dari perang, untuk apa menyambutmu,” kata Kathelyne dengan datar.
Ethelyne kembali berdecak, dia menatap seisi kamar yang tidak berubah sama sekali. “Menurutmu, apa … tidak jadi.”
“Tanyakan saja kalau ingin kau tanyakan, tidak perlu sungkan.”
“Iya, tadi itu hanyalah ucapan sembarangan saja.” Ethelyne tersenyum tipis. “Apa kau khawatir padaku?”
“Hah?? Kenapa kau tiba-tiba mengalihkan topik?”
“Aku tidak mengalihkan topik kok, memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Itu sebabnya aku menanyakan hal lain, ayo jawab. Apa kau khawatir padaku?”
Kathelyne mengalihkan pandangannya menatap jendela. “Tidak.”
“Yang benar??”
__ADS_1
“Iya, aku tidak khawatir sama sekali.”
“Hah, sayang sekali.” Ethelyne menghela napas dengan raut kecewa. “Padahal aku pikir kau khawatir padaku, itu sebabnya kau selalu bolak-balik ke hutan para peri hanya untuk menemuiku. Bahkan--”
“Diam! Kau mendengar semuanya dari mana?!”
“Aku dengar dari William,” kata Ethelyne dengan raut polos tanpa menyadari wajah Kathelyne yang memerah entah karena malu atau marah.
‘William sialan itu! Kubunuh kau nanti!!’
Ethelyne terkekeh geli dan membuat Kathelyne menoleh ke arahnya dengan kebingungan. “Kenapa kau tertawa??”
“Sepertinya kau lupa,” kata Ethelyne di sela tawanya. “Kita pernah satu jiwa, dan ucapan dalam hatimu itu. Aku bisa mendengarkannya,” katanya cekikikan.
‘Sialan!’
“Berhenti mengumpat atau kau akan cepat tua.”
Dengan kesal, Kathelyne berjalan pergi tanpa menghiraukan Ethelyne yang terus cekikikan.
Saat pintu tertutup dan terdengar suara langkah kaki menjauh, tawa yang terus keluar dari mulut Ethelyne perlahan-lahan mereda. Gadis itu menatap datar pintu hang tertutup rapat. ‘Bagaimana caranya agar kuberitahu pada Kathel kalau sebenarnya reinkarnasi Lady Maria itu adalah Aelene. Sepertinya aku harus mencari tau terlebih dahulu apa Aelene benar-benar reinkarnasi Lady Maria atau mungkin hanya kesalahpahaman saja.’ Dia tersenyum. ‘Sudahlah, lebih baik aku menemui Luna.’
~~~♥~~~
“Apa informasi ini sudah terpercaya?” tanya Kathelyne sambil membalik halaman buku bergender action di tangannya.
“Ya, Yang Mulia. Saya sudah memastikannya, informasi ini 90% benar.”
“Ternyata begitu.” Kathelyne menutup bukunya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pria berpakaian hitam yang sedari tadi berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. “Kerja bagus, kau bisa pergi sekarang.”
Pria itu berdiri dan membungkuk hormat, dia kemudian berubah menjadi asap dan menghilang di udara.
Kathelyne menghela napas dan melirik kertas yang bertumpukan di depannya. ‘Mungkinkah ini yang ingin diberitahukan Ethel sebelumnya? Tapi kenapa dia tidak langsung memberitahuku? Apa dia masih ragu kalau Aelene itu reinkarnasi dari Maria?’ Dia memijat pelipisnya. ‘Kali ini akan benar-benar merepotkanku … atau, biarkan saja dia mencari informasinya sendiri. Lebih baik aku mengawasinya secara sembunyi-sembunyi dan tanpa sepengetahuannya, tapi dari pada itu. Bagaimana caranya agar dia tidak tau? Instingnya sebagai gadis suci pasti sangat tajam, terlebih lagi. Dia bisa membaca pikiranku.’ Dia menghela napas sembari memijat pelipisnya. “Yang kali ini benar-benar merepotkanku.”
~~~♥~~~
“Mama! Sudah Luna peringatkan untuk tidak curang!” kata Luna kesal, sudah hampir sepuluh kali dia bersembunyi. Namun dia tempatnya selalu saja diketahui Ethelyne.
“Loh, padahal kan. Mama tidak curang, Mama hanya mendapat pengetahuan karena sihir Mama yang menyelimuti dunia ini.” Ethelyne memasang raut wajah polos yang dibuat-buat.
“Itu kan sama saja dengan curang! Mama jadi menemukan Luna dengan sangat cepat kan!”
__ADS_1