Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
80. Pesta


__ADS_3

Ethelyne menopang sebelah dagunya dengan sebelah tangan lagi mengetuk-ngetuk meja. “Hei, kapan siapnya? Leherku sudah sangat pegal!”


“Tunggu sebentar lagi, Yang Mulia. Makeup Anda belum selesai, Fiona. Ambil mahkota itu, Loreen. Ambil anting-anting itu,” kata Meli sambil memakai kalung pada Ethelyne, dia kemudian memakaikan anting-anting yang diambil Loreen dan terakhir memasangkan mahkota dengan tiara merah yang indah.


‘Ugh, berat …’ batin Ethelyne mengeluh, namun apalah daya. Jika dia mengeluh secara terang-terangan, dia pasti akan diomeli oleh ketiga wanita itu.


“Baik, sudah selesai.”


‘Hah, akhir-nya …’ Ethelyne terdiam kaku saat menatap pantulan bayangannya dari cermin, dia langsung berdiri sambil menggebrak meja. “Apa-apaan riasan-riasan aneh ini! Ini terlalu mewah!!”


“Tapi seorang Ratu memang memakai semua ini, bahkan ratu terdahulu pun sama.”


Ethelyne menatap Meli dengan raut wajah kesal bercampur putus asa, dia menggeleng sambil mengangkat kedua tangannya membentuk tanda silang. “Tidak mau! Aku mau ganti yang lain saja!!”


“Tidak boleh! Lagipula, waktu sudah dekat.”


“Aaa!!” Ethelyne menghentak-hentakkan kakinya. “Pokoknya aku tidak mau tau!” Dia menjentikkan jarinya, seketika ketiga wanita itu menghilang dari kamarnya.


Ethelyne menghela napas, dia kembali duduk sembari menopang dagunya dan menatap pantulan bayangannya dengan raut wajah bosan. ‘Cantik sih cantik, tapi tidak usah sampai berlebihan seperti ini juga! Pantas saja aku merasa leherku sangat sakit dan pegal.’ Ethelyne melepas mahkota dan anting-antingnya. ‘Keduanya berat, aku jadi heran. Bagaimana ratu-ratu dunia iblis bisa mengenakan perhiasan yang super berat ini??’ Ethelyne melepas tiga kalung yang dia gunakan, dia kemudian memakai kalung yang sederhana dengan hanya liontin ruby. Dia memakai anting-anting dengan liontin yang sama, Ethelyne menata rambutnya. Dia kemudian memakai hiasan rambut, saat hendak mengambil jepit rambut berbentuk mawar hitam. Tatapannya tanpa sengaja jatuh ke jepit rambut Phoenix yang pernah diberikan Murry saat menyamar sebagai kakek tua.


Ethelyne mengambil jepit rambut itu dan menatapnya lekat, dia mendongak dan menatap pantulan bayangannya di cermin. ‘Aku akan berusaha …’




“Hei, apa kau yakin soal ini?” tanya Zion berbisik, Eadric yang berdiri di sampingnya hanya meliriknya datar. Mereka kini tengah dikawal menuju ke aula.



“Aeli, seharusnya kita tidak pergi ke pesta itu. Bagaimana jika itu adalah hari terakhir kita hidup??”



“Kalau tidak mau ikut yang tidak usah! Kenapa kau jadi seribet ini,” kesal Aelene, dia kini menggunakan gaun berwarna abu-abu dengan pernak-pernik berwarna hitam. Rambutnya ditata serapi mungkin dan diberi mutiara hit, selain itu. Ada empat pernak-pernik di tangannya yang membentuk lingkaran.



“Silahkan tunggu di sini sampai Yang Mulia Ratu datang.”



“Baik, terima kasih sudah mengantar.”

__ADS_1



“Ini selama perintah.” Tanpa berkata-kata lagi, para prajurit langsung pergi dan kembali ke tempat masing-masing.



Kedua pangeran, Ned, Zion, dan Aelene menatap pintu besar berlapis emas di hadapan mereka. Jantung mereka berdetak tak karuan, antara cemas, khawatir, dan ketakutan.



“Oh, kalian sudah sampai di sini rupanya.”



Mereka menoleh ke asal suara, mereka semua menatap tanpa berkedip.



“Ethel- Yang Mulia ratu, pakaianmu …”



“Memang kenapa?” Ethelyne memutar-mutar gaun berwarna abu-abu dengan renda hitam dan mutiara hitam di bagian pinggang, pergelangan tangan, dan lehernya. Selain itu, terdapat empat pernak-pernik di tangan kanannya seperti milik Aelene.




“Oh, itu ya.” Ethelyne meletakkan jari telunjuknya di atas bibir dengan sebelah mata dikedepankan. “Itu rahasia.”



“Pfft.” Aelene menutup mulutnya. “Anda susah main rahasia-rahasiaan ya.”



“Siapa yang perduli.” Ethelyne mengibaskan rambutnya, dia berjalan ke arah pintu besar dan langsung membuat kedua penjaga pintu membungkuk 180°.



“Baginda Ratu memasuki aula, Nona Aelene memasuki aula, Tuan Zion memasuki aula, Tuan Ned memasuki aula, Tuan Eadric memasuki aula, Tuan Zachary memasuki aura!!” teriak salah satu prajurit lantang.


__ADS_1


Pintu terbuka lebar-lebar, Ethelyne melangkah masuk diikuti kelimanya. Tatapan keempatnya langsung terarah ke semua iblis yang ada di aula, bukan Karena menatap mereka penuh nafsu. Tapi karena mereka semua berlutut dengan penuh hormat dan sopan layaknya manusia bangsawan.



Ethelyne naik ke singgasananya dan menoleh ke arah seluruh iblis di aula. “Berdirilah.”



Kompak para iblis mengangkat kepala mereka, tatapan mereka semua langsung tertuju pada kelima orang yang berdiri di samping kanan dan kiri Ethelyne.



“Manusia? Kenapa manusia bisa berada di aula?”



“Bukankah mereka itu adalah tawanan, kenapa mereka bisa menghadiri pesta?”



“Apa mereka tawanan yang akan dijadikan tumbal?”



“Khem.” Deheman Ethelyne langsung membuat para iblis yang tengah bergosip terdiam, mereka menatap dengan serius. “Mereka semua adalah tamu di kerajaan ini, apabila ada yang berani mengangkat tangan atau berbicara tidak sopan pada mereka. Maka …” Ethelyne menatap mereka semua dingin, entah kenapa. Aura mengintimidasi yang dikeluarkannya membuat nyali para iblis menciut. “Akan mati!” Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap mereka serius. “Ingatlah satu hal, benih iblis dalam tubuh kalian adalah buatanku. Jika berani melanggar perintahku ataupun berkhianat, maka aku tidak akan segan membuat mereka tersiksa!!”



“Kami bersumpah, kami tidak akan pernah mengkhianati Ratu kegelapan.” Mereka berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan dan tangan di dada diikuti iblis bangsawan lain hingga semua iblis yang ada di aula bersumpah setia layaknya seorang kesatria.



Ethelyne menatap serius, dia tersenyum dengan pandangan yang mulai melembut. “Baguslah, aku percaya pada kalian,” katanya dengan nada riang, dia menoleh ke arah kelimanya dengan senyum manis. “Duduklah dan nikmati pestanya.”



“He'em, baiklah.” Kedua pangeran, Ned, Zion, dan Aelene duduk di singgasana yang sudah disediakan. Ethelyne duduk di singgasana tengah sekaligus terbesar, gadis itu menopang dagunya sambil menatap pesta dengan raut wajah datar. ‘Merepotkan sekali.’ Pandangannya tidak sengaja jatuh pada beberapa iblis yang saling mengode, Ethelyne menyeringai kecil. ‘Sepertinya akan ada hal yang bagus untuk dimainkan hari ini.’



Tanpa disadarinya, orang yang pernah menyatakan cinta padanya memperhatikan sedari awal. Mulai dari saat bertemu di depan aula sampai duduk di singgasana, bahkan seringai kecil gadis itu pun tidak luput dari pandangannya. Dia tersenyum tipis. ‘Tidak ada yang lebih indah selain kau di dunia ini, Ethelyne. Bahkan jika kematian menjemput, aku tidak akan pernah melupakanmu. Bahkan jika aku bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya, aku berjanji hanya akan mencintaimu dengan sepenuh hati selamanya.’


__ADS_1


Ethelyne yang risih melirik ke arah orang yang menatapnya, sang empu langsung mengalihkan pandangannya ke arah iblis-iblis yang berdansa dan ada juga yang menikmati pesta. ‘Dia tadi menatapku kan? Tapi kenapa? Aku bukan gadis itu, lalu kenapa pria bodoh itu masih menatap ke arahku?? Membuat risih saja.’


__ADS_2