
1 bulan telah berlalu sejak kejadian besar itu.
Ingatan orang-orang tentang gadis suci telah disegel oleh Kathelyne.
Tidak ada yang ingat dengan kejadian tersebut dan siapa nama-nama dari para wanita pahlawan yang mengorbankan nyawa mereka.
Kehidupan kembali berjalan dengan normal, bahkan Aelene, Zachary, Eadric dan Ned pun tidak mengingat apapun. Mereka telah melupakan semua tentang "Ethelyne" di hidup mereka.
Sementara Kathelyne, dia kembali ke kerajaannya dan tidak pernah lagi muncul di dunia manusia.
Kathelyne menjadi lebih pendiam dan lebih kejam sejak kepergian sang gadis suci.
Di kerajaan iblis, tidak ada lagi yang berani membahas apapun tentang gadis suci terakhir itu. Bahkan Mili, dia tidak pernah lagi muncul di kerajaan iblis dan kini berkelana jauh bersama Mika.
~♥~
“Yang Mulia Ratu, para tersangka sudah dikumpulkan.”
Kathelyne yang tengah menatap ke luar jendela melirik pelayan itu, dia berbalik dan berjalan keluar kamar dengan aura gelap yang menguar dari dirinya. Kathelyne berjalan menuju aula istana, dengan raut datar tak terbaca. Dia memasuki aula dan duduk di singgasananya, dengan menopang dagunya, Kathelyne menatap para 'tersangka' yang kini berlutut di lantai dalam keadaan mengenaskan.
“Yang Mulia, ketiga iblis ini telah melanggar peraturan dan berkomplot dengan manusia-manusia keji itu. Dan membunuh hampir seribu pasukan di kerajaan,” jelas perdana menteri.
“Kenapa kau yang menjelaskannya?”
Perdana menteri seolah tersadar, dia langsung berlutut. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi Tuan Harvey sedang tidak ada saat ini. Itu sebabnya saya--”
“Aku mengerti.” Kathelyne mengangkat sebelah tangannya meminta perdana menteri itu untuk diam, dia kemudian menoleh ke ketiga tersangka. Kathelyne menatap lekat dengan raut tak terbaca. “Hukuman pertama, potong kaki dan tangannya. Hukuman kedua..” Dia menyeringai. “Pecahkan kepalanya, dan hukuman ketiga, bawa dia ke dunia manusia dan bakar sampai tak tersisa!”
Para iblis yang berada di aula menahan napas, kehilangan seribu prajurit memang termasuk kerugian besar. Tapi bagi bangsa iblis, itu bukanlah hal yang patut diperhitungkan. Namun, semenjak Sang gadis suci menghilang. Ratu mereka jadi sangat kejam, kesalahan sekecil apapun tidak akan lepas dari hukuman mati yang amat menyiksa, terbakar oleh sinar matahari.
__ADS_1
“Tolong ampuni kami, Yang Mulia.”
“Tolong maafkan kami, kami tidak bermaksud mengkhianati Anda.”
“Kami mohon tolong maafkan kami!”
Berbagai permohonan dari para tersangka terdengar memekakkan telinga.
Kathelyne menatap para prajurit yang hanya melongo tak jelas. “Tunggu apa lagi?!” tanyanya kesal. “Bawa mereka ke ruang eksekusi!!”
“Ba-baik!” Para prajurit langsung membungkukkan badan, mereka segera menyeret ketiganya keluar dari aula.
“Apa ada yang lain?”
“Ah, benar. Yang Mulia, kerajaan manusia--”
“Kathelyne!”
“Ada apa, Kak? Bukankah sangat tidak sopan menganggu waktu rapat??”
Pria itu menoleh ke perdana menteri. “Tinggalkan kami berdua.”
Perdana menteri tampak ragu, dia menatap Kathelyne yang menganggukkan kepalanya. Perdana menteri membungkuk pada keduanya dan kemudian berjalan keluar bersama yang lain, dan kini hanya tersisa pria itu dan Kathelyne yang kini saling tatap-tatapan.
“Apa-apaan ini??”
Kathelyne mengerutkan keningnya. “Apa?”
“Bagaimana bisa kau melakukan sihir ini?! Ini adalah sihir terlarang!!”
__ADS_1
Kathelyne menyeringai. “Memangnya kenapa? Aku ratu kegelapan, tidak ada yang bisa menghentikanku. Terlebih lagi, Dewa Iblis dan Kaisar Iblis telah menghilang. Jadi sekarang, aku yang menguasai seluruh iblis, apa maksud ucapanmu tentang sihir terlarang itu?! Kau pikir aku menghidupkanmu karena kau kakakku? Hah, kau itu hanyalah kelinci percobaanku, Zen. Sekarang kau berada di bawah kendaliku.” Dia mengepalkan tangannya. “Aku bisa membuatmu mati lagi jika aku mau, sekarang kau itu. Hanyalah budakku!”
“Kathelyne!!”
“Hentikan, Zen!”
Pintu kembali terbuka, kini. Ryan berjalan masuk dengan pakaian biasa, dia tidak seperti seorang pangeran sama sekali.
“Kak Ryan.”
Kathelyne menatap datar. “Apa lagi ini?”
“Kathelyne, aku tau. Kau hanya menjadikan kami sebagai kelinci percobaan, tapi kau juga seharusnya mengerti. Ethelyne tidak bisa dibangkitkan lagi, kau pun sadar kan. Jiwanya telah menghilang, sampai kapan kau ingin meratapinya terus?”
Kathelyne menggertakkan giginya. “Apa kau hanya bisa mengoceh, hah?!” Dia berdiri dari duduknya. “Aku seorang Ratu kegelapan, apapun yang kumau harus terjadi!!”
“Tapi kau bukan dewa!” kata Ryan tegas.
Namun, hal itu semakin memancing emosi Kathelyne. Dia mengepalkan tangannya. “Seharusnya aku tidak perlu membangkitkan kalian,” gumamnya tak jelas, Kathelyne mengangkat kedua tangannya ke arah Ryan dan Zen. “Bukankah kalian seharusnya mati saja??” tanyanya sambil mengeratkan energi kegelapan yang melilit leher kedua kakaknya.
“Kathelyne! Kau gila!!”
“Kathelyne, bahkan jika kau membunuh kami. Ethelyne tetap tidak akan bangkit!”
“Diam!! Kalian tidak ada hak untuk menceramahiku!!” Kathelyne semakin menguatkan energinya, hingga tiba-tiba saja. Kepala Zen dan Ryan pecah. Tubuh keduanya perlahan-lahan menghilang hingga tak tersisa sedikitpun.
Kathelyne jatuh terduduk, tangannya terus terkepal dengan erat. “Sialan, sialan, sialan!! Memangnya kalian pikir kalian siapa bisa menceramahiku?! Kalian itu hanyalah budakku, hanya budakku!!” Dia menutup matanya dengan air mata berlinang. “Kenapa?” tanyanya dengan nada gemetar, Kathelyne meringkuk. “Kenapa aku gagal membangkitkanmu kembali? Kenapa..”
~♥~~♥~
__ADS_1
Ok, di episode ini cuma menceritakan tentang kehidupan Kathelyne aja ya. Di episode selanjutnya, author bakal buat tentang kehidupan di dunia manusia alias Eadric (kalau sempet)
Sebenernya author mau tamatin cerita ini dengan sad, tapi kayaknya author berubah pikiran. Kayaknya aja nih ya, author sendiri belum pasti. Soalnya otak author ga bisa diajak kompromi 🙄