
“Nona Ethelyne? Anda darimana saja?”
Ethelyne yang tengah berjalan sambil mengendap-endap dikagetkan oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya, dia menoleh dan cengengesan. “Oh, hay Meli. Kenapa kau ada di sini?”
Meli terdiam sesaat. “Oh ini, saya mengantarkan makanan ke kamar Yang Mulia Ratu.”
Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Berarti Kathel ada di kamarnya kan?”
“Maaf, Nona. Tapi Yang Mulia sedang tidak ada di ruangannya, itu sebabnya saya membawa makanan ini kembali.”
Raut wajah Ethelyne berubah kecewa. “Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin bertemu dengannya. Tapi sudahlah, aku akan ke kamarku.” Dia berbalik dan melambaikan tangannya, raut wajahnya berubah datar. ‘Kathel sebenarnya pergi kemana? Entah kenapa, aku susah sekali bertemu dengannya akhir-akhir ini, apa terjadi sesuatu?’ Ethelyne tersenyum. ‘Aku pasti terlalu khawatir, lagipula Kathel itu Ratu kegelapan, tidak mungkin dia bisa dikalahkan dengan mudah. Lebih baik aku memikirkan bagaimana cara agar bisa menyelinap masuk ke istana.’
~♥~
Hari-hari berlalu dengan membosankan, bagi Ethelyne. Selama seminggu ini, Kathelyne hilang entah kemana dan membuat Ethelyne terpaksa mengambil alih pekerjaannya yang menumpuk.
Selama seminggu juga, Ethelyne hanya bisa tidur 2 jam setiap harinya. Bukan hanya dia, para bawahan Kathelyne pun sama. Mereka bahkan lebih parah, bekerja setiap hari tanpa waktu istirahat ataupun sekedar menghirup udara segar.
“Cukup, aku sudah muak!” Ethelyne berdiri sambil melempar pena di tangannya, dia menatap ke arah Laurie dan Vio dengan kesal. “Apa kau tidak bisa membantuku sama sekali?? Lihat lingkaran hitam di bawah mataku ini! Kau sama sekali tidak berperasaan!”
“Saya tidak mengerti apapun tentang kerajaan iblis, bagaimana saya bisa membantu master?” tanya Laurie beralasan.
“Maaf, Nona. Tapi saya tidak bisa banyak membantu Anda karena ikatan kontrak kita tidak kuat, terlebih lagi, saya tidak mengerti dengan isi dokumen-dokumen itu sama sekali,” jawab Vio dengan tegas.
Ethelyne menatap keduanya pasrah, dia duduk dan menopang dagunya sembari membuka-buka dokumen di depannya dengan bosan.
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu.
Ethelyne melirik Laurie.
“Yaampun master, saya sedang malas bergerak.”
Ethelyne menatap Laurie datar, dia mengalihkan pandangannya ke arah Vio. Pria itu seolah menghindari tatapannya, namun. Tidak sampai semenit.
Vio menghela napas. “Baik, baik. Saya akan membuka pintu.” Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Ada apa?”
“Maaf menganggu, Tuan. Tapi ada undangan dari kerajaan Manusia.”
Ethelyne yang tengah memainkan pena di tangannya melirik ke arah Vio yang menerima undangan tersebut dan kembali menutup pintu, pria itu tampak membaca undangan itu sekilas.
“Ada apa? Undangan dari siapa?” tanya Ethelyne saat menyadari perubahan raut wajah Vio.
__ADS_1
Pria itu menatap Ethelyne dengan tatapan aneh, dia berjalan cepat ke arah meja Ethelyne dan menyerahkan undangan itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Meskipun diliputi oleh rasa bingung, Ethelyne tetap mengambil undangan itu dan membukanya. Dia seketika tertegun saat melihat nama yang tertera di atas undangan. ‘Tidak mungkin...’
Vio melangkah mundur hingga sampai di samping Laurie yang tampak penasaran dengan isi undangan.
“Apa isinya?” bisik Laurie.
Vio melirik Laurie sekilas, dia mendekat dan berbisik.
Laurie yang mendengar hal itu langsung membulatkan matanya, dia menatap Ethelyne kaget. “M-master...”
Ethelyne berdiri dari duduknya. “Ayo kita hadiri, undangan pernikahan ini.”
“Tapi master--”
“Kembalilah, Laurie, Vio.”
Laurie dan Vio tidak dapat menolak perintah, keduanya menghilang dan hanya menyisakan sedikit jejak sihir.
Tidak sampai sedetik setelah keduanya hilang, Ethelyne kembali duduk di kursinya, dia menelungkupkan wajahnya ke meja, diam-diam menangis. ‘Kenapa...’
~♥~
Istana dihias dengan indah dan megah.
Sementara itu, di ruangan lain. Seorang gadis cantik tengah didandani dengan sangat indah. Gaun berwarna emas dengan renda berwarna sama, rambutnya ditata sedemikian rupa hingga tampak mirip seorang ratu.
“Wah, Anda cantik sekali. Nona Sela,” puji seorang pelayan.
“Ah, benarkah? Ini semua juga berkat kalian, kalian mendandaniku dengan sangat indah. Terima kasih.” Sela, tunangan dari pangeran Ke7, Eadric. Kini tersenyum tipis, manis dan terkesan anggun.
“Anda bisa saja, tapi semua ini karena Nona sangat cantik, gaun manapun tampak cocok dengan Anda. Bahkan tanpa make up pun, Anda sudah seperti Dewi, tidak, bahkan lebih.”
Sela terkekeh kecil, dia menunduk dengan raut sedih. “Seandainya aku memang secantik itu, Pangeran Eadric pasti tidak akan mengabaikanku.”
“Itu tidak benar, Nona. Saya yakin, Yang Mulia pangeran tidak bermaksud mengabaikan Anda, beliau pasti hanya terlalu sibuk sehingga jarang menemui Anda,” hibur pelayan lain.
Sela mendongak dan tersenyum. “Iya.”
~♥~
__ADS_1
“Apa kau sungguh mau menikah dengannya?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Jangan jadi dingin begitu.” Seorang pria yang tak lain adalah Zachary itu mengangkat bahunya acuh, dia menatap Eadric yang tengah didandani. “Ethelyne memang sudah lama menghilang, tapi bukan berarti dia benar-benar menghilang kan? Bisa saja dia bersembunyi di suatu tempat karena suatu alasan, kau tidak seharusnya menyerah untuk mencarinya.”
“Kubilang itu bukan urusanmu! Dan jangan pernah membicarakannya lagi.”
“Oh ayolah, kenapa kau--”
“Tolong berhenti, Tuan Putri. Yang Mulia pangeran sedang--”
“Menyingkir! Dasar pelayan rendahan!”
Eadric dan Zachary menoleh ke arah pintu, tempat suara dihasilkan.
“Ada apa?” tanya Zachary saat melihat sekarang pelayan menabrak pintu hingga terjatuh.
“M-maafkan saya, Yang Mulia pangeran.” Pelayan itu segera berdiri dan membungkuk.
“Ya, ada masalah apa?”
“Itu, Tuan Putri Aliya...”
“Eadric sialan!!” Teriakan disertai langkah kaki yang cepat membuat dua pria itu menoleh.
Aliya berjalan masuk dengan raut penuh amarah, dia berjalan ke arah Eadric dan mencengkram kerah baju pria itu dengan tangan mungilnya. “Apa maksudmu hah?!”
“Apa yang kau katakan?” tanya Eadric datar.
“Berhenti berpura-pura tidak tau! Kenapa kau mau menikahi penyihir itu?! Dia itu hanya berpura-pura lembut! Dia bahkan lebih buruk dari monster--”
“Cukup!” sela Eadric dengan nada suara tinggi, dia menepis tangan Aliya dan menatap gadis itu datar. “Atas dasar apa kau ikut campur urusanku?”
“Atas dasar apa?” Aliya berdecak. “Atas dasar aku adik tirimu!”
“Adik tiri?” Eadric tertawa, dia menunjuk Zachary. “Adik kandungku saja tidak mengurus urusanku!” Eadric mendekat dan berbisik. “Rakyat rendahan seperti kau itu tidak pantas mencampuri urusanku, jangan berpikir hanya karena ibumu menjadi selir ayahku, kau jadi sederajat denganku. Ingat ini, Aliya. Sampai kapanpun, kau itu tetap akan jadi rakyat rendahan yang bisa kuinjak-injak sesukaku!” katanya penuh penekanan.
“Kau! Jangan hina ibuku!”
“Heh, memangnya kenapa?” Eadric menjauhkan dirinya dari Aliya, dia bersedekap dada dan menatap Aliya rendah. “Bukankah yang kukatakan itu benar, kau itu. Hanya orang rendahan.”
__ADS_1
“Diam!” Aliya melayangkan tangannya dan hendak menampar Eadric, namun hasilnya...
~♥~~♥~