Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
58. Pil Aneh


__ADS_3

‘Hah, aku sangat lelah. Sudah berapa hari aku terkurung di ruangan ini? Aku bahkan tidak bisa melihat cahaya matahari sama sekali … ini gila! Seandainya aku tau hal ini akan terjadi, aku tidak akan pergi ke dunia manusia. Atau aku bisa mencarikan hadiah yang lain untuk Luna!’ Ethelyne memasang wajah gusar, bola mata birunya bergerak menelusuri setiap sudut ruangan berharap ada celah untuk melarikan diri namun gagal. Dia kembali menghela napas. ‘Bagaimana ya, keadaan Luna? Aku sudah lama tidak menjenguknya, aku sangat merindukan gadis kecilku yang manis itu.’


Suara ketukan pintu membuat lamunannya terbuyar, pintu perlahan dibuka dan menampilkan sesosok roh manis bernama Nina. “Kakak Ethelyne, bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Ah, Nina ya? Aku baik-baik saja. Sekarang sudah hari ke berapa?”


“Hem, sepertinya. Sekarang sudah hari ke enam sejak terakhir kali Anda diikat di kursi.”


‘Aku sama sekali tidak ingat!’ Ethelyne tersenyum. “Benarkah? Aku tidak begitu ingat.”


Nina menatapnya dengan senyuman, dia menyodorkan sebuah nampan berisi segelas air dan pil aneh yang berwarna-warni. “Ini, obat Anda kali ini.”


“Eugh, apa kau yakin ingin aku meminumnya? Rasanya sangat tidak enak.”


“Namanya juga obat, kau pasti akan segera terbiasa.”


“Mungkin saja.” Dengan berat hati, Ethelyne mengambil pil yang berada di dalam botol dan memakannya. Dia kemudian mengambil air dan meminumnya agar bisa menelan pil pahit dengan rasa yang aneh itu. “Eugh, ini. Aku sudah meminumnya.” Ethelyne meletakkan gelas kembali ke nampan, dia menatap Nina yang sedari tadi tersenyum. Sejak diberikan obat aneh itu, dirinya tidak lagi diikat oleh sihir suci. Namun ruangan yang ditempatinya penuh dengan aura energi suci yang kemungkinan besar berasal dari Murry. “Oh iya, aku jarang melihat Mika. Dia pergi ke mana?”


“Ah, Nona Mika ya. Saya tidak begitu tau, tapu akhir-akhir ini. Nona Mika sering keluar barier, mungkin ke dunia manusia dan membeli makanan ringan? Hah, Nina tidak tau sama sekali.” Nina melirik Ethelyne. ‘Semoga saja Lady tidak sadar aku berbohong, akhir-akhir ini”


“Nina.”


‘Nona Mika sering keluar karena dua gadis yang terus muncul di hadapan barier, entah bagaimana gadis itu terlihat sangat mirip dengan adik Lady Earlene.


“Nina?”


‘Tapi energi iblisnya sudah memastikan kalau dia bukanlah adik Lady Earlene dan gadis di sampingnya itu … jika sesuai deskripsi Nona Mika saat rapat tadi, maka gadis itu adalah Roh kegelapan. Tapi kenapa roh kegelapan bisa muncul di dunia atas? Aku pikir, mereka sangat takut terkena cahaya.’


“Nina!”

__ADS_1


Nina langsung tersadar dari lamunannya. “Ah, iya?”


“Ada apa? Aku memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menjawab.”


“A-aku hanya sedang berpikir tentang menu makan malam nanti, Kakak ingin dibawakan apa?”


Ethelyne menatap Nina bingung, dia tersenyum. “Aku akan membawa apapun yang diberikan Nina.”


“Terima kasih, Kakak … kalau begitu, Nina pamit dulu. Nina harus mengerjakan tugas lain.” Nina membuka pintu ruangan dan menoleh ke arah Ethelyne sambil melambaikan tangannya, dia menutup pintu dan berjalan pergi. ‘Aku harus melaporkannya pada Tuan! Kekuatan suci Lady Ethelyne … menjadi sangat tidak stabil!’




“Hoam.” Ethelyne menguap dengan raut wajah bosan, dia mencoret-coret buku di hadapannya. “Aku bosan.” Ethelyne mulai merangkai lirik lagu dengan nada pelan dan kata-kata yang dibuatnya sendiri. “Kuingin pulang, bertemu semua. Tapi apalah da~ya, ku terkurung di sini. Ku sendirian saja, tak ada teman maupun keluarga.” Dia terdiam. “Suaraku jelek sekali.” Ethelyne menatap buku di hadapannya yang penuh coretan. “Lirik laguku pun asal-asalan, ah. Ethelyne! Kau sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi!” katanya sambil menelungkup wajahnya ke meja. ‘Aku sangat-sangat bosan.’




Ethelyne mengerutkan keningnya sambil menatap elf itu.



“Silahkan ini obat untuk Anda.” Elf itu meletakkan nampan di atas meja dan berjalan keluar.



‘Aneh.’ Ethelyne menatap pintu yang sudah tertutup, dia mengalihkan pandangannya ke nampan. ‘Aku baru saja meminum pil aneh itu kan, tapi kenapa tiba-tiba mereka mengirim pil lagi? Lagipula, bukankah yang menemuiku itu biasanya hanya para roh. Lalu kenapa kali ini yang menemuiku seorang elf?’ Ethelyne menatap pil di dalam botol berukuran kecil itu, dia mengambilnya dan menatapnya lekat. ‘Pilnya sangat mirip dengan yang diberikan Nina, apa benar pil ini adalah pil yang sama? Ah sudahlah, mungkin saja elf tadi berpikir aku belum memakan pil aneh itu.’ Ethelyne meletakkan botol pil kembali ke atas nampan.

__ADS_1



Suara ketukan pintu kembali terdengar dan mengalihkan pandangannya Ethelyne. “Siapa?”



“Lady, saya harap. Anda melihat tulisan di belakang nampan … itu dikirim oleh Nona Melia,” kata Elf tadi.



‘Meli … jangan-jangan, yang dihalangi oleh Mika itu adalah Meli?!’ Ethelyne berdiri dari duduknya, dia berlari kecil ke arah pintu dan berusaha membukanya. ‘Sial, pintunya terkunci!’ Ethelyne menyentuh dadanya yang berdebar kencang. “Sstt!!” Dia meringis. ‘Sakit, apa yang terjadi? Aku merasa sangat sakit dan tidak nyaman.’ Ethelyne terduduk ke lantai. ‘Sakit sekali! Tulang-tulangku seolah remuk, organ dalamku seolah diremas dengan sangat kuat. Sakit sekali!’ Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya, pandangan Ethelyne mulai mengabur. Dia sebisa mungkin mempertahankan kesadarannya, namun seolah ada sesuatu yang menariknya ke kegelapan dan jatuh dalam tidur.



Tidak berselang lama, Ethelyne kembali membuka matanya. Dia bangun dan menyentuh pintu di hadapannya, Ethelyne menyeringai. “Sayang sekali, kalian pikir. Aku tidak bisa mentransfer rasa sakitnya ke jiwaku yang lain ya? Hah, kalian malah menyiksa jiwa suciku ya. kasihan sekali, tapi. Akan kubuat jiwa itu menghilang selamanya dan membuat hadapan kalian hancur berkeping-keping.” Dia berdiri dan dengan sekali tendangan, dia menghancurkan pintu di hadapannya. Dengan santainya, Ethelyne berjalan keluar.



Dia dengan mudah merobohkan para elf yang berusaha menghalanginya pergi. ‘Hah, mereka pikir mereka bisa mengurungku selamanya? Dasar bodoh, aku masih memiliki pendukung lain di dunia iblis.’ Ethelyne berjalan menelusuri hutan dan menemukan Mika yang tengah berbicara serius dari dalam barier. ‘Ah, sudah kuduga. Roh cahaya itu menghalangi Meli dan Mili untuk masuk ke mari.’ Dengan sihir kamuflase, Ethelyne mengubah warna matanya menjadi biru, dia berjalan mendekati ketiganya. “Mika,” panggilnya dengan nada lembut.



Mika seketika menoleh ke belakang. “Lady Ethelyne? Kenapa Anda bisa berada di sini?”



Ethelyne tersenyum manis. “Aku sangat bosan berada di kamar, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Siapa orang di luar? Aku seperti melihat Bibi Meli tadi.”


__ADS_1


“Oh mereka ya? Anda tidak perlu menanggapinya.” Mika mendekat dan berbisik. “Mereka adalah iblis yang menggunakan sihir kamuflase untuk bisa masuk ke hutan para roh.”


__ADS_2