Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
135. Akhir (End)


__ADS_3

Ethelyne membuka matanya dengan napas tersengal-sengal, detak jantungnya tak beraturan sama sekali. Perutnya seolah diaduk-aduk, kepalanya pun pusing dan penglihatannya sedikit kabur.


Namun, Ethelyne berusaha berdiri dengan tubuh yang lemah. Dia menggunakan tembok untuk menopang tubuhnya yang kehabisan energi. ‘Ughh, kepalaku sangat sakit! Sialan, orang tua itu. Dia malah menggunakan tubuhku, untuk membunuh adiknya sendiri!’ batinnya dengan napas tak beraturan.


Ethelyne melangkahkan kakinya, namun, baru selangkah. Dia langsung terduduk, Ethelyne berusaha mengatur napasnya dan tetap tenang. Dia menutup matanya dengan napas yang mulai teratur. ‘Vio, Laurie. Apa kalian bisa mendengarku??’


“Ma-master..” #


“Nona apa Anda baik-baik saja??” #


‘Aku baik-baik saja, Vio. Bagaimana keadaan kalian berdua?’


“Saya baik-baik saja, tapi Laurie berbeda. Jiwanya terhubung langsung dengan jiwa Nona, jadi. Saat Nona kehilangan setengah jiwa Nona, jiwa Laurie pun ikut menghilang dan membuatnya menjadi sangat lemah.” #


“Aku baik-baik saja, sialan!” #


“Hei, tidak perlu meninjuku!” #


“Hng! Master, Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, setengah jiwa sudah cukup untuk mempertahankan hidup saya. Jadi Anda tidak perlu khawatir, yang perlu Anda khawatirkan sekarang adalah Dewa Iblis! Dia mengorbankan setengah jiwa Anda untuk membentuk tubuh baru dan berencana menghancurkan dunia manusia, jika kita terlambat. Maka manusia akan musnah!” #


‘Aku tau! Tapi bagaimana caranya?! Kakiku sangat lemas, bahkan berdiri saja sangat susah, sialan! Apa yang harus kulakukan!’


“Nona, biarkan saya membantu Anda.”


Ethelyne sontak membuka matanya kaget. “V-vio?! Kenapa kau bisa muncul??”


“Ikatan saya dengan Pangerang Eadric telah putus saat dia membuang bunga lima warna, dan itu membuat ikatan saya dengan Nona terjalin lebih erat. Saya bisa muncul dengan menggunakan lebih sedikit energi dan bisa membantu Nona, sekarang ini kontrak masih terjalin. Kemungkinan besar, butuh waktu satu jam untuk membuat kontrak antara kita selesai.”


“Aku mengerti, apa kau bisa membawaku ke dunia manusia?”


“Tentu saja.. ah, sebelum itu. Maafkan perilaku tidak sopan saya.” Vio berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan, dia kemudian menggendong Ethelyne ala bridal style dan kembali berdiri.


“Maaf jika aku berat,” gumam Ethelyne tertekan, dia selalu makan tanpa memperdulikan berat badannya sama sekali. Dan ketika dia tidak bisa berjalan, dia malah harus merepotkan Vio yang seharusnya dia jaga.


“Anda tidak perlu khawatir, Nona. Anda tidak seberat yang Anda kira, mungkin.”


“Mungkin?? Sudahlah, ayo cepat ke dunia manusia!”


“Ya!”


“Aku harap, kau baik-baik saja, Vio.” #


~♥~


Napas Kathelyne tersengal-sengal, kekuatannya kini tak terkontrol sama sekali. Tentu saja, lawannya adalah seorang Dewa Iblis yang kekuatannya mulai pulih, apalagi tanpa keberadaan Ethelyne di sekitarnya. Kekuatan gelapnya mulai keluar dari kontrol.


“Sudahlah, menyerah saja. Apa gunanya melindungi manusia yang lemah? Bukankah lebih bagus jika kau ikut denganku, kau bisa mendapat kekuatan yang melimpah dan kau tidak harus takut pada siapapun lagi,” kata Ryu dengan wujud aslinya, meskipun kekuatannya belum pulih seutuhnya. Namun dia sudah bisa membuat tubuh baru dengan kekuatannya.


“Huh, menyerah pada kegelapan? Sungguh konyol!”


Ryu menatap datar, dia seolah melihat Rio dalam diri Kathelyne. Sikap mereka yang keras kepala dan tetap ingin melindungi manusia lemah membuat Ryu jengkel. “Kalau begitu, terima--”


“Hentikan!”


Ryu dan Kathelyne sontak menoleh ke asal suara, Ethelyne tiba-tiba muncul digendong oleh Vio. Para warga telah dievakuasi dengan aman sehingga hanya tersisa beberapa orang, Zion, Zachary, Ned, Aelene, Kathelyne, Ryu, dan tentunya Eadric.


“Wah, siapa pria tampan itu? Apa dia kekasih rahasia Nona Ethelyne?” bisik Aelene pada Zachary.


“Heh!” tegur Zachary yang langsung membuat Aelene mengerucutkan bibirnya, Zachary melirik Eadric yang terus menatap dingin Vio dan Ethelyne.


“Bagaimana..” gumam Ryu.


“Apa yang kau katakan?” tanya Kathelyne yang tak mendengar dengan jelas ucapan Ryu.


“Bagaimana, bagaimana itu mungkin??” gumam Ryu tak jelas, dia menatap Ethelyne penuh amarah. “Bagaimana bisa kau masih hidup sementara aku sudah merobek jantungmu?!” teriaknya penuh amarah.


Seluruh orang yang ada di TKP terkejut dengan penuturan Ryu.


‘Pantas saja gaunku penuh dengan darah,’ batin Ethelyne menggerutu, dia turun dari gendongan Vio. Dengan senyum sinis, Ethelyne menatap remeh Ryu. “Menurutmu bagaimana lagi?” tanyanya dengan nada menantang, Ethelyne menyentuh dadanya. “Karena aku orang yang terpilih, aku gadis yang disayangi Dewa. Apa menurutmu, Dewa akan membiarkanmu mati dengan mudah? Ck, ck, ck. Kau sangat kasihan, Ryu.” Dia menatap Ryu dengan tatapan mengejek, Ethelyne mengangkat dagunya tinggi dan menatap hina Ryu. “Kau itu benar-benar iblis, bukan. Tapi kau itu monster, iblis pun tau siapa keluarga mereka. Tapi kau..” Dia membuang muka. “Menjijikkan sekali, mempercayai ucapanmu sebelumnya membuatku sangat menyesal.”


“Heh..” Ryu tak terpengaruh dengan ucapan menohok dari Ethelyne. “Itu karena kau sangat polos seperti Rio, kalian berdua itu sama-sama bodoh sehingga percaya dengan ucapanku tanpa mempertimbangkan apapun. Aku heran, kenapa bisa mereka memilihmu sebagai gadis suci.. ah, aku tahu! Itu pasti karena mereka bodoh, atau mungkin mereka buta dan salah memilih orang menjadi gadis suci,” katanya dengan senyum sinis.

__ADS_1


Ethelyne menatap dingin, Vio yang menopang Ethelyne langsung bergidik ngeri. Dia menatap kasihan Ryu. ‘Entah Dewa Iblis atau apapun itu, jika Nona sudah marah. Maka kau akan habis. Huh, aku turun berduka untukmu.’


“Lepaskan aku, Vio.”


“Tapi, Anda masih--”


“Aku baik-baik saja!” Ethelyne berusaha untuk tetap berdiri, dia menatap dingin Ryu. “Terserah kau ingin bilang apa, karena ucapanmu itu. Semuanya hanya omong kosong,” katanya berpura-pura jika setiap ucapan Ryu tak membuatnya marah.


“Fufu, berpura-pura kuat ya? Kau sama seperti ibumu, kalian berdua itu sangat lemah tapi berpura-pura kuat. Sayangnya ibumu mati di tangan Raja iblis, raja yang paling lemah. Seandainya aku menemukannya lebih cepat.” Ryu tersenyum misterius. “Aku pasti akan menjadikannya selir--” Dia dengan cepat menghindar saat Ethelyne tiba-tiba menghilang dari tempatnya.


“Kenapa kau lari, sialan!” kata Ethelyne yang tiba-tiba muncul di tempat Ryu berdiri sebelumnya.


“Jadi kau ingin aku hanya diam dan membiarkan diriku terbunuh begitu?” tanya Ryu dengan nada mengejek.


“Aku tidak perduli jika kau menghina diriku.” Ethelyne berdiri tegak dengan kepala yang sedikit tertunduk. “Tapi jika kau menghina ibuku..” Dia menjeda ucapannya, Ethelyne mendongak dan menatap Ryu dengan penuh amarah. Kornea matanya perlahan-lahan berubah jadi emas.


“Itu..” gumam Ryu terkejut, namun belum sempat bereaksi. Dia sudah lebih dulu menghindar saat Ethelyne tiba-tiba menghilang dan muncul di depannya sembari menyerangnya bertubi-tubi. ‘Sial! Bagaimana bisa dia tiba-tiba mencapai fase Alam Dewa?! Ini sangat tidak masuk akal!!’


“Hahaha, sampai kapan kau akan terus menghindar?!” tanya Ethelyne dengan tawa jahatnya.


Zion, Zachary, Ned, dan Aelene tidak bisa melihat mereka berdua karena pertarungan keduanya yang amat cepat. Ditambah lagi dengan teleportasi mereka yang singkat membuat keempatnya tidak bisa menebak apa yang tengah terjadi.


“Apa kau bisa melihatnya dengan jelas?”


“Tidak, pasang mata yang betul-betul!” omel Aelene yang tak pernah mengalihkan pandangannya dari kedua insan yang sedang bertarung.


“Tetap tidak bisa! Pertarungan mereka sangat cepat!”


“Aku bisa melihatnya.”


Keempat orang itu menatap Eadric melongo, bahkan Kathelyne pun sama. Dia juga menatap Eadric tak percaya.


“Tunggu, kau bisa melihatnya? Bagaimana bisa?? Itu lebih cepat dari cahaya loh!” kata Aelene sambil menunjuk keduanya.


“Aku tidak tau, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas dan... pelan.”


Kathelyne yang mendengar hal itu terdiam, dia menatap ke arah Ethelyne dan Ryu. Kathelyne berusaha memfokuskan pikirannya. ‘Dragon eye.’


Kembali ke sisi keduanya..


Ryu semakin kewalahan melawan Ethelyne, kekuatan gadis itu selalu bertambah setiap satu menit dan kekuatan murni yang meluap-luap keluar dari tempat dirinya merobek jantung Ethelyne. Bahkan, tangan kiri Ryu berhasil dipotong oleh Ethelyne.


Anehnya, tangannya yang terpotong tak kunjung beregenerasi. Namun, bagi Ryu itu bukan hal yang mengejutkan.


Saat seorang gadis suci memasuki fase Alam Dewa, kekuatannya akan menjadi berkali-kali lipat. Energi murni yang dimilikinya akan meluap-luap namun memiliki efek samping, setiap gerakannya pun semakin cepat dan jika dia menggenggam gagang pedang dengan sangat erat. Maka energi murni juga akan mengaliri pedang itu, hal itulah yang membuat Ryu kesusahan untuk meregenerasikan tangannya yang terpotong.


Ethelyne tertawa. “Kenapa kau semakin melambat??” tanyanya di sela-sela pertarungan, dia seolah tak merasakan lelah sama sekali. Energinya pun terus bertambah tanpa batasan.


‘Aku harus segera kabur! Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkanku! Asal aku berhasil selamat hari ini, maka aku tidak perlu membunuhnya karena dia akan mati.’ Ryu berusaha mencari celah, setelah hampir dipenggal. Ryu melihat celah pada Ethelyne, dia langsung menyerangnya dengan kekuatan gelap dan membuat Ethelyne mundur beberapa langkah. “Kau memang hebat, Nona suci,” pujinya. “Tapi kau kurang licik untuk membunuhku.” Ryu langsung menghilang dengan sisa debu yang berterbangan.


“Woah, dia menghilang!” kata Alethea kaget.


“Dia tidak menghilang,” balas Eadric.


“Benar, tapi dia memiliki kecepatan yang tinggi dan membuat dirinya terlihat seperti menghilang,” lanjut Kathelyne, entah kenapa. Keduanya malah jadi akur.


“A-ah, begitu ya..”


Kathelyne menoleh ke arah Ethelyne. ‘Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya, Ethel?’


Di sisi Ethelyne, dia sama sekali tidak panik. Ethelyne justru tersenyum merendah. “Kau pikir setelah menjauh, kau bisa selamat?” Dia menancapkan pedangnya ke tanah, Ethelyne merentangkan kedua tangannya dan menutup matanya. “Tanah penuh akan darah iblis, setiap saat. Manusia berjatuhan di atas tanah, kehidupan yang direnggut kembali terkubur dalam tanah, raga yang kosong pada akhirnya akan kembali ke tanah,” gumamnya tak jelas, dia menyatukan kedua tangannya di depan dada. “Tanah kematian, tanah penuh darah, tanah kehancuran, tanah keabadian. Dengan kekuatanmu, hancurlah musuh manusia atas nama.. Dewi Ethelyne.”


Tiba-tiba, langit berubah mendung. Petir menyambar kemana-mana, tanah mulai berguncang dan membuat semua manusia yang ada di dunia ketakutan. Mereka berlutut dan memohon agar Dewa menyelamatkan mereka dari bahaya.


Perlahan-lahan, muncul retakan dari jalan yang dilewati Ryu. Retakan itu dengan cepat menyusul Ryu yang berlari lebih cepat dari cahaya.


Tanah tiba-tiba terbelah dan membuat Ryu yang kehabisan tenaga langsung jatuh ke tanah.


“Telan, hancurkan dia! Jangan biarkan jiwanya kembali bereinkarnasi! Setengah jiwanya telah disegel oleh Yang Mulia Kaisar Langit, dengan hancurnya setengah jiwa Dewa iblis. Maka dia tidak akan bisa dibangkitkan kembali.”


Tanah langsung tertutup tanpa bekas retakan apapun, langit pun mulai cerah dan muncul pelangi.

__ADS_1


Bunga-bunga yang awalnya layu mulai hidup kembali.


Namun, berbeda dengan mereka yang berbahagia. Kathelyne justru berdiri diam membeku, dia menatap Ethelyne yang terus menutup matanya dengan tangan yang menyatu di depan dada memohon.


“E-ethelyne..” gumam Kathelyne tak percaya.


Ethelyne perlahan-lahan membuka matanya, dia tersenyum lembut. “Semuanya sudah berakhir, Kathel. Monster terjahat telah dihancurkan, kehidupan manusia akan kembali damai. Para iblis menghilang, dan misiku di sini.. sudah selesai.”


Mendengar penuturan Ethelyne yang aneh, mereka semua sontak menoleh. Zion, Zachary, Ned, Aelene, dan Eadric tampak terkejut saat melihat tubuh Ethelyne mengeluarkan cahaya samar dan mulai menguap.


“Ethelyne.. tubuhmu..” kata Eadric dengan mata yang bergetar.


“Jangan khawatir, aku baik-baik saja.” Ethelyne tersenyum manis. “Ini adalah efek dari fase terakhir yang kubuka, Alam Dewa.” Dia menyentuh dadanya dengan mata tertutup dan senyum lembut yang terus ada di bibirnya. “Dengan mengorbankan sisa jiwaku, aku membuka Alam Dewa dan berhasil menghancurkan kegelapan dengan tanah darah. Tempat mereka semua, para manusia dibantai.” Ethelyne terdiam dengan napas yang tampak tak beraturan.


“Kenapa, kenapa kau mengorbankan dirimu?” gumam Zachary.


Ethelyne tertawa kecil. “Aku tidak mengorbankan diriku, aku hanya mempercepat kematianku.” Dia kembali terdiam, Ethelyne tersenyum tipis. “Aku senang bisa terlahir di sini, bertemu kalian semua merupakan berkat bagiku. Aku senang memiliki kalian semua yang selalu ada di sisiku, kuharap. Setelah semua ini, kalian semua bisa hidup kembali dengan normal. Dan melupakan kalau di hidup kalian, pernah ada manusia bernama Ethelyne.”


“Tidak mungkin!!”


Ethelyne tertegun.


Aelene menatapnya dengan air mata berlinang. “Bagaimana, bagaimana bisa kau mengatakan hal sejahat itu?!”


“Aelene, kau..”


Aelene mengusap air matanya. “Kau ingin aku melupakanmu, aku berusaha melupakanmu. Aku berusaha sangat keras hingga memendam semua ini dalam waktu yang lama, dan setelah kita bertemu kembali dalam keadaan yang normal. Kau malah menyuruh kami untuk melupakanmu? Itu tidak mungkin!!”


“Aelene, kau--”


“Aku sudah muak mengikuti semua permintaanmu! Sekarang kau harus ikuti perintahku sebagai Putri Grand Duke! Kuperintahkan kau untuk tetap di sini!”


Ethelyne tersenyum tipis. “Itu tidak mungkin bisa,” katanya dengan lemah lembut. “Takdir telah diatur, sejak awal. Aku hidup untuk menghabisi kejahatan, setelah kejahatan itu musnah. Maka tugasku pun selesai.”


“Memang sepenting apa tugasmu itu?! Apa lebih penting dari kami semua?!” tanya Aelene berteriak, dia berlutut sambil terisak. “Kumohon, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku sudah lelah berpura-pura melupakanmu.”


Zachary berlutut dan mengusap punggung Aelene lembut, dia menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.


“Maaf, Aelene. Selama ini aku tidak peka, aku tidak pernah memikirkan perasaanmu selama ini. Tapi kurahap kau bisa memaafkanku, karena. Ini pertemuan kita yang terakhir.” Tubuh Ethelyne telah menguap sampai batas dada, kemudian perlahan-lahan menguap sampai leher.


“Apa kau, sungguh tidak bisa tinggal? Setengah, kau bisa menggunakan setengah jiwaku jika kau mau, jadi tolong.” Kathelyne mengepalkan tangannya. “Tolong tetaplah tinggal.”


“Itu tidak bisa, Kathel. Kau ingat kan ucapan Ryu sebelumnya, dia telah merobek jantungku dan tidak ada cara untuk memulihkannya kembali.. aku mungkin tidak bisa banyak membantumu, tapi untuk terakhir kalinya. Aku bisa membuatmu tidak menghilang.” Ethelyne menutup matanya. ‘Vio, tolong jaga Laurie. Meskipun menyebalkan, dia adalah gadis yang baik hati. Kuharap, kau bisa melindunginya menggantikan aku.’


Vio yang mendapat telepati dari Ethelyne segera mengusap air matanya, dia tersenyum. “Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya akan melindungi Laurie sebaik mungkin,” gumamannya.


‘Terima kasih..’


“Aku mencintaimu!”


Ethelyne membuka matanya kaget.


“Aku, aku sangat mencintaimu. Ethelyne,” kata Eadric jujur. “Maaf karena aku menikah dengan Sela, tapi semua ini bukanlah kemauanku. Aku..” Dia mendongak dan menatap Ethelyne yang tersenyum manis.


“Aku tahu, aku juga.. mencintaimu..” Ethelyne pun menghilang dan menjatuhkan sebuah jepit rambut Phoenix. ‘Ibunda, meskipun ini sangat cepat. Kuharap Ibunda bisa bangga padaku.’


Kathelyne jatuh terduduk, kakinya begitu lemas hingga tak kuat lagi menopang tubuhnya. Napasnya tak beraturan, matanya memanas. Kathelyne menggertakkan giginya menahan air mata, dia menunduk. ‘Kenapa kau harus melakukan ini?! Kenapa?! Kenapa, kenapa kau harus meninggalkanku sendirian? Keluargaku hanya kalian berdua, kau dan ibu. Setelah ibu pergi, hanya tersisa kau dan sekarang. Kau pun meninggalkanku, kenapa?!’


“Permisi, Yang Mulia.”


Kathelyne mengusap air matanya, dia berdiri dan menatap datar Laurie yang tiba-tiba saja berdiri di depannya.


Mata gadis itu tampak membengkak karena tangis, dia menunduk dan menyerahkan jepit rambut Phoenix itu.


“Apa ini?”


“Ini, adalah barang yang ditinggalkan Master untuk Anda. Jepit rambut ini sebelumnya, adalah milik Nyonya Earlene, namun. Jepit ini diambil oleh penyihir yang pernah ditolong Nona dan kemudian diberikan pada Master. Sekarang, jepit rambut ini, akan menjadi milik Anda. Saya harap, Anda mau menjaganya dengan baik. Jepit rambut ini, menyimpan kenangan dari dua gadis suci.. yang tiada dengan terhormat.”


TAMAT


~♥~~♥~

__ADS_1


__ADS_2