Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
100. Dunia Nyata


__ADS_3

“Kau melanggar janjimu loh, Jiwa kegelapanku.”


Sebuah cahaya muncul di aura gelap yang mencekik Aelene, cahaya itu seolah menjalar dan membuat Ethelyne segera memisahkan dirinya dari aura gelap itu.


Senyum manis terbit di wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. “Akhirnya kau kembali, aku sudah menunggumu begitu lama.”


Cahaya muncul di lantai dan membentuk sebuah portal, dengan wajah datar. Jiwa suci keluar dari portal itu. “Kau tidak menepati janjimu sama sekali.”


“Siapa yang perduli, asal kau kembali. Aku akan melakukan apapun.”


“Heh.” Jiwa suci Ethelyne menatap dengan mata memicing. “Kau jadi sangat menyukaiku ya, padahal sebelumnya kau sangat ingin menyingkirkanku. “Lagipula, Ethel--”


“Tunggu, panggil aku Kathelyne. Tidak mungkin kan aku panggil kau Ethelyne dan kau juga memanggilku Ethelyne.”


“Haha, benar juga ya.” Ethelyne menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Bagaimana jika kupanggilkan Kathel saja?”


“Boleh-boleh saja.” Kathelyne mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.


“Bagus!” kata Ethelyne semangat, tatapannya beralih ke arah Zachary. Ned, Dan Zion yang tampak terdiam dan mencerna semuanya. “Hai semuanya, bagaimana- Kathel! Kenapa kau mengurung mereka??” Ethelyne menatap Kathelyne kesal, namun raut wajahnya justru tampak imut.


Kathelyne menatap ke arah lain. “Hanya pelampiasan, lagipula. Itu salah mereka yang membuatku benar-benar kesal.”


“Hmm~” Ethelyne menggembungkan pipinya kesal. “Sudah ah, aku tidak mau bicara denganmu!” Dia bersedekap dada sambil membuang muka ke arah lain.


Kathelyne yang melihat itu menghela napas, dia menjentikkan jarinya. Seketika barier yang mengurung ketiganya pecah. “Apa kau puas?”


Ethelyne yang sedari tadi menahan senyumnya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya ke arah Eadric. Ethelyne berjalan ke arah Eadric dan berdiri di samping pria itu. ‘Kau sudah berusaha keras, ya.’


“Apa yang ingin kau lakukan?”


Ethelyne menoleh ke arah Kathelyne dengan jari telunjuk di atas bibir. “Lihat saja nanti.” Dia mengalihkan pandangannya ke arah Eadric, kedua tangannya menyatu di depan dada memohon. “Wahai Dewa, berkatilah pangeran ke6 dengan kesembuhan dan karuniamu. Healing Magic.”


Muncul pusaran air yang terbuat dari cahaya di atas Eadric, pusaran cahaya itu perlahan-lahan tenang layaknya air yang tidak bergerak.


Ethelyne mengarahkan tangannya ke arah cahaya, dia kemudian menurunkan tangannya perlahan-lahan. Cahaya itu mengikuti tangannya turun dan masuk ke tubuh Eadric.


“Terima kasih sudah mau membantuku,” gumam Ethelyne pelan, dia mengecup kening Eadric dan berbalik.


Keempat manusia bersama Kathelyne tampak tercengang.


“Ethelyne, kau. Dia …” Kathelyne menutup mulutnya terkejut.


Ethelyne berjalan ke arahnya dan menariknya keluar, dia sempat menoleh ke dalam dan berkata. “Tidurlah, yang kalian lihat hanyalah mimpi.” Sebelum dia benar-benar pergi dari kamar itu.


Keempatnya langsung jatuh tertidur dengan pulasnya.


‘Tidak, aku tidak boleh tidur atau dia akan pergi lagi!!’




“Kau benar-benar membuatku kecewa!” Kathelyne membelakangi Ethelyne sambil bersedekap dada.



“Ayolah, jangan pesimis begitu. Kau tidak ingin aku sendiri mulu kan?”



“Tapi kenapa harus manusia??” Kathelyne menatap Ethelyne geram.


__ADS_1


Ethelyne duduk sambil berdecak. “Lagipula kenapa sih? Tidak mungkin juga kan aku menikah dengan iblis.”



“Tapi-- akh! Sudahlah, aku sangat kesal!” Kathelyne berjalan keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.



“Pfft.” Ethelyne menutup mulutnya menahan tawa, tatapannya berubah datar saat menatap ke luar jendela. ‘Jika aku sendiri bisa dibangkitkan, maka pasti ibu juga bisa kan. Aku akan menunggu, menunggu ibu kembali.’



~~~♥~~~



“Boho~ syukurlah Nona bisa kembali.”



“Iya, syukurlah.”



Ethelyne tersenyum canggung, apalagi Meli dan Loreen yang tidak mau berhenti menangis sama sekali. Tatapannya beralih ke arah Kathelyne yang makan dalam diam dengan anggunnya.



“Kathel,” panggil Ethelyne sambil menopang dagunya, Kathelyne hanya meliriknya sekilas. “Apa kau benar-benar marah? Aku kan tidak bermaksud, hanya saja kan. Aku sudah hidup terlalu lama, tidak mungkin kan kau mau melihatku sendirian terus. Apa kau tidak ingin melihatku bahagia?”



Kathelyne memegang garpu dan sendoknya erat, dia memghela napas dan meletakkan keduanya di samping piring. Kathelyne menatap Ethelyne serius. “Aku tidak marah karena kau mencintai manusia, aku hanya … tidak tau bagaimana memberitahukannya, kau membuatku menunggu selama lima tahun lebih. Tapi setelah kembali, kau malah membicarakan orang lain. Aku jadi merasa tidak berarti lagi setelah jiwa kita terpisah.”




“Sahabat ya,” gumam Kathelyne tersenyum miris. ‘Aku pikir kita adalah keluarga, saudari yang saling memahami.’



“Kathel, aku--”



“Aku sudah kenyang.” Kathelyne berdiri dan menatap Ethelyne datar. “Cepat selesaikan makanmu dan kembali ke dunia atas.” Dia berjalan pergi diikuti Loreen.



Meli yang masih berdiri di depan pintu mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne yang tampak gusar. “Nona Ethelyne.”



Ethelyne mendongak dan menatapnya dengan senyum tipis. “Kenapa Bibi masih bersikap formal?”



“Saya hanya terbiasa.” Meli tersenyum. “Tolong maklumi Yang Mulia Ratu, dia tidak pernah bisa mengekspresikan perasaannya sama sekali. Sebenarnya, Yang Mulia sangat senang karena kebangkitan Anda. Tapi Beliau juga merasa sedih karena Anda lebih mementingkan manusia daripada beliau.”



“Hah, sepertinya begitu.” Ethelyne bersandar. “Dia selalu tidak bisa ditebak, sepertinya aku harus lebih bekerja keras untuk membuatnya luluh. Hah …”

__ADS_1



“Nona, bagaimana jika kita buatkan pesta untuk Yang Mulia? Mungkin saja dia bisa luluh jika Anda memberikan kejutan, saya yakin. Jika Anda melakukannya dengan tulus, Yang Mulia pasti akan luluh.”



Ethelyne menatap Meli, dia tersenyum. “Mungkin saja.”



~~~♥~~~



“Ah, lelah sekali~” Ethelyne langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, dia menatap langit-langit kamarnya.



“Lady, apa Anda ingin memakan sesuatu?” tanya Nina sambil mengetuk pintu.



“Tidak, kau bisa pergi. Omong-omong, di mana Murry dan William? Apa mereka sedang sibuk?”



“Tuan Murry dan Tuan William sedang melakukan rapat khusus, beliau juga memanggil Anda. Jika Anda mau, Anda bisa datang. Tapi Tuan tidak memaksa Anda untuk datang.”



Ethelyne bangun dan menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka. “Ok, aku akan segera ke sana.”



“Apa saya perlu membantu Anda bersiap?”



“Nina.” Ethelyne memijat pelipisnya. “Kau itu roh kan? Lalu di mana harga dirimu sebagai roh cahaya?? Kenapa kau malah menawarkan diri untuk membantu seorang manusia bersiap??” tanyanya frustasi.



“Saya tidak melakukan pada semua orang kok.” Nina membuka sedikit pintu dan menyembulkan kepalanya. “Saya hanya melayani para Lady suci saja, lagipula. Jika sesuai pangkat, saya memang lebih rendah daripada Anda.”



“Ah, begitu rupanya.” Ethelyne menghela napas. “Kalau begitu, tolong siapkan gaun yang akan kugunakan untuk rapat nanti.”



“Permisi, Anda ingin menggunakan gaun warna apa?” tanya Nina yang sudah masuk dan membungkuk hormat.



Ethelyne terdiam sejenak. “Warna … apa yang disukai ibuku?”



“Lady Earlene ya? Beliau menyukai warna putih, beliau selalu memakai gaun putih setiap saat.” Nina tersenyum manis.



“Begitu ya, kalau begitu. Siapkan gaun berwarna putih.”

__ADS_1


__ADS_2